THE LOVE OF MY LIFE

THE LOVE OF MY LIFE
3. Password



Leo diam seribu bahasa karena itu kebenaran yang betul adanya. Dulu ia pikir, sudah tidak ada waktunya bagi Saca kembali menempati relung hatinya. Dulu ia pikir Saca pantas ia abaikan sebagai balasan perbuatan jahatnya. Hatinya sudah dipermainkan Saca sedemian rapi hingga tepat mengenai kesakitan jiwanya.


"Kamu tidak akan pernah tahu, seburuk apa menunggu cinta yang tak pernah jelas adanya. Aku nggak pernah mengganti nomor ponselku berharap kelak kamu akan menghubungiku walau sekedar say 'hai, lama nggak ada kabar'. Seperti waktu itu yang pernah kamu lakukan sekali," lanjut Saca.


"Apa kau tahu seberapa besar aku menunggu hanya untuk pesan murahan itu, hah?" Kepedihan dalam getar suara Saca membuat Leo makin teriris. Mata redupnya menyudutkan sorot tajam Leo.


Saca terus membubuhi ketegangan mereka dengan cercaan kata yang makin membuat perasaan bersalah Leo tak terkatakan. "Tujuanmu mengabaikanku selama ini untuk menyakitiku, kan?... Selamat! Kamu berhasil. Pertama kali seseorang menyakitiku dalam waktu yang lama."


"Aku salah maaf..."


"Kalau aku bisa aku pasti akan memakimu dengan sumpah serapahku!" Pukulan kemudi mengagetkan Leo yang tadinya melihat ke depan.


"Maka lakukanlah," desahnya pasrah.


"Hiks... kau pikir aku bisa mengatakannya? Kau pikir aku bisa menyumpahimu? Apa aku seperti itu? kau mengenalku, kan?" raung lemah Saca akibat batin luka yang ia tahan akhirnya bisa meledak seperti bom atom yang meletus dahsyat dari dadanya.


Kerongkongan Leo seperti tersangkut biji kedondong yang besar. Ia tidak berpikir Saca akan menetaskan air mata untuknya saat wanita itu yang baru ia lihat menahan marah, bersikap sedingin gurun salju, dan sekaku besi, namun lihat sekarang, dia menangis. Sumpah demi apa Leo lebih baik dipukuli dengan brutal daripada harus melihat wanita itu menangis untuk pertama kalinya.


Matanya mengunci sendu Saca. Tidak terpikir harus melangkah apa dalam menenang wanita yang menangis terutama terkasihnya. "Katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar aku menerima maafmu. Asal jangan memintaku menjauhimu."


"Kenapa tidak? Kita sudah jauh," tantang Saca meremehkan.


Leo menguat tegas ucapannya. "Nggak bisa! Sekali aku melihatmu dan kamu masih sendiri itu artinya aku bersumpah akan mengejarmu lagi terlepas kamu membenciku atau tidak."


"Kalau begitu jangan pernah lagi," pungkas Saca tak kalah tegas.


"Untuk apa?" tanya Leo bimbang.


"Jangan pernah lagi mengabaikan pesanku. Jangan pernah lagi menjadi aku yang selalu menunggu pesan darimu. Jangan pernah lagi men-"


Belum selesai Saca berkata Leo langsung membawa cepat tubuh Saca dalam dekapan eratnya yang terlewat senang. Detak gemuruh suara jantung yang saling bersahutan terdengar di telinga masing-masing. Merasakan suara degupan jantung Saca untuk Leo, Leo untuk Saca.


"Makasih Ca, makasih." Leo terus mengetatkan pelukannya enggan lepas walau ia sadari Saca masih belum membalasnya entah karena syok atau karena hal lain.


"Aku ingin dengar. Bukan dari yang kurasakan."


Dapat Leo rasakan di dada bidangnya Saca tersenyum. "Aku mencintaimu, Leo," umum Saca mengiringi tangannya yang membelit punggung pria terkasihnya.


"Tunggu." Saca kesusahan lepas dari pelukan Leo yang sulit itu. Rasa lapar Leo masih ingin terus dan terus memeluk Saca, tapi Saca malah menganggunya. Apalagi yang dia mau.


"Apa hubungan kita? Kamu tahu aku sudah tua. Usiaku sudah 25 tahun. Aku gak mau-" Saca khawatir Leo hanya akan membawa hubungan mereka ke jenjang pacaran abal-abal. Sudah bukan usia Saca mengarungi indahnya kata pacar.


"Aku akan menikahimu. Kamu harus tahu aku tidak akan bisa menikah dengan orang lain."


"Kenapa?"


