Three Eras

Three Eras
Keluarga?



Eror terbangun dari pingsannya dan menemukan bahwa dirinya berada di sebuah ruangan yang sempit dan gelap. Sebuah ruangan tanpa penerangan sama sekali, bahkan tidak ada obor atau lampu minyak , yang ada


hanya kegelapan.


Eror: “Ini … sebuah penjara?”


Ucap Eror dalam hati sambil meraba-raba sekitar dengan tangan mungilnya yang ternyata masih sakit dan tidak diobati sedikitpun.


Eror: “Ternyata benar”


Ucap Eror setelah menyentuh sebuah besi yang sangat dingin dikedua kakinya, ia jelas tahu bahwa itu adalah rantai.


Beberapa lama kemudian datang seseorang bersama dengan beberapa pengawal ke tempatnya, terdengar suara seseorang yang duduk dikursi yang sepertinya dibawa oleh mereka sendiri. Beberapa saat kemudian ruangan itu terang karena disinari lampu.


Egie: “Akhirnya kau sadar juga”


Ucap Egie dengan senyum hangat kepada Eror tidak seperti sebelumnya saat mereka berada di desa yang seakan saling benci.


Eror: “Kau!”


Egie: “Kenapa matamu seperti itu?”


Mendengar hal itu sontak Eror menundukkan pandangannya. Dalam hati Eror berkata Pangeran Egie dan kakaknya mungkin sahabat baik, tapi bukan berarti dia dapat menuangkan kebencian dan kemarahannya kepada Egie yang jelas tidak bersalah.


Egie: “Kau tahu  pasti kenapa kau diperlakukan seperti ini”


Ucap Egie dengan lembut kepada Eror.


Eror: “Aku tahu itu, tapi … kenapa aku harus menerima hal yang tidak pernah kulakukan?”


Jawab Eror dengan tertunduk marah dan nada yang berat.


Egie: “Apakah ada pembelaan untuk itu?”


Tanya Egie dengan sopan, namun Eror hanya menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak ada pembelaan sama sekali.


Egie: “Kuharap kau bisa menjelaskannya di depan sidang untuk nyawamu sendiri”


Ucap Egie kepada Eror dengan sopan dan lembut setelah mereka saling diam dalam kecanggungan beberapa saat. Eror hanya berdengus pelan.


Egie: “Sebagai teman baik kakakmu, aku meragukan bahwa dia yang telah membantai seluruh warga desa kalian”


Ucap Egie yang kini tampak sudah kehabisan topic pembicaraan.


Egie: “Jadi aku akan mencari buk…”


Eror: “Itu benar! …. bajingan itu memang pelakunya”


Ucap Eror dengan nada berat dan memotong ucapan Egie, mendengar hal itu Egie langsung terkejut dan tenggelam dalam ketidakpercayaan.


Egie: “Kenapa kau mengatakan hal itu”


Tanya Egie dengan suara berat seakan tidak percaya dengan apa yang Eror katakan tentang Respati yang tidak lain kakaknya sendiri.


Egie: “Bahkan adiknya sendiri menganggapnya”


Ucap Egie dalam hati. Ia menarik nafas dan menghembuskannya pelan, lalu tersenyum.


Egie: “Jangan menilai seseorang dari satu sisi, karena bisa saja kamu menilai sisi yang salah”


Ucap Egie sambil berdiri untuk pergi dengan suara dingin bahkan lebih dingin daripada saat pertama kali mereka bertemu beberapa hari lalu.


Eror hanya diam tidak menjawab atau mengatakan apapun, dia hanya melihat Egie dengan tatapan aneh dan kosong.


Eror: “Lepaskan aku, aku akan mencari mereka, aku yakin mereka masih hidup”


Pinta Eror tiba-tiba dan membuat Egie menghentikan langkah kakinya, Egie menyadari mereka yang dimaksud adalah ibu dan kedua kakaknya.


Egie hanya tersenyum kecil tanpa berbalik sedikitpun untuk menatap Eror, ia mengatakan bahwa “mereka sudah mati … mungkin” sambil bergegas pergi dari tempat itu.


Hal itu membuat Eror tidak percaya meskipun air matanya menetes mendengar kalimat itu.


“Kau bertemu dengan bocah itu?”


Tanya seorang kakek yang memiliki janggot putih kepada Egie yang sedang berdiri di balkon istana, kakek itu merupakan seorang Mahapati yang bernama Hiren Khayalki.


Egie: “Kakek?”


Egie menuangkan arak ke gelasnya lalu meminumnya tanpa rasa takut.


Egie: “Apakah kakek yakin Respati pelakunya?”


Tanya Egie dengan ekspresi menahan kemarahan dan kesedihan sambil memegang gelasnya dengan keras hingga berbunyi retak dan menuangkan arak lagi.


Mendengar pertanyaan itu Mahapati hanya berdengus pelan.


Perlu diketahui pada malam pembantaian itu Mahapati Hiren pergi dari istana karena permintaan Respati yang merupakan kapten pasukan elit dan juga muridnya.


