
Apa salahku ibu kenapa ibu seolah-olah sangat membenciku dan membedakanku dengan kakak, apa salahku ibu
☁☁☁
"Ibu..Ayah..Vegar lapar hiks.." tangisan seorang anak yang berumur 5 tahun memenuhi ruangan tersebut.
Vegar saat ini sedang menangis di dalam gudang. Sedari tadi Vegar di kurung oleh ibunya karena kejadian di meja makan tadi. Saat Vegar ingin makan siang tadi, piring yang berisi makanannya tanpa sengaja disenggol oleh Vigar lalu terjatuh dan mengenai kaki Vegar sendiri.
Tapi bukannya mengobati kaki Vegar ibunya malah memarahinya dan menyalahkan Vegar yang tak bisa memegang piringnya dengan baik hingga saat tersenggol oleh Vigar piring tersebut malah terjatuh.
"Hiks..hiks.. ibu adek lapar, kaki adek sakit hiks" tangis Vegar sambil mengedor-ngedor pintu gudang tersebut masih dengan kakinya yang belum diobati. Vegar terus saja menangis sambil memohon kepada ibunya untuk mengeluarkannya.
"Psstt.. dek ini kakak" tiba-tiba Vegar menghentikan tangisnya saat mendengar suara kakaknya dibalik pintu gudang tersebut.
"Kakak Vigar?" Tanya Vegar memastikan bahwa itu adalah kakaknya.
"Iya ini kakak, maafin kakak yah karena kakak kamu malah dikurung di gudang dan kaki kamu luka karena kena pecahan piring tadi." ujar Vigar berbisik.
"Iya nggak papa kok, ini juga salah Vegar karena gak megang piringnya hati-hati." ujar Vegar.
"Ini ada roti, kamu pasti belum makankan" ucap Vigar lalu memberikan sebuah roti yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi tadi untuk Vegar kemudian memberikannya lewat celah di pintu yang ada di bagian bawah.
"Makasih kak, ya udah kakak mending sekarang pergi nanti ibu lihat terus kakak malah dimarahin gara-gara kasih adek roti" ujar Vegar lalu mulai memakan roti yang dibawakan oleh Vigar.
"Kakak nggak akan ninggalin kamu dek, kakak akan nunggu disini nemenin kamu sampai ibu keluarin kamu dari sini" ujar Vigar lalu mulai duduk dengan bersandar di pintu gudang tersebut.
***
Byurr..
Vegar terbangun saat merasakan ada seseorang yang menyiram tubuhnya dengan air, Vegar meringis kesakitan saat air tersebut terkena lukanya membuatnya menahan perih di kakinya.
Saat ia mendongak Vegar melihat ibunya yang sedang memegang ember yang telah kosong dan menatapnya marah. Melihat tatapan ibunya Vegar yakin ia pasti akan mendapat masalah.
"Bangun kau bocah" teriak ibu Vegar marah.
"Ada apa bu, Kenapa ibu menyiramku dengan air?" Tanya Vegar sambil meniup-niup lukanya yang terasa perih.
"ADA APA,,ADA APA,, KAU PASTI YANG MENYURUH KAKAKMU UNTUK MENGAMBILKAN ROTI UNTUKMU. IYA KAN!!" teriak ibu Vegar marah sambil menendang Vegar.
"Tidak bu, Vegar tidak menyuruh kakak" bela Vegar pada dirinya sendiri.
"Ohh, kau mulai berbohong rupanya sini kau akan kuberi kau pelajaran agar tak berbohong lagi" ucap ibu Vegar lalu menarik paksa Vegar menuju ke dapur. Vegar dengan pasrah mengikuti ibunya dengan tertatih-tatih.
"Ibu lepaskan adek, adek tidak bersalah. Vigar sendiri yang mengambilkan roti untuk adek, adek tidak menyuruh Vigar ibu" ujar Vigar yang sedari tadi ada di belakang ibunya.
"Diam kamu Vigar, kamu tidak perlu membela adikmu yang nakal ini. Sekarang cepat pergi kekamarmu dan jangan keluar dari kamar" ucap ibu Vegar.