Tsunderella

Tsunderella
6. Dia-



Aku tiba dikampus. Pangeran menjadi supir antar jemputku. Bukannya bermaksud jahat menyebutnya seperti itu, hanya saja kenyataan yang terjadi dia mirip sekali dengan supir pribadi. Cowok itu tidak henti-hentinya mengajakku mengobrol. Topik yang ngalor-ngidul tidak kupermasalahkan, asal dia mau mengajakku bicara, itu sudah lebih dari cukup.


Ini juga kali pertama aku bisa berduaan dengan seorang cowok. Kemistri nya ituloh, mantap asoy. Aku tidak henti-hentinya tersenyum sejak tadi pagi saat dia menjemputku.


“Lo kenapa dari tadi keliatan kayak gak nyaman?” ah, benar juga. Kebanyakan dari baju-baju Cindy adalah medium dress dan hal ini membuatku sedikit tidak nyaman. Aku terbiasa mengenkan celaa jeans, atasan kaos yang biasanya ku cover menggunakan cardigan rajut. Tapi kali ini aku terpaksa harus memakai salah satu dari miliknya. Meskipun panjang bagian bawahnya melewati dengkul, tapi tetap saja membuat risih.


Ada sensasi semriwing yang menjalar setiap kali angin berhembus.


“Gue gak apa.” Aku menjawab sambil tersenyum, lama-lama ini rok bikin gatel juga.


Aku melanjutkan berjalan tentu saja sambil digandeng pangeran. Dia itu calon imam masa depanku, sudah melamarku –meskipun itu hanya perasaanku saja, sudah ku hak milik, jadi kalau dia jauh-jauh bisa bahaya digaet cewek centil lainnya. Maklum saja dia itu gantengnya undescribeable.


Aku melirik dari ekor mata. Entah perasaanku saja atau memang iya, semua mata tertuju pada kami. Papa bilang aku sudah koma selama dua minggu dan absen kuliah sebulan penuh. Wajar saja kalau mereka menatap aneh sejak pertama aku datang. Ah, tapi masa iya Cindy seterkenal itu.


BUGH!!!


Kampret. Gak dirumah, gak disini semua orang hobi sekali menabrakku.


Aku mengaduh saat merasa seseorang yang tubuhnya lebih besar dariku menabrakku. Eh –daripada menabrak ini lebih cocok disebut memeluk.


“Akhirnya lo ngampus juga. Gue kesepian tiap hari tanpa lo.” Aku mencoba melepaskan diri. Pangeran yang berada disebelahku terkesiap nyari meninjunya. Sebelum hal itu terjadi aku mencoba untuk lebih menenangkannya. Mengatakan bahwa aku baik-baik aja.


“Tolong lepasin tangan lo. Dia baru aja sembuh.” Cowok yang tadi merangkulku menurut. Menggaruk kepala belakangnya sambil beberapa kali meminta maaf. “lo, yang gak jauh lebih ganteng dari Pangeran, siapa?”


Sejenak tatapannya berubah layu. Mata dengan garis tipis kuat itu untuk sesaat tidak terlihat hidup. “gue Rangga. Rangga Hadiwijaya. Kita kan-“ aku menoleh ke Pangeran. Cowok itu melepas tautan diantara aku dan Rangga. “dia sahabat lo.” Oooh, sahabat Cindy.


Aku mengangguk mengerti. “oh, lo, Bi.” Aku berusaha sok akrab, mencoba untuk membaur dengan sekitar. Bisa gawat kalau Cindy kehilangan sahabatnya karena sikap aneh tak acuhku. Meskipun untuk saat ini tidak akan terjadi masalah, mengingat bahwa aku yang masih berada dalam amnesia.


“Bi?” Rangga mengulangi kataku. “akhirnya lo sadar dan mau manggil gue dengan sebutan Baby.” Aku mendelik kesal. Apa-apaan ekspetasinya itu, “Bi, itu artinya ****.” Orang-orang disekitar kami tertawa. Mungkin merasa kasihan karena Rangga yang salah menduga.


Dering telepon menginterupsi kami. Pangeran merogoh saku untuk mengambil ponselnya, beberapa saat setelahnya dia memohon pamit dan menyerahkan urusan mengantar aku berkeliling kepada Rangga. Aku sedikit kecewa, lagipula kupikir sebelumnya mereka itu tampak tidak saling suka.


“Baiklah tuan putri Cinderella. Mulai dari sini biarkan hamba yang mengambil alih.” Aku meneleng sedikit, merasa aneh dengan sebutan Cinderella barusan. “Cinderella?” aku mengulainya bermaksud agar dia segera memperjelas apa maksudnya.