Mahapati: “Dia sudah menjadi seorang iblis tanpa perasaan yang tega menghabisi nyawa keluarganya dan orang-orang yang tidak bersalah”


Jawab mahapati.


Egie: “Kakek yakin dan percaya bahwa dia melakukan pembantaian itu?”


Tanya Egie lagi dengan nada yang dalam dan suaranya ditekan, sampai-sampai gelasnya pecah karena tidak mampu lagi menahan cengkraman Egie. Karena gelasnya pecah Egie meminum arak itu langsung dari wadahnya.


Mahapati: “Entahlah, tapi yang jelas dia tersangka utama meskipun tidak ada saksi karena hanya dia dan adiknya yang selamat”


Jawab Mahapati dengan suara lembut dan mengambil alih wadah arak yang sedang Egie minum.


Mahapati: “Apapun usahamu membersihkan namanya itu hanya sia-sia saja”


Mahapati: “Seandainya dia bukan pelakunya, tapi tetap saja dia dituduh sebagai pelakunya, karena suka tidak suka hanya dia dan adiknya yang selamat malam itu”


Jelas Mahapati, lalu pergi meninggalkan Egie sendirian yang sedang terdiam mencerna penjelasannya.


Mahapati: “Aku tidak akan mengatakan apapun tentang arak ini kepada raja, kau tenang saja”


Ucap Mahapati sambil menoleh kepada Egie dengan senyum hangat, lalu pergi begitu saja setelahnya.


Mahapati Hiren yang pergi meninggalkan balkon istana membuang arak itu ketempat sampah dan memerintahkan bawahannya untuk mengirim pesan kepada raja bahwa dirinya ingin bertemu untuk membahas sesuatu.


Mahapati: “Bagaimanapun Eror tidak bisa dianggap bersalah karena ulah kakaknya”


Gumam Mahapati dalam hati dengan mata yang tajam dan dingin, dari mata itu orang dapat dengan jelas merasakan niat membunuh yang sangat besar.


Ditengah-tengah pertarungan tiba-tiba datang seseorang komandan pasukan kerajaan yang dikenal Bayu yang arogan untuk menonton pertandingan.


Komandan Bayu: “Sepertinya aku terlambat”


Kepala pelatihan: “Ini baru saja dimulai”


Jawab kepala pelatihan sambil tersenyum ramah meskipun dia tidak suka dengan kedatangan bayu yang dikenal sering merendahkan para guru.


Komandan Bayu: “Diantara 1000 orang ini, menurut anda sekalian siapa dua orang yang akan memasuki prajurit elit nantinya?”


Tanya bayu secara mengejutkan, kepala pelatihan hanya diam dan menoleh kepada para guru akademi militer lainnya.


Guru 1: “Hahaha, menurutku … mungkin … Eror Khayalki dan Anita Agha”


Jawaban Guru 1 itu membuat Komandan Bayu dan Kepala pelatihan  dan para guru kaget hingga mereka yang sedang minum tea tersedak.


Komandan Bayu: “Anak itu … kah?”


Gumam Komandan Bayu sambil tersenyum licik dan melirik ke guru 1 yang sedang minum tea pada saat itu.


Disisi arena Eror yang sudah dewasa dan menjadi prajurit unggulan akademi militer bertarung dengan usaha yang keras, dimana dia sudah menumbangkan banyak calon prajurit lainnya.


“Mundur saja, meski kau mampu menjadi pemenang, para bangsawan tidak akan menerimamu menjadi seorang prajurit elit”


Ucap seseorang calon prajurit kepada Eror.


Eror: “Aku tahu itu, karena selama aku disini yang kulakukan hanya menaiki gunung dan berlatih sendiri”


Jawab Eror sambil menangkis semua serangan orang itu dengan santai tanpa bergerak sedikitpun, orang-orang yang menyerangnya dari belakang juga dapat dia tangkis dan tumbangkan dengan sekali serang.


Kepala pelatihan: “Sepertinya sikap anak itu banyak berubah semenjak memasuki akademi ini”


Gumam kepala pelatihan, sementara Eror menusuk perut lawannya itu dan memukulnya hingga terlempar keluar lingkaran arena dan didiskualifikasi.


Komandan Bayu: “Bukankah itu melanggar?”


Kepala pelatihan menjawab bahwa Eror tidak melanggar selama lawannya masih hidup, hal itu membuat komandan Bayu menghembuskan nafas panjang.


Orang-orang yang berniat menghentikan Eror mulai bekerja sama, namun Eror berhasil mengalahkan mereka semua dengan cara memancing mereka untuk saling bertabrakan dan saling berkonflik.


Kepala pelatihan: “Anak ini cukup cerdas, hahaha”


Ucap Kepala pelatihan melihat taktik Eror yang terkesan mengadu domba para peserta.


Guru 2: “Dia memang layak menjadi salah satu unggulan untuk memasuki dua kursi prajurit elit”


Tanggap Guru 2 setelah melihat kesuksesan Eror dalam menghindar dan membuat para peserta bertabrakan hingga menimbulkan perselihan antar peserta.