"Karena dalam masa depan juga setiap langkahku yang teringat hanya akulah calon suamimu, dan hanya kamu yang akan jadi istriku. Seperti mimpi kita dulu yang sudah mendoktrin pikiranku." Senyum hangat Leo milik Saca seorang. Benar senyum itu milik Saca. Kalau saja Leo bukan kekasihnya tapi suaminya tidak tahu lagi Saca bakal apa. Ingin rasanya Saca mengumumkan pada semua orang dia kembali balikan!!!!!


"Terima kasih sudah mencintaiku. Aku lega, Leo. Aku lega doaku selama ini terjawab."


"Kamu berdoa untuk kita?"


"Kita pulang dulu balikin mobilmu. Lalu kita jalan-jalan memulai kencan perdana kita? Setuju?"


"Aku mau ke taman hiburan, darling." Saca semangat mengangguk mengerlingkan matanya, membuat Leo tertawa renyah yang menyalurkan Saca ikutan tertawa.


Dua sejoli yang terpaut waktu. Antara cinta dan menunggu. Prinsip kuat seiring waktu akan terpatahkan dengan waktu yang kian bergulir menjawab keadaan. Andai Leo tak membuang waktu selama itu. Tujuh tahun akan terasa  singkat.


"Siap, sayang." sekali lagi Leo memeluk Saca yang nampak malu mencoba menjauh. Tak gentar Leo tetap mengejar Saca untuk jatuh dalam pelukannya.


**


Leo mengemudi sambil menoleh Saca. "Jadi itu alasanmu?" Mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat makan setelah lelah jalan-jalan sesuai permintaan Saca. Leo yang menyetir.


Alasan sangat susah mencari tahu tentang Saca di sosial media yang minim foto.


"Yeah, aku berpikir mungkin aku harus terlihat tegar dan kuat dengan tidak perlu menampilkan apapun tentangku yang menonjol. Supaya kalau kamu mencari tahu nggak ada info yang bisa kamu dapat. Mau tidak mau kamu akan penasaran menanyakan langsung padaku. Sayang! Sikap dinginmu tidak bisa ditolerir. Satu pesan pun tak ada." Perempuan itu kecewa mengingat Leo yang terus membuatnya galau hampir tahunan hanya karena menunggu sebuah pesan.


Senyum menang menghiasi wajah Leo yang membuat Saca mendesis sebal. "Aku penasaran kok. Bahkan memfollow teman-temanmu yang pasti ada kamu di sana. Sayang! kamu selalu menutupi wajahmu."


Jangan dikira Leo lelaki tanpa perjuangan. Semua cara ia usahakan bagaimana caranya untuk mendapatkan foto dan berita terbaru tentang Saca. Tentu saja susah, kalau Saca saja jarang foto. Leo terlalu pencundang untuk berani menghubungi Saca.


"Apa?" Saca membeo makin kecewa.


"Kamu sudah melihatku sekarang. Unfollow mereka!" tegasnya marah. Ponsel Leo yang tergeletak di dashboard langsung diambil kasar. Kelamaan kalau menunggu.


Suara kekehan Leo makin membuat Saca dongkol. "Baik, tuan putri yang posesif berbeda dari sebelumnya," ledek Leo menjawil dagu Saca gemas.


"Udah tahu password-nya belum?"


"Apa? Saca bukan peramal ya tolong."


"Saca cute abis tanpa spasi," datar Leo lancar tanpa beban.


"Apa? Kau yakin bicara serius?" tanya Saca ngegas. Mana mungkin Saca percaya Leo sealay itu. ini Leo loh bukan para mantannya yang alay. Leo itu pria dingin yang kelewat kaku dalam bercinta.


Apa Leo sudah ketempelan setan perawan karena lama ngejomblo? Apa Leo mungkin cikal bakal calon ngebucin? Apa Leo yang dulu masih Leo yang sekarang?


"Aww, kamu tercengang pasti." Leo bahkan tak memberi waktu Saca tercengang sebentar. Bikin Saca lemas tahu!


"Apa sih yang kamu pikirkan? Aneh tahu nggak!" Saca pura-pura tak tersipu. Wajah merahnya makin membuat Leo ingin terus menggodanya.


"Iya tapi kamu suka, kan?"


Saca gak kuat lagi menatap Leo yang super jantan. "Huumm..." Angguk Saca kegirangan menyembunyikan letupan api asmara memenuhi hatinya. Indahnya jatuh cinta, Saca tidak mau bangun jika ini mimpi.


Jantungku Ya Allah, gak kuat!!!!! Saca lemah Ya Allah.


Saca menatap jalanan dari luar jendela menahan jungkir balik dirinya menerima percikan-percikan api cinta yang terus dikobarkan Leo. Tak salah Leo belajar romantis semenjak putus dari Saca terakhir kali.