
Hoiaaaa akhirnya aku hadir di chanel ini. Yup semoga kalian enjoy, happy, tertarik semoga yaaa.
Sebenarnya ini bukan pertama kali aku menulis. Aku juga menulis di tempat lain...
Jangan lupa like, komen and follow!
Selamat membaca....
Mata kuat itu menyorot lekat jauh pandangannya ke depan. Menyorot manik mata yang juga membalas tatapannya. Mereka saling diam, tertegun satu sama lain. Memburu detak jantung bergumuruh mengguncang dada keduanya, namun sang pria terlihat lebih tenang. Siapa yangtahu pria itu juga mati-matian menahan kegugupannya yang luar biasa ia cobakendalikan.
Waktu yang berlalu tertebus sudah dengan pertemuan singkat itu. Batin mereka terkesiap akan pertemuan mengejutkan yang tidak pernah ia duga namun selalu sama-sama mereka inginkan.
Saca, perempuan itu membekukan bibirnya untuk sepatah kata yang ia ingin ucapkan. Bibirnya meragu perihal gejolak hati yang ingin bicara namun menolak karena ego yang lebih kuasa. Rasa kagetnya lebih besar dari sejuta pertanyaan yang sudah Saca simpan selama ini dalam 7 tahun terkahir.
"Tunggu, Saca!" Suara panggilan Leo memanggil namanya menghentikan langkah Saca yang sudah berbalik. Dirinya masih diam membelakangi.
"Aku..." Leo terbata mencari kata apa yang pantas diucapkan untuk Saca. Jika dia menahannya akankah ada kesempatan langka menghampiri hidupnya seperti sekarang. Menahannya sekali dia bisa tapi tidak ada waktu untuk kedua kalinya. "Bisa bicara?"
Perempuan itu tampak mengatur ritme denyut napasnya yang tak beraturan sebelum berbalik kembali menghadap pria yang mengejutkan hidupnya.
Pria itu tersenyum kaku setelah bergumul dengan perasaan rumitnya. "Udah lama."
Entah apa maksud perkataan Leo yang jelas Saca dilema memaknainya. Dua kata yang bisa menyiratkan berbagai makna. Sudah lama hubungan mereka rumit dan kacau atau sudah lama pertemuan perdana mereka terjalin. Saca tidak mau salah ambil kesimpulan.
"Udah lama ya kita nggak ketemu. Kamu di sini baru datang apa udah lama?" Itulah ucap kata lanjutan Leo.
Saca tercenung sesaat baru kemudian mulutnya membuka suara. "Aku baru dateng," ujarnya yang tak kalah canggung bagi pendengaran Leo.
"Kamu temannya Ryan?" tanya Saca mulai membuka obrolan.
"Oh bukan, aku teman SMA istrinya, Via."
Saca mengangguk mengerti. Rasanya sudah tidak ada lagi obrolan yang perlu dilanjut. Leo tadi mengatakan ada yang ingin pria itu bicakan tapi, lihat! Lelaki itu bahkan diam seribu bahasa. Dia hanya dan hanya menatap Saca. Apa ada sesuatu yang aneh di wajah Saca. Saca semakin canggung. Pikirannya berkelana negatif. Bisa gawat kalau ternyata ada hal buruk di mukanya. Saca salah tingkah meraba wajahnya canggung.
Ia akhirnya beralih menuju prasmanan yang disediakan terletak berjejer dekat tempatnya berdiri.
"Aku juga mau baksonya." Rupanya Leo menbuntuti langkah Saca. Ia berdiri di samping Saca menunjuk bakso yang hendak di ambil perempuan itu. Masih dengan pandangannya yang tidak lagimenatap tepat mata Leo.
Sama-sama tak tahu harus gimana mereka memilih makan baksonya sambil duduk bareng bersebelahan. Di tempatnya berdiri Saca melihat seseorang yang ia kenal melambai tangan mesra dengan senyuman maut khasnya yang selalu ia berikan khusus untuk Saca. Kali pertama Saca sangat berterima kasih pada pria itu.
"Hai," sapa Saca duluan ketika Kevin menghampirinya. Kevin tidak sendiri, tapi ada wanita lain juga yang tak bukan adalah Bela.
"Aku kira kamu nggak datang. Tadi aku kirim pesan nungguin kamu. Untung ada Bela yang kasih tahu kalau kamu udah duluan. Bisa nggak ketemu kamu kalau terlambat heehe." Kevin cemberut. Lelaki itu tadinya mau ikutan bareng sama Saca. Tidak! Yang benar adalah dia ingin Saca bareng dengannya sekaligus menjadi pasangan gandengan di acara nikahan. Sayang seribu sayang Saca malah pergi duluan.
