
Selama ini hati mereka sunyi karena tersakiti. Rindu akan yang diminati. Hancur sendiri sebab ego telah mengusai lebih dalam dan terus menggerogoti nurani meski diri makin terluka. Pertahanan yang Saca kira tegar tak tergoyahkan namun, pupus hanya dalam hitungan detik. Perang hati yang Saca lawan selama masa patahnya Saca pikir sudah pulih tapi ternyata salah diluar rencananya.
Saca kacau, bimbang bercampur merana menahan gejolak rindunya akan Leo. Pemuda yang jadi cinta pertama, pacar pertama, dalam hidupnya. Dia terisak di dalam mobil meluapkan segala beban berat menumpu bahunya. Butir demi butir air mata yang sudah keluar beberapa saat lalu harus Saca hapus paksa karena kedatangan Leo. Orang itu harus dibiarkan di luar mobilnya sedikit lebih lama karena Saca harus memulihkan matanya agar tak berbekas. Beruntung, aktivitasnya di dalam tidak terlalu kentara berkat kaca mobil yang sangat Saca legakan.
Pintu yang sudah tidak terkunci itu, memberi kesempatan Leo untuk masuk ke dalam mobil Saca. "Langsung mau pulang sekarang?" tanya Leo mendudukkan pantatnya di kursi penumpang samping kemudi. Kepalanya menoleh menatap Saca yang fokus ke depan memegang stir mobil, enggan menatap balik keberadaannya.
"Kamu mau ngomong apa?"
"Mungkin aku perasa tapi..." ragu Leo.
Saca langsung menoleh ke Leo. Pria itu tak melepaskan pandangannya dari Saca semenjak duduk. "Yang kulihat kamu menghindariku. Apa kamu marah?"
"Sudah 7 tahun. Aku nggak tahu pertemuan kita akan seperti ini," tambah Leo. Sesekali pria itu memandang ke depan untuk menghembuskan napas gugupnya.
Andai pertemuan mereka tidak harus berakhir dalam kecanggungan seperti ini. Saca pasti akan menanyakan kabar Leo antusias. Andai hubungannya tidak berakhir dengan buruk. Andai dan andai Saca hanya bisa berandai. "Benar sudah 7 tahun, tapi aku nggak marah. Kamulah yang tidak menyukaiku," tandas Saca kemudian.
Leo menatap Saca serius. pria itu selalu serius kalau menyangkut Saca. Ah, sudah lama Leo pikir tidak lagi seserius ini. "Tapi kamu membenciku, kan?"
"Maaf kalau sikapku bikin kamu salah paham," ucap Saca tulus.
"Saca, awalnya aku memang marah, aku kecewa, aku benar-benar terluka karenamu. Bukan hanya sekali tapi berulang kali kamu menyakitiku. Sekali aku masih memberimu maaf dua kali aku pun sama tapi tiga kalinya aku memutuskan semuanya."
"Kamu memutuskan melupakanku bahkan meski saat itu aku sungguh menyesalinya. Tidak ada lagi kata maaf. Maafmu bukan untuk hubungan kita namun tentang kesalahanku. Aku masih ingat semuanya," ratap Saca memilih jujur dengan keganjalan hatinya. Lebih baik dikeluarkan mumpung bisa daripada hal itu akan terus menggangu kehidupannya.
Leo tercenung. "Aku pikir wajar aku melakukannya. Apa kamu tahu apa yang terjadi padaku selama ini?"
Saca mendesis pelan memalingkan wajahnya. "Aku gak tahu dan nggak akan pernah mau tahu. Seperti katamu hubungan kita sudah berakhir. Aku pun sama sepertimu aku memutuskan melupakannya. Semua tentang kita."
"Tidak. Kenyataanya tak semudah itu."
Saca menoleh seketika. Sebenarnya pria ini menginginkan apa darinya. "Aku yakin kamu memegang teguh prinsipmu."
"Yah, orang bisa salah karena prinsip. Prinsip yang dulu aku anggap benar dan aku juga yang membuat namun, aku sudah mematahkannya," sesal Leo. Pria itu bahkan merebahkan punggungnya pada senderan kursi seolah butuh penguat untuk dirinya sendiri mengatakan yang kebenarannya.
"Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, nggak lama juga. Tidak banyak yang berubah. Saca, kau tahu selama ini apa yang sudah kulalui tanpamu?... Aku tersiksa dengan kerinduan yang kuciptakan sendiri," desah lelah Leo.
