THE LOVE OF MY LIFE

THE LOVE OF MY LIFE
4. Mobil hitam



Menikmati kebersamaan bersama orang yang kau cintai dalam waktu cukup lama, sepertinya cintamu tak akan pudar termakan usia. Dari awal mengenal cinta Leo memang tidak langsung cinta pada pandangan pertama pada Saca.


Awal pertemuan mereka didasari karena ketidaksengajaan yang mengharuskan satu kelas di jenjang masa sekolah pertama. Tepatnya kelas delapan. Kelas yang dicampur aduk menjadi satu demi mendapatkan bibit unggul calon siswa untuk dipersatukan.


Saca dari kelas paling riuh akan kebodohan dan kenakalan menjadi Saca yang bersatu bersama para para murid bibit unggul. Leo bersama teman-temannya mendominasi kelas tersebut. Tidak ada yang tidak tahu siapa Leo. Anak tampan yang meraih paralel nomor satu seangkatan. Semua orang makin tahu Saca karena gadis yang dicintai Leo.


Ya, disitulah awal jalinan pertemanan mereka. Sebenarnya justru mereka saling acuh satu sama lain. Saca benci dengan Leo kala itu. Bagaimana Leo yang dulu paling pintar namun, paling menyebalkan karena terus mengejar cinta Sara. Selayaknya pria bodoh paling konyol di masa mudanya. Bagaimana Leo yang sombong karena Saca terlalu pendiam tak punya teman yang suka membandingkan kecerdasannya dengan Sara.


Dia pikir Saca peduli setan dengan komentarnya? Jangan harap!


Bagaimana Leo tidak mengenal lelah mengejar Sara yang tidak mencintainya malah pacaran dengan Kaka, sang ketua kelas. Sara bahkan sering merasa cemburu pada Saca karena perhatian berlebih Kaka. Leo apalagi, dia mengejar Sara tapi Sara sudah milik Kaka lalu pria bedebah itu malah mengagumi Saca.


Cinta memang memuakkan.


Leo patah hati dan merana. Cintanya kandas dimiliki yang lain. Saat patah hati itulah nurani Leo berbunyi untuk segera move on, dan di sana ia baru menyadari tak ada Sara, Saca pun jadi. Awal yang manis untuk kisah cinta mereka. Hingga Saca yang makin kenal dengan yang lain menampakkan jati dirinya. Mengencani pria-pria di kelasnya sesingkat dia mendapat ganti yang baru.


Perlu diingat gaya pacaran Saca sangat sehat. Ia tidak suka sentuhan. Melewati itu, jangan mimpi Saca bakal memberi maaf.


Saca terus berkelana, membiarkan Leo terluka akan patah hatinya. Putus nyambung jalinan asmara itu terus berjalan begitu terus hingga sampai ketiga kalinya Leo merasa sudah cukup dia jadi mainan Saca. Gadis itu terus meminta putus tiap kali ia tergoda pria lain. Sudah cukup Leo memberi kelonggaran Saca untuk terus menyakitinya. Sudah cukup semua rasa yang dimiliki untuk Saca bertahan sampai masa kuliahnya. Leo menyerah. Leo juga sangat marah.


Setelah semua yang terjadi Leo munafik kalau mengaku melupakan Saca. Kenyataannya Leo sangat bahagia akhirnya bisa kembali dengan Saca. Terlepas Saca sudah berubah atau belum Leo tak peduli. Ia akan semakin keras dengan Saca jika wanita itu mengulang perbuatannya. Leo akan menunjukkan sisi jantannya sebagai pria terlatih patah hati.


“Kamu harus suka aku yang sekarang,” pungkas Leo sambil menunggu makanan yang dipesan datang.


“Ehh yang itu…” Saca berusaha mengelak.


“Tidak. Mulai sekarang aku akan membatasi teman pria termasuk segala isi di HP-mu. Aku nggak mau yang dulu terulang.”


Belum menikah saja sudah separah ini mau ngatur. Untung Saca cinta kalau tidak udah Saca putusin saat ini juga tanpa pikir ulang.


“Baiklah. Lakukan sesukamu.”


“Jangan cemberut gitu. Ini demi kebaikan kita.”


“Ya aku tahu.”


“Hhahaha!” kekeh Leo melihat wajah datar Saca. Perempuan itu pasrah dengan perintahnya. Leo suka. Leo suka Saca yang penurut karena Leo dominan.


“kamu masih berhubungan dengan mantan-mantanmu?”


“Seperlunya. Aku nggak yang dulu yang bikin kamu cemburu atau sering buat kecewa. Aku sudah tobat.”


“Uh, imut sekali. Bikin makin cinta makin ingin segera menikahimu.”


Leo merogoh sesuatu kecil dari saku jaketnya. Benda kecil yang tidak pernah yakin akan jadi kenyataan untuk diberikan pada pemiliknya. “Ini.”