Komandan Bayu: “Meskipun dia berhasil nantinya, para bangsawan tidak akan menerimanya memasuki pasukan elit dengan mudah”


Kepala pelatihan: “Itu memang benar, sangat benar malah, hahaha”


Mendengar pendapat dua orang itu para guru hanya mengangguk, namun berbeda dengan guru 1 yang mendukung Eror sepenuhnya dengan mengatakan bahwa bukan mereka yang memutuskan hal itu tapi Mahapati hiren dengan nada mengejek.


Mendengar hal itu para guru hanya tersenyum, berbeda dengan Bayu yang terlihat kesal.


Disisi lain Eror berhadapan dengan seorang wanita yang memang selalu bermusuhan dengannya yaitu Zaki yang cukup berbakat.


Zaki: “Pangeran ketiga memang sangat hebat”


Ucap Zaki sambil menghentikan pergerakan Eror yang lincah dengan memegang pundaknya, Eror terdiam lalu melepaskan pegangan itu dan menjauh.


Eror: “Meski aku pangeran, pada kenyataannya aku hanyalah orang biasa sama seperti kalian, namun bedanya aku kebetulan dipungut Mahapati Hiren”


Jawab Eror santai lalu menyerang Zaki, Zaki langsung menangkis serangan itu dan memberikan tusukan kearah leher sebagai bentuk serangan balik.


Zaki: “Pangeran ketiga jangan merendah diri”


Eror melakukan tebasan angin dengan torehan 8 tebasan, namun Zaki menangkis semuanya dan melakukan 2 tebasan dan membuat Eror terluka, Zaki berlari mendekat dan menebas kearah leher dan Eror berhasil menangkisnya.


Eror yang berhasil menghindar dan menjauh melakukan 3 tebasan angin, namun Zaki berhasil menangkis semuanya dengan serangan tebasan juga, namun kekuatan tebasan angin Zaki sangat kuat hingga mampu memberikan sedikit serangan kepada Eror.


Eror: “Senior Zaki memang sangat berbakat”


Ucap Eror sambil mengelap beberapa luka tebasan ditubuhnya dan menyapu darah dimulutnya.


Zaki: “Pangeran memang rendah hati”


Jawab Zaki sambil tersenyum ramah dan menggunakan astra lumpurnya untuk menangkis pedang Eror yang jatuh kearahnya.


Guru 3: “Anak itu sudah sedikit menguasai astranya, kah?”


Ucap Guru 3 ketika melihat pedang Eror yang tiba-tiba berada diatas kepala Zaki dan jatuh dengan tujuan menusuk Zaki.


Komandan Bayu: “Hm, bukankah itu berbahaya dan berpotensi membunuh lawannya”


Tanggap komandan Bayu dan melirik kepala pelatihan. Sementara kepala pelatihan mengerti maksud perkataan itu, ia menjawab bahwa luka tebasan dan tusukan tidak akan berbahaya selama masih sempat di obati.


Komandan Bayu: “Begitukah, aku sepertinya terlalu khawatir, hahaha”


Komandan Bayu: “Hm, dengan mengecilkan pedangnya dan melemparnya keatas lalu membuatnya besar kembali untuk memberikan serangan kejutan, memang taktik yang cerdas dan licik sama seperti orang itu”


Ucap komandan Bayu dengan nada mengejek setelah melihat Eror mengecilkan pedangnya dan membesarkannya tepat di wajah Zaki.


Guru 1: “Eror adalah Eror, Respati adalah Respati, mereka dua orang yang berbeda”


Tanggap Guru 1 dengan raut wajah santai menanggapi ucapan Komandan Bayu yang seakan menyamakan Eror dan Respati.


Komandan Bayu: “Mungkin itu benar … untuk penilaian seorang anjing”


Komandan Bayu melirik guru 1 dengan tatapan tajam dan dingin seakan ingin membunuhnya. Energi gaib komandan Bayu mulai melonjak, begitu juga dengan guru 1.


Kepala pelatihan: “Mereka mulai lagi”


Ucap kepala pelatihan santai sambil menyeruput tehnya seakan hal itu memang sering terjadi antara guru 1 dan komandan Bayu.


Komandan Bayu melempar gelasnya yang berisi teh kepada guru 1 dan dihindari dengan mudahnya. Komandan Bayu melancarkan sebuah pukulan keras dan secara reflek ditangkis oleh guru 1, namun tangkisan itu malah membuat guru 1 terpelanting jauh.


Guru 1: “Aku sudah lama ingin membunuhmu, maka tidak ada salahnya membunuhmu sekarang karena kau yang memulainya”


Guru 1: “Bagaimana menurutmu, anak muda?”


Guru 1 melancarkan serangan yang berbentuk sebuah singa yang terbentuk dari api dan menuju ke komandan Bayu, namun komandan Bayu menghindar dan mengambil tombaknya lalu melempar tombak itu ke Guru 1 dengan niat membunuh.