
“Jadi, ceritakan padaku apa yang terjadi di sana.” Florentina tersenyum lebar sembari melangkah menuju meja kerjanya. Tangan kanannya tampak bergerak menyimpan kembali pulpen ke saku jas putih panjangnya sementara iris biru cerahnya masih tak lepas dari Luna yang sedang duduk bersandar di tempat tidur. Kilau cahaya kuning-orange tampak memudar di balik kulitnya.
Florentina mengambil posisi duduk di tepi meja sementara tangannya telah meraih secangkir kopi di sebelah kanannya. Ia menghirup kopi tersebut dalam-dalam seraya menikmati hangatnya uap yang mengepul ke atas.
“Ayolah, Luna. Ceritakan aksi heroik Rei ketika mengusir Arken,” desaknya semakin tak sabaran.
“Kau tahu Arken? Naga itu?” Luna mengangkat kepalanya memandang Florentina dengan heran dan terkejut.
Wanita itu mengangguk sekali. “Aku bahkan tahu jauh lebih banya—”
“Seperti Rei adalah Rei Nathanael?” Luna menyergah cepat dan Flo sontak mengerutkan dahinya.
“Apakah itu yang sedari tadi mengganggu pikiranmu?” Florentina bertanya balik tanpa menghiraukan pertanyaan Luna sebelumnya.
Luna mengangguk pelan saat pandangan beralih pada kedua tangannya yang kini mulai saling meremas. “Ya… seseorang memberitahuku tentangnya.”
Florentina meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja. Lalu ia mulai melipat kedua tangannya di depan dada. Iris biru cerah memandang Luna dengan sorot penuh selidik. “Rei Nathanael… Apa kau tahu nama itu dari Karen?” Terdengar intonasi terlampau serius dibalik ucapannya. Luna kembali mengangguk iya. Tak lagi mengherankan jika wanita itu juga mengenal ibunya.
“Kesampingkan dulu soal Rei. Apa yang Karen ceritakan tentangnya? Maksudku… tentang Rei Nathanael itu.”
“Rei Nathanael tak boleh memiliki kekuatan api kematian.” Luna menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua tangannya.
“Selain itu?” Flo seolah belum puas dengan jawaban yang diberikan Luna. Namun hanya jawaban berupa kesunyian yang ia dapatkan. Florentina menarik napas seraya memasukkan kedua tangannya pada saku jas putihnya. Kakinya tampak mulai mengetuk-ngetuk pelan pada lantai granit putih di ruang 7x7 itu.
“Apa ibumu, Karen, mengatakan siapa itu Rei Nathanael dan alasan kenapa ia tidak boleh memiliki kekuatan itu atau kenapa ia menceritakan tentangnya padamu?”
Luna tak menjawab, karena sejujurnya benaknya sendiri juga menanyai hal yang sama. Mungkin ibunya pernah mengatakan hal itu, hanya saja Luna sendiri tak bisa ingat terlalu banyak karena saat itu ia hanya berusia sekitar 9 atau 10 tahun.
Florentina akhirnya menyerah mencari jawaban dari Luna. “Benar, Rei adalah Rei Nathanael. Orang yang sama dengan cerita Karen. Rei adalah pemilik sebelumnya dari api kematian dan dialah yang menyerahkan api itu kepada ibumu serta mempercayainya untuk menjaga api tersebut di alam manusia.”
“Tapi tenang saja, Rei tak berniat mengambil kembali kekuatan itu darimu, Luna. Ia sendiri yang telah memutuskan untuk melepaskan kekuatan itu… selamanya.”
“Aku tahu…” balas Luna. Ia tahu... ia sudah tahu sejak percakapan singkat antara Arken dengan Rei serta kemarahan pemuda itu ketika sang naga hendak membunuhnya. Semuanya terlihat sangat jelas.
“Tapi kenapa?” Luna tak mengerti kenapa Rei tak menginginkan kekuatan itu lagi, tak mengerti kenapa Rei berkeras menolak mengambil kembali sang api atau kenapa ia harus rela menantang Arken, sang naga, demi mempertahankan api itu dari dirinya.
