
"Percayalah suatu saat nanti kamu akan memohon kepadaku untuk memberikan perhatian yang dulu tak kau hiraukan"
🐼🐼🐼
"Karin ke kantin yuk!!" Ajak Nevy.
"Iya laper nih, ayo buruan" timpal Alexa sambil menarik-narik tangan Karin.
Karin yang awalnya sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang terlipat di atas mejapun terpaksa berdiri mengikuti kedua sahabatnya.
"Kalian mau pesen apa?" Tanya Alexa kepada Karin dan Nevy.
"Gue mau pesen bakso sama es teh" jawab Nevy.
"Kalau lo mau pesen apa Rin?" Tanya Alexa lagi pada Karin.
"Gue es teh aja deh" jawab Karin tak bersemangat.
"Ya udah kalian tunggu dulu yah" ujar Alexa. Setelah Alexa pergi Nevy yang merasa ada sesuatu yang di sembunyikan Karin darinya dan Alexa pun bertanya tapi Karin hanya menjawab bahwa ia baik-baik saja.
"Kalau lo nggak papa, nggak mungkin kan lo ngelamun terus dari tadi. Coba cerita sama gue lo kenapa?" Ujar Nevy.
"Gue nggak papa kok" ucap Karin.
"Lo anggap gue sahabat atau bukan sih, masa sahabat pake rahasiaan segala" ujar Nevy cemberut.
"Gue anggap lo sahabat kok, bahkan lebih dari sahabat lo tuh gue anggap kayak saudara gue sendiri. gue cuman nggak mau bikin sahabat-sahabat gue terbebani sama masalah gue sendiri" kata Karin sambil berusaha tersenyum.
"Sahabat emang gitu Rin, kalau salah satu sahabatnya sedang sedih maka sahabat yang lain ikut sedih. Sahabat bukan hanya ada saat lo bahagia tapi sahabat juga harus ada saat lo lagi sedih" kata Alexa sambil membawa pesanan makan mereka.
"Tumben bijak Exa biasanya juga ngomongnya ngelantur, kesambet apa lo hari ini " Ejek Nevy pada Alexa.
"Yee nih anak asal lo tahu yah gue tuh udah bijak sejak lahir lo aja yang kudet, emang kaya lo nggak ada bijak-bijaknya" balas Alexa mengejek Nevy.
"Bodoh ah, sekarang lo mau kan cerita sama kita Rin" tanya Nevy.
Karena Karin merasa tidak enak dengan sahabatnya pun akhirnya menceritakan semuanya tentang saat ia memberikan sebotol air mineral dan kotak makanan tak lupa ia juga menceritakan tentang saat Rafael membuang makanan yang ia bawa untuk Rafael.
"Ah brengsek tuh si Rafael, lo udah capek-capek bawain bekal malah di buang gitu aja" ucap Alexa berapi-api.
"Tau tuh si Rafael nggak bisa hargain apa orang udah bela-belain nggak sarapan hanya buat sarapannya di bekalin buat dia juga" ujar Nevy.
"Udah gue nggak papa kok, lagian juga gue nggak bakal putus asa secepat ini" ucap Karin sambil tersenyum.
"Tenang aja Rin suatu saat nanti orang yang menyakiti akan tersakiti dan orang yang dulunya mengejar akan dikejar, roda kehidupan akan selalu berputar" ujar Nevy menyemangati Karin.
"Perjuangkan yang emang patut lo perjuangkan dan tinggalkan yang emang patut lo tinggalkan, gue sebagai sahabat nggak mau apa yang lo perjuangin akan berakhir sia-sia Rin" ujar Alexa.
"Kalian tenang aja gue masih kuat kok buat rebut hatinya Rafael, oh yah makasih yah kalian emang sahabat sejati gue" ucap karin dan langsung memeluk kedua sahabatnya."
"Tapi sampai kapan lo akan berjuang sendiri? Berjuang sendiri itu nggak enak. Lo harus tahu kalau bertahan diantara ketidakpastian adalah kebodohan" ucap Nevy pelan.
"Sampai gue menyerah dan membiarkan semuanya terlepas termaksud melepaskan Rafael untuk cewek lain" ujar Karin.
***
Karina pov
Di kantin aku memutuskan untuk pergi ke kelas deluan karena aku belum mengerjakan tugas fisika. Saat aku melewati koridor sekolah tiba-tiba ada yang mencengkram lenganku kasar dan menarikku ke gudang.
"Arghh..!!" Jeritku saat mereka melemparku kasar di dalam gudang.
"Hahaha.. lo jadi cewek kok lemah gini yah" ujar Vallen mencemooh sambil menjambak rambutku.
"Kalian kenapa sih slalu ganggu gue, emang gue pernah buat salah sama kalian?" Tanyaku sambil memegang rambutku yang di jambak Vallen.
