
Alice mamatutkan diri ke cermin sekali lagi. setelah meyakinkan dirinya kalau tidak ada yang kurang dengan penampilannya, barulah Alice mengambil Hp nya untuk menghubungi Lester.
"Lester, kamu sudah dimana?"
"Aku dijalan, sebentar lagi juga sampai."
"Baiklah. aku tunggu."
"Al, aku agak gugup."
"Jangan gugup. Ini cuma makan malam biasa kok."
"ok..."
Malam ini Lester memenuhi undangan Papa Alice untuk makan malam bersama. tapi Lester sedikit gugup. ini pertama kalinya bertemu dengan orang tua pacarnya. karena selama ini Lester tidak pernah serius berpacaran.
Lester sampai didepan rumah Alice. terkejut dan takjub melihat betapa besar dan megah nya rumah pacarnya.seketika hati menjadi gundah. nyali nya menciut. bagaimana mungkin dia akan tetap bersama sementara perbedaan mereka terlalu jauh.
Lester memberanikan diri untuk melangkah masuk. "apa pun yang terjadi nanti,terjadilah. yang penting sekarang temui dulu orang tuanya." Lester menyemangati diri nya sendiri.
Ketika Lester sampai didepan pintu, disana Alice sudah menunggunya.
"selamat malam my love"
"malam. ayo masuk. Papa sudah menunggumu."
Alice menggandeng tangan Lester, membawanya masuk.
disana Heru sudah duduk di kursinya. dimeja sudah terhidang berbagai jenis makanan mewah dan enak.
"Papa, kenalkan ini Lester. Lester ini papa."
"selamat malam paman. apa kabar?" Lester menyapa dan menyalami Heru.
"iya malam. mari silahkan duduk."
Lester duduk di ikuti Alice yang juga duduk disamping papa nya.
"mari silahkan makan dulu,nanti baru kita ngobrol lagi."
"kamu mau makan apa? aku ambilkan." Alice dengan cekatan mengisi piring Lester dengan nasi dan berbagai jenis lauk.
"sudah Al. ini terlalu banyak." kata Lester melihat Alice masih ingin menuangkan lauk ke piringnya.
"ehem.. papa tidak diambilkan makanan?"
"eh papa. papa mau makan apa?" saking bahagianya Alice lupa kalau ada papanya.
Alice juga mengambilkan makanan untuk papanya.
..........
selesai acara makan malam Heru mengajak Lester ke ruang tamu.
"jadi apa kesibukan nak Lester sekarang?" tanya Heru.
"kerja paman. mumpung masih libur."
"kerja apa kalau paman boleh tahu."
" saya belum punya pekerjaan tetap paman. apapun saya lakukan asalkan bisa menghasilkan uang buat biaya kuliah semester depan."
"ooo jadi nak Lester masih kuliah?"
"jadi kamu kuliah? kenapa tidak cerita kepadaku?"
" kamu tidak bertanya."
jawaban singkat Lester membuat Alice kesal. bagaimana mungkin Alice sebagai pacarnya tidak tau kalau Lester kuliah.
"jurusan apa dan sudah semester berapa?"
"jurusan Bisnis internasional semester enam paman."
"bagus itu. orang tua nak Lester kerja dimana?"
" orang tua saya sudah meninggal paman sejak saya masih SMA."
"oo maaf paman tidak tau."
"iya tidak apa-apa paman."
"nak Lester jangan tegang begitu. santai saja."
"iya Paman. kamu bisa main catur?"
"eng.. bisa tapi tidak terlalu mahir paman."
"ayo temani paman main catur, Al buatkan minum untuk papa dan Lester."
" baik pa." Alice kebelakang untuk membuat minum.
"Lester, bagaimana Alice menurutmu?"
"hah... ee Alice baik om. saya tidak menyangka kalau waktu dia akan mendatangi saya dirumah. bahkan terang-terangan menyatakan cinta. dia gadis yang ceria"
"Alice tidak pernah sebahagia ini sejak mama nya meninggal. paman percaya kamu. paman minta tolong sama kamu. boleh?"
"minta tolong apa paman?"
