The Queen Of Everything

The Queen Of Everything
146. Masa Lalu Wu He



Mungkin Wu He telah dipengaruhi oleh cincin asapnya, jadi dia meneteskan air mata tanpa sadar.


“Ibuku dan adik perempuanku yang berumur tujuh tahun pergi ke stasiun kereta untuk menjemputku. Dan mereka terbunuh dalam kecelakaan mobil….”


Nada suaranya berubah sepenuhnya. Dia menyeka matanya dan merasa sulit untuk berbicara dengan jelas, “Setelah aku mendengar berita itu… aku merasa sangat terpukul. Ayahku mengalami serangan jantung. Kerabatku entah bagaimana menyalahkan ku karena kejadian itu. Dan akupun merasa itu adalah kesalahanku juga. Kecelakaan mobil selalu menjadi mimpi burukku. Aku tidak bisa tinggal di kotaku dan pergi mencari pekerjaan. Ayahku tinggal di panti jompo. Setiap bulan aku akan memberinya uang. Tetapi aku tidak memiliki keberanian untuk pulang atau bertemu dengannya.”


“Ketika aku melihatmu, mungkin kamu tidak akan percaya padaku... tapi aku merasa bahwa kamu adalah adik perempuanku. Kamu tidak bersalah dan sebaik dia. Tentu saja, adikku sama cantiknya denganmu. Aku telah melihat banyak gadis muda, tetapi hanya kamu yang membuatku merasakan hal yang sama. Aku selalu berhutang budi kepada adik perempuanku. Dia terlalu muda. Bisakah kamu mempercayainya? Dia terlalu muda!“


Setelah dia berbicara, wajah Wu He berlinangan air mata.


Su Cha tidak mengatakan apa-apa. Dia tidak mengharapkan cerita seperti itu di belakangnya.


Wu He benar-benar patah hati.


Mungkin dirinya yang dulu akan menangis bersamanya, tetapi Su Cha yang baru tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah dia mendengar ceritanya.


Dia lalu memegang tangan Wu He dan suaranya bergetar, “Aku minta maaf Sister Wu He. Seharusnya aku tidak bertanya.”


“Tidak apa-apa….”


Wu He menyeka air matanya dengan cepat dan berhasil tersenyum, “Ini hanya perasaanku saja. Aku tidak pernah bisa mengendalikan diriku ketika aku menyebutkan kecelakaan itu meskipun setelah bertahun-tahun lamanya telah berlalu. Sebenarnya aku hampir selalu memikirkannya setelah aku bertemu denganmu. Aku pikir, mungkin Dewa membiarkan ku melihat seperti apa saudara perempuanku tumbuh besar jika dia masih hidup dari sosokmu. Aku kembali mengunjungi ayahku bertahun-tahun setelah bertemu denganmu. Dia lebih baik dariku karena dia sudah merelakannya. Dia menderita demensia. Aku telah membawanya keluar dari panti jompo dan mempekerjakan seorang perawat untuk menjaganya.”


Su Cha berhenti dan tiba-tiba tersenyum pada Wu He, “Saudari Wu He, ketika kami punya waktu dan kamu ingin kembali, maukah kamu membawaku untuk bertemu paman?”


“Aku tahu.”


Gadis itu menyeringai. Matanya yang jernih berubah menjadi bulan sabit. “Aku tidak punya keluarga selain kamu. Kamu tahu, kan?”


Wu He adalah orang pertama yang membantunya dan memperlakukannya dengan tulus. Dia akan selalu mengingatnya.


Wu He memandangnya dan menangis, “Oke…. ”


Satu orang tertawa, dan yang lain menangis.


Adegan seperti itu terlalu aneh untuk dilihat di sebuah kafe. Su Cha mengambil tisu dan menyerahkannya padanya. Pelayan datang untuk menanyakan apakah ada yang salah. Su Cha menggelengkan kepalanya. Wu He tidak ingin menimbulkan masalah dan menyeka air matanya dengan tisu. Dia berkata kepada Su Cha, “Su Cha, aku tidak ingin memaksamu. Aku akan mendukungmu dalam segala hal. Jika kamu ingin bersaing, persiapkan dirimu untuk itu. Apakah kamu yakin tentang kontes pada tanggal 15 nanti?“


Su Cha mengangguk dan berkata dengan serius, “Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkannya tergelincir. Aku akan mulai bertarung.”


Wu He tertawa terbahak-bahak dan merasa sangat bersyukur.


...🖤🖤🖤...