The Mystery Of Marriage

The Mystery Of Marriage
Chapter 1.1



1914, tiga tahun setelah berdirinya Republik Cina. Dusun Wulan di Provinsi Hunan.


Ada cukup banyak pemburu yang bermukim di dusun-dusun yang berdekatan dengan gunung. Setiap menjelang akhir tahun, di daerah ini selalu diadakan upacara sesaji untuk berterima kasih kepada Langit, pada dewata yang telah memberikan anugerah bagi semua orang berupa hasil buruan yang melimpah sepanjang tahun yang akan segera berlalu. Dalam upacara ini para pemuda gagah perkasa bersama-sama mempersembahkan tari Topeng, sebagai puncak acara dalam upacara ritual ini.


Lemei sudah lama mendengar berita mengenai hal ini. Tetapi karena tempat tinggalnya terlalu jauh, dan ibunya selalu mengawasinya dengan ketat, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menghadirinya. Tahun ini Lemei tergoda oleh bujukan Hongtu, kakak sepupu luarnya.* Mereka berdua, tanpa sepengetahuan keluarga, dengan berkendara kereta yang ditarik bagal, melakukan perjalanan selama setengah hari, untuk menyaksikan sendiri peristiwa besar ini.


_____


* sebutan saudara sepupu dari pihak ibu


Di padang rumput yang terletak diluar Dusun, seorang pemuda menengadah sambil meniup terompet, suaranya membahana membelah langit. Sekelompok dara mengeluarkan arak seguci demi seguci, dan makanan sekeranjang demi sekeranjang, lalu menata semua di atas meja panjang. Orang-orang tua dan muda berbondong-bondong datang dari segala penjuru. Semua orang sibuk berbincang-bincang, bercanda, tertawa, berteriak-teriak riuh rendah, tak sabar lagi menunggu jamuan makan meriah yang akan segera dimulai.


Lemei memanjat batu besar dipinggiran desa, matanya berbinar saat menatap pemandangan di kejauhan.


"Wah! Ramai sekali ya! "


"Aku kan sudah bilang acara ini pasti menarik! " Kata Hongtu sombong. "Untung kita cepat-cepat datang, kelihatannya tari Topeng ini belum dimulai. "


Kerumunan orang di sekeliling lingkaran arena upacara meneriakkan sorak-sorai riuh rendah. Lemei dan Hongtu melihat ke arah suara riuh itu, dan melihat sekumpulan pria bertopeng yang membawa busur dan anak panah sedang berbaris memasuki arena upacara. Di barisan depan nampak dua orang menggotong kurungan hewan buruan yang berisikan sekor hewan berbulu seputih salju.


"Binatang apa itu? " Lemei membelalak lebar-lebar.


"Cepat, cepat kita ke sana melihatnya! " Sambil berkata Hongtu bergegas turun dari atas bongkahan batuk.


Orang-orang berkerumun rapat, membentuk lingkaran. Tapi kedua sepupu luar ini berhasil menerobos ke barisan depan. Akhirnya Lemei dapat melihat jelas hewan dalam kurungan itu.


Ternyata hewan berwarna putih itu seekor rubah yang jatuh-bangun dan terguncang-guncang di dalam kurungan mengikuti derap langkah rombongan penari topeng memasuki arena upacara. Pupil matanya yang hijau memancarkan sorot ketakutan menatap kerumunan orang. Ia begitu tak berdaya, begitu ketakutan, namun penampilan luarnya yang menakutkan orang tak berkurang sedikit pun. Bulu di tubuhnya berkilau tertimpa cahaya matahari, warnanya seputih salju.


"Binatang manis ini tidak semestinya dikurung, seharusnya dilepaskan dan dikembalikan lagi ke hutan! " Teriaknya tak tertahankan lagi.


Ucapannya sama sekali tidak menarik perhatian orang. Hanya seorang pria di barisan paling belakang. Ke Chihsuan, yang mendengar perkataan Lemei. Ia menoleh untuk melihat Lemei.


