
Para anggota ZPD yang ditugaskan untuk menemani Zhev menginvestigasi goa dan juga mencari Aaron kembali ke kantor polisi dengan membawa jasad Mr Saw.
George dan Felix terkejut melihat hal itu kemudian bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi dengan tuan Saw?" Tanya George panik.
Anggota ZPD lainnya menatap kearah Zhev.
Zhev menunduk, ia benar-benar tak tahu harus berkata apa.
"Tadi kami berpencar di hutan untuk mencari Aaron, tapi kemudian aku mendengar suara tembakan."
Zhev menghela nafas dan kembali berbicara dengan perasaan campur aduk.
"Saat aku menghampiri sumber suara aku lihat tuan Saw telah berbaring lemah dan ia diseret oleh—"
Zhev menahan perkataan nya ada rasa takut yang menjalar keseluruh tubuh nya.
"Lanjutkan Zhevilyn," tegas George.
"Ia diseret oleh Sierra,"
Deg!
Semua hening dan menatap Zhev tak percaya.
Kemudian berganti dengan perkataan tak suka dari rekan rekannya
"Sierra siapa maksudmu?"
"Ya, kau pasti bergurau"
Zhev menarik nafas.
"Sierra Aldrich."
"Hey maksud mu anak presiden yang hilang?"
"Jangan bercanda Zhevilyn,"
"Kau gila,"
"Stop!" Lerai Felix.
"Kenapa bisa Sierra yang melakukan itu?"
Tanya Felix kemudian.
"A.. aku tidak tahu aku hanya melihat jasad tuan Saw yang tidak berdaya kemudian Sierra juga nampak aneh, ia memakai baju dan celana hitam, dia juga berlari dengan kecepatan diatas manusia biasa. Dia seperti manusia super," jelas Zhev menatap manik mata Felix penuh harap.
"Nak, lebih baik kau pulang dan beristirahat lah," Felix menatap Zhev serius ia mencoba memberi pengertian pada gadis yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
"Kalian harus percaya padaku!" Zhev berteriak meminta pengakuan.
Gerry menepuk pundaknya dan menggeleng memberi isyarat Zhev untuk berhenti memaksakan kehendak nya.
Zhev kemudian menunduk pasrah.
Gerry membawanya duduk halaman kantor.
"Zhev, lebih baik kau istirahat aku akan kembali membawakan mu secangkir teh untuk meredakan emosi mu," Gerry tersenyum memberi pengertian.
"Kau percaya kan?"
"Iya Zhev tunggu sebentar ya,"
Gerry melangkah masuk kedalam kantor dan berpapasan dengan Arion yang menatap nya tajam.
Gerry tersenyum dan meninggalkan lelaki itu.
"Makan lah," Arion tiba-tiba datang memberikan sebungkus coklat pada Zhev.
"Aku tidak mau makan,"
"Hey makan lah, ini baik untuk memperbaiki perasaan mu,"
Zhev kemudian mengambil coklat pemberian Arion dan menatap kosong kearah depan.
"Aku percaya padamu, sudahlah memang terkadang saat kebenaran yang sebenar-benarnya hadir, orang-orang malah tidak mau membuka mata," ujar Arion
"Kenapa kau percaya padaku?" Tanya Zhev ia merasa senang saat Arion mendukungnya.
"Karena Sepertinya aku menembak orang yang sama,"
Arion mulai berpikir ia mengerutkan dahinya mengingat kejadian tadi sore.
***
Sore ini Arion sedang berkeliling kota ia mencatat semua kejadian-kejadian misterius yang ada di kota.
Setelah semuanya beres ia pulang ke rumahnya untuk menyimpan data-data penting.
Kemudian Sheriff Felix datang dan menyuruh Arion untuk memeriksa bagian selatan kota Zero, ya hutan lindung yang menjadi TKP.
Dengan senang hati Arion segera bergegas, ia membawa 1 shotgun saat itu.
