
Malam ini Zhev dan Aaron sedang berjalan-jalan menyusuri kota Zero mereka berbincang-bincang sambil tertawa dan beradu pandang.
Zhev mendapat jadwal patroli hari itu, sebenarnya ia akan pergi sendirian tapi Aaron terus-menerus memaksa ikut dengan dalil kalau mereka berdua bisa saja menjadi incaran sang penjahat.
"Jadi begini suasana kota Zero saat tengah malam ya?" Aaron tersenyum mengangkat bahunya dan menarik nafas tenang.
"Ya begitulah cukup sepi jika sudah tengah malam, makanya kali ini aku membawa pistol Brace untuk berjaga-jaga," Zhev tersenyum memperlihatkan pistol yang ia pegang.
Saat mereka berbincang-bincang, tiba-tiba saja mereka melihat sebuah bayangan seseorang terseret dari sudut kota melalui persimpangan.
Aaron langsung mengambil alih, berjalan di depan Zhev sambil mengarahkan sniper nya kearah bayangan tersebut.
Mereka berdua kini berjalan perlahan berusaha menjaga langkahnya agar tidak menimbulkan bunyi.
Aaron maju terlebih dahulu saat mereka berada di depan persimpangan jalan tersebut.
Sedangkan Zhev bersembunyi di balik tembok sambil berjaga.
Aaron terkejut saat melihat sesosok mayat dengan wajah yang sudah tak dapat di kenali akibat banyak nya cabikan.
Brukk!
Seketika Aaron langsung menoleh kebelakang dan didapatinya Zhev yang tergeletak di aspal.
Aaron buru buru mendatangi gadis itu dan dilihatnya seorang monster yang berwujud manusia.
Ia telah bermutasi, nampak tak karuan dengan ukuran badan yang raksasa dan juga pembuluh darah yang berada di luar tubuhnya, wajahnya terlihat berantakan dengan pipinya yang bengkak dan satu matanya yang lebih besar dari mata yang lain, tak lupa iris nya yang berwarna merah.
Dengan sigap Aaron lalu menembaki monster itu dengan sniper nya, memancing monster itu untuk pergi dari hadapan Zhev.
Zhev berusaha bangun dan mengambil pistol Brace nya kemudian menembaki monster itu.
Namun monster itu sangat kuat dan sepertinya tembakan apapun tidak berpengaruh.
Dengan cepat monster itu menangkap Aaron dan melemparnya ke arah Zhev.
Mereka berdua terjatuh dan menabrak tiang listrik.
Sang monster menginjak Sniper milik Aaron dan berbalik menatap mereka berdua.
Zhev yang menyadari sesuatu kemudian memberikan pistol brace miliknya ke Aaron
"Apa kau gila?"
Aaron terlihat marah ia mengembalikan pistol itu.
Zhev yang tahu bahwa tidak ada waktu untuk menjelaskan segera berlari dan melemparkan pistol nya pada Aaron, dan berlari maju kearah monster tadi.
Ia melempar sebuah granat kemudian melompat kesisi kanan dan berlari.
Aaron yang melihat ini langsung bangkit dan menembakkan peluru kearah monster yang ternyata masih hidup.
Monster itu semakin dekat dengan Aaron, saat hendak menangkap nya, lelaki itu melompat ke pundaknya dan menembak kepala monster itu dengan sebuah magnum yang ia temukan di hutan.
Monster itu nampak kesakitan dan melempar Aaron ke arah minimarket di dekat pom bensin.
Aaron yang terpental merasakan sakit karena kepalanya terbentur gagang pintu masuk minimarket.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan zhev memberikan pesan berisikan
From : Zhevilyn Maxvell
FIRE!
Aaron masih berusaha berpikir apa maksud Zhev dengan pandangannya yang sudah blur lelaki itu mendorong beberapa kereta belanja untuk mengurangi kecepatan monster itu mendatangi nya.
Namun hal itu tidak memberi efek sama sekali untuk sang monster, malah sekarang ia meraung keras dan berlari kearah Aaron.
Aaron yang benar-benar panik terus menembaki monster itu dengan pistol Brace milik Zhev.
Zhev berlari dan melompat dari atap gedung 1 ke rooftop bangunan lainnya yang ada di depannya dengan sigap ia mengarahkan pistolnya dan menembak tepat di leher sang monster dengan sebuah jarum bius sebanyak 3 kali.
Dengan sekejap monster itu terjatuh tak sadarkan diri.
Mengetahui hal itu Aaron kemudian mengerti ia berlari ke arah pom bensin yang lumayan dekat dan menumpahkan bensin itu kearah sang monster.
"Aaron!"
