
Suaranya terputus, tercekat habis terkuras dalam raungan yang memilukan. Tangisannya menyalurkan kepedihan siapa pun yang mendengarnya. Jeritannya menyesakkan dada siapa pun yang merasakannya. Ratapannya menggiring air mata siapa pun yang melihatnya.
Tidak ada yang tidak mengatakan iba melihat Saca menggerung pilu dalam kabut gelap penuh duka. Kenapa? Kenapa harus sekejap saja hatinya disiram bahagia berganti lara yang mendera selamanya. Kenapa harus maut yang memisahkan kehidupannya. Kenapa harus ada duka bila bahagia siap menyambutnya.
Rindu mana yang harus ia tahan untuk seumur hidupnya. Rindu akan terobati kala yang kau rindu masih ada di dunia ini tapi rindu harus bagaimana jika rindu yang begini. Harus sebesar apa kerinduaannya sanggup menahan. Harus seperti apa kehidupannya menerima senyum terakhir dari pria terkasihnya.
Tuhan, sungguh rasa ini tidak akan pernah sanggup bangun dari ketidakberdayaan yang mendera. Saca ingin lenyap. Saca tidak berpikir kuat kembali berpijak sediakala.
Wajah itu terus dialiri air mata yang tak henti membuat sang ibu dilanda gusar luar biasa. Ibunya meratap penuh derita menyaksikan anak semata wayangnya terbujur koma beberapa hari hampir seminggu. Nyawa berharga itu hampir divonis lepas dari tempatnya.
Beruntung, Tuhan mengembalikan Saca padanya. Tak terkira rasa lega meski sang anak dinyatakan koma daripada maut menjadi jurang pemisah. Beberapa hari juga dalam masa komanya, sang ibu senantiasa mengusap air mata yang terus meleleh membasahi pelipis Saca.
Saca terus bermimpi dalam duka lara semasa masa hilang sadarnya.
"Saca?" seru kaget Marta yang baru masuk selepas keluar menemui dokter. Baru saja ia berkonsultasi dengan dokter perihal kondisi anaknya dan kini Tuhan menjawab doanya.
"Saca...." bisik lemah Marta seolah tak percaya.
Wanita paruh baya berkisar 45 tahun yang masih memiliki aura kecantikan itu berlari menuju anaknya namun tertahan dan berbalik lagi menuju pintu. Dari sana ia berhenti lagi. Berbalik lagi menuju Saca. Begitu terus hingga tiga kali yang tak luput dari pandangan Saca mengerutkan dahinya.
"Tante?"
"Arghhhh!!!" Seseorang mengejutkan Marta tepat di depan muka saat wanita itu berbalik.
"Nak Levin, Saca! Saca..." Dia menunjuk-nunjuk Saca ke balik badannya panik. Saca yang terhalang pandangan Levin membuat Levin salah paham menjadi super kaget melebihi kekejutan Marta.
"Apa? Ya Allah, Saca? Saca..." desah pilu Levin membekap mulutnya. Bahunya yang tegap langsung jatuh terkulai. Sedangkan Marta mengernyit memahami maksud Levin.
Pria itu bergeser ke samping berjalan letih menundukkan kepalanya menuju ranjang Saca berbaring menghembuskan napas terakhirnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, ia pikir matanya salah. Pikirannya berasumsi pasti yang bermasalah pandangannya yang makin tua kian memburuk.
Tak ada perubahan meski Levin mengucek matanya hingga kesadaran menumbuknya. "Saca sadar Tan, Saca hidup lagi!"
"Ca, kamu sudah sadar?" seru Levin menyerbu Saca bahagia.
"Saca, kau sudah bangun? Saca?" Levin menyentuh pipi Saca, hangat. Binar bahagia nampak tersirat jelas mengepul wajah tampannya yang asing.
Marta menghela berat. Ia berbalik menoleh Levin. "Nak Levin, Tante mau beritahu dokter sekarang," ucapnya segera membuka pintu menuju ruangan dokter. Tidak ada gunanya berdebat dengan calon menantunya yang kadang terlihat aneh itu, mungkin benar kata orang cinta bisa membuat **** dan konyol terlihat samar.
Levin mengutuk aksi bodoh tingkah o'onnya yang bertindak berlebihan. Di depan calon mertuanya pula. Ia merutuk kesekian kali menyesalkan. Dasar sial, kenapa ia harus berpura-pura semakin bodoh jika berakhir merugikan image-nya. "Maaf, Tan," pinta Levin nyengir kuda menutupi malu.
