The Mystery Of Marriage

The Mystery Of Marriage
Chapter 1.4



"Apakah kau bermarga Yuan? "


Lemei membalikkan tubuh dengan sangat terkejut.


"Darimana kau tahu? "


"Apakah kau bernama Lemei? "


Lemei semakin terperanjat, seberkas perasaan tidak tenang membanjiri hatinya.


"Siapa kau? "


"Apakah yang kukatakan tadi benar? " Kata Chihsuan tanpa menjawab. Ia menatap Lemei lekat-lekat dengan sorot mata penuh tanda tanya. "Kau lahir pada musim dingin di hutan yang penuh bunga meihua, sehingga kau lalu diberi nama Lemei---bunga meihua yang berbahagia, " Katanya dengan suara rendah.


Lemei terkejut, setelah beberapa saat barulah ia dapat bersuara,


"Kau pakai ilmu sihir ya? Bagaimana mungkin kau bisa tahu mengenai hal ini? "


Chihsuan tidak berkata apa-apa, sorot matanya yang penuh tanda tanya kembali menatap Lemei. Sedangkan Lemei bagaikan orang yang terbius, membalas tatapan Chihsuan tanpa berkedip. Demikianlah dua insan ini berpandang-pandangan. Hingga ketika terdengar riuh rendah suara orang berdatangan, seperti orang yang baru terjaga dari mimpi.


Segerombolan pria bertopeng sedang menuju kearah mereka berdua. Lemei sebenarnya bermaksud untuk melarikan diri, tapi dihalangi Chihsuan yang memegangi tangannya.


"Jangan takut, ada aku disini! Anak tabib itu sobat baikku, aku akan mewakili mu untuk menyelesaikan masalah ini. Yang penting, mereka kebetulan selalu membawa-bawa kantong obat, perlu untuk mengobati lukamu. "


Nada bicaranya yang dalam dan tulus membuat siapa pun tak kuasa menolak tawarannya. Lemei menatapnya dengan heran, seolah sedang melihat misteri.


"Siapa kau sebenarnya? "


"Kau sungguh ingin tahu jawabannya? Lima hari lagi saat orang-orang Si'an beramai-ramai pergi ke pasar, aku akan menunggumu dipintu selatan pasar. "


Setelah berkata begitu, Chihsuan melangkah kedepan tanpa menunggu jawaban Lemei.


"Wanli! Wanli! Apakah kau berada dalam rombongan ini? " Teriaknya sambil menerobos kerumunan para penari topeng.


Seorang laki-laki bertubuh tinggi besar berteriak menjawab. Ia melepaskan topeng, menampilkan seraut wajah aneh. Sepasang mata dibawah alis tebal itu menatap Lemei lekat-lekat.


"Akhirnya kutemukan juga dia! " Katanya setengah tertawa.


Wanli melihat luka Lemei sekilas, lalu menoleh kearah teman dibelakangnya dan memerintahkan dengan berbisik, lalu mulai melepaskan Ikat pinggangnya. Lemei mengira orang-orang ini pasti akan menghukumnya, hingga tanpa sadar ia melangkah bersembunyi kebelakang punggung Chihsuan. Chihsuan yang merasa Lemei menaruh kepercayaan padanya, tanpa sadar bersikap melindunginya.


"Aku takkan memperbolehkan kau menyulitkan dia! " Ancam Chihsuan pada sahabat baiknya itu.


Sambil melepaskan ikat pinggangnya Wanli menatap Chihsuan dengan penuh keheranan. Romantis mukanya masih tampak setengah tersenyum.


"Kau menggunakan dua kata yang aneh, yang pertama adalah 'takkan memperbolehkan' dan yang kedua adalah 'menyulitkan'. Mengenai boleh atau tidak boleh bisa kita bicarakan kemudian. Tapi mengenai menyulitkan, " Katanya sambil menunjuk Lemei dengan isyarat gerakan dagunya, "dialah yang melepaskan rubah putih itu dan membuat keonaran, lalu kita semua harus mengerahkan banyak orang menjelajahi hutan belantara ini untuk mencarinya. Menurutmu siapa yang menyulitkan? "


Lemei menatap lekat ikat pinggang ditangan Wanli dengan ketakutan.


"Kau.... Apakah kau akan mengikat ku? " Tanya Lemei terbata-bata.


"Mungkin saja, kecuali kalau kau mau patuh, berdiri tanpa bergerak disini. "


Chihsuan melancarkan protes, "kau jangan galak seperti itu, ia sudah sangat terkejut. "


"Dia terkejut dengan peristiwa itu? " Wanli membelalakkan mata. "Waktu tadi aku melepaskan anak panah, bersiap akan membidik rubah putih itu, Tiba-tiba muncul seorang gadis yang entah darimana asalnya. Coba kau katakan padaku, siapa yang membuat orang terkejut setengah mati? "


Tiba-tiba terdengar bunyi batu-batu saling beradu. Lemei berusaha mencari sumber bunyi itu. Ia melihat seorang pria sedang duduk di tanah menumbuk-numbuk sebatang rumput yang telah dibakar hingga menjadi semacam salep. Chihsuan berusaha menjelaskan pada Lemei, "itu ramuan obat, nanti kau harus mengoleskan nya ke lukamu. "


Lemei agak jijik melihat ramuan obat yang kelihatan seperti lumpur busuk itu.


"Kurasa tidak usah saja, ya? " Katanya setengah bergumam.


