The Shadow Awakens

The Shadow Awakens
Chapter 7



Sang naga membentangkan sepasang sayapnya lebar-lebar. Ia bangkit berdiri dengan keempat tungkainya seraya memamerkan empat buah cakar tajam nan panjang di masing-masing tungkai. Leher makhluk raksasa itu direndahkan, sementara sepasang mata merahnya tamak memicing hingga hanya menyisakan sedikit celah diantara kelopak matanya. Sang naga menatap dua sosok yang ia kenal berjalan mendekat ke reruntuhan ini. Dengan penuh semangat ia merendahkan sedikit kedua tungkai belakangnya dan dengan satu tolakan pelan ia pun melompat turun. Tanah bergetar sedikit ketika keempat kaki raksasanya berpijak pada tanah dan menyebabkan beberapa kerikil menggelinding jatuh dari puing-puing di sekitarnya.


“Kukira kau takkan membawanya ke sini,” ucap sang naga seraya melangkah pelan menghampiri Rei dan Luna. Iris merah magmanya tak lepas dari dua sosok kerdil di depannya. Hembusan napasnya terasa seperti tiupan angin meski mereka berada pada jarak yang terbilang jauh dan hal ini membuat benak Luna mulai gentar.


“Aku sudah membawanya ke sini. Sekarang terserah kau mau berbuat apa.” Luna sontak berpaling menatap tak percaya pada Rei. Tanpa penjelasan apa-apa pemuda itu langsung berjalan menjauhinya dan sang naga. Apakah artinya ia disuruh melawan makhluk raksasa ini? Yang benar saja!


Luna menahan napasnya seraya membalas tatapan mata sang naga melalui iris violetnya. Sikap tubuhnya dibuat serileks mungkin meski benaknya masih mengumpat, mengutuk-ngutuk Rei. Benaknya semakin kesal ketika melihat pemuda itu malah duduk tenang di atas puing yang sedikit lebih tinggi. Ia terlihat tak ingin ikut campur dan berarti Luna hanya bisa pasrah menghadapi ujian yang diberikan sang naga.


Suasana dan atmosfir di reruntuhan kota ini berubah dengan cepatnya. Aura penuh intimidasi terpancar di balik iris merah magma sang naga dan jelas berhasil menciutkan nyali Luna dalam sedetik.


“Baiklah, gadis manusia, kita kesampingkan dulu perkenalan dan basa-basi lainnya. Kita bisa melakukannya setelah semua ini selesai,” sahut sang naga lalu menghembuskan uap putih kebiruan dari mulutnya dan menciptakan sosok seukuran manusia dewasa.


Udara pelan-pelan berubah menjadi sejuk seiring dengan kepulan uap yang semakin banyak mengerubungi sosok buatan itu. Padatan kristal es tampak berkilau di sekujur tubuh sosok itu, membuatnya tampak seperti pahatan dari es.


“Wujud ini adalah es. Apimu jelas unggul terhadap es ini. Tapi jangan anggap remeh karena dia bukan sembarang es. Tujuanmu hanya satu, yaitu mengalahkannya. Entah itu dihancurkan, dilelehkan atau apa pun, terserah kau mau pakai cara apa.” Sang naga menjelaskan.


“Lalu batas waktunya adalah limit kesabaranku. Tapi tenang saja, naga adalah makhluk yang sangat penyabar dan sangat mudah tertarik dengan segala sesuatu. Tunjukkan padaku pertarungan yang menegangkan, gadis manusia,” tambahnya.


Selesai berkata, sang sosok es itu sontak melesat gesit ke arah Luna. Satu pukulan yang cukup cepat dilayangkan ke perut Luna dan berhasil ditangkis oleh telapak tangan Luna. Tampaknya gadis manusia itu bisa membaca gerakan lawannya. Kemudian jemari Luna mengunci kepalan tinju sang sosok es dengan mencengkeramnya kuat-kuat. Luna takkan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menyerang balik dan detik berikutnya api berwarna hijaunya pun berkobar di tangannya dan langsung membakar kepalan tangan sang sosok es.


Tinju sang sosok melebur layaknya lelehan es. Tapi sosok es itu tak peduli. Ia sontak menyelinap terampil ke belakang Luna. Bersamaan dengan itu, salah satu tangannya telah dilingkarkan pada leher gadis itu. Namun tepat sedetik sebelum ia berhasil mengunci leher Luna, gadis manusia itu telah merendahkan posisi berdirinya. Kaki kanannya dimajukan selangkah lalu membawa tubuhnya memutar keluar menjauhkan punggungnya dari sang sosok es.


Dengan memanfaatkan celah ini, Luna langsung menancapkan kelima jarinya ke dada lawannya dari arah bawah. Api hijau pun berkobar ganas dari tangannya dan menyebar cepat ke seluruh tubuh lawannya. Mengira apinya berhasil membakar lawannya, Luna pun menarik tangannya, dan tiba-tiba saja gas putih tebal menyeruak keluar dibalik bekas tancapkan jari Luna.


Luna mundur beberapa langkah dengan raut terkejut. Iris violetnya tampak bergerak menyapu sekelilingnya yang telah ditutupi oleh gas misterius itu. Kebekuan udara terasa seketika dan ini buruk. Meski demikian, Luna terlihat tenang, jauh lebih tenang dibanding ekspektasi sang naga maupun Rei.