“Hah?” Saca terpaku menatap cincin putih yang melekat cantik di jari manisnya.


“Aku sudah membelinya lama.”


“Tapi kenapa?” Mata Saca sudah memerah ingin menangis. Pertama kali mimpi lamanya terwujud.


“Kamu mau kan, kita menikah 3 bulan lagi?” Kecupan hangat dari bibir Leo menghantarkan Saca yang makin meleleh.


“Iya aku mau,” pasrahnya.


Senyum Saca sudah seperti bocah kecil yang mendapatkan mainan baru. Ia tersenyum selama bergandengan tangan dengan Leo. Menikmati suasana sore menyusuri jalanan yang sudah dipadati aneka bakul jajanan di sepanjang jalan. Ragam kuliner yang bisa dinikmati setiap hari sabtu minggu di kota tersebut. Mulai dari makanan tradisional hingga modern semuanya tumpah ruah bisa ditemukan di sana.


Apalagi jemari Saca terpasang cincin imut. Saca makin besar kepala dong merasa tidak jomblo lagi. Maklum kelamaan jomblo membuat jiwa pamernya meronta.


“Saca kau sangat mencintaiku, kan?”


“Tentu, aku sangat sangat sangat banget cinta sama kamu.” Saca mendapat hukuman cubitan gemas di hidungnya. Salah Saca sendiri bikin Leo makin sayang dengan kemanjaannya itu. Tatapan matanya bikin Leo lemah.


“Ciee bucin.”


“Ihhh… kayak kamu enggak?”


“Kalau gitu kalau aku pergi apa kamu mau ikut?” tanya Leo tidak ada maksud apapun.


“Pergi? Mau ke mana memang? Luar negeri? Nanti aja pas kita honeymoon aku mau banget diajak ke sana.”


“Mau nggak ikut?” ulang Leo karena tak kunjung mendapat jawaban yang diharapkan.


“Ke mana dulu?” Saca tidak berpikir punya rasa curiga dengan pertanyaan absurd Leo.


“Jauh,” tandas Leo masih menggenggam jemari erat Saca.


“Tiga bulan lagi kita nikah, mau ke mana kamu? Nggak usah ngajak aku yang aneh-aneh sebelum nikah. Dosa tahu!” peringatnya kalau-kalau Leo memiliki niat terselubung. Biasanya orang-orang pada gitu melakukan hal wajar baginya yang itu sangat tidak memenuhi norma agama menurut Saca.


“Kalau kamu nggak ikut biar aku sendiri.” Langkah kaki Leo terhenti memaksa Saca mendongak mengernyitkan dahi. Saca makin mengernyit saat Leo menyentuh kedua bahunya. “Tunggu bentar aku beliin arum manis kesukaanmu.” Leo menunjuk penjual arum manis di seberang jalan menggunakan dagunya.


“Aku mencintaimu, Saca.”


“Bucin kamu ya?”


“Aku juga mencintaimu Leo, hehee.”


Saca tercenung dalam. Kalau saja bukan seperti ini suasananya dia tak kan protes, lebih-lebih ambil pusing. Perempuan mana yang tak klepek-klepek prianya masih mengingat betul makanan kesukaannya saat kecil.


Masalahnya kenapa Leo harus mencium keningnya. Ya itu lebih baik daripada mencium bibirnya. Tapi, apa Saca berlebihan memikirkan ciuman yang lama dan panjang itu di pinggir jalan. Diakhir momen so sweet itu, Leo memberikan kecupan kening. Lama dan panjang!


Saca yang terus bertanya-tanya dalam keterdiaman segera menoleh Leo. Dari sana pria itu sudah setengah jalan memunggunginya menuju penjual arum manis. Pikir Saca Leo punya ikatan batin yang kuat tentangnya, buktinya Leo menoleh ke belakang menatapnya.


Dan tersenyum. Senyum yang tanpa sadar membuat Saca berurai air mata.


Rasanya satu kedipan saja tak lebih. Satu kedipan mata untuk ia melihat senyum Leo yang tenang itu. satu kedipan saja untuk Saca rasanya ingin mati saat itu juga.


Mata Saca membelalak lebar. Jantungnya seperti dilempar dari posisinya dengan kencang. Semua terjadi begitu cepat. Mobil berkecepatan tinggi itu menghantam tubuh Leo yang tersenyum menatap Saca. Mobil mercedes warna hitam yang hilang kendali akibat rem blong di jalanan ramai penuh lalu-lalang para pejalan kaki.


“Leo??!!! Awas, Leo!!!!” raung Saca berlari menyusul kekasihnya bersamaan suaranya yang teredam bising akibat bunyi mobil menghantam kuat badan Leo.


BRAAKKKKKKK!!!!!!