Topeng yang dikenakannya menutupi wajahnya, namun sama sekali tidak dapat menyembunyikan sepasang bola matanya yang berkilau dan bersorot tajam, serta bibirnya yang penuh senyum. Matanya tak berkedip sedikit pun, tanpa malu-malu ia menatap Lemei. Lemei terkejut dan resah. Wajahnya memerah, ia menunduk malu. Perasaannya kacau-balau tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ada apa dengan orang ini? Lemei belum pernah bertemu dengan pria ini, tetapi pria ini malah memandangi dirinya seperti itu!


Ketika Hongtu akan menggulung lengan bajunya, barulah pria itu mengalihkan pandangannya dan perlahan-lahan berjalan menjauh mengikuti barisan penari topeng. Hongtu memandangi punggungnya, lalu mendengus marah.


"Untung dia tahu diri, kalau tidak sudah ku hajar dia dengan tinjuku! "


"Sudah, sudahlah! Jangan bikin onar! " Bisik Lemei. "Anak gadis yang berani-berani keluyuran seperti diriku ini, memang mudah memancing perhatian orang. Kurasa.. . " Raut muka Lemei semakin lama tampak semakin ketakutan. Ia menyibakkan kerumunan orang itu dan berlari keluar. "Kukira sebaiknya aku pulang saja! "


"Aduh... Aduh, Lemei! " Hongtu buru-buru menghalanginya dan berteriak-teriak membujuknya. "Kita berdua sudah menempuh perjalanan jauh untuk datang ke sini, kalau belum melihat apa-apa sudah ingin pulang, kan rugi! Jangan takut, kan ada aku di sini. Siapa lagi yang berani mengganggumu? Nah.. . Nah, coba kau lihat itu! Tariannya sudah akan dimulai! "


Saat hongtu sibuk membujuk Lemei, barisan pria yang menggunakan topeng itu sudah mulai memasuki pusat arena upacara. Seluruh anggota rombongan memberi hormat pada kepala Dusun di tempat duduk utama. Hongtu bertepuk tangan kegirangan. Melihat itu Lemei merasa tidak enak hati untuk minta pulang, sehingga mau tak mau ia ikut bertepuk tangan bersama hongtu.


Tari Topeng itu ternyata memang indah seperti yang disebut-sebut orang. Kesepuluh laki-laki penari melingkari kurungan hewan sambil menari dan menyanyi. Suara nyanyian mereka terdengar nyaring dan melengking jernih. Gerakan tangan dan tendangan kaki mereka sarat dengan semangat hidup pada zaman primitif yang garang dan liar. Teriakan penonton terus membahana tanpa henti. Lemei pun tak putus-putusnya menikmati pemandangan di hadapannya dengan terpana. Hanya dalam waktu sekejap, niatnya untuk pulang meruap entah ke mana. Beberapa dara membawa cawan kayu berisikan cairan merah, berkeliling ke seluruh penjuru untuk membagikan cawan-cawan itu kepada para pengunjung. Waktu sampai pada gilirannya, Lemei segera meneguk isi cawan itu tanpa berpikir panjang lagi. Karena rasanya enak, ia terus meminumnya. Melihat kejadian itu, hongtu yang berdiri di sampingnya tak dapat menahan diri untuk bertanya pada gadis pembawa cawan itu.


"Ini minuman apa ya? Teh manis, ya? "


"Minuman ini lebih enak daripada teh, " Kata gadis itu sambil tertawa. "Ini arak yang kami buat sendiri. "


Raut wajah hongtu berubah, buru-buru ia merebut cawan di tangan Lemei, lalu berteriak dengan gusar dan khawatir.


"Kenapa kau jadi minum arak? " Nada suaranya makin cemas saat melihat cairan dalam cawan itu hanya tinggal sedikit. "Aduh, celaka! Ya dewata, mengapa bisa jadi begini.. . .?