Unilateral Love

Unilateral Love
Episode 6



Vegar Ringgers


Sakitku saat wanita yang melahirkanku tidak mengharapkanku, saat dia menganggap bahwa aku adalah alasan dari kematian saudara kembarku.


                                   ***


Vegar Ringgers mempunyai kakak laki-laki yang bernama Vigar Ringgers, sedangkan Ibu dan Ayahnya bernama Sinta Anjani dan Darmansyah Ringgers. Umur Vegar hanya terpaut satu tahun dengan umur Vigar.


Di hari Valentine Vigar dan Vegar beserta kedua orang tuanya pergi kesebuah taman saat itu usia Vigar 7 tahun dan usia Vegar 6 tahun. Sesampainya di taman Vigar dan Vegar bermain bersama, tawa ceria mereka selalu terdengar mereka terlihat sangat saling menyayangi.


Sedangkan kedua orang tua Vigar dan Vegar duduk dibangku taman bersama beberapa orang tua yang sedang melihat anak-anak mereka. Orang tua Vigar dan Vegar bercerita sampai lupa memperhatikan Vigar dan Vegar.


Saat Vigar dan Vegar sedang bermain bola, saking senang dan bersemangatnya Vegar menendang bolanya terlalu kuat sehingga membuat bolanya menggelinding di jalan.


"Kak, aku ambil bolanya dulu" ucap Vegar pada kakaknya.


"Iya cepetan yah dek" ujar Vigar yang dibalas anggukan kepala dari Vegar.


Vegar kecil segera berlari kearah jalan dan saat ingin menyebrang jalan ia tak menegok kekanan atau kiri terlebih dahulu sehingga ia tak tahu bahwa disebelah kananya ada sebuah mobil truk yang melaju kearahnya.


Tin..Tin..


Pengemudi truk membunyikan klaksonnya namun Vegar tidak berlari dari tempatnya berdiri karena tiba-tiba saja kakinya seperti tak bisa digerakan.


"Aaaaaaaaaaaaa!!" Teriak Vegar sambil menutup matanya. Tiba-tiba ia merasa ada yang mendorongnya sehingga ia terpental kedepan.


Tin..Tin..Brukk


Suara klakson yang disusul dengan teriakan orang-orang membuat Vegar menengok kebelakang dan matanya langsung disuguhkan tubuh saudara kembarnya yang dipenuhi oleh darah tergeletak diaspal.


"Vigar bangun nak.. bangun" ucap ibunya sambil menggunjangkan bahu Vigar berharap anak kesayangannya itu membuka matanya.


"Ayah bagaimana ini, Vigar bangun nak" ucap ibunya lagi sambil menangis. Ayah Vigar segera menggendong tubuh Vigar dan membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit ternyata dokter yang akan memeriksa keadaan Vigar datang terlambat sedangkan dokter yang lain sedang memeriksa pasiennya masing-masing.


Vegar kecil yang tak melihat ada dokter yang memeriksa kakaknya pun pergi mencari dokter dengan berlinang air mata.


"Dokter tolong selamatkan kakak saya dok" ujar Vegar kecil sambil menarik ujung jas putih milik seorang dokter yang akan melakukan operasi pada pasiennya.


"Dek, Pak dokter akan melakukan operasi!" Ujar seorang suster pada Vegar.


"Tapi kakak saya butuh pertolongan" ucap Vegar sambil menangis. Tiba-tiba ayah Vegar datang dan memberitahukan pada Vegar bahwa kakaknya sudah tiada.


Vegar terduduk dilantai sambil melipat kedua kakinya kedepan dan menangis dengan menutup kedua matanya dengan tangannya. Ayah Vegar ikut berjongkok lalu menggendong Vegar keruangan Vigar.


Disana Vegar melihat Ibunya menangis histeris sambil memeluk jasad saudara kembarnya erat. Vegar lalu menghampiri ibunya dengan wajahnya yang penuh dengan air mata.


Saat ia ingin menyentuh saudara kembarnya ibunya menepis tangan Vegar lalu mendorong bahu Vegar ke lantai.


"DASAR ANAK TAK TAHU DIRI, INI SEMUA GARA-GARA KAMU, GARA-GARA KAMU VIGAR MENINGGALKAN KITA. SEHARUSNYA YANG ADA DIPOSISI VIGAR ITU KAMU. SEHARUSNYA KAMU YANG MATI!!" teriak ibunya sambil menatap benci kearah Vegar kecil.


"Jangan ngomong kaya gitu bu, kasihan Vegar ini bukan salah dia" ucap ayah Vegar sambil mengusap bahu istrinya mencoba untuk membuatnya tenang.


"I-ibu!!" Ujar Vegar bangun lalu ingin memeluk ibunya tapi ibunya malah mendorongnya lagi.


"Jangan pernah memanggilku ibu karena mulai sekarang kamu bukan anakku lagi" ujar ibu Vegar sambil menatap Vegar marah, benci, dan sedih karena anak kesayangannya sudah tiada.