Setelah sampai Arion memeriksa hutan itu, ia kembali ke Goa dan memeriksa keadaan sekitarnya.
Goa itu kosong, berbeda saat ia menyelamatkan Aaron dan Zhev.
Arion yang merasa ada yang aneh memfoto keadaan goa itu.
Tak sempat memeriksa lebih jatuh tiba-tiba terdengar suara tembakan.
Arion lekas berlari keluar memeriksa sumber suara, namun ia tak menemukan apapun.
Arion tetap menyusuri hutan itu sampai ia melihat sesuatu dari kejauhan diantara semak belukar. Sesuatu itu berwarna hitam.
Arion menembak kearah semak belukar tersebut karena takut jika itu adalah monster.
"Arion!" Langkah Arion terhenti saat salah satu rekannya memanggil.
"Ada apa Sa?" Tanya Arion.
"Kau sendirian?"
Gadis yang bernama Sasa itu bertanya girang.
Memang, Sasa menyukai Arion sejak ia bergabung ke ZPD.
"Ya, begitulah,"
Jawab Arion sedikit malas, ia melihat kearah jam tangan nya.
"Bagaimana kalau makan malam—"
Belum selesai Sasa bicara Arion sudah memotong.
"Aku harus pergi, ayah akan memarahi ku jika pulang terlambat hari ini,"
"Hey Arion aku belum selesai.."
Sasa menahan Arion dengan gelagat centilnya
Arion yang sudah buru-buru membalikan badannya kemudian melihat sesosok gadis berlari dari arah semak belukar tadi, ia sempat beradu pandang namun gadis itu pergi dengan cepat.
***
"Kau kenapa asal tembak seperti itu?" Tanya Zhev sewot.
Arion mengerutkan keningnya
"Bagaimana kalau sesosok werewolf lagi?"
Mereka kemudian beradu mulut saling menyalahkan.
***
Aaron dan Sierra berlari untuk keluar dari hutan itu, dengan nafas dan detak jantung menggebu mereka berlari cukup kencang, menghindari kemungkinan Froggy belum mati.
Saat mereka menemukan jalan untuk keluar tiba-tiba sesosok monster berkepala singa dan berbadan kalajengking menyerang mereka.
"Aaron!" Sierra mendorong Aaron saat monster itu tiba-tiba berada di samping mereka.
Alhasil Sierra terkena sengatan tangan kalajengking tersebut.
Aaron segera berlari dan menolong sierra ia menemukan sebuah magnum di tempat dia terjatuh dan menembak Monster singa kalajengking tersebut.
"Bangun Sierra kita harus pergi,"
Aaron membantu sierra bangun namun lagi lagi mereka berdua di serang.
Aaron terpental 1 meter kebelakang dan Sierra kembali diserang oleh tangan monster tersebut.
Aaron berlari kearah Sierra sambil terus menembaki monster tersebut, namun karena dirinya yang kecil dibandingkan monster itu, Aaron malah diangkat dan benar benar di genggam erat oleh sang monster.
"Sierra bangun Sierra!"
Aaron berteriak namun Sierra sudah tak sadarkan diri.
Dengan cerdik Aaron menusuk mata monster itu dengan pisau miliknya, kemudian ia berhasil terlepas dari genggaman monster tadi.
Aaron yang terjatuh segera bangkit dan menggendong sierra pergi, berlari sekuat tenaga sampai berhasil keluar dari hutan itu
Karena ia menyimpan sebuah bom ditangan monster saat dirinya di genggam erat, Aaron seketika menyalakan remote control nya dan suara ledakan terdengar.
***
"Terimakasih kau sudah percaya padaku,"
Zhev tersenyum kearah Arion dan memberikan tinjuan kecil kearah lengannya, sebagai tanda mereka teman yang saling membantu.
"Ya, terimakasih juga karena telah sabar mengahadapi aku yang tampan,"
Canda tawa mereka seketika berhenti saat Aaron tiba-tiba datang dan menggendong Sierra.
"Zhev.."