Kevin melirik Leo yang baru selesai memakan baksonya. "Dia?" tanyanya ramah yang berujung kesal. Apa karena lelaki itu Kevin ditinggalkan. Kebiasaanpria itu langsung nyolot jika Saca bersama pria lain, Saca seolah hak paten miliknya yangtidak boleh diganggu gugat.
"Dia temanku."
"Teman apa teman hayo?" ledek Bela ikut duduk di sebelah Saca. Ia melirik Leo dan Saca bergantian. Bela mencium bau-bau yang aneh jika ia hanya diam sementara Saca tidak seperti biasanya. Sudah lama semenjak Bela akhirnya bisa melihat wajah Saca yang berbeda itu.
Dingin namun diselimuti hangat.
"Ya temanlah. Saca kan, punyanya aku," sahut Leo langsung ngegas. Benar-benar kekanakan batin Saca.
Pria itu seketika langsung menarik jemari Saca berdiri. Melihat Leo entah kenapa Kevin merasa tidak tenang. Hatinya gusar. Sudah lama ia mengejar Saca hampir setahun lamanya. Jangan sampai tikungan itu ada untuk menggagalkan kisah cintanya.
"Kami teman kantor. Kau sendiri?" sinis Kevin yang bersamaan dengan itu Saca melepas genggamannya. Diteruskan sedetik lebih lama entah bakal seperti apa. Aura permusuhan saja sudah mengepul diraut wajah kedua pria tampan itu.
"Aku merasa nggak asing dengan namanya ya kan, Sa?" bisik Bela dengan sangat keras. Saca langsung menyenggol pinggang kanan Bela yang mengadu kesakitan.
"Aku Kevin, calonnya." Kevin menekankan kata calon. Hari gini bukan hanya bibit-bibir pelakor yang bertebaran, perebut istri orang juga merajalela.
"Ngaku-ngaku ama ngarep beda tipis emang," sindir Bela bermaksud menengahi dua pria asing yang bakal berkelahi kalau tidak segera dipisahkan. Batin yakin Bela yang selalu punya imajinasi tinggi.
Kevin memicing kesal. "Bentar. Bentar lagi kamu bakal aku timpuk pakai undangan. Tunggu!"
"Undangan khitan kali ah!" celetuk Bela. Sementara dirinya yang berhasil memecah ketegangan mereka, hanya mengangguk mantab seolah menantang Kevin segera membuktikan ucapannya bukan hanya bualan belaka.
Pas acara foto dengan pengantin. Leo berebut keras mempertaruhkan posisi agar bisa berdampingan dengan Saca. Kevin menyadari aroma-aroma tikungan tajam yang siap menggeser posisi amannya. Tak mau ambil resiko ia pun ikutan memepet Saca. Jadilah Saca diapit dua pria tampan di kanan kirinya.
"Saca? Dia di mana? Ke mana sih udah ngilang aja?!" tanya Dista pada Bela yang sedang menunggu pergi ke toilet.
"Baru aja pulang. Mungkin masih di parkiran."
"Ada yang aneh gak sih menurutmu?" Dista langsung menarik kursi mendekat persis depan Bela, juga menarik ponsel dalam genggaman Bela.
"Kamu tu ngapain sih? Balikin! Siapa? Dia normal kok nggak aneh," jawab asal Bela yang kembali sibuk chattingan dengan pacarnya.
"Apa kamu gak perhatiin sikap Saca yang dingin ke Leo? Mereka kayak bukan teman."
Bela tersadar. Ia segera menatap Dista serius. "Kurasa begitu. Saca sangat cuek bahkan dia menghindari Leo. Beberapa kali kuperhatikan Saca menghindari tatapan Leo. Iya nggak sih?"
"Iya, aku kira aku aja yang lihat. Kamu juga? Mereka pasti ada yang lain. mari kita bayangkan." Dista memicing penasaran.
"Sesuatu maksudmu?"
Tiba-tiba Kevin datang dari belakang merangkul bahu mereka secara mengejutkan. "Lagi ngomongin apa sih?" tanya Kevin dengan suara tenangnya.
"Ngagetin banget si kadal!" maki Dista spontan sambil mengelus dada.
"Lebay amat. Orang situ kaget sendiri."
"Kamu udah dari belakang?" tanya Bela.
"Ayok pulang. Aku harus cepetan tidur buat ntar malam jalan sama ayang beb," ajak Bela langsung pergi takut kena intergasi pria itu.
"Serius nggak ada yang mau jawab pertanyaanku?" Kevin menajam menyorot Dista.
"Yang mana? Kami nggak lagi bicara serius." Sikap Dista yang sudah terkendali berhasil mengelabuhi Kevin.
TOK TOK
Dari balik kaca jendela mobil. Seorang pria tampak mengetuk kaca jendela Saca dari luar. Saca terkejut bukan main. Lelaki itu sampai mengikutinya tapi kenapa? Ada urusan apa hingga dia melakukan itu.
"Ca? Kau bisa mendengarku?"