
Malam itu begitu mencekam dan mengerikan dengan langit berwarna merah darah dan tanah yang banjir darah. Pada malam itu terjadi pembantaian warga desa oleh seseorang yang juga merupakan bagian dari desa tersebut.
Respati: “Kurasa ini cukup”
Ucap Respati sambil mencabut pedangya dari tubuh korbannya dan di temani oleh robohnya beberapa rumah yang hangus terbakar dan mayat para warga desa yang dia bantai berserakan.
Eror: “Kakak!”
Teriak seseorang anak yang bernama Eror dengan tangis sedih bercampur marah, lalu ia berjalan mendekati Respati dengan langkah gontai dan air mata yang membasahi pipinya.
Anak itu bernama Eror yang tidak lain adalah adik kandung Respati, Eror memiliki tubuh yang kurus ideal dan rambut hitam keabu-abuan tingginya sekitar 170 dan umurnya sudah 15 tahun.
Respati: “Kau masih hidup? Bahkan bisa bergerak?”
Tanya Respati sambil tersenyum dan wajah yang berumuran darah, serta pedangnya yang berwarna merah karena darah para korbannya.
Eror: “Kenapa kakak melakukan semua ini?”
Tanya Eror kepada kakaknya itu sambil menangis dan berusaha untuk mendekat dan berhenti beberapa kaki didepan kakaknya.
Eror: “Kenapa kak!”
Respati: “Karena … aku benci … desa ini”
Jawab Respati sambil tersenyum ramah, Eror yang kaget kakaknya itu tiba-tiba sudah berada didekatnya termundur beberapa langkah.
Respati mencekik Eror dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Eror hanya bisa menangis dan memukul-mukul Respati dengan pukulan yang tidak terasa sama sekali bagi Respati.
Eror: “Lepaskan aku kak, aku tidak bisa bernafas”
Erok: “Kak …. Kakak … lepaskan”
Respati melempar Eror ke salah satu rumah yang terbakar lalu melempar pedangnya tepat menuju leher, Eror hanya bisa menutup wajahnya, namun tiba-tiba pedang itu mengecil karena kekuatan Eror.
Respati: “Menarik, meskipun sebuah kekuatan yang tak berguna, hahahaha”
Ucap Respati melihat Eror yang membuat pedangnya mengecil dan mendekatinya, Eror hanya bisa menangis ketakutan sambil terus menutupi wajahnya.
Respati: “Ternyata kekuatanmu sudah bangkit”
Ucap Respati sambil tersenyum mengerikan tepat diwajah Eror. Eror yang ketakutan sontak mundur dan melempar segenggam tanah kewajah Respati.
Respati hanya tertawa dan langsung menangkap Eror yang berusaha berlari lalu melemparnya dengan sangat keras ke salah satu rumah yang hampir habis dilahap api.
Respati: “Jadilah kuat adikku, lalu balaslah dendammu kepadaku suatu saat nanti, hahahaha”
Respati menghilang dari pandangan Eror dengan tawa yang menggema diatas langit.
Eror: “Balas dendam?”
Ucap Eror masih dengan tangis ketakutan dan tangannya yang patah akibat berbentur dengan dinding saat Respati melemparnya.
Eror kini sendirian di tengah kobaran api yang membakar rumah-rumah di desa itu, dan ditemani mayat para korban pembantaian Respati yang berserakan.
Eror hanya bisa menangis ketakutan dan mencoba merangkak ketengah-tengah tanah lapang agar tidak terkena kayu yang terbakar dari rumah-rumah warga, namun sebuah kayu penyangga rumah warga jatuh dan hendak menimpahnya.
Keesokan harinya.
Eror terbangun di pagi hari dan melihat semua rumah warga hangus terbakar dan mayat dimana-mana, namun anehnya Eror berada di halaman rumahnya yang juga hancur terbakar.
Eror: “Ini … halaman rumahku? Kenapa … a-ku disini?”
Tanya Eror setelah menyadari bahwa dirinya berada jauh dari lokasi saat dia bertemu dengan kakaknya ditengah-tengah desa.
Eror: “Apakah ada orang yang menyelamatkanku?”
Tanya Eror dalam hati. Eror merasakan bahwa tubuhnya baik-baik saja seakan tidak mengalami luka sedikitpun padahal dia jelas-jelas dalam keadaan yang tidak baik saat mencoba lari dari kobaran api.
Eror: “Apa yang sebenarnya terjadi, hiks, hiks, hiks”
Eror yang masih merasakan kesedihan akibat tragedy tadi malam akhirnya menangis karena tidak mampu menahan sakit baik fisik dan mentalnya.
Beberapa lama berlalu Eror yang sudah mulai tenang dan mencoba menerima takdirnya berdiri lalu mengambil cangkul dan menggali tanah.