Florentina memasang senyum hambar. Senyum yang menyiratkan kepahitan juga kesedihan yang sama sekali tak mampu diartikan oleh Luna. Kenapa dia memasang senyum seperti itu?
“Api kematian itu bagaikan mimpi buruk Rei. Karena secara tak sadar api itu telah mengubah Rei menjadi seorang yang berbeda sekali. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Sang Pembantai.”
Luna mengerutkan dahinya. Dirinya masih berusaha mencerna kata demi kata yang dilontarkan Florentina. Entah kenapa pembicaraan ini dirasakan terlalu berat untuk otaknya, seakan ada ribuan informasi yang harus diproses dalam waktu yang bersamaan.
“Rei sendiri bahkan sudah tak tahu lagi siapa dirinya saat ini. Pertarungan, pengorbanan serta api kematian; semua itu telah merengut tubuh, jiwa dan juga sisi asli Rei.”
Kelopak mata Luna melebar. Sesuatu tiba-tiba terbesit di pikirannya. Tabir ingatan yang selama ini tertutup rapat oleh suatu kabut tersingkap. Luna ingat sekarang… Kalimat lanjutan yang diucapkan ibunya mengenai Rei Nathanael.
Sementara itu, Florentina masih terus berbicara. “Well, jangan lihat dia selalu bersikap tak acuh. Rei dulunya tidak sekaku atau pun sedatar itu. Tapi itulah yang terjadi ketika seseorang kehilangan emosi dan juga perasaan… Rei sudah lama tak memiliki keduanya. Dua hal penting yang hanya dimiliki oleh—”
Suara benturan kasar antara daun pintu dengan dinding sontak mengguncang singkat kamar itu. Luna buru-buru melesat keluar. Ia tak peduli lagi akan lanjutan dari perkataan Florentina yang kini sudah berubah menjadi dengungan samar di belakang telinganya.
Gadis manusia itu tampak berlari kencang melintasi lorong rumah sakit Pusat di tingkat empat. Dirinya tak menghiraukan pandangan aneh dari orang-orang di lorong itu. Saat ini hanya satu yang ingin ia lakukan; menemui Rei!
Langkah Luna terpaksa terhenti di depan lift antar tingkat. Dadanya naik-turun dengan cepatnya, sementara telunjuknya terus menerus menekan tombol turun lift dengan tak sabaran. Iris violetnya melirik ke atas menanti tabung setengah lingkaran lift untuk segera turun menjemputnya.
“Kalau kau ingin mencari Rei, mungkin ia ada di tingkat lima, lantai seratus tiga delapan.” Suara Florentina terdengar tepat pada saat lift berdenting terbuka. Luna bergegas menerjang masuk.
“Trims,” sahutnya singkat sebelum pintu lift kembali menutup.
*****
Pertarungan terakhir telah memaksa Rei membunuh dirinya sendiri. Ia tidak seharusnya berkorban seperti ini. Rei akan kehilangan sisi manusianya…
Lift kembali berdenting, pintu logam dua sisi di lantai seratus tiga delapan terbuka dan langsung mempersembahkan sebuah pemandangan yang teramat menakjubkan. Langit di malam itu terasa sangat dekat, ditambah dengan cahaya bulan dan juga bintang yang seolah mampu digapai hanya dengan satu lompatan kecil saja. Dari sini keseluruhan pemandangan akan kota hancur beserta Alam Bayangan terlihat jelas dan terkesan sangat memukau.
Lantai yang terbuat dari lapisan kaca hitam membentuk satu jalur lurus yang menjolok keluar dari dinding terluar Pusat. Panjangnya mungkin hanya sekitar enam atau tujuh langkah normal dari pintu lift sementara lebarnya tidak lebih dari satu setengah meter. Tak ada pembatas atau penyanggah di sisi kiri, kanan mau pun depan, seolah tempat ini sengaja dirancang untuk memberikan sensasi menggebu.
