
Sebuah perselisihan telah sirna tanpa bekas, namun Chihsuan menyadari bahwa dalam hatinya ada semacam pertempuran perasaan yang baru saja dimulai.
Meskipun tampak kasar, sebenarnya Wanli berperasaan lembut. Ia dan Chihsuan tumbuh besar bersama-sama, sehingga diantara keduanya terdapat rasa saling pengertian. Melihat gerak-gerik dan sikap Chihsuan tidak tenang terhadap gadis itu, Wanli menyadari bahwa temannya telah jatuh hati. Wajar saja, karena gadis itu memang sangat cantik dan anggun. Chihsuan pemuda baik. Meskipun memiliki perasaan khusus itu, ia tahu bahwa ia tidak boleh terlalu tergesa-gesa. Oleh karena itulah ia memilih untuk bersikap biasa-biasa saja dulu.
Semua anggota penari topeng sudah berpencar pulang. Langit di bagian barat sudah mulai diwarnai gelap malam. Sepasang sahabat itu duduk di sebuah pondok dipinggir dusun. Yang seorang tampak dihantui berbagai pertanyaan, sedangkan yang seorang lagi membisu. Beberapa lama kemudian, Chihsuan masih tetap bersikap seperti dibebani pikiran berat, sehingga Wanli tidak dapat menahan diri untuk bertanya,
"Hei! Ke Chihsuan, aku sedang menunggu penjelasan darimu! "
Chihsuan mengangkat kepalanya dengan sedih, Kata-kata yang membanjiri rongga dadanya berubah menjadi sepatah kalimat getir yang penuh dengan berbagai perasaan.
"Ah! Rasanya sulit untuk dijelaskan dengan sepatah kata! "
"Baiklah, kalau begitu kita bicara panjang-lebar. Pertama-tama, katakan padaku, apakah kau mengenal gadis tadi? "
Chihsuan mengangguk-angguk.
"Jadi kenapa sebelumnya kau tidak mengatakannya padaku? " Wanli terus memberondong Chihsuan, "kalau begitu dia dan kakak sepupu luarnya itu datang kesini karena kau undang? "
"Apa? Aku mengundang mereka kesini? " Kata Chihsuan geram. "Aku sama sekali tidak mengenal mereka. "
Wanli mengangkat alis melototi Chihsuan beberapa saat. Tiba-tiba tanpa berkata apa-apa ia mencengkram tangan Chihsuan untuk memeriksa nadinya.
"Apa-apaan ini? " Tanya Chihsuan bingung.
Wanli dengan santai menjawab, "aku mau periksa apakah kau sakit. "
"Jangan ganggu aku! " Kata Chihsuan sambil menepiskan tangan Wanli.
"Tadi waktu kutanya apakah kau kenal dia, kau mengangguk. Tapi kemudian kau bilang sama sekali tidak mengenalnya. Pernyataan mu yang pertama tidak sesuai dengan yang kedua, kalau bukan karena sakit, mana mungkin kau menjawab begitu? "
Tiba-tiba Chihsuan berjalan menjauh, menyibak-sibakkan rambutnya dengan kacau, seolah ingin meredam perasaannya yang sedang bergejolak.
"Aku bilang tidak kenal, karena aku belum pernah bertemu mereka. Aku bilang mengenalnya, karena keluarga kami delapan belas tahun yang lalu pernah bertemu. " Nada suaranya meredup. "Bertemu dalam pertemuan yang penuh kesialan! "
Sejak awal Wanli sudah menduga bahwa masalah ini pasti lain daripada yang lain. Oleh karena itu ia hanya bersikap diam dan menjadi pendengar yang baik, sambil menunggu kelanjutan cerita Chihsuan.
"Waktu itu aku baru berusia dua tahun, sebenarnya aku tak ingat apa-apa, masalah ini ku ketahui kemudian setelah berulang kali mendengar cerita orang. " Chihsuan menghela napas, lalu mulai menjelaskan kejadian dengan tenang.
"Garis besar kejadiannya kira-kira demikian : Keluargaku ketika itu dalam perjalanan dari utara kembali ke kampung halaman. Di tengah jalan kami bertemu dengan sepasang suami-istri yang mendapat kesulitan. Mereka akan menumpang hidup di rumah saudara yang bermukim di dusun Si'an.
Ditengah perjalanan sang istri tiba-tiba melahirkan. Kondisinya sangat menyedihkan, sehingga orang tuaku menolong mereka. Sepanjang perjalanan kedua keluarga ini menjalin persahabatan. Mula-mula semua berjalan dengan baik, masing-masing keluarga merasa cocok menjadi sahabat, mereka bahkan saling menjodohkan anak mereka.
Siapa sangka ditengah perjalanan mereka dihadang bahaya.
Tiba-tiba muncul segerombolan perampok! Orang terpelajar mana pernah melihat orang-orang seperti itu!
Kekacauan pun tak terhindarkan lagi. Ditengah kekacauan itu secara tak sengaja ayahku membunuh seseorang. Ternyata orang yang terbunuh itu ayah si bayi perempuan yang baru dilahirkan. "
Wanli membelalak tak percaya. Selama belasan tahun bersahabat dengan Chihsuan, baru kali ini ia mendengar rahasia kelam keluarga Ke.
"Tapi bagaimana kau dapat mengenali gadis tadi? Jelas-jelas kau katakan belum pernah bertemu muka dengan gadis itu. "
"Barangkali ini cuma kebetulan. Tadi saat ia akan tercebur ke sungai, aku mengulurkan tangan untuk menariknya. Tanpa sengaja aku melihat tanda lahir berbentuk bunga meihua yang ada di pergelangan tangannya... "
"Tanda lahir bunga meihua? " Tanya Wanli berusaha menegaskan.
