Tsunderella

Tsunderella
5. Kehidupan Keluarga



Aku berjalan santai di halaman belakang rumah. Benar dugaanku, ternyata rumah ini juga dilengkapi dengan taman mini yang dipenuhi bunga. Papa bilang Cindy sangat suka berkebun apalagi menanam bunga. Jadi ini semua hasil jerih payah cewek itu. Gak buruk juga lah.


“Jadi maksud mama mulai minggu depan dia bakal satu kampus bahkan satu kelas sama aku.” Samar-samar aku mendengar suara wanita setengah berteriak. Karena penasaran aku memutuskan untuk mencari tau.


“Mau gimana lagi, ini kehendak papamu. Kita gak bisa ngapa-ngapain.” Bisa kulihat dari kejauhan Double Mak Lampir sedang berbincang antusias. Mama –mak lampir tampak tidak terlalu terganggu dengan topik pembicaraan tersebut. Sementara Resa –mini mak lampir tampak mengepalkan tangan kuat seolah sedang kesal. Aku masih tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang para makhluk absurd itu perbincangkan. Aku memilih untuk lebih memperpendek jarak.


“Mama tau gak seberapa keselnya aku pas tau dia gak jadi mati.” Jeda, cewek itu meneguk sedikit minuman yang ada digelas mak lampir. “setelah sadar dari koma dia bener-bener makin ngelunjak. Tadi pagi aja dia berani-beraninya masuk ke kamarku udah gitu ngeledekin lagi.” Aku mengingat-ingat. Memang benar sih, tapi siapa juga yang tidak tertawa melihat wujudnya pagi tadi.


“Mama juga makin kesel. Semenjak amnesia, anak itu bener-bener gak terkendali. Bahkan dia sama sekali udah gak takut sama mama.” Lah, buat apa juga gue takut sama kalian? Najis. “kamu tenang aja. Gak lama lagi dia pasti bakal sadar sama posisinya sendiri. Semua ini cuma perkara waktu.


”Benar, ini semua memang perkara waktu sampai kalian tobat dan gak akan nyakitin Cindy lagi. Ini Candy, loh. Cewek yang menyebut dirinya sejahat iblis kalau sudah dipermainkan. Membuat double mak lampir menderita dirumah ini adalah hal yang cukup mudah untuk kulakukan.


Aku memilih pergi. Merasa tidak ada hal penting lagi yang harus kuketahui dari mereka membuatku tidak betah berlama-lama disini. Kalau tidak salah mereka tadi menyebut tentang kuliah. Aku bersenandung pelan saat tau tidak lama lagi aku akan menempuh pendidikan di perguruan tinggi.


Aku terhenti. Kali ini karena melihat gelagat aneh adik tiri yang kuketahui bernama Clara. “Kayaknya enak tuh.” Refleks cewek itu menoleh cepat. Mimik wajahnya berubah masam saat tau bahwa aku yang berbicara. “nih, gue bikinin jus biar lo cepet baikan.”


Alisku mungkin saat ini tampak saling bertautan. Kuamati seksama apa yang digenggamnya. Tangan kiri membawa jus alpukat, sementara tangan kanan yang kini dia sodorkan padaku membawa jus jambu. Aneh sekali dia mendadak baik padahal baru tadi pagi seolah menaruh dendam padaku. “Thanks. Jusnya enak.”


Dia terbelalak. “Sorry, tapi seharusnya lo minum yang ini.” Clara kembali menyodorkan jus jambu yang seharusnya kuteguk. Untung gue gak ******. “sorry tapi gue gak suka jambu. Lagian kalo mau nolong orang yang ikhlas dong.”


PRANNKK!


Cewek itu membanting gelasnya. Untuk beberapa saat suara pecahan belingnya membuatku terperanjat. “lo nyebelin banget, sih.” Sudah kuduga ada yang tidak beres dengan jus jambu ditangannya. Mungkin saja itu tadi sudah dicemari semacam obat penyuci perut.