Aaron yang melihat Zhev menyalakan sebuah korek dan mengerti kode tersebut segera menjauh membiarkan gadis itu melempar koreknya dan membuat tubuh sang monster terbakar.
Aaron segera naik kesebuah bangunan yang Zhev pijak, dengan sebuah tangga.
"Kita berhasil!" Ujar Zhev saat membantu aaron naik.
"Belum," Aaron menatap monster yang sedang terbakar kesakitan itu dengan tajam, ia mengeluarkan grappling gun nya dan menembak ke arah simbol mini market yang berada tepat diatas Monster itu.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Tanya Zhev khawatir
"Bersenang-senang,"
Aaron kemudian berayun kearah sang monster dan menancapkan pisau di kepala sang monster.
"AAAARGHHHHH!" Monster itu menggeram seketika dan jatuh mati.
***
"Jadi titik kelemahan mereka ada di kepala?" Tanya Zhev.
Sekarang mereka sudah berada di bawah sedang menunggu para polisi datang ke TKP.
"Iya, aku tadi hanya coba-coba menembak kepalanya dengan magnum, kemudian ia merasa kesakitan, dan aku berpikir bahwa kepala adalah titik lemahnya," jawab Aaron sambil mengembalikan Brace milik Zhev.
"Kau cukup hebat saat beraksi tadi tuan Atmaja," goda Zhev sambil tersenyum manis.
"Dan kecerdasan mu membuat kita terselamatkan nona Maxvell," balas Aaron sambil menyikut lengan Zhev.
Mereka berdua tertawa sampai para polisi datang dan memeriksa TKP.
"Zhevilyn!" Sheriff Felix datang dan langsung memeluk Zhev.
"Syukurlah kau selamat putriku,"
Zhev tersenyum dan membenamkan kepalanya ke dada sang Sheriff.
Zhev ingat sekali bagaimana orang tua nya meninggal di sebuah kecelakaan mobil disaat umur Zhev baru menginjak 7 tahun.
Dan saat itu Felix datang bersama anaknya, Arion Gregory. Yang kemudian mengajaknya untuk tinggal bersama dan kemudian memperlakukan nya sebagai adik Arion.
"Aaron terimakasih telah menjaga Putri ku," Sheriff memeluk Aaron dan menepuk pundaknya.
Aaron dan Zhev lagi lagi saling melempar senyuman bahagia sampai Arion datang dengan tergesa-gesa.
"Kalian berdua ikut aku."
***
Zhev, Aaron dan Arion kini berada di Kantor polisi.
Mereka sedang duduk di meja milik Mr.Saw.
"Untuk apa kau mengotak-atik komputer milik tuan Saw?" Tanya Zhev sewot, ia pikir Arion keterlaluan.
"Tunggu sampai kau melihat ini,"
Wajah Arion terlihat tegang sambil terus meng-klik mouse dan juga menggerak gerakan kursor.
"Begitulah Arion, dia terlalu sibuk mengurus urusan orang, sampai dia sendiri pun tak tahu bahwa Sasa, polisi tercantik disini menyukai dia,"
Ujar Zhev pada Aaron dengan wajah tak suka, gadis ini rupanya sedang mengajak Aaron untuk menggosip.
"Mungkin dia tidak menyukainya Zhev, oleh karena itu ia tidak peduli,"
Aaron tertawa kecil melihat tingkah gadis berbaret biru di depannya.
"Tidak aku serius dia tidak menyadari hal itu karena sibuk mengurus urusan orang lain,"
"Zhevilyn diam," Arion mencubit tangan Zhev yang bertumpu pada meja.
"Aww, kasar sekali jadi lelaki!"
"Suruh siapa mulut mu sepanjang rel kereta api,"
"Oh mau meledek mulutku seperti bebek!?"
"Ya, gadis berisik"
"Kau yang berisik, menghabiskan waktu ku untuk ikut mengurusi kehidupan orang lain,"
Disaat perdebatan mereka Sasa datang sambil tersenyum menatap Arion yang sibuk melempar tatapan kebencian pada Sahabatnya.
"Kenapa ribut sekali?"
"Kedua saudara ini sedang bertengkar," jawab Aaron sambil tertawa kecil.
"Kau Aaron Atmaja kan? Yang berhasil menemukan Sierra,"
Tanya Sasa sambil mengulurkan tangannya
"Aku Safiera Pevensive,"
Aaron tersenyum dan menjabat tangan Sasa.
"Kau tahu, semua orang menganggumi ketampanan mu,"
Goda Sasa.
Arion dan Zhev kemudian berhenti beradu mulut, mereka kini melihat kearah Sasa dan Aaron.
"Hey Sasa lihat wajah merah padam Arion, dia cemburu!"
Kompor Zhev sambil tertawa.
