
“Rei adalah Rei Nathanael…” Kalimat yang lebih mirip pernyataan dibanding dugaan itu mendadak menyerbu benak Luna yang entah kenapa langsung membangkitkan kembali semangat Luna. Perlahan jemari Luna mulai merapat, membentuk kepalan.
“Rei Nathanael tak boleh memiliki api ini!” tegasnya pada dirinya sendiri. Api berwarna hijau kembali berkobar menyelimuti kepalannya. Tapi sayangnya api itu terlalu redup… terlalu lemah untuk disebut sebagai sebuah api.
Iris violet Luna bergerak lambat menatap sang sosok yang beberapa saat lalu menerjang ke arahnya. Serangan itu terlalu dekat untuk dihindari dan terlambat untuk ditangkis. Menyerang dulu? Konyol, ia bahkan tak memiliki sisa kekuatan untuk menyerang lebih dulu. Lagipula dirinya pasti akan kalah cepat. Well, apa pun itu. Luna berniat menerima mentah-mentah serangan itu. Ia hanya cukup bertahan. Selama ia mampu bertahan, api hijau takkan diambil darinya, dan semuanya akan baik-baik saja.
Terasa sesuatu yang sangat kuat merangsek kuat, mendesak dada Luna. Mematahkan dua atau lebih tulang rusuknya. Sekejap cairan panas yang teramat banyak kembali menyeruak memenuhi seluruh rongga tenggorokan Luna. Darah merah kental merembes keluar dari mulut Luna, membasahi tanah serta membentuk genangan darah yang bagi Luna sangatlah menjijikkan—meski itu adalah darahnya sendiri.
Tubuh Luna merosot jatuh. Lututnya lebih dulu menyentuh tanah disusul salah satu tangannya yang berusaha keras menopang tubuhnya agar tidak terjatuh. Sedangkan tangannya yang satu lagi memegang dadanya, menahan nyeri yang teramat sangat di bagian itu. Sesuatu terasa seperti terus menusuk-nusuk dalam paru-parunya setiap kali ia menarik napas.
Sudut mata Luna menangkap bayang-bayang api hitam yang telah berhenti mengikutinya. Iris violetnya menatap sesaat api hitam yang berjarak sekitar lima meter darinya. Dirinya merasa kobaran api setinggi dua meter ini seakan sedang menatapnya, layaknya seorang teman yang berdiri di kejauhan, ingin membantu namun tak bisa. Well, pengandaian yang terlalu bagus untuk imajinasi kecilnya.
Sudut bibir Luna tertarik sedikit membentuk senyum tipis yang ditujukan pada sang api-hitam, entah apa yang mendorongnya berbuat seperti ini, dan jujur saja, ia hanya merasa ingin melakukannya.
Luna memejamkan matanya. Kali ini ia tidak tahu apakah dirinya bisa bertahan atau tidak dari hunjaman berikutnya. Ketakutan yang sejak tadi tak ia mendadak mencuat—menghantui benaknya serta mengacaukan sistem pikirannya. Hati Luna mulai menjerit-jerit frustrasi. Putus asa ketika sadar betapa dirinya sungguh tak berkutik di hadapan sang sosok.
Tangan Luna mulai terkepal erat hingga kuku-kuku jarinya terasa menancap kuat pada kulit tangannya sendiri. Kepalan tangannya gemetar sementara jemarinya lamban laun mulai terasa kebas. Ia tak ingin mati…
Kedua telapak tangan sang wujud saling menempel, sementara jemarinya bergerak terlipat saling mengunci satu dengan lainnya. Dengan sekali tarikan napas ia mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya itu dan detik berikutnya ia mengayun kuat ke bawah, menghunjam tepat pada kepala Luna dengan kekuatan penuh.
Seketika tubuh Luna terjerembab menghantam tanah. Kepalanya berdenyut dengan sangat hebatnya, sementara sesuatu yang hangat terasa mengalir keluar dari belakang kepalanya. Pandangannya gelap total, namun kesadarannya masih belum meninggalkannya. Luna masih bernapas walau terputus-putus.
