
"Maaf Tuan, apakah saya terlambat?" Yelena baru tiba di Restoran yang dijanjikan.
"Tidak, saya juga belum lama. Silahkan pesan makanan terlebih dahulu." Heru memanggil pelayan.
Setelah selesai memesan makanan, dan pelayan tadi sudah pergi.
"Ada apa Tuan memanggil saya kesini?"
tanya Yelena penasaran
"Ada yang mau saya sampaikan. Alice sudah merestuikan hubungan kita. Bagaimana menurut mu?"
"Benarkah? saya sangat senang mendengarnya Tuan."
"Yel, kapan kita menikah?" Heru memegang tangan Yelena.
"Jangan terburu-buru Tuan. kita bisa mempersiapkan pernikahan pelan-pelan sembari terus meyakinkan Alice. saya tau Alice sudah merestui tapi saya juga yakin bahwa dia tidak sepenuhnya menerima hubungan kita. biar bagaimana pun dia masih belum melupakan kepergian mamanya."
"Baiklah. Kamu memang wanita yang penuh perhitungan. Saya memang tidak salah pilih kamu."
"tentu saja saya sangat perhitungan. Aku tidak mau rencana yang sudah siapkan bertahun-tahun hancur begitu saja. Aku harus mengambil hati Alice terlebih dahulu baru menikahimu, setelah aku mendapatkan apa yang aku mau, aku akan menyingkirkanmu pak tua." batin Yelena.
"Makanan Anda Tuan, Nyonya. Silahkan dinikmati."
"Terima kasih."
"Mari makan dulu. setelah ini kita kembali ke kantor bersama."
.........
"Yelena sayang, sepertinya kamu sangat bersemangat malam ini. aku sampai kewalahan mengimbangi tenagamu."
"Tentu saja. Rencana kita sedikit lagi berhasil, bocah itu sudah merestui hubunganku dengan Heru. aku akan segera menikah dengan Heru dan memaksanya memindahkan semua aset perusahaan atas namaku."
"Benarkah? Rencana kita tidak sia-sia."
"hemm. mau lanjut?"
"Baiklah."
Drtttt...
Hp Yelena tiba-tiba bergetar.
"siapa sayang?"
"Heru?"
"ada apa?"
"entahlah. kamu diam dulu.aku mau angkat telepon nya." Yelena mengangkat telepon dari Heru.
"selamat malam Tuan, ada yang bisa saya bantu?"
"Yelena, sekarang bukan jam kerja tidak perlu seformal itu. sebenarnya ada yang mau saya bicarakan."
"ada masalah apa Tuan?"
"ah tidak.Apakah besok kamu ada acara?"
"Sepertinya tidak ada Tuan."
"oh bagus lah. saya mengundangmu untuk makan siang dirumah besok. sekalian ingin memperkenalkan mu dengan Alice secara resmi."
"Baiklah. Dengan senang hati. Saya juga perlu lebih dekat dengan Alice. bagaimana pun kita akan menjadi keluarga."
"Baik lah. Saya tunggu. selamat malam."
"selamat malam" Yelena melempar Hp nya ketempat tidur. "huh menyebalkan."
"kenapa sayang?" tanya Ian.
"Heru mengundangku untuk makan siang besok. Dia mau memperkenalkan aku secara resmi kepada Anaknya. membosankan. Tapi ini kesempatan bagus untuk mendekati Alice supaya aku bisa lebih cepat menikah dengan Heru."
"Humm kamu harus gunakan kesempatan ini sebaik mungkin sayang."
"humm sudahlah.mari lanjutkan."
.........
"kita mau kemana lagi Al?"
"tidak tau. kamu mau nya kemana?"
"hem" Lester mengangkat bahunya. Lester juga tidak tau kemana lagi mereka akan pergi. mereka sudah mengunjungi banyak tempat hari ini. " Al, duduk disana dulu yuk, ada yang mau aku bicarakan."
"baiklah." Alice mengikuti Lester menuju ke sebuah bangku di pinggir jalan. "apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Alice setelah mereka duduk.
"Al, aku minta maaf sebelumnya. mungkin kedepannya waktu kita akan berkurang. aku akan sibuk akhir-akhir ini."
"sebentar lagi perkuliahan semester genap akan dimulai. aku harus bekerja lebih giat untuk melunasi uang kuliah semester ini. tapi aku janji, aku akan meluangkan waktu sebisa mungkin untuk kamu."
