
"Soici, kamu kenapa? "tanya Nadza khawatir. Pria itu diam tak menjawab, hal itu membuat gadis itu semakin khawatir padanya.
"Perut, Soici, sakit? "tanyanya memastikan. Lagi-lagi tak ada jawaban. Gadis itu teringat bahwa ia pernah menemukan sebuah botol obat di meja pria itu dan kebetulan dia membawanya,ia pun segera mengambil obat yang ada di dalam tasnya lalu menyerahkan pada pria itu.
"Ini, obatmu, minumlah! "serunya. Fransis tersentak dan langsung membuka matanya, ia memiringkan kepalanya dan menoleh pada gadis itu, dia hanya menatap datar gadis itu, tapi dalam hati, dirinya kebingungan darimana dia mendapatkan obat miliknya.
Mengerti kebingungan pria itu, dia pun langsung menjelaskannya, "Ini, waktu itu kau ketinggalan, jadi aku mengambilnya,aku juga sudah tau itu obat untuk sakit apa, "jelasnya.
"Brengsek! pasti,Soici,yang seenaknya membawa obat milikku, akan ku beri pelajaran kau nanti! "umpat Fransis dalam hati.
"Kangker lambung, Soici, apa itu-."ucapan gadis itu terpotong saat Fransis langsung mengambil obat itu.
"Bukan, ini milik kakakku, "potongnya.
"Tapi, kau terlihat kesakitan, "kata Nadza heran. Jika itu obat milik kakaknya, kenapa pria itu yang kesakitan.
"Jangan bicara apapun tentang apa yang kau lihat! "perintah Fransis. Gadis itu pun mengangguk, dia ingat bahwa pria yang dia sukai itu punya seorang kakak yang wajahnya sangat mirip dinginnya, orangnya dingin dan tak suka senyum namanya Fransis Lonenlis, kini ia yakin bahwa pria di depannya ini adalah kakaknya bukan pria yang disukainya.
"Baiklah, aku janji, sekarang minumlah obat anda! "serunya. Pria itu tak menduga kalau gadis itu bisa mengenalinya, ia bisa membedakan antara dirinya dan adiknya, padahal istrinya saja tak bisa mengenalinya.
"Ugh... "keluhnya saat rasa sakit yang dia alami kian bertambah,gadis itu pun semakin khawatir.
"Kita keruang kesehatan saja, ya? "ucapnya panik.
"Tuan-,"ucap gadis itu terpotong.
"Soici,panggil aku,Soici,di sini, "ucap Fransis. Gadis itu tersenyum mengangguk, dia pun menuruti permintaan pria itu.
"Soici, bagaimana kalau aku mengantarkanmu keruang kesehatan saja, agar kau bisa istirahat, "bujuknya.
"Hn, "jawab Fransis singkat. Gadis itu memandangnya bingung.
Perlahan Fransis mulai dari tempat duduknya, tapi dia tak dapat menegakkan tubuhnya karena rasa sakit yang ia alami belum juga reda, mengerti penderitaan pria itu, Nadza langsung memapahnya.
"Maaf, tadi aku masih tidak mengerti arti jawabanmu, ayo! aku bantu kau berjalan, "serunya. Pria itu pun tak menolak bantuan yang diberikan gadis itu. Mereka pun berjalan meninggalkan ruang kelas.
Fransis langsung direbahkan di atas ranjang yang ada di ruang kesehatan setibanya di sana, pria itu merasa ini adalah hari yang sangat sial untuknya, pertama penyakitnya kambuh disaat yang tidak tepat, kedua dia lupa membawa obat, dan terakhir dia harus terbaring di atas rajang kesehatan, sungguh menyebalkan.
*****
"Harusnya kau jangan diam saja, Sonia! kau harus melawan kalau, Masako membullymu, "ucap salah satu temannya. Pria itu menyerngit mendengar nama istrinya disebut.
Bukankah ini ruang kesehatan kampusnya,Soici,tapi kenapa ada suara istrinya disini, pikirnya.
"Aku tidak apa-apa, Sieru, "jawab Sonia. Tidak salah lagi, itu memang suara istrinya, apa ruang kesehatan kampus adiknya digabung?,pria itu masih berkutat dengan pikirannya sendiri.