Tak terasa tiga hari berlalu dengan sekejap, Eror yang menyelesaikan galiannya 2 hari lalu hanya mampu mengubur beberapa warga yang ada disekitaran rumahnya.
Eror: “Ini yang terakhir ….”
Ucap Eror sambil mengubur korban terakhir pembantaian, meskipun sulit ternyata Eror mampu mengubur mereka semua dan menyisakan dirinya yang kelelahan. Eror berpikir sedih dan bertanya-tanya dimanakah keberadaan keluarganya, hingga akhirnya terlelap.
Eror: “Kuharap kalian ...”
Gumam Eror dalam hati dengan kepala terduduk sedih dan terlelap. Dalam tidurnya Eror mengingat saat-saat sebelum kejadian.
Eror: “Kakak”
Panggil Eror yang terlihat baru saja sembuh dari sakitnya.
Respati: “Akhirnya kamu bangun”
Eror bingung mendengar ucapan itu dan berusaha untuk bangun dari kasurnya, namun seketika kepalanya sakit dan Respati membantunya.
Eror: “Apa yang terjadi kak Res?”
Respati: “Sudah 7 hari kau sakit, tapi syukurlah kau sekarang sudah bangun”
Jawab Respati dengan senyum ramah dan membaringkan Eror yang masih lemah itu.
Tiba-tiba Raza dan Meza yang juga merupakan kakak Eror datang, mereka menyapa Eror dengan senyum yang ramah ketika sadar bahwa Eror sudah sadar dari komanya.
Setelah saling sapa dengan ketiga kakaknya itu, Eror yang kebingungan tentang apa yang terjadi kepadanya hingga disebut sudah tertidur selama tujuh hari mencium aroma yang sangat harum. Eror tentu tahu aroma itu adalah aroma bumbu masakan.
Eror: “Ibu sedang memasak?”
Tanya Eror secara acak kepada ketiga kakaknya itu dengan ekspresi sedikit bersemangat. Raza menjawab bahwa ibu memang sedang memasak dengan semangatnya.
Raza: “Ayo kita main keluar, kakak yakin kau bosan dikasur terus”
Raza yang ingin mengajak Eror untuk bermain menariknya, namun tiba-tiba terdengar suara lembut seseorang yang mencegahnya.
Ibu: “Jangan dulu, adik masih sakit dan masih butuh istirahat”
Ucap ibu mereka dengan lembut, Raza yang bersekikeras untuk mengajak Eror main membuat ibunya kewalahan dan melirik Respati.
Respati: “Benar kata ibu, Eror masih sakit”
Ucap Respati lembut dan mendukung ibunya sambil mengelus rambut adiknya yang bernama Raza itu.
Karena Eror tidak dapat diajak main, Respati akhirnya menawari kedua adiknya itu untuk berlatih dengannya, tentu saja kedua adiknya itu langsung menerima tawaran sang kakak.
Eror: “Ibu”
Panggil Eror saat ibunya mau kembali ke dapur untuk memasak ketika ketiga kakaknya keluar untuk berlatih ilmu beladiri.
Eror: “A … apa yang terjadi … kepadaku?”
Tanya Eror dengan lembut dan kebingungan, namun sang ibu hanya diam sambil tertunduk sedih dicampur marah, lalu ia berkata bahwa suatu saat nanti Eror mengetahui penyakit apa yang dia derita dengan sendirinya dan sang ibu pergi ke dapur melanjutkan masakannya.
Eror sebenarnya tahu dia sedang sakit karena hal itu sering terjadi kepadanya semenjak kecil, namun yang dia tanyakan apa penyakit yang dideritanya.
Eror: “Jawaban yang sama”
Gumam Eror tertunduk sedih dan juga kecewa dengan sikap keluarganya yang selalu merahasiakan tentang penyakitnya.
Pada malam hari Respati datang kerumahnya dengan teriakan para warga yang mencoba memadamkan api.
Eror: “Apa yang terjadi kak?”
Respati tidak menjawab dia malah tersenyum kecil dan membakar rumahnya sendiri, sontak hal itu membuat Eror cemas dan bertanya-tanya.
Eror: “Apa yang kakak lakukan?”
Eror: “Padamkan apinya kak”
Pinta Eror dengan panik dan berusaha berdiri, namun apa daya tubuhnya terlalu lemah untuk itu.
Eror: “Kak Res, apa yang terjadi kepadamu kak Res?”
Tanya Eror dengan tangis dan merasa kebingungan mengenai apa yang sedang terjadi, namun Respati tidak menjawab dan pergi begitu saja.
Eror: “Kakak!”
