Three Eras

Three Eras
Zaki vs Anita



Kepala pelatihan mempersilahkan Mahapati dan para pangeran untuk duduk. Sementara dirinya akan pergi untuk membersihkan tubuhnya yang berlumuran darah akibat pertarungannya dengan Komandan Bayu beberapa waktu lalu.


Guru 2: “Mohon maaf yang mulia, karena kami tidak memberikan tempat duduk yang layak”


Ucap guru 2 memohon maaf kepada Mahapati sambil menuangkan segelas teh dengan sikap sesopan mungkin.


Mahapati: “Tidak masalah, lagipula aku hanya ingin menyaksikan hari dimana bocah itu lulus dari akademi ini, namun tak kusangka akan terjadi seperti ini”


Jawab Mahapati sambil minum teh dan melirik Eror yang sedang memberikan obat sesuai pesan dokter akademi kepada para murid yang terluka.


Kepala pelatihan yang terluka parah kini mulai membaik dan menghampiri Mahapati, lalu duduk disebelahnya setelah memberikan hormat.


“Bagaimana hasilnya, apakah dia salah satu dari dua orang terpilih?” Tanya Mahapati langsung pada intinya.


Mendengar pertanyaan itu Kepala pelatihan hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu dan mengatakan bahwa pertandingannya gagal karena konflik itu.


Mahapati: “Begitu”


Tanggap Mahapati dengan santai sambil menghirup tehnya. Mereka akhirnya mengobrol mengisi waktu luang atau waktu istirahat.


Beberapa menit berlalu, Kepala pelatihan menyuruh semua murid berkumpul dan memutuskan siapa yang akan memasaki dua kursi prajurit elit yang mereka perebutkan sebelumnya.


Kepala pelatihan: “Karena ada sedikit masalah membuat ujian terganggu, oleh karena itu kami telah memutuskan bahwa para murid yang masih mampu bertarung silahkan maju dan bertarung kembali untuk mendapatkan dua kursi itu”


Mendengar pengumuman itu para murid berbisik-bisik, dimana diantara mereka ada yang kesal karena terluka parah dan secara otomatis menghalangi niat mereka untuk menjadi prajurit di pasukan elit kerajaan karena hal itu.


Mereka yang tidak mampu bertarung lagi hanya bisa menunduk sedih dan lesu.


Zaki: “Aku tidak ingin menjadi patung di halaman istana, oleh karena itu aku harus mendapatkan kursi pasukan elit itu”


Gumam Zaki dalam hati dan berjalan kedepan, beberapa orang mengikuti dibelakangnya hingga terkumpul setidaknya tujuh orang yang masih mampu bersaing.


Ogi: “Hei bodoh! … kenapa kau diam saja, apakah kau tidak ikut?”


Ogi yang memiliki sifat usil dan acuh tak acuh dengan keadaan disekitarnya menunjuk Eror yang menunjukkan ekspresi tidak bersemangat, sontak saja semua orang menoleh kepada Eror.


Eror: “Aku tidak tertarik, lagipula aku akan meninggalkan kerajaan ini untuk mengurus sesuatu”


Jawab Eror dengan santai dan membuat semua orang kaget.


“Ternyata dia masih berniat balas dendam” gumam Egie setelah mendengar hal itu.


“Dia masih menyimpan dendam itu?” gumam Mahapati sambil mengelus janggut putihnya dan melirik Eror dengan tatapan penuh makna.


Ogi: “Begitu, kah? Sepertinya aku harus memberitahumu bahwa dunia luar terlalu kejam …”


Ogi yang mengetahui bahwa Eror akan pergi untuk balas dendam berniat mengetesnya, namun baru beberapa langkah Mahapati menariknya untuk duduk kembali.


Mahapati: “Jangan membuat masalah pangeran”


Tegur Mahapati lembut.


Setelah diam beberapa saat Kepala pelatihan mulai berbicara kembali untuk menjelaskan aturan pertandingan yang ternyata masih menggunakan system battle royale.


Kepala pelatihan: “Mulai!”


Teriak kepala pelatihan dengan lantang dan 7 orang di arena saling menyerang satu sama lain. Zaki yang merupakan unggulan saat ini menghadapai tiga orang unggulan yaitu Anita Agath, Ruma Jaka, dan Saiko kira.


Tiga orang lainnya bertarung secara terpisah.


Pertarungan Zaki dan tiga orang yang menyerangnya sangat seru dimana Zaki terlihat mampu mengimbangi mereka.


Anita Agath: “Wanita ini sangat kuat, bahkan kami bertiga kesulitan menghadapainya”


Gumam Anita dalam hati ketika menangkis sebuah tebasan Zaki yang membuatnya termundur beberapa langkah.


