
Lemei terlonjak kaget, lalu menoleh dan melihat ada seorang pria bertopeng sedang berdiri di depannya. Ternyata pria itu juga terkejut mendengar teriakan Lemei.
"Jangan takut, jangan takut! Aku tak bermaksud jahat, aku takkan melukaimu. "
Sambil berusaha meyakinkan Lemei, dengan sangat hati-hati pria itu melepaskan topeng yang menutupi wajahnya, memamerkan seraut wajah penuh senyum persahabatan ke hadapan Lemei.
"Kau lihat, yang membuat orang takut ternyata topeng ini. Diriku tentu tak mungkin membuatmu merasa takut, bukan? "
Wajahnya memang lembut, tampan, mudah membuat orang merasa akrab, namun Lemei nampaknya sudah bersiap siaga untuk menghadapinya.
"Kelakuan kalian sungguh liar dan barbar! Itukan cuma seekor rubah putih yang malang, kalian malah ingin mengulitinya, memakan dagingnya, bahkan meminum darahnya! Menurutku yang menakutkan itu bukanlah topeng, melainkan orang yang ada di balik topeng itu. "
Laki-laki itu menatap Lemei, tawa di matanya semakin dalam.
"Ah, aku memang cuma mencari gara-gara. Anggap saja omonganku tadi ngawur, tapi maksudku yang sebenarnya adalah ingin menghilangkan rasa takutmu. Itu saja. "
"Benarkah begitu? " Kata Lemei tetap waspada. "Barangkali yang ingin kau hilangkan sebenarnya adalah kewaspadaan ku? "
"Oh! " Kata pria itu agak gelisah. "Kau menduga aku punya rencana tertentu? "
"Tentu saja aku berpikiran begitu, karena aku telah melepaskan rubah putih mu." Tanpa sadar Lemei mundur selangkah. "Tak mungkin kalian akan membiarkan nya begitu saja, kan? "
"Terus terang aku sendiri tak tahu pasti apakah mereka akan membiarkan nya begitu saja. Tetapi, aku mengejar mu kesini, sungguh-sungguh karena ingin menolong mu yang terluka. " Ia menatap punggung tangan Lemei yang terluka, lalu mengangkat alisnya. "Aku heran, mengapa gadis selembut kau bisa ikut dalam acara itu? "
Aku tidak datang sendiri, aku datang bersama-sama kakak sepupu luar ku, dia.. . "Lemei menengok ke kanan dan ke kiri, berharap Hongtu segera muncul. " Sekarang dia pasti sedang mencari ku. "
Melihat bibir Lemei memberengut seperti akan menangis, pria itu buru-buru melangkah mendekat dan berusaha menenangkan Lemei.
"Baiklah, baiklah, aku tarik lagi pernyataan keheranan ku tadi. Kau jangan takut, ya? Sini, biar kulihat lukamu itu.. . . "
"Jangan mendekat! " Lemei mundur beberapa langkah, pintanya memelas dengan tergagap-gagap, "aku minta maaf padamu, ya? Maafkan aku melepaskan hewan kurbanmu karena terhanyut dalam perasaan, tapi sesungguhnya kalian juga tak boleh berbuat seperti itu padanya, kan? " Menyadari bahwa nada bicaranya terdengar lebih banyak menyalahkan daripada meminta maaf, Lemei kembali menjelaskan dengan panik, "Maksudku, meskipun kalianlah yang menangkap, rubah putih itu bukanlah milik kalian, melainkan milik hutan belantara. Sudah semestinya dia menjalani kehidupan bebas Merdeka, bukan? "
"Tentu saja, sekarang sudah terlambat bagiku untuk menerangkan pendapatku ini, tapi keadaan tadi terlalu mendesak. Sungguh, aku tidak berniat merusak upacara kalian dengan sengaja, melainkan.. . Melainkan.. . "
Kali ini pria itu buru-buru menyambung, "melainkan binatang semanis itu tidak semestinya dikurung! Ia semestinya dibiarkan kembali ke hutan belantara! "
Lemei membelalak. Ya Dewata, pria dihadapannya ini ternyata orang yang menatapnya di arena upacara tadi. Pantas saja ia mengejar Lemei! Dia tentu berpendapat bahwa Lemei sengaja mengacaukan upacara.
"Aku sungguh tidak merencanakannya! " Kata Lemei sambil menggeleng-geleng kepala dengan kuat-kuat. Lemei begitu tegang hingga bicaranya tidak beraturan, suaranya pun berubah. "Yang kulakukan tadi didorong oleh keinginan sesaat untuk menyelamatkan nya, sungguh!
Aku sendiri tak mengerti mengapa aku bisa melakukannya. Mata rubah itu berkilau-kilau, seperti manusia. Jadi waktu aku mendengar kalian akan memanahnya, menguliti, dan akan memakan dagingnya setelah dipanggang, aku sungguh tak tega! Kurasa ini semua.. . Karena.. . Karena.. . "Dia berpikir panik beberapa saat, sebelum akhirnya menemukan jawabannya,
" Benar, ini semua karena arak kalian, aku tadi minum banyak sekali! Pasti karena arak kalian itulah aku lalu jadi berani melakukannya, pasti karena itu! "
Chihsuan tak dapat menahan tawanya.
"Haha! Kalau begitu setelah pulang nanti, aku akan meminta mereka untuk mengganti nama arak baoku menjadi arak keberanian berlipat ganda! " Setelah ia puas tertawa, alis matanya menegang, lalu ia berkata dengan serius, "Baiklah, sekarang kau harus kembali ke desa bersamaku, lukamu itu harus segera dibalut! "
Lemei buru-buru menggoyang-goyangkan tangannya untuk menolak.
"Tidak, tidak, aku takkan kembali ke dusun bersamamu.. . "
"Tenang saja, aku berani menjamin takkan terjadi masalah apa-apa. " Chihsuan maju selangkah, mengulurkan tangan. "Ayo, ikut aku! "
"Tidak, jangan mendekat, kau.. . "
Lemei berusaha menghindar mundur, karena tidak hati-hati, kakinya tersandung batu, ia nyaris tercebur ke sungai. Chihsuan buru-buru maju mendekat dan berhasil menangkap pergelangan tangannya, lalu menarik tubuh Lemei sekuat tenaga. Saat itu tiba-tiba Chihsuan melihat di pergelangan tangan Lemei terdapat tanda lahir yang bentuknya menyerupai bunga meihua. Beberapa saat tubuhnya gemetar. Ia tertegun, sementara Lemei yang setelah berusaha sekuat tenaga berhasil melepaskan diri dari cengkraman tangannya, segera membalikkan tubuh dan berlari. Chihsuan segera tersadar dan buru-buru mengejarnya sambil berteriak,
"Tunggu dulu! "