Dengan keadaan sekarat, samar-samar Luna merasakan tarikan kasar pada rambut panjangnya, memaksa wajahnya untuk segera menjauhi tanah. Sebuah cengkeraman dingin mendarat pada leher Luna dan mulai mengangkat dirinya ke atas. Cekikan pada leher Luna semakin kuat, sementara tubuhnya pelan-pelan terangkat menjauhi permukaan tanah.
Dengan kondisi tercekik kuat, Luna terpaksa menahan napasnya dan sesekali menarik napas pendek. Rongga dadanya terasa sungguh amat menyiksa setiap kali ia menarik napas lebih dalam, berusaha mengisi kembali kekosongan pada paru-parunya. Sementara organnya yang satu itu terus menjerit-jerit meminta oksigen yang lebih banyak, dan ini semakin membuat Luna tampak menyedihkan.
“Aku akan melepaskannya jika kau setuju mengambil kembali api hijau itu, Nathanael.” Suara sang naga samar-samar terdengar di tengah-tengah hilangnya kesadaran Luna. Perkataan itu lantas membuat gadis itu berusaha menarik kembali serpihan kesadaran yang mulai terbang menjauh.
“Kau akan membunuhnya jika aku tidak setuju?” Rei membalas setelah diam beberapa lama. Intonasi bicaranya terdengar sangat tenang. “Aku tak keberatan, tapi masalahnya apakah dia mau atau tidak.”
Luna tersentak. Ia meronta pelan, sementara mulutnya terbuka sedikit. Dirinya ingin bersuara, ingin mengatakan bahwa Rei Nathanael tak boleh memiliki api itu! Tapi pita suaranya seakan diganjal oleh sesuatu yang sangat besar, rintihan kecil saja tak mampu ia keluarkan apalagi mengatakan kalimat sepanjang itu!
Sang naga tertawa menang. “Jangan pedulikan gadis itu, Nathanael. Selama api kematian itu—” Ucapannya terhenti seketika saat iris semerah magmanya melihat kejanggalan pada api kematian yang dimaksud.
Secercah cahaya hijau cerah muncul dan tampak kontras di tengah-tengah warna hitam yang sedang berkobar tenang itu. Sang naga mendadak menjadi gusar. Ia melirik kesal pada Rei yang kini bergantian menunjukkan ekspresi kemenangan.
Percakapan yang tiba-tiba terhenti ini membuat benak Luna mulai bertanya-tanya penasaran. Kesunyian mendadak ini menyiksa batinnya melebih rasa sakit pada rongga dadanya ini. Saat dirinya sibuk menebak-nebak apa yang terjadi, cekikan di lehernya tiba-tiba menguat, terkesan terburu-buru seolah ingin segera memutuskan napasnya di saat itu juga. Kalau memang itu tujuannya, maka ia berhasil. Oksigen telah berhenti masuk ke rongga paru-paru Luna dan tubuh gadis itu perlahan-lahan mulai mati rasa. Kesadaran pun tak lagi mampu ia pertahankan. Satu-satunya yang ia dengar sebelum dirinya tidur untuk selamanya adalah dentuman menggelegar, seperti teriakan halilintar yang sangat memekakkan telinga.
“Jangan berpikir licik, Arken…” desis Rei seraya menangkap tubuh Luna yang merosot jatuh ke depan layaknya sehelai kain yang terlepas dari penyanggahnya.
Lengan kiri Rei tampak dilingkarkan pada pundak gadis itu, memeluknya sekaligus membiarkan gadis itu bersandar pada dadanya. Bersamaan dengan itu, tangan kanannya bergerak gesit menepis kasar sang sosok. Sorot tajam sontak terpancar di balik iris coklat Rei ketika menatap Arken, sang naga. Rei terlihat sangat marah.
Suara berdebuk terdengar ketika sang sosok terjerembab kaku di atas tanah layaknya robot yang mendadak rusak akibat sambaran petir Rei. Listrik merah kehitaman tampak berpercikan keluar dari tubuhnya sementara aroma gosong mulai tercium. Rei melirik sejenak pada api hitam yang masih berkobar tak jauh darinya. Lega ketika cahaya hijau cerah itu masih ada di sana dan malah mulai membentuk lekukan garis-garis hijau tipis.