Makhluk raksasa bersisik merah bata itu mulai tersenyum menunjukkan ketertarikan pada gadis manusia itu. Well, ia sungguh tak menduga gadis yang ia sangka lemah dan akan gemetar ketakutan itu bisa bertahan hingga sejauh ini. Ditambah lagi teknik bertarungnya terbilang bagus.


Secercah cahaya hijau terlihat di balik kepulan gas putih. Tak lama kemudian cahaya hijau itu tampak bergerak berputar semakin lama semakin besar, melebar dan akhirnya menepis seluruh gas tersebut. Namun pemandangan janggal terlihat dibaliknya. Darah merah segar tampak mengalir turun dari lengan kiri Luna dan menetes satu demi satu ke atas tanah. Melihat hal itu, senyum sang naga semakin lebar puas.


Sosok es tersebut mengangkat tangannya, mengarahkan telapak tangannya persis ke arah Luna. Hal berikutnya yang terjadi adalah semburan api beku berwarna putih kebiruan keluar dari telapak tangannya dan serangan ini sontak membuat Luna terlonjak kaget. Ia sama sekali tak menyangka lawannya juga memiliki jenis kekuatan yang sama dengannya. Sama-sama kekuatan api.


Luna mendapati sang naga tengah tersenyum penuh hiburan. “Dasar naga sial, dia sengaja tidak memberitahu point yang satu ini,” umpat Luna dalam hati.


Luna sontak menangkis api beku itu dengan api hijau miliknya. Kedua api saling beraduan, bergesekan sesaat sebelum api beku melahap api hijau. Sadar apinya tengah dimakan, Luna langsung menghentikan serangan apinya, tapi entah kenapa api hijaunya tak menghilang dan malah berkobar tak terkendali. Luna mencoba sekali lagi tapi… tetap saja tidak bisa. Apinya tak mau padam!


Apa yang terjadi? Luna bertanya-tanya bingung. Kehilangan fokus akan keadaan sekeliling, Luna tak menyadari serangan yang telah ditujukan pada dirinya. Bara api berwarna putih kebiruan sang sosok es berhasil mengerubunginya. Kebekuan terasa menerpa seluruh kulit Luna hingga merasuki sum-sum tulangnya.


Luna sontak melesat keluar dari kepungan api beku tersebut. Dalam satu gerakan cepat ia sontak menerjang ke arah lawannya. Api beku tampak mengejarnya dari belakang tapi Luna tidak peduli. Ia cukup mengalahkan lawannya dan api itu dengan sendirinya akan berhenti mengejar.


Api hijau kembali membara dari kepalan tangan Luna. Ia melayangkan pukulannya pada bagian perut lawannya. Pukulannya menembus masuk ke perut sang sosok es dengan mudahnya. Terasa janggal dan aneh. Tak seharusnya serangannya selancar ini, batin Luna.


Kekagetan semakin bertambah saat api Luna tidak menjalar atau pun membakar lawannya seperti sebelumnya.  Malah sebaliknya, perut sang sosok es tampak menghisap seluruh kekuatan api Luna dalam skala besar. Menyadari hal itu, Luna hendak menarik keluar tangannya. Namun lawannya langsung menangkap pergelangannya, menahannya agar tidak keluar. Selanjutnya tangan sang sosok es yang satunya lagi langsung mendaratkan pukulan beruntun pada Luna sebelum akhirnya menendang jauh gadis itu.


Punggung Luna menghantam kuat pecahan dinding bangunan jauh di belakangnya dan kemudian terjerembab jatuh mencium tanah. Rasa sakit meningkat menjadi berkali lipat, terutama di bagian perut dan punggungnya. Cairan hangat terasa merangkak naik ke tenggorokannya dan terlihat mengalir keluar dari mulutnya.


Tangan kanan Luna terjulur ke atas meraba-raba berusaha mencari pegangan. Tak lama jemarinya berhasil menggapai pinggir pecahan dinding setinggi kurang dari setengah meter. Lengannya gemetar ketika ia bersusah payah bangkit berdiri dengan bertumpu pada pecahan dinding itu. Api hijau tampak berkobar lemah pada ujung jemarinya dan detik berikutnya api itu padam. Kekuatan api Luna telah mencapai ambang batas.


Sang naga mengangkat kepalanya saat melihat gadis manusia itu tak lagi memiliki kekuatan untuk melawan. Ia melirik pada Rei. Pemuda itu terlihat menegakkan posisi duduk. Kerutan pada keningnya terlihat samar, sementara iris coklatnya tak lepas menatap Luna. Meski tak terpancar emosi apa pun di wajah datar Rei, namun lubuk hatinya mulai mencemaskan pertarungan ini. Ada semacam dorongan aneh timbul di dalam dirinya. Dorongan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dorongan untuk menolong gadis manusia itu.


“Tak tahan ingin segera menolongnya, Nathanael?” pancing sang naga. Ia tahu Rei sendiri sebenarnya mulai gelisah.


Baginya, Rei hanya mengulur waktu saja, dan semakin lama ia mengulur waktu, maka gadis manusia itu akan semakin tersiksa. Sang naga takkan berhenti sampai Rei turut mencampuri pertarungan ini, dan itulah yang ia inginkan sejak awal, bahkan sejak pertarungan belum dimulai.


“Lakukan, Nathanael,” pancing sang naga ketika melihat Rei masih diam mematung di tempat.


Luna yang akhirnya berhasil berdiri dengan kedua kakinya bergumam pelan dan terbata-bata. “Na…tha…nael…”