
Guru 1 yang lebih ahli dalam serangan jarak jauh nampaknya kewalahan menghadapi Komandan Bayu yang terkenal dengan tombaknya, karena dengan mudahnya komandan Bayu mendapat celah untuk menyerangnya.
Guru 1: “Astra api: perisai api”
Gumam guru 1 dan sebuah perisai api menghalangi serangan komandan Bayu.
Guru 1: “Jika diteruskan, acara ini akan terganggu”
Ucap guru 1 sambil melirik kepala pelatihan yang hanya duduk santai seakan tidak terjadi apa-apa, guru 1 lalu melirik komandan Bayu dengan tatapan merendahkan.
Komandan Bayu: “Aku benci orang yang mendukung anak itu”
Gumam komandan Bayu lalu menyerang Guru 1, namun guru1 menangkisnya dan mundur untuk menjaga jarak. Komandan Bayu yang menyerang berhasil mendekat dan mencoba meninju Guru 1 dengan tinju terkuatnya.
Eror dan calon prajurit lainnya menghentikan pertarungan mereka akibat pertikaian itu.
Eror: “Guru, kenapa guru membiarkan mereka?”
Kepala pelatihan: “Karena ini masalah mereka, bukan masalahku”
Eror: “Tapi ….”
Kepala pelatihan: “Jangan membuatku mengulangi kata-kataku!”
Mendengar teguran kepala pelatihan membuat Eror terdiam dan beberapa guru dan calon prajurit lainnya mengurungkan niat mereka untuk membantu guru 1.
Eror jelas tidak puas mendengar jawaban dari kepala pelatihan yang terkesan tidak peduli sama sekali, tapi dia hanya bisa nurut saja.
Pertarungan antara guru 1 dan komandan Bayu semakin memanas, dimana guru 1 terus mundur ketika komandan Bayu mendekat dan disaat yang sama melancarkan serangan balasan.
Meski begitu komandan Bayu berhasil memukul guru 1 beberapa kali seakan perlawanan guru 1 hanya masalah kecil baginya.
Guru 1: “Serangan tombak kenangan”
2 tombak api berukuran besar menyerbu komandan Bayu secara berurutan, namun komandan Bayu berhasil menghindar.
Komandan bayu: “Akar kematian”
Ucap komandan Bayu melancarkan serangan balasan dan disaat yang sama dia mendekat lalu menyerang guru 1, karena mencoba menghindari akar dan kurang fokus sebuah tendangan di dada dan tinjuan didagu membuat guru 1 memuntahkan seteguk darah.
Guru 1: “Kurang ajar …. perisai serangan api”
Guru 1 marah karena serangan itu dan membuat perisai yang berfungsi bertahan, dan menyerang disaat yang bersamaan.
Komandan bayu: “Tombak akar”
Komandan Bayu menghindari semua serangan api itu, namun beberapa tubuhnya terkena hingga membuatnya sangat kesakitan, untungnya Bayu berhasil menghancurkan perisai dengan lemparan tombaknya, lalu memukul guru 1 hingga terlempar jauh dari posisinya.
Komandan Bayu: “Tombak akar kegelapan”
Komandan Bayu mengfokuskan energinya, dibelakangnya samar-samar terbentuk sebuah tombak dari akar.
Kepala pelatihan menghentikan lambaian tangan komandan Bayu secara tiba-tiba, tombak akar yang mulai tercipta kini batal.
Kepala pelatihan: “Kau selalu pemarah seperti biasanya, hahaha”
Ucap kepala pelatihan dan mencengkram kencang tangan komandan Bayu hingga membuatnya kesakitan, lalu menendangnya hingga termundur jauh kebelakang.
Komandan Bayu: “Kekuatan fisik orang ini cukup kuat”
Ucap Komandan Bayu ketika menangkis tendangan itu, tendangan itu memberikan luka memar dan rasa sakit baginya.
Komandan Bayu: “Ini bukan urusanmu pak tua, menyingkirlah!”
Kepala pelatihan: “Bagaimana bisa bukan urusanku?”
Kepala pelatihan: “Bukankah dia salah satu guru dan bawahanku di akademi ini?”
Eror dan beberapa peserta lainnya tercengang melihat pemandangan yang mulai mencekam itu. Mereka tanpa sadar takut akan terjadi pertempuran yang dahsyat nantinya.
Zaki: “Energi gaib milik guru sangat besar daripada bajingan itu, tapi kenapa guru kalah?”