Angin malam terasa bertiup tenang menerpa sekujur tubuh Luna sekaligus memainkan rambut panjang berwarna coklat cherry miliknya. Di bawah sinar bulan, Rei terlihat duduk memunggungi lift di ujung terluar sementara kakinya tampak dibiarkan bergelantungan menyentuh di udara bebas. Pandangan pemuda itu lurus jauh ke arah langit, terpaku lama pada bintang terjauh yang mampu digapai oleh iris berwarna coklatnya. Sementara itu ujung rambut hitamnya yang disisir ke atas tampak bergoyang-goyang pelan mengikuti irama angin.
Rei hanyalah seorang manusia… Cukup dengan mengingat satu kalimat itu saja, hati Luna terasa seperti tercabik-cabik, ingin rasanya ia segera berlari dan memeluk pemuda itu. Namun niat itu segera diurungkan. Takut sesuatu yang buruk terjadi, jatuh bebas dari ketinggian ribuan kaki ini misalnya.
“Lukamu sudah sembuh?” tanya Rei menyadari kedatangan Luna.
“Kenapa kau tak bilang kalau kau adalah manusia juga?” Luna bertanya tanpa beranjak dari tempatnya. Kakinya masih diam mematung di depan pintu lift dan mulai membeku akibat hembusan angin malam yang semakin dingin.
“Apa itu penting?” balas Rei masih tanpa menoleh.
“Ya, ten—”
“Tapi aku sudah bukan lagi manusia.” Rei melanjutkan, memotong ucapan Luna sembari memutar tubuhnya sedikit. Iris coklatnya kini saling bertatapan dengan iris berwarna violet milik Luna. Sudut bibir Rei tertarik samar. Jemarinya menepuk pelan permukaan kaca di samping kirinya. “Duduklah,” pintanya dan Luna menurut saja.
“Apa Karen tidak menceritakannya padamu kenapa aku melepaskan sisi manusiaku?” Rei melanjutkan dengan nada santai. Tak ada perasaan sedih atau semacamnya di balik ucapannya itu. Rei masih tetap berbicara dengan gaya bicaranya yang khas.
“Well, kurasa dia takkan sanggup mengatakannya.” Rei tertawa kecil. “Aku masih ingat, waktu itu Karen langsung menangis ketika tahu hal ini. Ah… sungguh masa-masa yang sangat sulit dilupakan apalagi saat Karen akhirnya menunjukkan perhatiannya padaku.”
“Kau menyukai ibuku?” Pertanyaan itu spontan terlepas keluar dari mulut Luna dan ia bergegas mengatup rapat mulutnya. Dirinya sama sekali tak berniat untuk menggali hal itu lebih dalam, hanya saja sangat sulit mempercayai Rei dan ibunya pernah memiliki hubungan semacam ini.
Rei kembali menerawang jauh. Kedua tangannya lurus ke belakang menopang berat tubuhnya. “Ya, aku pernah menyukai Karen. Tapi perasaan itu telah lama hilang—lenyap tak berbekas. Aku sekarang bahkan tidak merasakan emosi apa pun ketika mengenang kembali masa itu.”
Untuk kesekian kalinya, Rei bercerita dengan tenang, seolah semua ini hanyalah sebuah rangkaian kata. Well, memang seperti itulah kenyataannya. Kenangan miliknya ini hanya tinggal kisah dalam kata saja.
Karen dan dirinya…? Sudah tidaklah mungkin. Ya, sejak awal Rei tahu dan bahkan sejak Karen masih berada di Alam Manusia sekali pun. Bukan karena fakta bahwa mereka akan hidup di dua alam yang berbeda atau karena diri Rei yang sudah bukan lagi manusia. Tapi karena alasan lain. Alasan rumit yang takkan Luna mengerti.