Arion yang pasrah kembali pada tujuannya, dan kemudian memperlihatkan sebuah Email di komputer Mr Saw.
"Apa ini?"
Mereka saling pandang dan bertanya tanya.
"Pengirimnya tak bisa di lacak,"
Arion menatap ketiga temannya tegang.
Tak lama saat keheningan menguasai, muncul sebuah Email dari alamat yang sama.
Email itu menujukan sebuah Foto yang familiar.
Dengan latar Mini market dan pom bensin, yang artinya adalah TKP.
Tak lupa foto itu berfokus pada sebuah objek yang tak lain adalah monster tadi.
Keempatnya saling berpandangan, sampai sebuah telepon milik kepolisian berbunyi.
Sasa segera mengangkat telepon itu dan wajahnya semakin tegang, ia menoleh kearah teman-temannya kemudian menutup telepon itu.
"Ini adalah sebuah Terror," ungkap nya.
Ketiga temannya yang tak mengerti lantas memberikan pertanyaan "kenapa"
Tanpa menjawab sasa mendekat komputer dan memperbesar foto yang ada di email.
Semua terkejut melihat foto itu yang semakin jelas menampakkan kepala sang monster berubah menjadi kepala manusia normal walaupun badannya masih dengan keadaan semula.
"Mr. Saw hilang dari rumah sakit."
Zhev, Aaron dan Arion benar-benar terkejut, mereka saling pandang dan kemudian menatap Sasa.
"Aku mendapatkan telepon dari pihak rumah sakit, kukira Mr saw telah tiada tapi tadi pihak rumah sakit berkata bahwa seorang kepala tim Alpha yang dirawat di rumah sakit telah hilang dari ruang ICU,"
"Mr. Saw belum tewas saat ia di bawa ke kantor, ayah bilang kalau masih ada kesempatan oleh karena itu saat hendak mengubur, Mr Saw dilarikan ke rumah sakit saat yang lain sibuk mewawancarai Zhev dan Tim Alpha lain yang pergi ke hutan,"
Jelas Arion mengingat ngingat detail kejadian hari ini.
"Kenapa aku sampai tidak sadar kalau Mr Saw dilarikan ke rumah sakit?"
Zhev nampak menyesal ia terduduk di sofa dekatnya.
"Aku juga, banyak yang tidak sadar karena kita semua tahu Mr Saw terlihat sudah tewas, tapi ayah yang bersikeras membawa Mr Saw ke rumah sakit,"
Aaron terdiam mendengar penjelasan Arion dan Sasa, sesaat ia menatap monitor di sebelahnya.
"Jadi ini adalah Mr Saw?" Tanya Aaron semakin bingung.
"Ya, itu wajah Mr.Saw ketua Tim Alpha" jawab Zhev lirih mengingat jika monster itu adalah Mr Saw maka ia yang telah membakar Mr Saw hidup-hidup.
Aaron yang menyadari sesuatu langsung berlari ke arah lemari yang berada di sudut ruangan, mengambil beberapa pistol dan melemparnya kearah teman-temannya.
"Pelakunya sempat berada di TKP,"
Aaron kemudian keluar kantor terlebih dahulu.
Zhev dan Sasa kemudian mengikuti Aaron.
"Aku menyusul,"
Sedangkan Arion nampak berpikir sesuatu dan langsung mengotak-atik komputer di depannya.
***
Aaron, Zhevilyn dan Sasa sudah sampai ke TKP mereka melihat para polisi sudah berkumpul dan memeriksa jasad Mr Saw disana.
"Aaron, Zhevilyn apa kalian tahu bahwa Mr Saw yang mencoba menyerang kalian?" Tanya Felix sesaat setelah kedatangan mereka bertiga.
"Awalnya tidak karena wajahnya benar-benar berbeda, kepalanya juga tak berbentuk bulat rapih simetris seperti manusia pada umumnya," jelas Zhev
Aaron mengangguk menyetujui pertanyaan Zhev.
"Benar-benar lebih tepat di sebut Monster,"
"Sebenarnya apa yang terjadi di kota ini," Felix mengusap kepalanya kasar menandakan bahwa ia benar-benar kesal dan bingung.
"Paman lebih baik beristirahat sejenak, aku,Aaron dan Sasa akan mengamati mayat yang ada," Zhev menepuk pundak Felix dan Felix menyetujui keinginan Zhev.
Sesaat mendengar kata "mayat" Aaron tiba-tiba saja merasa ada yang aneh ia terus berpikir tentang sesuatu yang ia lupakan.
Sementara Zhev menarik tangan Sasa mendekati Mr Saw.