Tanya Zaki ketika melihat guru 1 yang sudah babak belur dan tak sanggup melanjutkan dan jatuh pingsan.
Eror: “Guru memang memiliki banyak energi gaib, tapi seberapapun banyaknya kapasitas energi gaib guru, itu tidak berguna jika tidak diimbangi dengan keterampilan bertarung yang memumpuni”
Jawab Eror menjelaskan sambil melihat pertikaian kepala pelatihan dan komandan Bayu.
Zaki: “Maksud pangeran ketiga?”
Tanya Zaki dengan ekspresi dan raut wajah seseorang yang tidak mengerti sama sekali dengan ucapan Eror.
Eror: “Guru hanya cocok pertarungan jarak jauh yang tidak membutuhkan banyak stamina atau banyak kontak fisik, karena stamina guru sangat rendah, fisiknya begitu lembut, dan mudah diserang karena tidak memiliki beladiri”
Jelas Eror sambil ditemani perdebatan antara komandan Bayu dan kepala pelatihan dalam sebuah pertarungan, Eror dan teman-temannya sesekali menjauh dari jangkauan pertarungan itu agar tidak terkena dampak pertarungan dahsyat mereka berdua.
Zaki: “Dengan kata lain guru mudah dikalahkan jika pertarungan jarak dekat”
Eror: “Itu benar, itu terlihat jelas ketika guru menangkis beberapa serangan karena reflek dan tangkisannya malah membuat tangannya kesakitan, serta dia sendiri terpelanting jauh karenanya”
Eror yang terus menjelaskan merasakan pertarungan Kepala pelatihan dan Komandan Bayu mulai memanas, dimana Kepala pelatihan sangat marah yang dapat dilihat dari diamnnya dan tanpa bicara sepata kata apapun
lagi.
Kepala Pelatihan: “Aku akan membunuhmu!”
Kepala pelatihan yang memiliki astra penambahan kekuatan terlihat lebih besar dan kuat dari biasanya karena efek penggunaan astranya.
Komandan Bayu: “Kekuatan fisikku mungkin tidak berguna di depan astramu, tapi bukan berarti kau bisa mengalahkanku”
Komandan Bayu melambaikan tangannya seketika sebuah tombak keluar dari ruang gaibnya (Ruang gaib adalah teknik ciptaan untuk menyimpan barang dengan menciptakan ruang dimensi sendiri hampir sama dengan kubus penyimpanan).
Guru 2: “Meskipun kekuatan fisik anak muda itu kalah oleh kepala, namun dia sangat pandai menangkis dan menghindar”
Guru 2: “Dia memang jenius sesuai reputasinya”
Guru 5: “Sepertinya kepala benar-benar kehilangan kesabarannya setelah menahannya selama satu tahun ini, Bayu sungguh hari yang sial untukmu karena membuat harimau tua itu marah”
Sebuah tinjuan kedada dapat ditangkis oleh Bayu dengan sikut tangannya, lalu menendang wajah Kepala pelatihan. Tendangan balasan kepala pelatihan dapat dihindari dan Bayu bahkan meninju perut kepala pelatihan hingga termundur.
Eror: “Kecepatan mereka sangat mengerikan”
Kepala pelatihan banyak mendapat pukulan hingga membuatnya memuntahkan banyak darah, selain itu beberapa luka juga dia dapatkan dari tombak Bayu.
Komandan Bayu terbang dan menuju ke kepala pelatihan dengan tombak tajamnya yang siap menusuk jantung sang kepala yang sudah tak berdaya.
Komandan Bayu: “Matilah dasar lemah!”
Sebelum beberapa centi meter lagi untuk menembus jantung Kepala pelatihan, seseorang memotong tombak Bayu dan hampir menebas kepala Bayu, beruntung Bayu berhasil menghindar.
Orang itu dengan cepat berada di depan bayu dan menendangnya hingga termundur beberapa langkah.
Komandan Bayu: “Apakah kau ingin mati, bajingan!”
Teriak komandan Bayu dengan tubuh diselimuti energi gaib berwarna kuning dengan amarah yang meluap-luap, namun sebuah tekanan energi gaib yang lebih besar membuat Bayu kaget dan tak mampu menggerakkan tubuhnya.
Tekanan itu membuat beberap murid akademi militer yang tidak mampu menahan tekanan memuntahkan darah dan ada yang pingsan karena lebih lemah.
