The Shadow Awakens

The Shadow Awakens
Chapter 10



Atmosfer di sini, di tingkat lima lantai seratus tiga delapan ini, serta diri Luna yang duduk diam bersama Rei yang mendadak membisu, semuanya mendadak terasa serba salah. Bahkan hembusan angin sekali pun terasa sangat salah.


Buru-buru Luna bangkit berdiri, ingin rasanya ia segera menghilang dari tempat ini saja kalau bisa. Jika boleh jujur, Luna sebenarnya tak bermaksud membawa percakapan ini terlalu dalam hingga melibatkan emosinya sendiri. Tapi semuanya ‘tak bermaksud’ ini telah terjadi dan Luna hanya bisa menghela napas panjang seraya beranjak pergi meninggalkan Rei yang masih duduk diam di sana. Luna benar-benar sudah tak peduli lagi.


Tepat saat ia berbalik, sesuatu terasa melesat melintasi punggungnya dengan kecepatan tinggi dan mendarat sempurna tepat diantara mereka dengan pintu lift. Getaran singkat dirasakan pada permukaan kaca. Sosok wanita asing tampak tengah berjongkok tak jauh di depan Luna. Rambut pirang keemasannya dibiarkan tergerai menjuntai menyentuh kaca hitam sementara sepasang tulang sayap kelelawar berwarna putih tanpa selaput terlihat mengepak di balik punggungnya.


Wanita itu bangkit berdiri perlahan sambil menunjukkan wajah penuh kekejian. Lipstik berwarna merah terlihat menghiasi bibirnya dan tampak kontras dengan wajah pucatnya. Dengan gerakan anggun jemari kurus nan panjang sang wanita mengibas rambutnya sendiri ke belakang. Mata dengan pupil hitam besar melebar hingga menutup seluruh bagian putih mata miliknya bergerak menatap pada Luna. Sekejap perasaan merinding merambat naik menggelitik tengkuk Luna ketika mata mereka bertemu.


“Sepertinya aku tak perlu repot mencari manusia pemilik api kematian.” Wanita itu tersenyum pada Luna dengan keramahan yang dibuat-buat. Ia sontak maju mendekati gadis manusia itu. Suara kletak kletok pun terdengar dari ujung heels-nya setiap kali ia melangkah.


“Kau sangat mirip dengannya, gadis kecil. Warna violet di sepasang matamu serta rambut coklat cherry ini… sungguh sangat mirip dengan Karen,” desisnya seperti seekor ular.


Tangannya terangkat, memamerkan kuku-kuku panjang di setiap jemarinya, dan tanpa Luna sadari telah bergerak nyaris menyentuh wajahnya sendiri. Namun tiba-tiba pergerakan kuku sang wanita terhenti tepatnya beberapa mili dari garis tipis di bawah mata kiri Luna.


“Jangan berpikir untuk meracuninya, ulat.” Suara Rei terasa menggelitik ujung daun telinga kiri Luna. Sebuah tepukan halus mendarat di bahu kanan Luna lalu menariknya mundur selangkah hingga punggung gadis itu membentur singkat dada Rei. Sementara itu, tangan kiri Rei tampak mencengkeram kuat pergelangan sang wanita, menahannya agar tak bergerak lebih dari ini.


“Berhentilah memanggilku ulat, Nathanael. Aku adalah ular, sangat tak pantas dibandingkan dengan makhluk kecil lemah yang hanya bisa makan dedaunan itu.” Wanita itu memprotes, namun tetap mempertahankan intonasi ramahnya.


“Ular tak memiliki sayap, Sabrina. Mereka juga tidak terbang. Menurutku kau lebih cocok seperti ulat yang pada metamorfosis akhir akan berubah menjadi kupu-kupu, dan makhluk itu bersayap dan terbang pula.” Rei membalas sarkastis.