Teriak Eror dan bangun dari tidurnya dengan nafas yang tersengal-sengal. Eror yang masih syok dengan mimpi di siang bolongnya itu meringkuk dan menangis.
Eror: “Ibu, kak Raza, dan kak Meza tidak ada dimalam itu”
Ucap Eror ketika tenang dan tanpa sadar meneteskan air mata, karena masih ada harapan bahwa keluarganya itu masih hidup.
Eror: “Dan ….. dan …. dan …..”
Eror: “Aku tidak menemukan jasad mereka, itu berarti ….. itu berarti ….. mereka …. masih hidup”
Eror semakin bahagia ketika menyadari bahwa tidak ada satupun jasad yang dia kuburkan adalah ibu atau kedua kakaknya.
Karena itu Eror sangat bahagia dan dengan semangat yang tinggi dia berusaha mencari keberadaan mereka, namun.
“Jangan bergerak”
Ucap seseorang menghentikan Eror yang hendak berdiri dan mencari, orang itu ternyata adalah salah satu dari prajurit kerajaan. Eror semakin terdiam ketika menyadari bahwa bukan hanya satu tapi begitu banyak
prajurit yang mengelilinginya.
Eror: “Dia?”
Eror mengenali seseorang yang duduk diatas kuda yang merupakan Pangeran Egie dan sekaligus sahabat baik kakaknya Respati.
Eror: “Minggir, jangan halangi jalanku”
Egie: “Tangkap dia”
Perintah Egie dengan dingin kepada para prajurit, para prajurit yang mendengar perintah itu langsung menangkap Eror.
Eror: “Kenapa aku ditangkap? Apa salahku?”
Egie: “Salahmu adalah karena kau adik dari Respati dan satu-satunya orang yang selamat dari pembantaian yang dilakukan oleh orang itu yang kami temui”
Jawab Egie dengan tatapan dingin dan sinis kepada Eror.
Eror mengerti akan hal itu, tapi dia merasa tidak terlibat tentang perbuatan yang dilakukan kakaknya, namun tetap saja Egie tidak mau mendengarnya dan memerintahkan anak buahnya membuat Eror pingsan.
Egie: “Telusuri dan selamatkan mereka yang masih hidup”
Perintah Egie kepada bawahannya dengan dingin dan suara yang pelan namun menakutkan, hal itupun membuat para prajurit kembali mencari disekitar desa.
Setelah menunggu agak lama para prajuritnya kembali dengan tangan kosong dan tidak menemukan apapun selain beberapa mayat.
Egie: “Ah, ternyata memang benar, orang itu membantai habis seluruh desa dan menyisahkan satu orang yang tidak lain adiknya sendiri”
Gumam Pangeran Egie dalam hati sambil melirik Eror yang sudah dikurung disangkar kecil yang hanya bisa menampung dua orang saja.
Egie: “Respati …. Apa yang sebenarnya terjadi … kepadamu?”
Ucap Egie dalam hati sambil memandang langit, lalu menoleh untuk melihat Eror yang pingsan di dalam kurungan.
Egie: “Hanya adikmu yang kau sisakan, apakah kau berharap semua kesalahanmu dilimpahkan kepada adikmu yang malang ini?”
Egie: “Respati, kenapa kau melakukan ini?”
Egie: “Padahal kau orang yang sangat baik, tapi kau menyiksa adikmu sendiri dengan melakukan semua ini?”
Gumam Egie dalam hati, ia sadar bahwa Eror pasti akan mendapatkan jalan hidup yang menyakitkan karena perbuatan yang tidak pernah ia lakukan.
Sutan: “Tuan muda, Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita lakukan disini”
Sutan: “Tuan muda?”
Ucap Sutan lagi kali ini dia menyentuh pundak Egie yang membuat Egie tersadar dari lamunannya.
Egie: “Ah … hm … begitu?”
Egie: “Kubur para korban, lalu kembali ke istana”
Karena dirasa tidak ada lagi yang tersisa ataupun yang bersembunyi Egie memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengubur beberapa korban itu dan bersiap pulang ke istana.
Sutan: “Pangeran bagaimana dengan anak ini? Dan kuburan itu?”
Ucap Sutan kepada Egie sambil mengarahkan tangannyackepada Eror, lalu mengarahkannya kepada kuburan masal yang terlihat dangkal buatan Eror.
Egie: “Anak ini sudah dipastikan sebagai sasaran kemarahan dan kebencian rakyat terhadap perbuatan keji orang itu, jadi tidak bijak jika dibiarkan saja ditempat ini”
Egie: “Untuk kuburan itu, bongkar kembali dan kubur secara layak”
Jawab Egie dengan tenang dan berwibawa. Semua prajurit yang mendengarnya hanya bisa menurut saja.