"Lo tanya kenapa kita ganggu lo? Asal lo tau gue itu nggak suka lo ngejar-ngejar Rafael" ucap Ratu penuh penekanan.
"Kenapa nggak suka, emang lo siapanya Rafael Makanya larang-larang gue buat deketin Rafael" tanyaku sambil tersenyum mencemooh. Ratu yang mulai naik pitam menjambak rambutku membuatku terpaksa berdiri. Vallen dan Valerie yang melihat itu pun tertawa cekikikan.
"Asal lo tau gue itu pacarnya Rafael, dan gue sebagai pacarnya nggak suka ada cewek lain yang ngegoda pacar gue. Apalagi cewek itu ****** kayak lo" ucap Ratu lalu melepaskan cengkramannya di rambut Karin dengan kasar.
"Kalau lo emang pacarnya Rafael terus kenapa dia nggak pernah nganggep lo sebagai pacarnya. Dan asal lo tau seharusnya lo sadar yang ****** di sini siapa gue atau lo" ucapku lalu menatapnya sinis. Ratu yang mendengar ucapanku pun mukanya berubah menjadi merah karena menahan amarah.
Plakk..plakk
Ratu menampar pipi kanan dan kiriku sehingga ku menimbulkan bekas tamparan. Aku hanya bisa menahan amarahku dengan mengepalkan tangan aku membiarkan mereka melakukan apapun karena percuma saja aku melawan, karena tidak mungkin aku bisa melawan mereka bertiga.
"Berani-beraninya lo ngatain gue ****** DASAR CEWEK MURAHAN KERJAANNYA CUMAN MERAYU PACAR ORANG, guys pegangin dia" perintah Ratu kemudian Vallen dan Valerie memegang tanganku entah apa yang akan mereka perbuat lagi dalam hati aku terus merapalkan doa semoga ada yang menolongku.
Ratu yang melihatku tidak bisa berbuat apa-apa tersenyum kemenangan iapun berdiri ke hadapanku.
"Hahaha mana temen-temen lo yang sok jagoan itu?" Tanya Ratu yang kuabaikan saja toh pipiku sakit karena bekas tamparannya tadi. Ratu yang merasa diabaikan pun menamparku untuk yang kedua kalinya sehingga kuyakini sudut bibirku mengeluarkan darah.
"Kalau ditanya itu dijawab DASAR CEWEK MURAHAN!!" Bentak Ratu padaku.
"Ingat jangan pernah lo deketin Rafael kalau lo masih berani deketin Rafael jangan salahkan gue kalau lo bakal dapet yang lebih dari ini" lanjut Ratu memperingati.
"Nggak ada yang bisa nyuruh gue buat jauhin Rafael selain Rafael sendiri yang minta gue buat pergi dari kehidupan dia" ucapku penuh tantangan.
Lalu mereka pun memaksaku duduk disebuah kursi dan mengikatku di kursi tersebut tak lupa mereka menyumpal mulutku dengan kain.
Kemudian Ratu, Vallen, dan Valerie pergi meninggalkan gudang dengan tertawa terbahak-bahak.
Sesaat setelah Ratu dkk pergi air mataku pun berjatuhan aku tidak sanggup lagi untuk berpura-pura kuat padahal aku lemah. Aku sakit, sakit fisik maupun batin.
Hari menjelang malam tenagaku sudah terkuras semua aku sudah capek berteriak bahkan menangis pun rasanya tidak kuat.
Tak lama tiba-tiba pintu dibuka oleh pak Suripto penjaga sekolah, ia tampaknya kaget melihatku yang diikat di atas kursi dengan rambut yang acak-acakkan.
"Astaghfirullah, non Karin kenapa bisa kaya gini non?" Tanya pak Suripto sambil membuka ikatanku.
"Biasa pak di bully sama Ratu dan teman-temannya" ucapku yang disambut tatapan prihatin dari pak Suripto. Memang ulah Ratu dkk bukan lagi hal baru.
"Ya Allah non, lain kali kalau mereka ganggu nggak usah diladenin diam-in aja non" nasehat pak Suripto yang kubalas dengan anggukan.
"Iya pak! Kalau gitu saya mau pulang dulu makasih yah pak" ucapku.
"Tunggu non, saya bantu cariin taksi!!" Ujar pak Suripto lalu mencarikanku taksi.
***
Author pov
Karin tidak pergi pulang ke rumahnya melainkan pergi ke sebuah taman di dekat rumahnya. Ia tak ingin mamanya khawatir karena melihat penampilannya yang sangat kacau tapi tadi ia sudah mengirim pesan kepada orang tuanya kalau dia sedang kerja kelompok di rumah Alexa.