Seakan tertarik kembali dari perjalanan menuju kematian. Tiba-tiba Luna terbatuk sekali dan astaga, batuk saja terasa sungguh menyiksa rongga dadanya ini. Belum lagi ketika ia menarik satu napas yang cukup dalam untuk mengisi kembali kekosongan udara di paru-parunya. Rasa sakit kembali menusuk-nusuk dadanya dari dalam. Apa pun yang berusaha ia lakukan, bagian itu tetap saja terasa amat sangat menyiksa.
Satu usapan lembut dirasakan di pundak Luna dan membuatnya sadar tubuhnya tengah bersandar pada sesuatu, atau seseorang lebih tepatnya. Ketika ia mengangkat kepalanya, kelopak matanya sontak melebar, terperangah ketika melihat wajah Rei telah berada sedekat ini dengannya. Hembusan napas berat pemuda itu terasa menerpa puncak kepala Luna, sangat nyata hingga membuat gadis itu yakin dirinya tidak sedang bermimpi.
“Aku sendiri tidak keberatan jika kau melukainya lebih parah dari ini. Tapi aku tidak akan tinggal diam jika kau berniat membunuh tepat saat api kematian mengakuinya.” Rei menambahkan seraya memberi penekanan pada tiap katanya dan tanpa sadar lingkaran lengannya pada pundak Luna mengerat, membuat gadis manusia itu benar-benar menempel lekat pada dirinya.
“Kau telah mencampuri pertarungan ini, Nathanael. Artinya kau sepakat untuk mengambil kembali kekuatan api itu. Seperti perjanjian kita kemarin.” Arken berkata tenang. Well, setidaknya ia masih berada di posisi pemenang.
Sudut bibir Rei terangkat sedikit. Ia mendengus tak setuju. “Api ini telah memilih, Arken. Dia telah memilih gadis manusia ini. Tak ada gunanya kau bersikeras seperti ini.” Ia membalas sambil menjentikkan jemarinya memanggil api hitam tersebut.
Api itu bergerak merespon panggilan Rei dengan membentuk satu garis lurus yang kemudian berputar-putar beberapa kali di atas telunjuk pemuda itu sebelum bergerak masuk ke tubuh Luna. Rasa sakit pada rongga dada Luna berkurang sedikit. Well, setidaknya tidak terlalu menyiksa ketika bernapas napas.
Arken mengendus kuat dan menarik perhatian Luna. Gadis itu mengintip dari balik bahu Rei dan tampak sarat kemarahan di wajah sang naga. Salah satu tungkai depan sang naga hendak maju selangkah. Namun detik itu juga sebuah percikan listrik mendarat tak jauh di depan tungkai tersebut dan meninggalkan segaris asap putih tipis di atas tanah. Arken memicingkan matanya menatap Rei seraya menggeram. “Apa maksudmu, Nathanael?”
“Melawanmu tentu saja…” jawab Rei tanpa ragu. Sementara itu matanya telah beradu tatap dengan sang naga.
Tatapan intens diantara mereka menimbulkan tekanan membunuh yang sangat kental dan langsung saja memenuhi atmosfir di sekitar reruntuhan. Luna menelan ludah kering. Untuk pertama kalinya ia melihat ekspresi semenakutkan ini; bola mata yang membara liar, keinginan membantai serta hawa intimidasi yang mengerikan—dan semua itu bukan berasal dari sang naga, melainkan berasal dari Rei.
Luna sendiri hampir tak percaya semua ini. Rei yang dikenal tak acuh rupanya bisa berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda, seperti seorang pembunuh keji. Apakah ini sisi asli dari Rei Nathanael yang ditakuti ibunya?
Arken beranjak mundur selangkah. Ia mendengus panjang seiring dengan bentangan sepasang sayapnya selebar mungkin dan sama-sama terangkat ke atas membentuk huruf V. “Aku masih tak percaya dengan kemampuan gadis manusia itu, Nathanael,” ujarnya sebelum mengepakkan kuat sayapnya. Udara sontak bergetar hebat dan tubuh raksasa Arken terangkat ringan menjauhi permukaan tanah.
“Akan tetap lebih baik jika api itu tetap ada padamu.” Sang naga meraung sekali sebelum terbang semakin tinggi menjauhi reruntuhan itu. Ia menjelajah singkat langit Alam Bayangan di sore itu sebelum kembali tempat asalnya.
