
BRAKK!!!
“Woi ini kan gue!” aku menunjuk-nunjuk sebuah figura setelah mendobrak pintu kamar seseorang. Jangan Tanya pintu kamar siapa. Mana aku tau, aku kan baru disini. Dan setelah sadar bahwa kamar ini ternyata bukanlah milik pria yang menyebut dirinya papa itu, akupun berbalik.
Wanita yang kuperkirakan umurnya sekitar empat puluh tahunan itu berjengit kaget. Lipstik yang sebelumnya dia genggam dapat kulihat telah patah. Coretan disudut bibir yang panjang hingga kepipi itu sedikit menarik perhatianku.
Aku mendekat, terkikik kecil saat berusaha menahan tawa. “Tante, mau nge-cosplay ondel-ondel, yah?”
“SEJAK KAPAN KAMU BERANI MASUK KAMAR MAMA, HAH?” cepat-cepat aku menutup kedua telinga. Suaranya itu seriosa sekaleeee sampai bisa membuat kupingku pengang. Mirip toa masjid sebelah rumah. Aku manggut-manggut kala merasakan adanya persamaan dengan tinggi-rendahnya suara wanita yang baru saja menyebut dirinya mama –memiripkannya dengan toa masjid sebelah rumah.
“Ngapain kamu manggut-manggut gitu? Sadar dari koma bikin kamu makin kurang ajar aja, hah?” aku tidak peduli. Memilih berbalik lalu meninggalkan wanita itu sendiri yang sedang asyik mengoceh entah dengan siapa. Hmm…
Wajahnya memerah padam. Kalau saja dia itu teko panas, pasti sudah mengepulkan uap. Aku kembali berlari menyusuri satu demi satu ruang yang semakin lama kusadari, RUMAH INI GEDE BANGET YA ALLAH! Atau mungkin ini replika istana versi raksasa?
Kali ini aku menuruni tangga. Setelah salah masuk kamar mandi kali ini aku mendobrak pintu berwarna cokelat tua. Tepat diatas pintu itu tertulis ‘Wonderful Resa ‘. Meski tau betul kamar itu bukan milik papa, ada baiknya untuk sementara waktu memang kupanggil papa saja. Aku tetap memutuskan untuk memastikan sendiri.
BRAKK!!!
“Papa dimana?” aku jatuh tersungkur, terbahak saat melihat sosok wanita yang kali ini kuperkirakan seumuranku atau mungkin lebih muda dari ku sedang memakai masker. Sebenarnya yang membuatku tertawa bukanlah itu melainkan, dia menggunakan maskernya diseluruh tubuh. “lo putih banget. Gue jadi iri.”
“Woi! Sejak kapan lo lancang berani masuk kamar gue, hah?” owalah, anaknya ondel-ondel tadi rupanya. Aku manggut-manggut lagi saat sadar gaya berbicara mereka tidak jauh berbeda. Dan langsung bisa kuketahui bahwa mereka adalah seorang ibu dan anak. Maklum saja, sama anehnya memang.
Cewek itu sejenak terlihat gelagapan. Mengedar ke sembarang tempat, menarik bantal yang berada diatas kasur lalu melemparkannya kasar kearahku. Spontan aku menutup kembali pintu untuk menghindari lemparannya itu. Aku mengatur napas agar lebih tenang. Saat ingin berjalan kembali, aku menoleh sebentar lalu kembali melihat tulisan ‘Wonderful Resa’. Cih, alay.
Bisa kudengar suara menggerutu dari balik pintu itu. Kulangkahkan kaki, kali ini aku memilih untuk berjalan dan mengamati setiap sudut rumah ini. Jujur saja ini benar-benar rumah yang ada didalam bayanganku selama ini. Jika diperbolehkan aku ingin sekali tinggal dirumah ini, tapi aku sadar harus kembali.
Merasa terlalu lama termenung dalam angan sendiri, aku memutuskan kembali berlari dan-
BRAKK!!!
“Pa-“ aku menutup kembali pintu yang baru saja kudobrak. Mendadak ogah walau hanya untuk sekedar bertanya apalagi masuk kedalam sana.
Pakaian kotor berserakan disana-sini, plastik bekas makanan ringan terurai tidak karuan. Dan yang paling horror adalah banyak buku bersampul mengerikan di setiap sudut kamar. Buku yang aku yakini hanya akan dibaca oleh orang-orang kurang waras semacam si empu kamar barusan.
*Bhahahahaha.
Akane ganteng banget.
harus tukeran posisi.