"Tapi ramuan obat yang sudah bercampur lumpur dan serpihan batu juga tidak bersih, " Protes Lemei dengan gelisah. "Lagi pula dia kan bukan tabib.... "


Muka Wanli berubah menjadi hijau karena marah. Chihsuan buru-buru menjelaskan, "sebentar lagi dia akan menjadi tabib. Ilmu keluarga Yang sangat murni dan tinggi, sehingga selalu ada tabib-tabib ternama dalam setiap generasinya. Dan lagi Wanli sekarang sedang Bersiap-siap meneruskan ilmu terbaik dari ayahnya... "


"Jangan terlalu bertele-tele kepadanya! " Kata Wanli tak sabar, lalu dengan sekali tangkap ia mencengkram tangan Lemei, dan berteriak, "oleskan obatnya! "


Gerakannya cepat dan kasar, membuat Lemei terkejut hingga berteriak sambil meronta-ronta. Namun tindakan Lemei sama sekali tidak mengganggu pekerjaan Wanli. Ketika Wanli akan membalut tangan yang telah penuh berlumur obat itu dengan ikat pinggangnya, Tiba-tiba Lemei melihat Hongtu sedang berlari kearahnya dengan roman muka marah.


"Hongtu! Hongtu! Cepat tolong aku! " Lemei buru-buru berteriak keras-keras.


Dari kejauhan Hongtu sudah melihat ada orang yang berani menarik-narik adik sepupu luarnya di hadapan banyak orang. Hongtu makin meradang mendengar Lemei berteriak. Tanpa pikir panjang lagi, Hongtu menyerbu ke depan lalu meninju Wanli hingga terjatuh. Wanli tidak menyadari apa yang sebenarnya terjadi, ia hanya merasa pandangannya berkunang-kunang. Para sahabatnya yang berdiri disampingnya bertanya dengan gusar.


"Hei! Hei! Kau ini waras atau tidak? Tiba-tiba langsung menghajar orang tanpa menanyakan duduk persoalannya? "


"Ditengah hari bolong begini, berani-beraninya dia menggoda gadis dari keluarga baik-baik! Buat apa aku berbasa-basi lagi dengannya? "


Lemei tidak sempat mencegah, Hongtu sudah menerjang lagi kedepan, kembali melancarkan tinju dan tendangan pada Wanli. Wanli tak sudi dipukuli seperti itu, sehingga ia siap-siap membalas serangan. Namun ia malah terkena lebih banyak pukulan, akibat menuruti anjuran Chihsuan yang melarangnya berkelahi.


Melihat Wanli mulai terdesak, Teman-temannya mengepung Hongtu. Serangkaian serangan pukulan dan tendangan dilancarkan bertubi-tubi, kelihatannya keadaan akan segera berubah.


Lemei berteriak-teriak gusar, sementara Chihsuan berusaha mengatasi kekacauan ini, namun akibatnya ia malah terkena pukulan.


"Cepat suruh mereka berhenti! " Teriak Chihsuan pada Wanli. "Ini cuma salah paham! Nanti akan ku jelaskan padamu! "


Wanli melihat Hongtu yang sedang dikeroyok. Ia berpikir tak ada untungnya berkelahi seperti itu. Ia lalu memerintahkan semua kawannya untuk menghentikan perkelahian. Seluruh wajah Hongtu sudah babak belur. Ia tergeletak di tanah sambil tak henti-hentinya berteriak-teriak. Lemei buru-buru mendekat untuk memapahnya. Ia merasa kasihan dan bingung.


"Kenapa bisa sampai dipukuli begini? Kau tak mau dengar penjelasan ku dulu sih! " Kata Lemei sambil menunjuk luka di punggung tangannya yang separo terbalut. "Mereka sedang mengobati aku. "


Hongtu tampak bingung.


"Tapi kenapa kau berteriak minta tolong? "


Lemei memandang Wanli sekilas, lalu menunduk malu.


"Orang itu kasar sekali, aku berteriak karena takut. "


Sementara itu seluruh anggota penari topeng telah menanggalkan topeng mereka. Beberapa orang terluka dan menggerutu. Hongtu baru menyadari bahwa semua ini cuma salah paham. Ia lalu memberanikan diri untuk minta maaf pada orang-orang itu, namun tak seorang pun memperdulikannya. Hanya Chihsuan yang tertawa sambil menatap Lemei dan bertanya,


"Dia kakak sepupu luarmu, ya? Tuan muda kedua dari keluarga Han di dusun Si'an? "


Hongtu menatap Chihsuan dengan penasaran, lalu bertanya pada Lemei, "siapa dia? "


Lemei menatap Chihsuan lurus-lurus beberapa saat, kemudian barulah ia menjawab dengan bergumam, "Tukang Sihir! "


"Hah? " Ujar Hongtu makin tak mengerti.


"Kalian tak usah memperdulikan siapa aku, " Ujar Chihsuan. Walau ia bicara pada Hongtu, sorot matanya tertuju pada Lemei. "Lebih baik cepat-cepat kau ajak adik sepupu luarmu pulang. Sebentar lagi senja akan turun, sedangkan perjalanan kalian masih cukup jauh. "


"Betul, sebaiknya kalian cepat pergi, " Kata Wanli dengan tersengal-sengal. "Dengan begitu kesulitan kami akan selesai. "


Sekarang Hongtu baru memperhatikan laki-laki yang nyaris menjadi musuh bebuyutannya, lalu kembali bertanya pada Lemei,


"Kalau dia siapa? "


Tanpa menunggu penjelasan Lemei, Wanli menjawab sendiri dengan sengit,


"Tukang Sihir"


Orang-orang itu tertawa sambil beranjak pergi. Chihsuan memandang Lemei dalam-dalam sebelum ikut pergi bersama mereka.