"humm baiklah. aku akan menunggumu. Les, kalau aku boleh tau kamu kerja dimana?"
" siang aku di kerja di toko buku, malam kerja di bar. kenapa?"
"ah tidak apa-apa. bagaimana kalau kamu kerja di perusahaan papa?"
"hah mana mungkin Al."
"Kenapa tidak mungkin? aku yakin papa akan setuju kalau aku yang minta. bukankah kamu kuliah jurusan bisnis Internasional. kurasa kamu cocok di perusahaan papa.
"Iya. tapi aku masih kuliah Al. pengalaman juga belum ada. Ilmu ku tentang Bisnis masih dangkal. sementara perusahaan papamu sebesar itu. tidak mungkin Al."
"semester depan kan kamu harus nya sudah magang. anggap saja sekarang kamu juga lagi magang. gimana?"
"sayang, tidak perlu. Aku bisa bekerja ditempat yang sekarang."
"tidak. Nanti aku akan bicarakan ke papa, aku akan minta papa buat menerima kamu bekerja diperusahaan."
"Al, aku tidak mau merepotkanmu dan papamu. aku janji, aku akan meluangkan waktu mu. janji." ucap Lester sambil memegang tangan Alice.
"Les, aku ini pacar kamu. salah ya kalau aku mau membantu mu?" Alice sedih Lester menolaknya.
"sayang jangan sedih dong. aku cuma tidak mau merepotkanmu. aku ini lelaki, aku bisa mengatasi masalahku sendiri. aku tidak mau dibilang memanfaatmu untuk kepentingan pribadi. aku mencintaimu tulus."
"tapi aku juga tulus membantu mu."
"humm baiklah.aku ikuti kemauan kamu, tapi aku punya syarat."
" apa syaratnya?"
" Aku akan bekerja diperusahaan papa kamu tapi dengan kemampuan aku sendiri. dengan kata lain aku masuk melalui prosedur resmi. dan juga kalau aku diterima, aku tidak mau ada perlakuan khusus. aku bekerja sebagai karyawan biasa. Bagaimana?"
"humm Baiklah. aku akan bicarakan sama papa." Alice tersenyum bahagia.
"jangan senyum seperti itu."
"kenapa?"
"Aku bisa tidak rela berpisah darimu."
"Benarkah?"
"hem. kamu kedinginan,Al?" Lester melepaskan jaketnya dan memasangkan ke bahu Alice.
"terima kasih sayang." Alice tersenyum menatap wajah Tampan Lester.
"untuk apa berterima kasih. ini sudah kewajiban ku menjagamu." Lester merangkul bahu Alice.
Alice menyandarkan kepalanya dibahu Lester.
"Lester, apakah kamu pernah berpacaran sebelumnya?"
"Pernah"
"berapa kali?"
"tiga kali."
"kenapa putus?"
"yang pertama putus karena dia mengkhianatiku, yang kedua karena dia tidak bisa mengerti kesibukan ku. dan yang terakhir karena tidak cocok. kenapa kamu menanyakan hal ini?"
"tidak, aku hanya ingin tahu saja. ketika kamu dikhianati apakah kamu sakit hati?"
"sakit hati tidak. kecewa sedikit. tapi di dunia ini tidak kekurangan orang-orang seperti itu. jadi, kenapa harus terlalu dipikirkan."
"lalu yang kedua, apa kamu tidak marah?"
"Al, tidak semua wanita yang puas dengan penampilan fisik pria. sebagian besar mereka lebih memilih materi. aku cuma sadar diri saja kok. Al, kamu tau bagaimana kehidupan ku. Apakah kamu akan tetap bertahan denganku, dengan apa adanya aku?"
"Tentu saja. Les, aku menyukaimu bukan karena ada apanya. Aku menyukai mu karena kesan pertama yang kamu berikan. kamu laki-laki yang sopan, bertanggung jawab dan pekerja keras. Aku akan selalu mencintaimu dalam kondisi apa pun."
"Benarkah?"
"Aku janji untuk selalu disamping kamu dalam keadaan apapun."
Lester mempererat pelukannya. Alice juga larut dalam kehangatan dekapan Lester.
"Al, sekarang giliranmu"
"hah giliran apa?"
"apakah kamu pernah pacaran sebelumnya?" Lester bertanya balik.
..........