
“Sepertinya kau cukup nyaman tinggal di sini.” Kalimat itu langsung menyambut Luna ketika ia membuka pintu kamar kondominium tempat tinggal sementaranya. Zeriel tampak berdiri di depan, masih dengan wajah datar dan tatapan dingin lengkap dengan syal putih dan jas hitam selutut; sama seperti terakhir kali mereka bertemu.
“Ada waktu? Aku ingin berbicara beberapa hal denganmu,” tanyanya sopan dan Luna mengangguk mengiyakan. Zeriel lalu mengajaknya ke tempat yang lebih sepi, di sudut terjauh dari keramaian kota kecil di dekat jendela hitam.
Dari sini Luna bisa melihat pemandangan malam di luar Pusat. Sepi. Tak aktivitas atau kehidupan sedikit pun. Tatapan Luna berganti kepada bulan purnama yang tampak jauh lebih besar dari biasanya. Cahaya putihnya menerangi hampir ke setiap sudut reruntuhan bangunan kota. Sangat berbeda sekali dengan bulan yang ia lihat di Alam Manusia yang cenderung berwarna kuning dan jauh tergantung di atas langit malam. Luna menyukai bulan di Alam Bayangan ini.
Sang naga masih berada di luar sana, masih di atas reruntuhan yang sama seperti siang tadi. Kepala makhluk raksasa itu terangkat dan kemudian ia membuka mulutnya lebar-lebar. Gema raungannya terdengar samar-samar. Mungkin akan terdengar lebih jelas jika ia ada di luar Pusat.
“Pusat telah mengetahui kalau kau adalah pemilik kekuatan api kematian. Well, aku sedikit terkejut. Kau tak terlihat seperti bisa menggunakan sihir. Tak heran jika sang naga langsung terbang ke sini begitu kau tiba.” Zeriel mulai berkata sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas hitamnya.
Luna mengernyit, tak paham hubungan antara dirinya dengan kedatangan sang naga. Apakah naga itu datang karena dirinya?
“Ada pesan untukmu, Luna. Sebenarnya ini pesan dari Rei, tapi ia sibuk dengan pertarungan batinnya. Umm… mungkin dia sedang mencari cara untuk membunuh dirinya.” Zeriel menambahkan seraya sedikit bercanda, walau candaannya terkesan kaku dan tak menghibur sama sekali.
Ada jeda yang cukup lama sebelum Zeriel melanjutkan ucapannya. Iris biru laut pemuda Kaum Bayangan itu menatap lurus dan dalam pada sepasang mata Luna hingga akhirnya membuat gadis manusia itu menjadi gugup dan salah tingkah. Luna tak pernah bisa tahan jika harus bertatapan intens seperti ini, apalagi pada mata biru gelap seperti warna laut itu.
“Besok pagi sang naga ingin mengujimu. Apakah kau layak menjadi pemilik api kematian atau tidak.” Keseriusan terlihat jelas, baik dari raut wajah maupun intonasi Zeriel. Bahkan atmosfir di sekitar mereka pun ikut berubah.
“Jika tidak, mungkin kau akan kembali dalam kondisi terluka seperti tadi atau parahnya kau akan langsung dibunuh di tempat dan kemungkinan besar Rei akan menyusulmu. Dia benar-benar akan membunuh dirinya sendiri,” lanjut Zeriel lagi. Ia serius dengan ucapan sebelumnya.
Entah kenapa dibanding kenyataan bahwa dirinya harus menghadapi makhluk raksasa yang maha kuat dan kemungkinan bakal mati, Luna jauh lebih khawatir perkataan terakhir Zeriel. “Membunuh diri sendiri…?” ulang Luna dalam hati. Tak paham.
Bagaimana pun ia mengobrak-abrik pikirannya, ia tetap tak menemukan jawaban. Kenapa Rei harus membunuh dirinya sendiri? Apakah karena melindunginya? Tidak, tidak… Luna langsung menepis kemungkinan itu. Sangat tidak mungkin Rei yang tak acuh itu akan mengorbankan diri hanya untuk seorang gadis manusia seperti dirinya. Luna sangat yakin akan hal itu.
“Ingat, besok pagi. Rei akan datang menjemputmu.” Zeriel mengingatkan sebelum menepuk pelan pundak gadis itu sebelum beranjak meninggalkan Luna yang masih sibuk dengan pikirannya.
Luna menatap punggung Zeriel hingga pemuda berwajah datar itu benar-benar mengilang dari pandangannya. Setelah itu ia kembali berpaling memandang ke luar jendela, menatap lama sang naga yang baru saja telungkup—mungkin sedang tidur. Luna membuka telapak tangan kanannya, memutarnya hingga menghadap ke wajahnya. Sebuah bunga api berwarna hijau sontak membara penuh semangat beberapa mili di atas telapaknya.
