Tsunderella

Tsunderella
2. Karakter Utama



“AAAAARRRGGG!!! JANGAN DEKET-DEKET ATAU GUE LEMPAR!” ancamku yang kesekian kali. Seenak udel bawa anak orang yang super manis tanpa minta izin keempunya, jelas-jelas ini termasuk bentuk kejahatan kelas berat.


“Cindy, tolong kamu dengerin papa dulu, yah?” bujuk aja teruuuus. Dia itu benar-benar orang tua yang tidak tau adab, asal nyulik anak orang sekarang malah nyuruh pilih ini-itu. Dikira gatau apa yang setelah itu terjadi, yah, rencana busuk dia semuanya udah kebaca. Setelah puas dan berperilaku lebih tenang , korban akan segera dimasukkan karung, diikat, lalu dijual illegal persatuan potong. Cih, trik murahan.


Kalau ditanya darimana arahnya pemikiran ngawur tapi berpotensi terjadi ini adalah karena plot drama terakhir yang kulihat juga sama ngawurnya dengan insiden kali ini. Semua terjadi begitu tiba-tiba.


“Cindy, nak, papa mohon?” itu orang emang gak ada putus asanya. “Bapak gue dah mati! Kalaupun gentayangan wujudnya gak akan se-semrawut lo.” Kejamnyaaaa. Mulut Candy banget gitu loh.


Pria itu tampak menghela napas berat. “mau bilang apapun soal papa itu gak masalah. Tapi-“ bisa kulihat dia mulai berlari keluar kamar. Aku masih mengawasi, tetap waspada seandainya pria beruang itu kembali lalu memaksa ini dan itu lagi. “TURUN DARI LEMARI SEKARANG JUGA!”


BUGH!!!


Berengsek. Kan, apa kataku?


Lemparan telak kudapatkan. Seketilka tubuhku terhuyung.


“Sejak kapan kamu punya hobi gelantungan dilemari? Seinget papa, gak pernah sekalipun kamu ngidolain monyet.”


“Tuan, tolong jangan kasar-kasar. Cindy baru aja keluar dari rumah sakit dan sekarang udah dibuat tuan jatuh lagi.” Dasar orang tua gak waras. Padahal baru beberapa detik lalu manggil nak, sayang, de el-el. Eh, sekarang udah bikin celaka yang katanya anaknya, lagi. Penculik gak pro dasar.


“Eh, iya lupa.” Pria itu mendekat, menunduk lalu membantuku duduk meski berkali-kali kutepis. Najis sekali. “Papa minta maaf. Tapi tolong jangan lagi ngelakuin hal ekstrem kayak tadi. Baru kali ini kamu gak bisa dikontrol begini.”


Mimpi kali, rumah gedongan segede ini bisa ditinggalin rakyat jelata semacem gue. Palingan jadi upik abu. Kalaupun benar, jadi upik abu di istana begini sepertinya tidak masalah juga. Toh, jabatan bisa dinaikkan.


“Nama gue Candy!” aku tersulut. Dia itu benar-benar membuatku marah saja.


“Kayaknya bener apa kata dokter. Benturan keras dikepala kamu bikin kamu amnesia.” Nih pak tua makin lama makin ngelantur aja. “sebaiknya kamu istirahat aja. Papa sayang kamu.” Kecupan hangat menjadi penutup semua pergelutan yang aku rasa tidak akan berujung ini. Rasanya hangat bahkan dengan perban yang membebat kepala. tanpa sengaja aku tersenyum kecil. Lalu sedetik kemudian kuenyahkan segala pemikiran aneh itu.


Ingat Candy! Ini Cuma trik buat bikin lo luluh. Setelahnya, ****** GUE.


Aku menurut dan berbaring. Kali ini pria itu memilih pergi. Tepat sebelum dia benar-benar beranjak keluar kamar kulemparkan celengan bentuk katak berbahan fiber. Saat kudengar suara bugh yang ternyata mengenai punggungnya telak, aku bersorak. Bahagia karena lemparanku tepat sasaran, tapi pria paruh baya itu justru memungutnya lalu meletakkan diatas nakas tidak jauh dari pintu. Tepat sebelum pintu ditutup dia mengulas senyuman manis –palsu, ralat kebenaran menurutku. Aku berdecak semakin muak.


Telentang, kuamati atap plafon yang benar-benar tertutup rapat, berwarna biru terang, terawat dan juga bersih. Berbeda jauh dengan kondisi atap rumahku. Jangankan bisa mendapatkan yang demikian, bisa memiliki atap yang tidak bocor saja aku sangat senang. Beralih menoleh kesisi kanan dan kiri. Nakas, meja belajar, almari besar milik pribadi, dan jangan lupakan elektronik canggih yang tergeletak disana-sini. Laptop yang seperempat terbuka, telepon genggam yang berada disisinya, satu set PC gaming, dan meski tidak yakin tapi aku tau yang satu itu disebut dengan drawing tablet. Semacam smarthphone pintar yang terhubung dengan komputer dan biasanya digunakan para artist untuk membuat desain maupun sketsa.


Super amazing inimah.


Sepertinya sosok Cindy yang mereka maksudkan benar-benar wujud seorang putri didunia asli. Melihat bagaimana kamarnya saja aku sudah tau bahwa dia gadis yang sangat berbakat. Dia cantik dan memiliki keluarga yang sangat menyanginya. Hmm, iya dia cantik banget. Eh-


Tu… Tunggu dulu! Wajahnya? Aku menarik cepat sebuah figura foto yang tergeletak tepat dikasur. Menampilkan sosok cantik dan tampak anggun sedang menggunakan gaun pastel biru tua tanpa lengan. Tanpa kusadari tanganku gemetar sendiri. Ini benar-benar aneh. Aku menelan ludah susah payah.


INIKAN GUE *******!