“Woi, mak lampir. Bersihin dong!” saat melihat mak lampir lewat begitu saja entah kenapa aku ingin meminta bantuannya. Meminta pertolongan yang seperti ini tidak masalah, kan?


“Sejak kapan kamu mulai berani manggil mama dengan sebutan gak sopan kayak tadi?” aku memberengut. Padahal aku hanya ingin meminta sedikit bantuan, tapi dia itu pelit sekali. Lagipula aku merasa sudah memintanya dengan cara yang baik dan benar. Karena terlalu malas berdebat aku memilih untuk berjongkok –memunguti sendiri pecahan-pecahan beling itu sendiri sebelum terinjak oleh orang lain. Begini-begini, ini semua juga karena kesalahanku.


“KAMU-“


“Ada apa ini ramai-ramai? Cindy kamu kenapa?” ah, papa disini. Aku tersenyum miring merasa bahwa saat ini adalah waktu yang pas untuk ber-dorama ria. “tadi Clara gak sengaja jatuhin gelas dan nyaris aja aku injek. Setelah itu aku minta bantuan mama buat bersihin tapi dia malah nolak.” Aku memasang wajah sedikit memelas, berpura-pura kecewa tapi sebenarnya bersorak gembira. Papa menoleh cepat kearah Mak Lampir dan Clara, untuk sebentar waktu rautnya berubah sedikit bengis.


“Padahal kepala aku masih agak sakit dibuat nunduk.” Aku mendramatisir suasana. Memegangi perban yang membebat kepala seolah benar-benar sedang kesakitan. “Mama kenapa gak bantuin Cindy aja? Kamu juga Clara. Kenapa gak bisa lebih hati-hati lagi?” hehehe, tidak ada yang salah bukan menyebar minyak dikobaran api agar suasana lebih meriah. Setidaknya itulah yang kupelajari saat berada di sirkus.


Aku tertawa tanpa suara, bertolak pinggang sambil terus mengatakan hahaha tanpa adanya suara. Papa yang sedang berbalik dan menghadap mama, sementara lawan bicaranya justru tersulut tidak terima. “kamu liat aja kalo gak percaya kelakuan anak kesayangan kamu itu. Sekarang aja dia lagi ketawa seolah ngeledek aku.”


Aku cepat-cepat berjongkok lagi, memunguti beberapa beling kecil yang tidak jauh dari sekitarku. “liat, dia lagi sakit dan tetap mau ngeberesin semuanya sendiri.” Papa berbalik lagi, kembali berdebat dengan Mak Lampir tentang betapa rajinnya aku. Sementara istrinya semakin terbakar saja.


Aku berdiri lagi. Kali ini aku mengupil sambil menghadap ke Double Mak Lampir. Ikut menyimak perdebatan papa dan mama. Ah, dapat. Aku mengambil hasil temuanku, membulat-bulatkannya lalu menyentilnya ke arah mereka. “nah, liat sekarang dia ngupil sembarangan.”


Papa menoleh cepat. Akhirnya beling terakhir telah kukumpulkan. Dengan begini tidak akan ada yang akan terluka karena menginjak pecahan beling ini. “kamu mungkin lagi capek. Daritadi terus-terusan mojokin Cindy padahal dia gak ngelakuin satu hal pun yang bisa bikin emosi.”


“Cindy sekarang cepat kamu buang semua beling-beling itu. Dan mulai minggu depan kamu bakal masuk kuliah lagi.” Kuliah? Yaaay. “tentu aja dibawah pengawasan Pangeran.”


Aku bersorak. Kebahagian yang tidak bisa kusembunyikan. Mulai minggu depan aku akan lebih sering bersama dengan Pangeran. Dengan begitu aku memiliki banyak kesempatan agar lebih dekat lagi dengan calon imam.


Selepas mengatakan hal itu papa berlalu meninggalkan kami bertiga. Aku, Mak Lampir, dan anaknya, saling bertatapan. Suasana mendadak jadi berat seolah ada aliran listrik yang menyelimuti kami bertiga. Siapa yang peduli dengan dengan apa yang mereka pikirkan. Lebih baik aku makan.


“Dia… itu.”