The Mystery Of Marriage

The Mystery Of Marriage
Chapter 1.2



Gadis itu melambaikan tangan dengan gembira. Dengan wajah memerah Lemei menarik bibirnya tersenyum pada hongtu, bersikap seperti anak kecil yang tak merasa bersalah setelah melakukan kesalahan.


Tiba-tiba terdengar gemuruh sorak-sorai di arena upacara. Lemei menatap ke depan, ia pun tersentak. Sekelompok pria sedang sibuk memasang anak panah di busurnya, Masing-masing memperagakan gerakan memanahi rubah. Tanpa sadar Lemei berteriak nyaring berusaha menghentikan kegiatan ini. Tidak lama kemudian seluruh pengunjung bersorak-sorai, suaranya bergemuruh bagai ombak di Samudra. Teriakan kaget Lemei hanyalah bagai buih air yang bergulung di atas ombak, segera saja tenggelam dalam gemuruh massa yang membahana. Lemei memandang lekat gerakan memanah rubah yang dipertontonkan oleh para penari itu, matanya semakin terbelalak, debur jantungnya semakin lama semakin kencang, lalu dengan tak sabar ia merenggut lengan baju hongtu dan bertanya panik.


"Mereka mau melakukan apa? Mereka pasti cuma berlagak akan memanah dan tidak bersungguh-sungguh akan memanahnya, Kan? "


Hongtu sedang asyik menonton, sehingga sama sekali tidak memperhatikan pertanyaan Lemei.


"Lihat ke bawah, nanti juga tahu! "


Lemei tidak puas dengan jawaban seperti itu. Begitu melihat gadis yang tadi memegangi cawan sedang berdiri tidak jauh dari hadapannya, tanpa pikir panjang Ia segera menerobos kerumunan orang, bergegas mendekatinya dan berkata panik.


"Nona! Orang-orang itu.. . "


"Oh! Kau rupanya. " Gadis itu tersenyum-senyum sambil menatap Lemei. "Kelihatannya kau bukan orang dari Dusun Wushan ini, bukan? "


"Bukan, aku datang dari Dusun Si'an, jadi aku tidak mengerti tidak mengerti adat istiadat kalian. "Lemei hanya mengharapkan akan segera mendapatkan jawaban yang pasti. " Aku bilang, Orang-orang itu membawa busur dan anak panah hanya untuk memeriahkan tarian, bukan? Mereka tidak mungkin sungguh-sungguh memanah dan membunuh rubah putih itu, kan? "


"Kau salah duga. Akhirnya mereka nanti akan benar-benar membunuhnya. Itu merupakan puncak acara dari seluruh perayaan ini, " Kata gadis itu menjelaskan dengan penuh semangat. "Menurut aturan adat kami, setiap laki-laki gagah itu harus memanah secara bergantian. Setelah rubah itu mati terpanah, terlebih dahulu tenggorokannya disembelih dan diambil darahnya. Setelah itu bulunya akan dikuliti, lalu akhirnya dagingnya akan dipanggang sampai matang dan dibagikan kepada semua orang untuk dinikmati. Dan darahnya yang sudah diambil tadi akan dicampurkan kedalam arak, dan dibagikan pada semua orang untuk diminum. "


Lemei hampir pingsan mendengar penjelasan ini. Melihat wajah Lemei berubah pucat, gadis itu bertanya dengan maksud baik.


"Arak nya terlalu keras untukmu, ya? "


Lemei tidak sanggup berkata-kata, ia hanya mengangguk-angguk lemah.


"Kalau begitu kau jangan melihat adegan menyembelih rubah dan mengambil darahnya. Sebentar lagi, begitu suara nyanyian reda, kau cepat-cepat tutup matamu, ya! "


Sehabis berkata demikian, gadis itu menoleh, lalu ikut bertepuk tangan bersama para penonton lainnya. Lemei menatap rubah putih yang berusaha sekuat tenaga mendobrak kisi-kisi kurungan yang memerangkap nya. Yang terdengar hanyalah suara tepukan dan sorak-sorai yang semakin lama semakin bergemuruh. Hati Lemei serasa terlontar dari dadanya, seolah yang akan segera dipanah adalah dirinya sendiri.