"Kenapa kau membakar Mr Saw?" Tanya Sasa saat ia melihat luka bakar di sekujur tubuh Mr Saw
"Karena saat Mr Saw menjadi monster ia mengenakan baju anti peluru," jawab Zhev sambil menarik pisau Aaron yang masih menusuk kepala Mr Saw.
"Aku masih tak bisa menyangka bahwa Mr Saw menjadi monster yang berbahaya," ujar Sasa menarik nafasnya geram.
Zhev hanya mengangguk, ada rasa bersalah di hatinya. Ia amat menyayangi Mr Saw, karena kapten tim nya ini sangat humble,tegas tapi sebenarnya orang yang humoris. Ia juga menjadi teman dekat Mr Saw.
"Kita harus pergi," Aaron tiba-tiba saja muncul di belakang Sasa
Zhev memberikan pisau nya, dan Aaron tersenyum berterimakasih.
"Pergi kemana?" Tanya Sasa membuyarkan adegan tukar pandang Zhev dan Aaron.
"Oh iya, ada sesuatu yang harus aku tunjukan,"
***
Arion nampak geram karena tak mendapat titik terang.
Ia menempelkan kepalanya ke atas meja sambil mengetuk ngetuk meja membuat sebuah irama.
"Ck kenapa si penjahat begitu pintar," Arion mendengus kesal, ia mengambil beberapa peluru dan pistol untuk menyusul ketiga temannya.
Lelaki itu mematikan komputer Mr Saw dan pergi dengan terburu-buru ke luar kantor.
Namun saat ia berjalan kearah pintu tanpa sengaja seseorang menabraknya.
"Pak kepala? " Arion menyapa seseorang yang ternyata adalah George.
"Ah iya kenapa kau masih disini malam-malam Arion?" George nampak berusaha membuat ekspresi ramah dan menyembuhkan ketegangan nya.
Arion menatap heran kearah George.
"Tidak ada apa apa aku hanya memeriksa beberapa pekerjaan ku,"
"Ah baiklah,"
"Kenapa Pak kepala ada disini?" Tanya Arion.
"Aku baru selesai memeriksa TKP dan ponsel ku tertinggal di kantor, aku akan menelepon Alexia," jelas George
"Oh baiklah sampai jumpa lagi," Arion berpamitan dan segera pergi.
***
Aaron, Zhev dan Sasa sekarang berada di persimpangan sudut kota tempat dimana Aaron menemukan seorang mayat.
Namun alangkah terkejutnya Aaron saat mayat itu sudah tiada.
"Kenapa kau mengajak kami kesini?" Tanya Zhev yang masih bingung karena ia tak melihat sesuatu yang aneh.
"Seharusnya mayat itu ada disini.." Aaron menunduk dan berpikir.
"Darah ini milik siapa?" Tanya Zhev lagi
Aaron menggeleng sebagai tanda tak tahu.
"Wajahnya terlalu hancur untuk di indentifikasi, yang aku tahu ia menggunakan seragam ZPD."
Zhev dan Sasa saling pandang dalam keadaan tegang.
Sementara Aaron masih membelakangi mereka dan mengecek aspal dengan senter miliknya.
Seketika sebuah tangan menepuk pundak Sasa Dan Zhev.
Mereka berdua langsung berbalik dan mengarahkan pistolnya.
"Apa kalian gila!?" Arion berteriak kaget.
"Kau yang gila," Sasa menoyor kepala Arion kesal, sedangkan lelaki itu tertawa.
"Memang orang gila," tambah Zhev ia meletakan kembali pistol nya di ikat pinggangnya.
"Kalian sedang apa?" Tanya Arion.
Sasa menunjukkan darah di dekat Aaron.
Arion bergidik seram ia kemudian menghampiri Aaron dan ikut memeriksa aspal yang di penuhi darah itu.
"Omong-omong bagaimana kau tahu kita ada di tempat ini?"
Tanya Zhev pada Arion.
"Aku menaruh alat lacak di leher mu jadi aku akan tahu dimana kau berada" jawab Arion.
Zhev mendelik dan Aaron yang sedang fokus tiba tiba angkat bicara.
"Kau tak berusaha mengintip dia saat mandi kan?"
"Gila kau, aku hanya akan mengetahui posisi nya saat gadis ini bertugas, kata ayah aku harus selalu menjaganya," jelas Arion yang kemudian berdiri di ikuti Aaron.
Zhev tersenyum dan memeluk Arion.
"Terimakasih kakak,"
Seketika suasana menjadi hangat sampai Aaron bertanya.
"Jadi siapa anggota ZPD yang tewas?"
Tanpa sadar saat keempat orang itu sedang berpikir ada sesosok lelaki yang bersembunyi di balik dinding bangunan yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri. menguping kemudian memberi sebuah senyuman dan pergi begitu saja.
>>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<<