“Kau boleh melupakan semua ceritaku ini, Luna. Tapi tidak untuk kalimat yang satu ini. Apa pun yang terjadi jangan pernah memberikan kekuatan api kematian ini pada seorang yang bernama Rei Nathanael…”
Bayang-bayang suara ibunya, Karen, kembali terdengar jelas di benak Luna. Ia masih ingat ekspresi yang dibuat ibunya ketika mengatakan hal ini. Kecemasan yang berlebihan serta perasaan takut. Diantara semua kisah panjang yang diceritakan ibunya sewaktu ia kecil—sekitar delapan atau sembilan tahun—hanya satu bagian itu saja yang benar-benar ia ingat dan membekas. Mungkin karena itu pertama kalinya ia melihat ibunya memasang raut sedih bercampur cemas yang berlebihan.
Well, sebenarnya masih ada satu lagi yang harus ia ingat—kalimat lanjutannya. Namun bagaimana pun Luna berusaha, ia tetap tak ingat kalimat apa itu.
*****
Bel pintu berbunyi sebanyak dua atau tiga kali. Awalnya Rei mengabaikannya saja, tubuhnya terlalu lelah untuk sekedar bangkit berdiri. Matanya terus terpejam namun detik berikutnya bunyi bel yang ditekan beruntun tanpa henti mulai terdengar sangat mengganggu dan akhirnya memaksa Rei untuk beranjak dari kasurnya. Dengan enggan ia membukakan pintu dan langsung berbalik berjalan masuk tanpa melihat siapa yang sebenarnya datang.
“Well, masih hidup ternyata.” Zeriel menyapanya sambil melangkah masuk dan menutup pintu.
“Bel darimu baru saja menarikku dari ambang kematian,” balas Rei tak bersemangat. Ia menghempaskan dirinya ke sofa dengan posisi telungkup, terlihat tak bertenaga seperti seorang yang baru selesai dipaksa kerja rodi. Matanya kembali terpejam rapat dengan kepala menghadap ke sandaran sofa.
Zeriel menggantung syal putih dan juga jas hitamnya sebelum ikut duduk di sofa yang ditata membentuk huruf L itu. Di lehernya terlihat bekas sayatan yang cukup dalam dan mungkin nyaris merengut nyawanya.
“Tak menyangka bisa melihat anak perempuan Karen di sini. Aku bahkan masih tak percaya ia juga akan tinggal di Pusat ini,” ujar Zeriel.
“Nah… apa yang kau harapkan, Ze? Pusat ada di satu tempat yang sama dengan kota tempat tinggalnya, hanya berbeda dimensi saja,” respon Rei sama tak bertenaga dengan sikap tubuhnya.
“Kau sudah tahu, bukan? Bahkan sejak pertama kali melihatnya.” Zeriel menebak. Nada bicaranya sedikit menggoda. Sayangnya Rei tak menanggapi godaannya itu. Ia malah membalikkan kepalanya sehingga kini menghadap meja di depan sofa tempatnya berbaring. Iris coklatnya menatap sudut meja dengan sorot redup.
“Mereka terlalu mirip… mana mungkin aku tak mengenalnya.” Rei menjawab pelan. “Well, meski awalnya aku juga sedikit ragu.”
“Kau… masih menyimpan perasaan itu…?” Zeriel merendahkan kepalanya ketika bertanya, berusaha melihat ekspresi seperti apa yang dibuat Rei ketika mendengar pertanyaannya itu, dan ternyata Rei hanya memberikan satu tatapan kosong.
“Perasaan dan juga emosi dalam diriku telah lenyap, Ze,” ujar Rei kembali menutup matanya.
Benar… waktu berlalu entah berapa lama sejak terakhir kali ia merasakan dua hal itu. Demi memperoleh kedamaian seperti saat ini, banyak hal yang harus Rei korbankan, salah satunya adalah sesuatu yang disebut emosi dan perasaan dan kini, yang tersisa dalam dirinya hanyalah kehampaan dan rasa kosong.
“Ngomong-ngomong, apakah besok kau akan membantunya?” Entah kenapa hari ini Zeriel sangat cerewet dan banyak tanya, persis seperti ibu-ibu saja.
Rei tahu, walau tak ditunjukkan, Zeriel sebenarnya cukup khawatir dengan Luna. Tak biasanya ia mengkhawatirkan orang lain, bahkan ke sesama kaumnya sendiri pun ia sering kali tak acuh. Apakah karena Luna adalah pemilik api kematian? Mungkin saja iya, sejak awal banyak yang tertarik untuk mendapatkan api itu, termasuk para naga, Kaum Bayangan, Kaum Ifrit dan tak terkecuali Zeriel.
Rei akhirnya bangkit dari baringannya. “Tidak,” jawabnya cepat seolah tidak diproses dahulu di otaknya. Zeriel hanya mengerutkan dahinya. Bola matanya bergerak mengikuti Rei yang telah bangkit berdiri. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia butuh penjelasan lebih.
“Aku percaya padanya.” Rei menambahkan seraya berjalan ke kamarnya.