Karin termenung dinginnya udara tak membuatnya beranjak dari taman tersebut, keheningan malam membuatnya merasa nyaman ditambah dengan indahnya bintang dan bulan yang bertaburan menghiasi langit malam.
Karin memberitahukan mamanya kalau dia akan pulang malam karena akan kerja kelompok di rumah Nevy agar mamanya tidak khawatir.
"Dingin banget yah" ujar seseorang yang berada disamping Karin.
Karin mendongak dan melihat kakaknya Roland yang berdiri disampingnya pun terkejut karena Roland sudah pulang dari Cambridge pun langsung berdiri dan memeluk Roland yang di sambut gelak tawa kakaknya.
"Wow lo kangen banget yah sama gue dek" ujar Roland disela-sela tawanya.
"Iya kak, gue kangen banget sama lo udah lama nggak ketemu. Kemana aja makanya baru datang udah lupa kalau punya adek di Indonesia" ucap Karin tanpa melepas pelukannya.
"Hahaha.. sorry deh, makanya gue nggak pulang karena gue sibuk kuliah. Ya udah lepasin dulu pelukan lo sesek nih nggak bisa napas" gurau Roland.
"Biarin, gue kangen sama lo soalnya" ucap Karin sambil mengeratkan pelukannya. Roland pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dan membalas pelukan adiknya.
Roland Orlando Henzu adalah kakak Karin yang melanjutkan jenjang pendidikannya di Harvard university yang ada di Cambridge, Roland lebih tua 3 tahun dari Karin.
Roland merupakan sosok kakak yang baik dan pengertian. Ia juga sangat menyayangi Karin, bila ada cowok yang mendekati Karin maka mereka harus berhadapan dulu dengan Roland, karena Roland tak ingin Karin salah memilih pasangan.
Tak lama Roland pun melepaskan pelukan Karin dan ia baru menyadari wajah adiknya yang babak belur.
"Muka lo kenapa dek jadi babak belur kek gini?" Tanya Roland penasaran sekaligus khawatir.
"Biasa kak di bully sama orang kurang kerjaan" ucap Karin setengah melucu.
"Lo hebat juga yah dek" ungkap Roland.
"Ya udah mending sekarang kita pulang udah jam 7 nanti mama khawatir karena lo belum pulang" lanjut Roland.
"Oh iya kak, kok lo bisa tau kalau gue ada disini sih?" Tanya Karin penasaran pasalnya tidak ada yang tau ia dimana.
"Tadi pas gue dibandara gue hubungin mama nanyain lo kata mama lo lagi kerja kelompok di rumah si Nevy. Ya udah gue pergi jemput lo sekalian bikin kejutan buat lo" cerita Roland panjang lebar.
"Jawaban lo nggak ngejawab pertanyaan gue nyet" ujar Karin lalu menjitak kepala Roland.
"Eh buset gue belum selesai ngomong nyet" balas Roland menjitak kepala Karin.
"Aww.. jahat lo!! Sakit tau. Ya udah lanjutin cepat" ujar Karin sambil cemberut. Roland yang melihat adiknya sedang merajuk pun langsung mengelus kepala Karin lembut dan melanjutkan ceritanya.
"Pas gue di rumahnya Nevy, dia kaget saat gue tanya ke dia lo dimana. Katanya lo udah pulang lebih awal Dia sama Alexa kira lo sakit makanya pulang lebih awal. Gue lebih kaget pas dia bilang gitu terus gue pamit sama dia, diperjalanan gue pikir dimana tempat yang biasa lo kunjungi ya udah gue pikir kalau bukan di rumah sahabat lo yah disini. Terus pas gue kesini eh yernyata bener lo ada disini" ujar Roland.
"Uhh sosweet.. lo kakak gue yang paling pengertian deh, makin sayang gue sama lo kak" ucap Karin sambil memeluk lengan Roland manja.
"Ah lo dek, dari dulu sampai sekarang masih aja manja, ya udah yuk pulang nanti mama khawatir lagi" ujar Roland sambil mengelus puncak kepala Karin.
"Kak gue nggak mungkin pulang dalam keadaan kek gini, nanti mama bisa-bisa pingsan lihat penampilan gue terus papa pasti ceramahin gue sampai pagi" ujar Karin sambil tertawa cekikikan.
"Hahaha iya yah gue baru nyadar penampilan lo kayak mbak kunti" gurau Roland sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ihh kakak apaan sih masa gue yang cantiknya kelewatan kek gini di samain sama mbak kunti" ujar Karin sambil cemberut.
"Ya udah sini ke mobil biar gue obatin luka lo terus lo ganti pake baju kaos gue dulu untuk sementara" ujar Roland lalu menarik tangan Karin.
***
Jangan lupa vote and coment😅