“Ini …. Jangan melawan jika tidak ingin terluka dalam!”
Teriak salah satu guru memperingatkan para murid, setelah itu para guru duduk bersila untuk melawan tekanan energi gaib itu dengan energi gaib mereka.
Disisi lain para murid yang termuntah darah tidak mencoba melawan lagi, namun hal itu membuat mereka ikut pingsan karena tekanan berat itu.
Komandan Bayu: “Ini?”
Komandan Bayu berkeringat dingin diiringi suara langkah kaki seseorang yang menaiki tangga.
Mahapati: “Kau selalu bersemangat seperti biasanya … Bayu?”
Egie: “Dan selalu arogan seperti biasanya”
Ucap Egie yang berada dibelakang Mahapati Hiren, kondisinya cukup tertekan karena tekanan dari aura energi gaib Mahapati.
Mahapati: “Hahahaha, apakah aku bisa mencoba kekuatanmu, bocah?”
Ucap Mahapati sambil tertawa, namun tangannya diselimuti aura hitam yang disebut teknik manipulasi murni, hal itu menunjukkan bahwa Mahapati sangat marah.
Ogi: “Tempat ini langsung sunyi ketika kakek bertindak, menyedihkan”
Gumam seseorang yang berada tidak jauh dari Mahapati dan Egie, orang itu adalah pangeran Ogi yang terkenal dengan suasana hatinya yang sering berubah-ubah.
Mahapati: “Apa penjelasanmu mengenai ini?”
Tanya Mahapati kepada Bayu sambil melihat kekiri-kekanan, dimana begitu banyak kerusakan yang disebabkan pertarungannya.
Komandan Bayu: “Maafkan aku yang mulia”
Komandan Bayu: “Aku tidak ada alasan untuk membela diri, aku hanya terbawa suasana”
Jawab Bayu dengan sopan dan nada suara yang terbata-bata sambil sesekali melirik para guru terutama Guru 1 yang sudah terluka sangat parah.
Mahapati: “Apa yang membuatmu marah hingga menyebabkan semua ini?”
Komandan Bayu: “Aku tidak bisa mengontrol emosi yang mulia, aku terlalu terbawa suasana”
Mahapati: “Selalu seperti itu alasanmu”
Ucap Mahapati dengan nada tidak percaya dengan apa alasan yang diberikan Bayu.
Mahapati: “Terakhir kali Bayu telah membuat 3 orangmu terluka parah dan tidak melatih muridnya selama 4 bulan lamanya, tapi kau tidak peduli sama sekali”
Ucap Mahapati sambil melirik heran kepada kepala pelatihan.
Kepala pelatihan: “Maksud yang mulia?”
Mahapati: “Tidak, aku hanya penasaran apa yang membuatmu melakukan sejauh ini?”
Kepala pelatihan: “Guru mana yang tidak marah jika muridnya terluka dan seorang bocah yang diajak bicara malah memaki dan merendahkannya?”
Jawab Kepala dengan tenang namun tetap menjaga sikap di hadapan Mahapati Hiren. Mendengar jawaban itu Mahapati hanya tertawa dan memukul komandan Bayu sangat keras hingga memuntahkan seteguk darah segar.
Mahapati: “Aku tidak pernah mempermasalahkan apa yang kau perbuat di sekolah ini, tapi kali ini kau sudah berlebihan hingga membuat para murid dalam bahaya”
Komandan Bayu: “Maafkan … aku … yang … mulia”
Mahapati: “Aku belum selesai bicara disini!”
Belum selesai komandan Bayu menyelesaikan permohonan maafnya, Mahapati langsung menegurnya dengan nada sedingin es, hal itu membuat komandan Bayu hanya bisa diam.
Mahapati: “Lain kali aku tidak ingin mendengar keributan apapun lagi antara kau dan akademi ini, jika tidak kau akan menyesalinya”
Mahapati: “Kuharap kau mengerti … Bayu”
Tukas Mahapati dengan ekspresi dingin membunuh, lalu melangkah kedepan memberikan hormat kepada kepala pelatihan, sementara bayu hanya bisa terdiam dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.
Komandan Bayu: “B-baik … yang mulia”
Ucap komandan Bayu gemetaran. Komandan Bayu tahu dengan jelas apa yang akan terjadi kepadanya jika membuat Mahapati yang terkenal bertangan dingin marah.