Otot wajah Rei mengendur seketika. Ketegangan yang berlangsung beberapa menit akhirnya berakhir sedangkan rangkulan tangannya di pundak Luna tak lagi sekuat sebelumnya.
Rei menghela napas panjang. “… Kalimatku belum selesai dan dia sudah pergi,” gerutunya sembari menggaruk tengkuknya. Tekanan membunuh yang tadinya Luna rasakan lenyap tak berbekas. Ekspresi wajah Rei pun kembali seperti semua. Dengan ajaibnya, pemuda itu seolah kembali menjadi sosok santai dan tak acuh seperti yang Luna kenal.
“Kau masih hidup?” Rei berpaling. Iris coklatnya langsung tertuju pada Luna dengan tatapan datar yang aneh, antara cemas namun tak ingin ditunjukkannya secara gamblang. Luna mengangguk pelan. Benaknya tersenyum kecil ketika tahu Rei ternyata menyimpan beberapa sisi unik.
“Baguslah. Aku tak siap jika harus kembali memiliki kekuatan api kematian,” ujarnya lebih kepada dirinya sendiri. Ia sepertinya tak begitu peduli apakah Luna mendengar ucapannya atau tidak.
Rei membungkuk sedikit dan sekejap saja kedua kaki Luna terasa menjauhi pijakan. Refleks tangan Luna merangkul bahu Rei ketika tahu lengan pemuda itu telah menyanggah kuat persendian lutut Luna dan menyebabkan telapak kaki gadis itu tergantung kehilangan pijakan. Luna merintih kesakitan karena perlakuan mendadak ini membuat rusuk patahnya bergeser dan menusuk organnya lebih dalam.
“Maaf…” Suara dengan intonasi penuh rasa bersalah terdengar berbisik lembut di dekat wajah Luna. “Tahanlah sedikit sampai kita tiba di Pusat,” tambah Rei sambil beranjak meninggalkan tempat itu.
Setiap langkah Rei terasa begitu menyiksa Luna. Rusuk patah tanpa hentinya menusuk atau pun menyenggol organ dalamnya. Tapi sebisa mungkin ia tak merintih. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menyandarkan kepalanya pada dada bidang Rei. Dalam keheningan Luna bisa merasakan hembusan napas Rei yang begitu nyata menyentuh kulit lengannya yang melingkar di bahu kanan Rei. Entah kenapa Luna mulai menikmati setiap tarikan serta hembusan napas pemuda itu, terasa menentramkan apalagi berseling dengan irama detak jantung di dekat telinganya. Well, paling tidak dua hal ini bisa membuatnya sedikit melupakan rasa sakitnya.
“Ngomong-ngomong, dari mana kau belajar teknik bertarungmu? Meski dari segi pengalaman masih terbilang kurang, tapi respon dan seranganmu cukup bagus.” Pertanyaan Rei mengakhiri kebisuan diantara mereka. Luna lantas mendongakkan kepalanya dan mendapati Rei lebih dulu menatapnya. Ekspresi datar pemuda itu sedikit mencair dan terkesan berubah menjadi lebih ramah.
“Aku sempat belajar teknik dasar bertarung dari ibuku, tapi sebenarnya aku lebih mengandalkan insting,” jawab Luna.
“Insting…?” Rei mengernyit tak percaya namun Luna telah berpaling memandang puing-puing di pinggir jalan yang sedang mereka lewati.
“Banyak yang tak percaya teknik bertarungku murni mengandalkan insting. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa. Insting itu sudah aku miliki sejak kecil,” celetuk Luna memperjelas ucapan sebelumnya.
Seulas senyum tipis tiba-tiba terbentuk di bibir Rei. Senyum yang bahkan belum pernah Luna lihat sebelumnya dan entah kenapa meninggalkan kesan polos dan kekanak-kanakan. “Dan jangan bilang kau menggunakan kekuatan apimu dengan insting juga?”
Luna mengangguk ragu. Well, ia sendiri tak tahu pasti kapan dirinya mulai menguasai api itu. Tahu-tahu saja api itu sudah bergerak menuruti keinginannya dan dengan sendirinya ia tahu cara memakainya.
“Kau membuatku teringat pada seseorang di masa lalu,” komentar Rei dan gantian membuat Luna mengernyit heran.