"Maka kamu harus temukan seseorang yang mengobati lukamu."
"Aku egois."
"Aku sengaja menahannya selama ini hanya untuk menghukum perasaanmu. Picik, bukan?"
Saca menanggapi perkataan Leo hanya dengan senyum tipisnya sangat tipis, namun masih bisa Leo tangkap.
"Aku naif untuk mengakui pada siapa hatiku berlabuh. Kamu pacar pertamaku juga terakhir. Semenjak putus aku tidak lagi menjalin hubungan dengan siapa pun. Aku sengaja mengganggapku baik-baik saja dengan apa yang terjadi. Kupikir aku kuat, aku pasti bisa mendapatkan yang lebih darimu. Aku bisa tanpamu dan akan kutunjukkan. Bodoh! Aku benar-benar bodoh dengan jalan pikiranku. Bagaimana bisa aku sekacau itu hingga hukuman untukmu malah balik menyerangku sendiri."
Saca hanya menjadi pendengar yang baik curahan panjang lebar pengakuan Leo padanya. Tak tahu respon apa yang harus dia berikan. "Jika rindu kenapa tidak menemuiku? Atau kalau marah aku siap menerima makianmu dulu. Lebih baik aku dimaki."
"Aku dangkal dengan perasaanku sendiri. Aku buta untuk membedakan mana yang nyata dan fana. Aku yakin kalau memang jodoh pasti akan bertemu denganmu lagi. Aku berpegang teguh dengan prinsip itu tak peduli sebarapa berat harus terlalui. Kau tahu kenapa sampai sekarang aku lajang?"
Leo oh Leo. Baru sekarang Saca mendengar kalimat panjang yang terus panjang dari mulut pria itu.
Saca menolak datar dengan sikap dinginnya. Hatinya sudah mantap bahwa Leo patut ia balas. "Aku tidak ingin mendengarnya."
Kilatan kecewa nampak jelas dari Leo. Saca bisa melihat lewat ekor matanya. Binar mata yang terluka karena sikap dinginnya.
Leo menguatkan dirinya harus kuat. penolakan Saca tidak boleh membuatnya lemah apalagi sampai mundur. Cinta sejati patut diperjuangkan. "Aku berserah pada takdir jodoh. Jika kamu menikah duluan sebelum aku. Itu artinya kita bukan terlahir untuk bersama. Aku lega kamu belum menikah sampai kita bertemu lagi." Masih pria itu tersenyum berusaha.
"Jangan cemas aku pasti akan menikah," balas cuek Saca.
Butuh waktu beberapa menit untuk Leo mengumpulkan keberaniannya sebelum nyali mencium itu tiba. Selama itu pula keheningan mobil serasa menyempitkan pembuluh darahnya. Saca pun sama ia kehilangan seribu dayanya untuk bersikap makin beringas.
"Aku tidak mau ada penyesalan yang menganggu. Aku harus mengatakannya." Leo menarik lengan Saca untuk ia genggam. "Ca, aku sangat mencintaimu."
Saca sudah berdebar kencang serasa jantung mau lepas dari sarangnya akibat sentuhan berani Leo. Kini ia harus kembali dikejutkan dengan ungkapan cinta Leo. Boleh tidak Saca mematikan dirinya untuk beberapa saat.
Mati saja aku mati!!!! Pekik Saca dalam hati.
Leo tetap melanjutkan pengakuan sakralnya sebab ini pertama kali ia mengutarakannya secara langsung pada cewek. "Aku mencintaimu bahkan meski kau terus menyakitiku. Aku tetap mencintaimu bahkan meski aku jadi pecundang yang ikutan menyakitimu. Aku tetap mencintaimu dulu hingga sekarang. Aku tidak bisa berkencan dengan orang lain karena bukan mereka yang aku mau. Kamu yang aku inginkan, Ca."
Remasan tangan Leo yang makin kuat meluluh-lantahkan pikiran Saca yang disetting mode gahar. Hancur sudah segala yang dibangun. Sentuhan Leo terasa seperti menyalurkan api yang siap melelehkan beku tubuhnya selama ini. Memang benar kata orang nyaman tetap menjadi yang terbaik. "Naif! Kau bilang kau mencintaiku. Cinta macam apa yang tak sekali pun pernah kau tunjukan bahkan hanya lewat pesan gratisan. Tanganmu tidak akan berdosa hanya dengan mengirimiku pesan, kan?"
***
Follow Instagram: sarisuss
*******: sarisus