Tsunderella

Tsunderella
4. Pangeran



“Jadi Cindy bener-bener gak inget siapapun, om” gantengnya Ya Tuhan. Cocok banget jadi cowok gue. “iya. Jangankan inget, sikapnya aja lain dari yang lain. Dia lebih mirip habis kesurupan daripada sakit.”


Aku mendelik sebal lalu sedetik kemudian kutatapi lagi wajah ganteng yang tepat berada didepanku. Mubadzir kalau dianggurin. Hehehe.


Cowok itu juga melihat kearahku. Bahagia tiba-tiba saja kurasakan seperti menggelayutiku, padahal beberapa saat lalu aku masih uring-uringan berteriak ini dan itu. Baru kali ini aku merasa berdebar-debar saat ditatap walau hanya sekilas saja. Yah, ini pasti yang namanya cinta.


“Lo bener-bener gak inget siapa gue?” aku menggeleng tanpa mengendurkan senyuman. Kutopang daguku sambil terus kupandangi wajahnya yang tenang. “Mau jadi cewek gue gak?”


“MAU!!!” dia tertawa. Ya Tuhan tawanya itu benar-benar disayangkan jika harus dilewatkan untuk tidak didengarkan. Dia mendekatkan wajahnya –mensejajarkan dengan wajahku saat ini. “Kapan kita nikah?”


“SEKARANG GUE JUGA MAU?” dia terbahak sampai nyaris terjengkang kebelakang. Tetap tidak mengurangi presentase gantengnya dimataku. Sepertinya aku sedang dimabuk cinta saat ini.


Cowok itu lebih menegakkan badannya. Beralih untuk duduk disebelahku, dia lebih memepetkan tubuhnya agar menempel padaku. Tanpa sadar senyuman terus mengembang dariku. “kalo udah nikah, kita mau punya anak berapa?”


“DUA. DUA ANAK CUKUP.” Aku mengacungkan dua jari antusias sementara dia malah tersungkur sembari memeluk perutnya sendiri. Kalau dilihat saat ini, dia memang benar-benar mirip orang kesurupan. Bahkan tertawanya terdengar tidak normal. Gak apa, tetap ganteng dimataku.


Saat sadar ada sosok lain yang sedang terbahak, aku menolehkan kepala. Pria tua itu, yang saat ini mulai akrab kupanggil papa ternyata lagi-lagi tertawa. Sejak tadi pagi dia selalu saja tertawa setiap mendengar apa yang aku ucapkan. Selera humornya benar-benar payah. Kalau cowok ganteng didepanku mah mau gila sekalipun juga gak masalah, hihihi. Bukannya deskriminasi, hanya saja ini privilege khusus yang kuberikan untuk pangeranku.


“Kamu jangan terus-terusan gangguin Cindy. Dia belum pulih total.” Papa meminta cowok itu untuk berhenti menggodaku. “aku nyaris gak bisa ngenalin Cindy sama sekali kalo bukan karena mukanya. Dia bener-bener beda dari biasanya. Dia bukan lagi cewek lemah lembut yang pemalu.”


Gue emang bukan Cindy, Pangeran. Andai diperbolehkan aku ingin sekali mengatakan hal tersebut tapi aku masih harus menyelidiki beberapa hal ganjil lainnya. Terutama tentang keberadaan Cindy yang asli dan tinggal sementara waktu disini bukan hal yang buruk juga, apalagi datang sosok pangeran idaman.


“Gue harap kebaikan hati lo juga gak berubah.” Hah? Barusan dia bilang apa?


“Jadi kamu bersedia terus ngebantu Cindy buat inget siapa dia dan masa lalunya dulu, kan?” cowok itu berdiri, sedikit membungkuk seolah memberi penghormatan. “pasti om. Aku bakal selalu ada buat jagain dia.”


Jodoh inimah. Pasti ini jodoh gue, buktinya barusan aja dia ngelamar gue. Kalimat ‘aku bakal selalu jagain dia’, sama saja dengan janji untuk sehidup semati. Entah musibah atau justru anugerah? Aku tidak peduli lagi. Yang jelas untuk saat ini aku akan menikmati berkah kehidupan seperti terlahir kembali ini.


“Pangeran, lo disini?” oh, namanya benar-benar Pangeran. aku menoleh cepat seolah ada alarm khusus sedang berdering memperingatkan. Tanda bahaya telah tiba. Cewek yang tadi sempat kukira jelmaan setan kini muncul didepanku. Bergelayut manja dilengan sosok yang seharusnya menjadi imam masa depanku.