Sabrina melotot murka. Ia sontak menarik kembali tangannya hingga terlepas dari pegangan Rei. “Cukup, Nathanael! Jangan karena kau sama kuatnya dengan Tuan, kau bisa menghinaku seenaknya!” desisnya marah seraya melompat tinggi.


Angin akibat kepakan sayapnya menciptakan gas beracun berwarna ungu gelap. Sepasang sayap yang berupa tulang sayap kelelawar tampak mengepak sesekali seraya mempertahankan ketinggian terbangnya. Sabrina menyeringai sinis, sementara sepasang matanya telah menatap Rei penuh kebencian. Ia ingin sekali menguasai pemuda itu seutuhnya, menjadikannya sebagai bagian dari koleksinya.


Sabrina mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan mendadak saja lantai kaca hitam di lantai seratus tiga delapan ini hancur berkeping-keping dan membuat Rei juga Luna kehilangan pijakan dan terjatuh begitu saja.


Udara terasa bergesekan kuat pada punggung Luna, sementara itu sosok Sabrina terlihat semakin mengecil menjauhi pandangannya. Tak lama sesuatu yang cukup mengerikan melesat melewati pandangan Luna. Gambaran semacam ini tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Sebuah bongkahan batu besar yang diselimuti bara api merah tampak melesat cepat melewati dirinya dan menghantam mulus pada dinding kaca hitam Pusat.


Serpihan kaca berjatuhan menyusul Luna. Sedangkan bongkahan bola api batu lainnya mulai menyusul layaknya hujan meteor dan menghantam Pusat tanpa ampun. Luna tak ingin menyaksikan lebih lanjut. Ia memilih memutar tubuhnya dan kali ini ia dipaksa berhadapan pada fakta lain. Fakta bahwa dirinya akan segera menubruk permukaan tanah. Tak bisa dibayangkan betapa menyedihkannya jika tulang-tulangnya ini harus beraduan pada kerasnya permukaan halaman parkir di bawah sana. Well, apa pun itu, yang Luna harapkan hanyalah satu kematian instan.


Sesuatu terasa melingkari pinggang Luna beserta tekanan kasar di bagian perutnya. Sekejap Luna tak lagi bergerak jatuh dan secara ajaib tubuhnya malah bergerak secara horizontal, menjauhi Pusat. Luna berbalik dan mendapati sesosok makhluk yang bisa dibilang baru saja menyelamatkan nyawanya dari kematian, sekaligus juga menghadapkannya pada kematian lain.


Makhluk berpostur kurus seperti tulang dalam baluran kulit itu memiliki rupa bengis dan penuh kekejian khas penghuni Alam Ifrit. Sebuah tanduk sewarna dengan kulit coklatnya tapak tumbuh di tengah dahinya sementara jemari kurusnya melingkar erat pada pinggang Luna dari arah belakang. Jempolnya tampak menempel pada perut gadis itu, menjaga gadis manusia itu agar tidak terjatuh.


Saat mereka semakin jauh dari Pusat, sesuatu yang cukup berat tiba-tiba mendarat di atas punggung Kaum Ifrit tersebut, menyentakkan sejenak keseimbangannya. Sayapnya sontak mengepak lebih kuat, berusaha menahan beban tambahan di punggungnya. Lolongan serak mengerikan spontan keluar dari mulutnya bersamaan dengan lirikan marah ke balik punggungnya.


“Kaum Ifrit sudah memiliki banyak makanan di alamnya, bukan? Tak perlu lagi menculik dari sini.” Rei berkata dari balik punggung sang Ifrit sembari menghunjam dalam-dalam pedang hitam legamnya pada belakang kepala Kaum Ifrit itu.


Sementara itu, dari balik bungkusan jemari makhluk buruk rupa itu, Luna melihat jelas ujung mata pedang Rei yang menembus hingga ke dagu sang Ifrit. Tetesan darah berwarna hitam berjatuhan layaknya pipa air yang bocor. Kaum Ifrit itu meraung kesakitan. Sayapnya sontak mengepak tak beraturan, sementara genggaman pada tubuh Luna terlepas.