“Nama lo Cindy Aurelia, kan? Jadi gue pendekin aja jadi Cinderella.” Hebat juga tuh orang bisa tau. Aku saja malah baru mengetahui –nama lengkapku. Eh, nyaris terbawa suasan aku lupa dengan jati diriku yang sebenarnya. Gue, Candy Anastasia.


Kami berkeliling. Di sepanjang perjalanan dia tanpa hentinya mengajakku ngobrol. Bertanya kemana saja sebulanan ini aku menghilang tanpa kabar. Sepertinya dia benar-benar teman baik Cindy. Wajahnya lumayan, tapi Pangeran tetap nambawan. Dia juga orang yang periang.


“Entah perasaan gue aja. Gue ngerasa lo bener-bener beda dari sebelumnya.” Aku menggaruk punggung, lalu lagi-lagi mengupil. Papa bilang kebiasaan baruku ini benar-benar buruk. “gue makin suka lo. Pacaran yuk?”


Aku melemparkan upilnya kesembarang tempat. Lalu menoleh kepada lawan bicara. Rangga sama sekali tidak merasa terganggu dengan apa yang kulakukan. Padahal beberapa orang yang berlalu lalang diantara kami tidak sekali dua kali menggendik seperti jijik.


“Bi.”


“Sorry, tapi gue udah jadi istri Pangeran.” Aku berkata lempeng sementara dia terkejut. Sepertinya mengada-ada ku terlalu berlebihan.


“SEJAK KAPAN?” Aku sedikit menjauhkan wajahku. Liurnya nyaris muncrat.


“Sejak lahir kita udah ditakdirkan bersama.” Gurat kecewanya berangsur lega.


“Yah, gue ditolak ke yang sepuluh kalinya.” Aku bertepuk tangan sekali –terpukau sumringah saat tau ada orang se-jones dia.


“Tenang aja, Bi. Gue udah bailk disini. Dan mulai sekarang lo gak perlu lagi menderita karena ditolak lagi. Karena dewi cinta telah hadir kembali.” Aku berdiri, mengacungkan jari untuk mendramatisir suasana. Dengan begini saat Cindy sudah ditemukan dia akan merasa setidaknya sedikit bangga padaku, karena sahabat jonesnya telah memiliki pacar.


“Kalo gitu lo aja yang jadi pacar gue.”


“Nehi-nehi-nehi. Sorry Bi, kalo itu mustahil.” Aku menggerakkan jari telunjuk seolah memberi isyarat ‘tidak’. Iya dong, gak mungkin seorang Candy berkhianat apalagi saingan NTR-nya Pangeran gak lebih dari seorang Rangga Hadiwijaya. Memangnya apa yang salah dengan Rangga? Entahlah. Bodoamat.


Saat sedang asyik berpikir tiba-tiba punggungku terasa gatal. Ah, sial. Tanganku tidak sampai untuk meraihnya. “Bi, garukin doing.” Aku sedikit menurunkan kerah bajuku, lalu menghadap Rangga, bermaksud meminta tolong karena tanganku yang tidak sampai.


“GUE COWOK WOI!!!” dia itu punya banyak kesamaan dengan orang-orang yang ada dirumah.


“Oh, lo cowok?”


“Sakit loh, sakitnya tuh disini.” Dih, lebay. Padahal aku hanya meminta tolong.


Aku melenggang, mengambil sling bag yang tadi tergeletak, sementara beberapa buku berat kuserahkan pada Rangga. Kata papa gak boleh bawa yang berat-berat dulu jadi sebaiknya Rangga wajib nolongin.


“Lo baru sembuh udah makin bossy aja?” dia mendumel.


“Sahabat harus saling tolong menolong.” Aku meluruskan.


Kami berjalan bersisian. Jujur saja semuanya masih terasa asing bagiku karena memang ini pertama kalinya aku berada disini. Untuk ukuran sebuah kampus, ini benar-benar tergolong elit. Tidak hanya maksimal dalam hal mengajar maupun praktiknya, fasilitasnya pun sangat mewah. Sekilas penataan ruangan mirip dengan bangunan sekolah ala jepang. Saat diingat lagi aku merasa seperti terlahir kembali di isekai.


“Princess udah balik tuh.” Aku terkesiap. Mulut julid siapa barusan?


Rangga maju menghadang. Cowok itu berdiri tegap didepanku. Kenapa? Ada apa?


“Kalo lo mau jahilin Cindy lagi, gue patahin dua tangan lo.” Sereeeeem. Memangnya apa yang terjadi sampai teman baik Cindy merangkap karakter sebagai tukang jagal?


Aku mengintip dari balik punggung Rangga. Arwah penasaran mendadak seolah menggelayutiku. Ah, tidak terlihat. Mendadak kerumunan berjubel mengitari kami. Aku kembali mengintip, kali ini menerobos. Saat bisa melihat dengan jelas apa yang ada didepan kepalaku tiba-tiba meneleng.


“Eh-“