Bagaimana mungkin! Ia menarik napas dalam-dalam. Bagaimana mungkin! Rubah putih itu sama sekali tidak berdosa! Ia cuma kebetulan terperangkap jaring buruan, kalian tidak punya hak untuk menyakitinya! Kalian betul-betul keji dan tidak punya rasa perikemanusiaan.. . .


Suara nyanyian akhirnya berhenti, para penonton yang bersorak-sorai kembali tenang, semua menunggu adegan terbaik yang akan segera diperagakan. Rubah putih yang hampir mati itu masih berusaha keras membuka kurungan sambil mengeluarkan lolongan putus asa. Pemuda yang memimpin barisan penari itu Perlahan-lahan mengarahkan anak panahnya, siap membidik rubah putih. Sewaktu anak panah pertama akan dilepaskan, tiba-tiba Lemei berteriak ketakutan,


"Jangan! "


Suara teriakannya masih terdengar saat ia berlari memburu mendekati kurungan hewan buas itu. Anak panah yang sudah terlanjur dilepaskan melayang melukai punggung tangannya, saat ia menumpah-balikkan kurungan ke atas tanah. Tak seorang pengunjung pun menyangka akan menyaksikan kejadian ini, sehingga semua tanpa sadar menjerit kaget. Orang yang berteriak paling kencang adalah Hongtu, karena dalam mimpi pun ia tidak pernah menyangka bahwa sepupu luarnya yang lemah lembut dan bernyali kecil itu berani melakukan tindakan yang mengejutkan semua orang begitu.


Meskipun terluka oleh anak panah, Lemei sama sekali tidak memedulikan rasa sakitnya. Ia segera menarik selot, lalu membuka pintu kurungan sambil berteriak pada rubah kecil itu,


"Ayo cepat lari! Lari yang jauh! Cepat! "


Semuanya terjadi begitu cepat. Orang-orang yang semula melingkari arena upacara dengan rapat, segera berhamburan ketika diterobos oleh rubah putih yang baru bebas dari kurungan itu.


"Wah rubah itu mengamuk! Jangan biarkan lari.. . !


" Tangkap! Cepat tangkap! Jangan biarkan dia lolos.. . !


Selama beberapa saat, Orang-orang saling dorong dan sikut-sikutan, lalu berusaha melarikan diri kesegala penjuru dengan ketakutan. Ada yang bertabrakan, ada yang jatuh terjerembab, ada yang berdesakan. Teriakan memanggil ibu dan ayah terus-menerus terdengar. Arena upacara menjadi kosong melompong.


Saat Lemei yakin bahwa tidak ada orang yang mengejarnya, ketika itu pulalah ia merasa dirinya telah tersesat.


Daerah ini merupakan hutan lebat. Tidak jauh dari situ terdapat sungai kecil. Sejauh mata memandang hanya terlihat alam liar yang hening, tanpa ada jejak manusia barang sedikitpun. Lemei menepuk-nepuk dadanya dengan perasaan takut. Ketika itulah ia baru luka dipunggung tangannya dan menyadari bahwa darah yang mengalir telah membasahi sebagian besar lengan bajunya.


"Ya Dewata! " Serunya lirih.


Oh! jangan panik, jangan panik, Lemei berlari sekuat tenaga ke pinggiran sungai, lalu duduk diatas batu, sambil membungkukkan badannya, mengambil air untuk mencuci mukanya. Namun luka itu ternyata lebih parah daripada dugaannya, begitu terkena air langsung terasa perih hingga menembus tulang.


"Aduh! " Teriaknya kesakitan.


Hari ini benar-benar sial! Lemei meniup-niup lukanya. Ia khawatir memikirkan apa yang harus dijelaskannya pada Hongtu, apa yang harus dijelaskannya pada ibunya di rumah nanti. Ia juga mengkhawatirkan rubah putih itu yang entah berhasil melarikan diri atau tidak.. . . Setelah pikirannya melantur selama beberapa saat tiba-tiba ia melihat ada bayangan orang bertopeng di atas air sungai. Saking terkejutnya, Lemei berteriak nyaring, "Waaa... . .! "