Zaki yang hendak menumbangkan Anita dihadang oleh Ruma, dan disaat yang sama Saiko menebas punggungnya, namun Zaki berhasil menangkisnya.


Ruma yang mendapatkan kesempatan langsung menusuk Zaki, namun Zaki lagi-lagi berhasil menangkisnya dan melukai Saiko dengan tebasan anginnya.


Zaki: “Aku harus menyingkirkan orang ini dulu”


Gumam Zaki sambil melepaskan tebasan angin dan berlari mendekati Ruma yang terus menghindari tebasan angin Zaki, namun Ruma hampir terkena tebasan Zaki yang mengarah kelehernya, jika saja Ruma tidak menangkisnya.


Disaat yang sama Anita menendang Zaki hingga termundur beberapa langkah, mereka beradu pedang dan beradu tebasan angin saat sedang jaga jarak.


Saiko: “Memang pantas menjadi siswa yang paling diunggulkan kepala sekolah”


Ucap Saiko yang terluka oleh Zaki dan bahkan terkena tebasan dari Zaki saat hendak memberikan serangan kejutan dari arah belakang.


Saiko: “Meskipun dia sedang bertarung, kewaspadaannya tidak longgar sama sekali”


Gumam Saiko sambil berlari kesana-kesini untuk menghindari tebasan Zaki.


Saiko: “Aku terlalu meremehkannya”


Saiko menyerang lagi dengan sebuah tebasan disisi kiri Zaki, namun Zaki berhasil menghindar dan menangkis serangan Anita, lalu menendang Saiko dan memberikan serangan tebasan angin yang sangat kuat kepada


Anita yang mundur.


Baru beberapa detik menginjak tanah karena terbang mundur, Zaki harus terkena sebuah tinju dari Ruma. Zaki yang kesakitan membuatnya kurang fokus.


Saiko: “Matilah!”


Saiko tidak menyiakan kesempatan itu dan menyerangnya, namun Zaki menangkisnya. Saiko yang tidak mau mengalah menebasnya beberapa kali, namun tetap saja Zaki mampu menangkis semuanya dan bahkan seakan seperti menari.


Zaki memberikan serangan balasan yaitu sebuah tendangan dan pukulan gagang pedang diperut membuat Saiko termuntah darah.


Zaki: “Kau beruntung karena tebasanku hanya menggores saja”


Ucap Zaki kepada Saiko yang sedang dirawat dipinggir arena dengan tatapan dingin dan mematikan, namun Saiko hanya merespon dengan senyum tipis.


Saiko: “Aku akan mengingat ini”


Disaat yang sama Anita menyerang Zaki, namun dapat dihindari dengan mudahnya. Mereka berdua terbang mundur untuk menjaga jarak.


Saat mundur Anita melancarkan beberapa tebasan yang berefek terciptanya tebasan angin kearah Zaki, pada suatu waktu Anita juga melancakan serangan astra kegelapan miliknya dengan lambaian tangan. Sontak saja dua serangan itu membuat Zaki kesulitan. Zaki menggunakan astra lumpurnya untuk menahan dua serangan Anita tersebut.


Zaki termundur karenanya, namun Ruma menyerang lagi, sebuah tendangan Ruma ke arah perut dapat Zaki atasi dengan mundur, sebuah tinjuan di kepala kanan dapat Zaki tangkis dan membalas dengan sebuah tendangan diperut.


Ruma dapat mematahkan tendangan itu dan menangkis tebasan yang dilancarkan Zaki, mau tidak mau Zaki mundur beberapa langkah dan hampir tertusuk dari belakang oleh Anita.


Zaki: “Kau mengganggu saja!”


Ucap Zaki dan melancarkan serangan tebasan horisontal kepada Anita karena Anita membantu Ruma dan membuatnya kesal.


Anita berhasil menghindari serangan itu dan melancarkan serangan balik, disaat yang sama Ruma melancarkan sebuah tinjuan, Zaki yang menangkis tebasan Anita harus menerima tinju Ruma dan membuatnya terlempar beberapa langkah dan memuntahkan banyak darah.


Anita mengejarnya dan melancarkan sebuah tebasan, namun ditangkis dengan mudah.


Zaki: “Baiklah”


Ucap Zaki sambil menangkis pedang Anita dan mundur menjauh untuk menghindari serangan Ruma.


Sementara 3 orang lainnya telah menyelesaikan pertarungan mereka dan pemenangnya melancarkan sebuah tebasan besar menggunakan semua energi gaibnya untuk melepaskan serangan astra angin yang mematikan ke kelompok Zaki yang sedang bertarung.