Ya Tuhan kuatkan iman hamba. KYAAAAA*!
Kamar paling horror yang pernah kutemui dan kuputuskan untuk tidak pernah lagi masuk kesana seumur hidup. Titik. Padahal rumah ini seperti istana, tapi sifat dan karakter penghuninya justru seperti makhluk jadi-jadian. Absurd semua astaga.
KYAAAA I LOVE BL.
Berengsek. Aku tidak tahan disini. Pekikan aneh itu terus berkumandang seolah jadi seremoni horror penghantar mimpi buruk. Kuputuskan kali ini aku harus lebih berhati-hati membuka kamar seseorang mengingat bagaimana sejak kamar pertama kali yang kudobrak. Dimulai dengan emak-emak menor, diakhiri dengan cewek gak waras maniak. Baru kali ini aku berurusan dengan banyak orang gila. Kalau begini caranya niatan untuk tinggal dirumah ini terkikis sedikit demi sedikit.
“Sayang, kamu ngapain lari-larian dirumah begini? Apa ada yang sakit? Kamu laper?” pucuk dicinta si papa pun tiba. Akhirnya aku tidak harus melihat wujud neraka lagi yang tersembunyi dalam megahnya istana.
“Ini… ini aku, kan?” papa mengambil sebuah figura yang aku bawa. Melihatnya seksama lalu mengangguk kecil. Anggukan itu membuatku menggelosor lemas di lantai. Ada keganjalan yang kurasakan sejak pertama kali menginjakkan kaki dirumah ini.
Bagaimana mungkin wajah cewek itu benar-benar mirip denganku? “berapa tinggi Cindy?” aku berusaha memastikan dan mulai menerima sebutan orang-orang sebagai Cindy terhadap diriku sendiri. “seratus lima puluh.” NANI?!?! Bahkan cewek itu sama cebolnya denganku.
Aku berusaha agar lebih tenang dan mencoba mengorek informasi lebih guna memastikan bahwa aku memang bukan sosok Cindy yang sedang mengalami amnesia. “apa lagi yang papa ketahui tentang aku?” pria itu sedikit meneleng, “semuanya tentang kamu papa tau.”
Aku masih terduduk dilantai dengan papa yang berjongkok meluruskan pandangannya denganku. Aku harus lebih memastikannya lagi, “misal?” papa tampak sedikit berpikir setelahnya menjawab, “apa kamu inget hobi kamu yang paling aneh?”
Hah? Hobi aneh? “apa itu?” pria itu tersenyum miring. “kamu suka banget nguntit papa, nyimpen foto-foto papa dari segala sisi, pas kecil juga selalu bilang minta agar kamu aja yang jadi pengantinnya papa, dan…” dan? Aku menunggu agar pria itu meneruskan kalimatnya. “kamu juga seneng banget nyimpenin celana dalam papa.”
“STOOOOP! JANGAN TERUSIN LAGI.” Sejak kapan aku memiliki fetish aneh begini? Bahkan aku ingat betul tidak pernah mengidolakan sosok om-om. Incest itu sesuatu yang tidak bisa kuterima.
Papa tertawa, pria itu memegangi perutnya sendiri. “maafin papa. Kamu yang sekarang itu bener-bener ceria dan atraktif. Beda banget sama kamu yang dulu sebelum koma. Papa jadi gak tahan buat gak godain kamu.” Dia berhenti tertawa. Membimbingku agar berdiri lalu menangkup kedua pipiku dengan tangan-tangan besarnya. “maafin papa. Yang jelas kamu puteri kesayangan papa, kamu baik dan lemah lembut. Semua perilaku kamu bener-bener mirip mama kamu.”
Mama? Yang ondel-ondel tadi? Ogah, gue mah.
“Tapi sikap kamu yang sekarang bener-bener berubah. Kamu yang seceria sekarang dan lebih aktif ngebuat papa bener-bener bahagia. Jujur aja papa lebih suka sikap kamu yang sekarang ini, Cindy.” Yaiyalah emang gue Candy, bukan Cindy. Wajar aja kalo sikap kita beda.
“Jadi, kamu mau apa sekarang?” eh, iya juga. Untuk saat ini yang jelas aku sudah tau bahwa aku benar-benar bukan Cindy.
“Cindy. Gue seneng banget lo baik-baik aja.” Aku tersentak. Kurasakan refleks seseorang memeluk tubuhku dengan erat. Dada yang bidang, tangan yang kuat dan besar.
Eh, eeeeh?