“Hai juga Resa. Gue disini cuma mau mastiin kondisi Cindy.” Aku tersenyum meremehkan saat mendengar namaku, eh maksudnya Cindy yang saat ini sedang kuperankan. Cewek itu nampak sedikit tersulut. Dia mulai melonggarkan genggaman erat dilengan Pangeran.


“Gue pulang dulu yah, chibi. Besok gue jenguk bawain donat kesukaan lo.” Chibi? Maksudnya aku cebol gitu? “gue gak ce-“


Tepat sebelum aku menyelesaikan kalimatku dia sudah lebih dulu berdiri. Mengacak rambutku pelan lalu sebelum benar-benar pergi dia menyerahkan kalung berbandul panda. Lagi-lagi yang kulakukan hanya tersipu malu, diam seribu bahasa dan menunduk dalam. Kuremat pelan ujung kaosku sambil sesekali terkikik kecil. “jaga diri baik-baik.”


Rasanya aku benar-benar ingin menari saja saat ini. untuk pertama kalinya aku mendapatkan perhatian seperti ini. Dipedulikan oleh banyak orang, dikhawatirkan, dicintai. Jika ini hanyalah mimpi belaka, aku harap tidak perlu dibangunkan lagi. Utopia yang selama ini kuimpikan kini telah kucicipi betapa indahnya. Aku… tidak tau lagi harus berekspresi seperti apa.


Hiks… Hiks…


“Sayang. Cindy kamu kenapa?”


Hiks… Hiks…


“Apa papa nyakitin kamu? Apa pangeran nyakitin kamu?” aku mendongak. Ujung kaos masih kuremat, kali ini lebih kuat. Bulir-bulir air bening mulai berjatuhan dari mataku. Kugigit bibir bagian dalamku untuk sedikit menyamarkan isakan. “te… terima kasih.”


Aku berkata parau. Menangis meraung membuat papa semakin gelagapan. Dengan segera pria itu memelukku, menenggelamkan wajah basahku kedalam tengkuknya. Aku masih meraung bahkan merasa tidak bisa berhenti. Sementara itu, papa hanya terus memelukku. Membisikkan berbagai kalimat yang menenangkan.


Ini benar-benar pertama kalinya aku dipeluk seseorang selain ibuku. Rasanya, nyaman. Aku balas memeluknya erat seolah menyalurkan semua yang tidak bisa ku ungkapkan lewat kata-kata.


“Kamu baik-baik aja, kan?” aku mengangguk. Papa tampak sedikit lega sementara cewek yang kuketahui anaknya, saudaraku untuk saat ini, dia berpangku tangan sambil melihat ke lain arah. Memberengut serta menggerutu tidak jelas yang sama sekali tidak didengarkan papa.


“Mau gimanapun lo gak pernah berubah. Tetap aja nyebelin dan jadi parasit.” Aku menyusut air mata yang masih sempat menetes. Jadi mulai saat ini dia sainganku sekaligus musuh abadi dirumah ini.


Aku membisikkan kalimat-kalimat motivasi pada diri sendiri. Siapapun lawannya pasti tidak akan kubiarkan mendapatkan apa yang sudah aku miliki. Melihat bagaimana sikapnya padaku, aku sudah menduga bahwa hubungannya, dia, dan orang yang harus kusebut mama, tidak pernah baik. Aku yakin bahwa Cindy pasti menderita harus hidup diantara mereka.


Siapapun yang tidak suka terhadap Cindy, untuk saat ini akan kuajarkan cara menghormati orang lain lebih baik lagi. Akan kuajarkan bagimana rasanya menjadi pihak yang tertindas. Tentu saja ini semua semata-mata sebagai balasan terima kasih.


Well, terima kasih untuk kesempatan ini. Keluarga tidak harmonis yang Cindy rasakan sebelumnya akan kuubah jadi lebih baik lagi. Monopoli uang jajan yang seharusnya atas nama Cindy namun dirampas serta dicuri oleh para ******** keluarga palsu yang mendiami rumah ini. Mulai saat ini akan kubasmi semua hal yang kuanggap buruk.


Selama aku masih berada dirumah ini, tidak akan kubiarkan barang seorang pun akan bertindak otoriter terhadap anggota keluarga lainnya. Istana ini, akan jadi milikku. Candy atau setidaknya akan kukembalikan pada Cindy.