Mendengar cerita Rei, Luna tak merespon banyak. Kepalanya tampak sedikit tertunduk sementara jemarinya berpegangan kuat pada tepi permukaan kaca. Matanya menatap redup pada satu titik kecil di bawah kakinya. Meski akhirnya ia tahu alasan kenapa Rei menaruh perhatian berlebih padanya. Tapi hal itu tak membuatnya merasa lebih baik. Malah sebaliknya… secercah perasaan aneh ini entah kenapa terasa mengganjal kuat di hatinya dan membuat dirinya merasa sangat kesal dan terlihat konyol.
“Jangan berpikir aku menolongmu karena aku sempat menyukai Karen. Aku sama sekali tak pernah menganggapmu sebagai proyeksi Karen, Luna. Meski kalian terlihat mirip tapi kalian tetap dua orang yang berbeda.” Rei seolah bisa membaca kegusaran pikiran Luna.
“Bagaimana aku bisa percaya? Setelah tahu semua ini, aku merasa seperti orang bodoh saja.” Tanpa sadar Luna mengungkapkan kekesalannya dan ia tidak menyesal. Sama sekali tak menyesal!
Jeda panjang terasa mengisi kesunyian diantara mereka sebelum Rei memutuskan untuk kembali berkata. “Dengar Luna, perasaanku pada Karen sudah lama tak ada. Begitu juga dengan segala bentuk emosi lain dalam diriku. Aku menolongmu karena aku hanya ingin menolongmu. Tak ada hubungannya dengan Karen.”
Rei diam menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Jadi… tolong jangan berpikir aku melakukan ini semua karena perasaanku pada Karen. Tak adanya lagi yang namanya emosi atau perasaan suka dalam diriku ini. Keduanya sudah lenyap.” Intonasi tenang ini terkesan menyiratkan sesuatu yang mendalam.
Luna akhirnya mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk membalas tatapan Rei yang sejak tadi ia hindari. “Baiklah, kita bisa mengabaikan ibuku. Aku hanya ingin bertanya satu hal saja. Itu pun kalau kau tak keberatan untuk menjawab,” ujarnya entah kenapa menjadi sesungkan ini seakan pertanyaan yang akan ia ajukan cukup sensitif.
Rei mengangkat sebelah alisnya sambil mengangguk pelan mengiyakan.
“Kenapa kau bisa setenang ini? Maksudku kau adalah manusia, tapi sudah bukan lagi. Kau memiliki emosi dan perasaan cinta tapi sudah tak dapat merasakannya lagi. Apa kau tidak merasa sedih sedikit pun?”
Rei tak langsung menjawab seolah batinnya terjadi perang berkepanjangan dan tak berujung. “Apakah itu penting?” Rei mengulang pertanyaan itu lagi dan kali ini sedikit berhati-hati. “Kurasa sudah tak pen—”
“Ya, penting.” Luna menyergah cepat. Lebih cepat dari yang sanggup direspon Rei. “Karena aku tak percaya sesuatu yang seharusnya dimiliki manusia bisa benar-benar lenyap seperti yang kau katakan, Rei,” lanjut gadis itu lagi.
Rei tertegun seketika. Untuk pertama kalinya seseorang berkata seperti itu padanya. Mekanisme pikirannya sontak terhenti tiga detik lamanya sebelum ia kembali menguasai dirinya. Dengan sikap sesantai mungkin Rei kemudian membalas, “Sisi manusiaku telah lama mengkhianati raga ini, Luna. Lantas, kenapa kau harus capek-capek mempedulikanku yang sudah bu—bukan manusia ini?” tanyanya setengah menyerah dan ia terlihat ragu untuk mengucapkan kata ‘bukan manusia’. Apa artinya Rei mulai meragukan keteguhan dirinya?
“Karena kau manusia, Rei… karena di mataku kau tetaplah seorang manusia.”
Rei terpaku diam. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa lagi. Jawaban Luna sungguh bagaikan cambuk kuat yang setiap saat mampu melumpuhkan seluruh mekanisme dalam dirinya dan ini sangat berbahaya.