Semenjak sadar dari masa komanya Saca tak mengerti peristiwa apa yang menimpa dirinya hingga terbaring lemah di atas ranjang dilengkapi rentetan alat rumah sakit yang tidak Saca sukai.
"Kamu koma karena kecelakaan waktu itu." Levin memberikan kecupan sayang di punggung tangan Saca meyakinkan.
"Kecelakaan?"
Rasa heran dari Saca membawa Levin yang mendongak, mengunci diam bibirnya. Sepertinya takdir mendukung rencananya. Levin bimbang haruskah ia merasa lega atau memilih sedih saat mengingat Saca rupanya melupakan dia. Levin ingin sedih tapi susah saat peluang lebih menyenangkan daripada menyesali sesuatu yang bukan miliknya.
Persetan dianggap Levin brengsek sialan yang tak berperasaan. Semua sudah terlanjur ia pertaruhkan. Tidak ada jalan untuk mundur.
"Iyah, kamu ditabrak motor saat berlari menyeberang. Syukurlah kamu sudah sadar sekarang," datarnya setelah terdiam beberapa saat.
Koma karena menyeberang jalan hingga Saca mengalami kecelakaan? Separah apa kecelakaan yang dialaminya hingga ia terbaring koma? Seperti apa yang dilakukan Saca sampai kecelakaan itu mengorbankannya. Terlebih lagi siapa pria yang sedang mengecupi mesra punggung tangannya ini?
Dilihat dari gelagatnya ia bertingkah seperti kekasih lama yang setengah mati takut ditinggal mati. Otak tumpul Saca berusaha mengingat suatu hal yang mungkin bisa mengingatkan kejadian tempo lalu, tapi kenapa? Tak sedikitpun ada memori yang singgah dibenaknya untuk bisa Saca ingat atau pun kenang.
"Agh, sakit." Saca meremas kepalanya kesakitan.
Levin terhenyak memunculkan raut wajah teramat cemas. "Tenang Saca, kau nggak boleh berpikir keras. Kau baru sadar jangan pikirkan yang lain, oke?"
"Oke." Angguk Saca asal. Tak mau juga Saca terus merasa kesakitan. Bangun dari koma saja sudah membuat tubuhnya remuk redam. Belum lagi perasaan kosong yang langsung menyergap relung dadanya. Pria itu mengatakan Saca kecelakaan namun, hanya mendengarnya saja langsung membuat nyeri ulu hatinya secepan kilatan petir yang menyambar. Perasaan aneh apa ini yang mengganggu.
"Dan siapa kamu?" lanjutnya penasaran.
Levin membeku. "Aku? Apa kamu serius menanyakannya?"
"Saca, ini nggak lucu," decak kecewa Levin. Ini benar-benar tidak lucu kalau sampai Saca bisa ingat siapa dirinya tentu saja. Tidak seharusnya Saca bisa tahu siapa dia. Beruntung dari sekian wanita yang ada di muka bumi ini, Levin melabuhkan pilihannya pada Saca. Korban yang dikorbankan.
"Aku nggak tahu bukannya lupa." Jujur saja Saca sangat tidak tahu siapa pemuda yang berbicara dengannya ini. Seumur-umur, Saca tidak merasa pernah kenal atau semacamnya hal yang membuat Saca tahu siapa dia. Tidak ada hal yang Saca yakin Saca kenal pria ini.
"Pasti terjadi sesuatu dengan ingatanmu. Kau sama sekali nggak ingat? Aku?"
"Tidak." Gelengan kuat dari Saca membuat Levin tersenyum sinis dalam batinnya. Senyuman yang tidak bisa Saca lihat atau pun rasakan aura buruk dibalik senyum mengeringkan yang tersembunyi oleh wajah tampannya.
Saca lupa tentang peristiwa kecelakaan yang membuatnya terlibat hingga menghilangkan ingatan tentangnya bersama Leo, kekasihnya. Saca tidak ingat setiap yang sudah dilalui bersama Leo mulai dari awal. Hanya Leo, hanya ingatan tentang Leo yang tidak bisa Saca ingat. Rasa trauma yang teramat dalam akan pria itu membuatnya justru melupakan yang tak sepantasnya dilupakan.
Kau akan mengingatku mulai detik ini, Saca. Tak kubiarkan ingatanmu menghancurkan segala apa yang sudah kurencanakan. Pepatah pernah mengatakan ambilnya kesempatan selagi masih ada jalan.