"Tadi kan aku sudah bilang bahwa sang istri melahirkan dalam perjalanan. Dialah anak yang dilahirkan di hutan bunga meihua itu. Kebetulan di pergelangan tangannya terdapat tanda bunga meihua! "
Sampai disini ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan mulai goyah, semakin lama gerakan tangannya semakin bertambah dan nada bicara nya semakin panik.
"Menurutmu apakah di dunia ini ada gadis se istimewa dia? Dia bermarga Yuan, namanya Lemei. Ayahku lah yang memilihkan nama ini. Waktu aku meneriakkan namanya dan melihat ekspresi wajahnya yang keheranan, aku semakin menyadari aku tidak salah mengenali orang! Kemudian masih ada lagi kakak sepupu luarnya itu. Sewaktu aku mengatakan dia tuan muda kedua keluarga Han, tujuanku adalah untuk lebih memastikan lagi. Karena ketika keluarga kami bertemu, orang tua Lemei sedang menuju Si'an untuk menumpang hidup pada kerabatnya, yakni keluarga Han! "
"Baik, baik, baik, tapi jangan terlalu sedih begitu! Aku percaya dia gadis yang kau katakan. Jangan sedih, ya. Apakah dia tahu siapa dirimu? "
"Dia memang bertanya, tapi mana berani aku mengatakannya, "katanya gundah dan resah. " Aku berpura-pura menyembunyikan seperti misteri. "
"Wanli bangkit dan berjalan mendekati Chihsuan, lalu menatap wajahnya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.
"Benarkah aku baru saja mendengar suara yang penuh duka dan penyesalan? "
Chihsuan memandang Wanli sekilas, lalu menggeleng-geleng sambil tersenyum getir.
"Kau takkan dapat memahaminya, juga takkan dapat membayangkan pengaruh apa yang ditimbulkan tragedi sedih ini bagi keluarga kami. Selama delapan belas tahun masalah ini bagai sehelai tirai hitam, bagai bayangan yang mengikuti mu kemana pun pergi. Begitulah seterusnya, meskipun semua orang berusaha keras untuk tidak mengungkit-ungkitnya, masalah ini tetap terasa menekan. Menurut ibuku, dulu ayahku gagah dan pemberani. Namun sejak aku dewasa, yang kulihat hanyalah ayah yang pendiam, penyendiri, dan tak pernah Tampak bahagia. Bahkan aku mendengar, beberapa tahun setelah pulang ia terus-menerus mengunjungi rumah keluarga Han, dan berusaha sekuat tenaga menebus kesalahannya, namun keluarga Han sama sekali tidak memberi kesempatan. Oleh karena itu, ketika aku tahu bahwa gadis di hadapanku adalah Yuan Lemei, aku... Perasaanku menderu-deru! Aku ingin melakukan apapun untuknya! "Chihsuan berhenti sejenak, lalu menghembuskan napas yang penuh dengan keputusasaan dan kesedihan.
" Bahkan aku tak berani menyebutkan nama Marga Ku sendiri! Aku baru dapat memahami kepedihan yang menusuk-nusuk hati ayahku. "
Wanli menatap Chihsuan. Yang muncul di pelupuk matanya adalah Ke Shipeng yang tinggi besar namun tampak selalu sedih. Pemuka desa yang jujur, hangat, baik hati, dan bijaksana itu justru orang yang paling tidak bahagia. Sorot matanya selalu tak bercahaya. Kini sorot mata Chihsuan pun kelihatan serupa.
"Dengar kataku, "Wanli tak bisa menahan perasaannya, ditepuknya punggung Chihsuan. " Orang bilang, ayah yang berhutang anak yang mengembalikan. Tapi kau harus melihat berhutang apa. Hutang uang pasti akan lunas pada suatu hari, tapi hutang budi dan dendam dari masa lalu takkan ada habis-habisnya. Karena memang demikian, kukira tak ada gunanya kau terus-menerus memikirkan nya, bukan? "
"Tentu tak harus demikian,! "Wajah Chihsuan tiba-tiba memancarkan ekspresi aneh. " Menurutku, beban yang dipikul ayahku akan dilimpahkan ke pundak ku. "
"Maksudmu? "
"Ayah berulang kali memohon kepada keluarganya untuk meneruskan rencana perjodohan kami, menjadikan Yuan Lemei sebagai istriku. Bukankah ini penyelesaian yang terbaik? Asalkan dapat menyatukan dua keluarga dalam pernikahan, bukankah berarti kami dapat mengurus Lemei dan ibunya seumur hidup? "
Wanli mengangguk-angguk memahami duduk persoalannya, lalu kembali menatap wajah sahabatnya dengan sorot mata ingin tahu.
"Apakah aku mendengar suara yang penasaran dan tak sabar ingin mengetahui kelanjutannya? "
"Kalau ya, bagaimana? "
"Kalau begitu menurut pengamatan ku kau terkena penyakit Ketidaktenangan jiwa, ditambah lagi dengan penyakit suka mengkhayal yang muluk-muluk! "Wanli melambaikan tangan dan berteriak, " Resep obatnya ada dua belas kata :
"BERTEMU SEPERTI AIR DAN RUMPUT AIR, MENEROBOS AWAN, MENEMBUS HINGGA KE OTAK."
"Penyakit rindumu itu hanya bisa diobati dengan cara bertemu Lemei! "