Tanpa pikir panjang Rei langsung melompat menyelamatkan Luna namun detik itu juga sosok Kaum Ifrit yang lain menubruk dirinya menjauhi Luna. Baik Rei maupun Kaum Ifrit tersebut sama-sama kehilangan kendali dan keduanya pun jatuh ke hamparan hutan di bawah.


“Rei!” teriak Luna histeris seraya mengulurkan tangannya. Namun tiga lilitan kuat dari bahu hingga pahanya sontak menghalaunya untuk meraih pemuda yang jatuh semakin jauh ke bawah itu. Tubuh ular Sabrina, atau tepatnya setengah ke bawah tubuhnya yang telah berubah menjadi ular itu menangkap Luna.


Sabrina menyeringai membalas sorot tak bersahabat Luna. “Percuma saja melawan,” sahutnya seiring dengan sengatan tak terduga pada leher Luna dan berhasil menidurkannya sekejap.


*****


Kedamaian suasana di tengah hutan terluas di Alam Bayangan ini sepertinya harus rela terusik oleh keberadaan Rei Nathanael. Dengan raut datar Rei tampak menarik kasar pedang hitam legamnya dari rongga dada Kaum Ifrit yang sudah tak bernyawa di bawah kakinya. Luapan kemarahan terpancar jelas di balik sorot Rei. Tangannya mengeratkan genggamannya pada pedangnya, sementara darahnya telah mendesir liar saat melihat kepakan-kepakan sayap Kaum Ifrit di langit di atasnya.


Rei menghunjam kembali pedangnya ke mayat Kaum Ifrit yang malang itu. Dirinya mengerang frustrasi, muak dan merasa dirinya sangat memalukan. Bayang-bayang Luna yang dibawa pergi tepat di depan matanya membuat kekesalan dirinya semakin menjadi-jadi. Ia membenci dirinya yang saat itu. Membenci dirinya yang lemah dan tak berdaya ini.


Percikan listrik lemah tampak mengalir di sepanjang mata pedang hitam legam. Genggaman Rei pada gagang pedangnya mengendur sementara voltase listrik malah meningkat drastis, terus dan terus hingga menimbulkan sambaran liar, ganas dan tak terkendali.


Rei memejamkan matanya sambil menarik satu napas dalam. Kesesakan semakin memenuhi rongga dadanya. Ia tak menyukainya, namun rasa sesak ini tak bisa ia singkirkan, bahkan ketika sisa-sisa kemarahannya mulai memudar sekalipun. Rei pasrah. Ia kembali membuka matanya. Sorotnya terlihat redup. Keinginan untuk membantai yang sudah bertahun-tahun ia kurung kini terbebas, menggebu tak terkendali layaknya hewan kelaparan yang akhirnya terlepas dari belenggu.


Kaum Ifrit telah memulai serangan keduanya. Sang Tuan dari para Kaum Ifrit mulai bergerak dan Rei tak bisa mempertahankan dirinya yang sekarang ini…


Angin berhembus tak bersahabat ketika Zeriel tiba di tempat itu. atmosfer kelam yang teramat mengerikan dirasakannya dari arah Rei. Pemuda itu menekan pedangnya lebih dalam dan saat itulah percikan listrik berwarna merah kehitaman langsung meledakkan tubuh Kaum Ifrit itu, layaknya balon pecah.


Rei memutar tubuhnya. Seketika itu juga bulu kuduk Zeriel berdiri tegak. Keringat dingin mengucur dari dahinya. Zeriel tak menyangka dirinya akan merinding ketakutan seperti ini. Sorot Rei berubah. Iris coklatnya beralih memandang Zeriel dengan tatapan dingin dan penuh hawa membunuh.


Apakah sang Pembantai telah kembali?