"Aaron!"
Zhev dan Arion segera menghampiri Aaron.
"Syukurlah kau selamat," ujar Zhev dengan perasaan lega.
"Panggil ambulan cepat!" Perintah Aaron dengan wajah panik.
Arion segera memanggil ambulan dan tak lupa memberitahu ayahnya bahwa putri presiden berhasil ditemukan.
***
Sierra terbaring tak sadar di ruang ICU. Dengan Aaron yang cemas dan menunggu nya di sebelah ranjang.
Melihat hal itu dari jauh membuat Zhev merasa sedikit kesal, tambah khawatir.
Melihat interaksi mereka Zhev tahu bahwa Aaron amat melindungi putri kesayangan Presiden.
"Apa yang kau pikirkan adik kecil?" Suara Gerry membuyarkan lamunan Zhev.
"Sepertinya sepupuku sudah mulai beranjak dewasa dan merasakan hal yang namanya cinta," sindir Gerry.
"Apa? Tidak!" Ujar Zhev begitu kasar ia menepis tangan Gerry yang tadinya berada di pundak.
"Ayolah tidak perlu mengelak, tatapan mu menunjukkan kecemburuan," Gerry tertawa dan mengacak acak rambut Zhev.
Zhev meninggalkan Gerry dan duduk di ruang tunggu.
"Menurutmu apakah Aaron orang yang mudah tertipu?" Tanya Zhev pada saudaranya.
"Hmmm ntahlah, aku belum pernah bertemu ia sebelumnya, tapi sepertinya dia orang yang sangat loyal," jawab Gerry dengan santai.
"Ahh loyal.."
"Ayolah Zhev kejar impianmu,"
Gerry menyikut Zhev kemudian pergi setelah tertawa menggoda saudaranya.
***
Zhev yang menunggu Aaron akhirnya tertidur di sebuah kursi. Namun suara Aaron membangunkannya
"Zhev?"
"Ah ya? Bagaimana keadaan mu?" Tanya Zhev spontan ia menarik Aaron untuk duduk di sebelahnya.
"Kenapa tidak bertanya soal Sierra?" Tanya Aaron heran.
"Ah aku sudah lihat," Zhev berusaha menyembunyikan semuanya karena takut akan berdebat dengan Aaron.
Aaron tersenyum saat ia dan Zhev saling bertatapan.
Membuat keduanya tersipu malu saat mata mereka sama sama tak bisa beralih.
"Apa kau terluka?" Tanya Zhev mencairkan suasana.
"Ya sedikit, hanya luka biasa,"
Aaron terkekeh ia menunjuk luka-lukanya.
Terdapat luka di kedua lengannya, luka gesekan tanah yang membuatnya lecet dan terluka.
Kemudian banyak sobekan kecil di kakinya, dan luka memar dikepalanya.
Zhev melihat semua itu dengan khawatir ia kemudian mengambil kotak obat ditas nya dan mulai mengobati luka Aaron.
"Ssh pelan pelan.." Aaron meringis saat Zhev memberikan alkohol pada luka lukanya.
"Sebentar, sedikit lagi selesai,"
"Argh!"
"Ahh maaf"
Zhev makin merasa khawatir, ia mengobati Aaron dengan sangat hati-hati.
"Selesai,"
Aaron tersenyum melihat Zhev membereskan barangnya.
"Terimakasih Zhevilyn."
"Ya sudah kewajiban ku,"
Mereka kembali hening karena rasa canggung sampai Zhev ingat sesuatu.
"Kau tahu dari mana alamat kantor ZPD?"
"Aku lihat melalui google maps,"
"Kenapa tidak langsung cari rumah sakit terdekat?"
"Aku ingi memastikan bahwa kau sudah berada di kantor lebih dulu Zhev,"
Zhev tersenyum kemudian berkata Terimakasih lagi.
"Aku senang kau baik-baik saja Aaron,"
>>>>>>>>>>>>>><<<<<<<<<<<<