Tebasan astra angin yang sangat besar itu mengenai dan melukai kelompok Anita yang sedang bertarung, karena mereka bertiga tidak siap menerima serangan kejutan itu.


Haka: “Akhirnya …. aku ….. menang, hahahaha”


Ucap Haka dengan nafas yang ngos-ngosan karena terlalu banyak menggunakan Energi gaib.


Haka yang tersenyum senang dan sangat bahagia harus menerima dinginnya bilah pedang dari Zaki dan Anita yang sangat marah atas apa yang dia lakukan sebelumnya.


Zaki dan Anita disaat yang sama mencabut pedang mereka dan menendang Haka, dan disusul oleh tebasan angin. Beruntung bagi Haka, karena salah satu guru bergerak melindunginya.


Anita melirik Zaki yang terluka cukup parah, Zaki hanya tersenyum, disisi lain Ruma sudah dinyatakan kalah karena tak sadarkan diri dan harus mendapat pertolongan.


Saat Haka dinyatakan kalah, Anita dan Zaki bertarung dengan mengaduh kekuatan mereka.


Kombo gerakan Anita yang berupa 4 tinjuan dan tendangan beruntun dapat dihindari oleh Zaki, namun Zaki harus menerima sebuah tinju di pipinya.


Zaki melancarkan satu tebasan angin ke Anita, Anita yang kondisinya lebih baik dari Zaki dapat menangkis tebasan itu dengan tangan kosong.


“Manipulasi murni? Sepertinya aku menemukan anak yang berbakat kali ini” gumam Mahapati sambil melirik tangan Anita yang diselimuti aura hitam yang disebut energi gaib.


“Maaf yang mulia, saya rasa itu bukan energi gaib, tapi astra kegelapan milik Anita sendiri” ujar Kepala pelatihan hormat.


“Oh, begitu … huh” respon Mahapati kecewa.


Zaki yang bertarung dengan tebasan yang cepat dan kuat membuat Anita tertekan, hingga Zaki mendaratkan tendangan ke Anita hingga membuat Anita terduduk.


Anita: “Aku tidak akan kalah lagi darimu kali ini, bajingan”


Ujar Anita sambil menahan tebasan Zaki, hal itu membuat mereka harus menekan lebih kuat, namun sayangnya Anita harus tergelincir jatuh.


“Hehehe, sepertinya kamu ditakdirkan untuk kalah lagi hari ini”


Ucap Zaki dan memperkuat dorongannya, sampai-sampai bilah pedang Zaki sudah menyentuh dan bahkan menggores leher Anita.


Zaki: “Menyerah saja”


Ucap Zaki dan mengeluarkan aura gaibnya yang berwarna biru petir untuk menekan Anita.


Anita: “Kau kira aku tidak bisa?”


Ucap Anita sambil mengeluarkan aura gaibnya yang berwarna kuning senja dan perlahan mampu menekan balik Zaki.


Mahapati: “Mengeluarkan aura gaib adalah cara terbaik untuk menekan lawan, namun sayang ternyata lawannya tidak tertekan sama sekali dan malah menekan balik”


Gumam Mahapati sambil menikmati pertarungan mental dan tekanan antara Zaki dan Anita yang sudah menuju tahap akhir.


Zaki tiba-tiba mengalirkan kekuatan listrik ke pedangnya dan membuat Anita tersetrum dan semua orang kaget karena Zaki pengguna dua astra.


Zaki menarik Anita dengan memegang kerah bajunya, lalu melancarkan sebuah pukulan gagang pedang yang sangat keras hingga membuat Anita tersungkur.


Anita: “A … aku … men … yerah”


Ucap Anita dengan berat mengakui kekalahannya dan  memuntahkan seteguk darah, lalu pingsan karena tidak sanggup bertahan lebih lama lagi.


Zaki yang berniat mengakhiri pertarungan dengan memberikan luka fatal, harus menghentikan niatnya karena Anita mengaku kalah.


Zaki: “Kau lawan yang hebat”


Ucap Zaki tersenyum tipis sebelum melihat Eror yang juga terkejut dengan serangan listrik Zaki. Dimana Eror tidak percaya bahwa Zaki memiliki dua jenis astra.


Zaki: “Kita sama-sama meraih dua kemenangan dari empat pertarungan, tapi aku akan mengambil kemenangan ketiga secara beruntunku saat ini”


Zaki: “Pangeran ketiga … aku menantangmu!”


Ucap Zaki dengan susah payah dan terbatuk, hingga akhirnya memuntahkan seteguk darah segar karena efek pertarungannya dengan kelompok Anita sebelumnya mulai terasa.