"berjanjilah dengan paman, jaga Alice, jaga senyum nya dan buatlah dia bahagia. jangan sakiti dia. dia anak paman satu-satunya. paman tidak akan memaafkan siapa pun yang membuat Alice terluka.termasuk kamu."
"Baik paman, saya berjanji akan menjaga dan mencintai Alice dengan segenap jiwa dan raga saya paman." janji Lester mantap tanpa keraguan.
"bagus, paman percaya sama kamu."
"hei apa yang kalian bicarkan? Apakah kalian menceritakan ku?" Alice muncul membawa nampan berisi dua gelas minuman. sementara bi ratna membawa cemilan.
setelah meletakkan cemilan Bi ratna kembali ke belakang membawa nampan kosong yang tadi dibawa Alice.
"iya.Lester ingin tau bagaimana kau berenang dengan dengan gaun ulang tahunmu."
"papa, kenapa papa ceritakan. Al malu pa."
Heru tertawa melihat ekspresi Alice yang selalu marah setiap kali dia mengungkit masa kecil nya. bagi Alice itu adalah aibnya yang tak ingin siapa pun mengungkitnya.
Lester pun ikut tertawa melihat Alice yang begitu menggemaskan. walau Lester tidak tau cerita berenang dengan gaun ulang tahun itu. tapi Lester yakin itu adalah peristiwa yang memalukan bagi Alice.
Heru dan Lester masih fokus dengan caturnya sambil terus bercerita.
Alice yang sedari tadi duduk di samping papanya, kini matanya mulai berat.
"Al,tidur lah dahulu. papa masih mau main dengan Lester"
"iya pa. Lester, aku kekamar dulu ya. nanti kamu hati-hati dijalan."
"iya. selamat malam"
.........
Jam menunjukkan pukul 2 dini hari saat Heru dan Lester akhirnya menyudahi permainan mereka.
"ternyata kamu lumayan mahir dalam permainan catur. paman terlalu meremehkan kan kamu. sekarang sudah pukul dua. kapan-kapan kita lanjutkan lagi."
"baiklah paman. kita lanjutkan kapan-kapan. sekarang saya pamit pulang."
"baiklah. mari om antar kedepan" Heru mengantar Lester sampai kedepan pintu.
"kamu kesini tadi naik kendaraan apa?"
"tadi saya naik Taxi paman."
"dini hari seperti ini mana ada taxi. kamu bawa lah mobil paman dahulu."
"tidak usah paman. saya akan meminta teman untuk menjemput saya."
"teman mu mungkin sudah tidur. sudah pakai saja mobilnya. kamu tidak perlu buru-buru mengembalikan. mobil itu jarang dipakai."
"baik.terima kasih paman."
"ah jangan sungkan. hati-hati lah dijalan."
"iya.selamat malam paman."
"malam."
...........
"bi, papa mana?"
"Tuan masih tidur nona."
"masih tidur? tidak biasa nya papa bangun terlambat walau pun hari libur."
"iya non. tuan main catur hingga dini hari non. makanya tuan bangun lambat."
"bi,menurut bi Ratna, Lester itu seperti apa?"
"Dia baik, sopan, sederhana, itu menurut bibi. bibi belum terlalu mengenalnya.hanya mendengar nya ketika makan malam dan ketika dia bercerita bahkan bercanda dengan Tuan besar. sepertinya Tuan besar juga menyukai nya."
"benarkah?" Alice senang mendengar nya.
"iya nona bahkan Tuan besar memintanya berjanji untuk selalu menjaga dan mencintai juga tidak akan pernah menyakiti Nona."
Alice merasa bahwa dunia sedang memihak kepada nya. mencintai laki-laki yang juga mencintainya. Lester di terima dengan baik oleh papa nya. bahkan mendapat sambutan hangat. ada kebahagian terpancar diwajah nya. tidak ada kekhawatiran lagi.
Tapi ada rasa tidak tenang dihati Alice. mungkin jalan akan selama mulus, lurus dan lancar.
ah sudahlah. apa pun masalah nanti tidak akan mempengaruhi hubungannya selagi mereka saling mencintai. Alice