The Hidden Princess

The Hidden Princess
5



Saat aku masih memperhatikannya, suara Paman Zein membuatku tersadar dan tiba-tiba dia pergi. Aku melihat kuda mendekat. Ayah dan Paman Zein langsung menatapku. "Kenapa kau menghilang?" tanya Ayah. Aku mengangkat bahuku. Aku mana tahu.


"Sebaiknya kita kembali ke kerajaan, Yang Mulia." Ayah mengangguk kemudian menglurkan tangannya ke arahku. Ya Tuhan, dia beneran Ayahku, 'kan?


Aku menerima uluran tangan Ayah lalu menaiki kudanya. Akhirnya kita kembali ke kerajaan.


Bibi Pufy dan Bibi Nira sudah menunggu di depan pintu gerbang. Saat melihatku, mereka berdua langsung menyambutku lalu membawaku kembali ke kamar, sebelum kembali, aku bisa melihat Ayah dengan senyun tipisnya. Aku bahagia. Bisakah aku bahagia dengan Ayah?


Aku membaringkan tubuhku di atas kasur empukku. Menurutku Ayah tidak terlalu buruk. Aku pasti bisa bahagia dengan Ayah.


"Tuan Putri, Yang Mulia ingin anda menemuinya di tempat pelatihan pedang." Aku mengangguk. Merapikan gaunku lalu menuju ke tempat pelatihan pedang. Tapi, kenapa Ayah mengajakku ke sana?


Saat aku sampai, aku melihat Ayah yang sedang bertarung pedang dengan Paman Zein. Aku hanya menonton. Permainan pedang Ayah sangat bagus dan dia tau kapan menyerang dan menghindar.


Saat pertarungan selesai, aku mendekat kemudian memberi salam. "Kau bisa bermain pedang, bukan?" Aku mendongakan wajahku. Jadi Ayah menantangku untuk bermain pedang? Boleh juga.


"Baiklah, aku akan bermain pedang dengan Ayah." Ku lihat wajah Bibi Pufy, Bibi Nira dan Paman Zein langsung terlihat cemas. "Tapi Yang Mulia, Tuan Putriโ€”"


"Paman tidak perlu khawatir, aku bisa bermain pedang." Mereka hanya bisa menatapku dengan perasaan cemas. Aku mengambil pedangku lalu memasang kuda-kuda.


Aku bisa melihat raut meremehkan dari wajah Ayah. Dia memang Raja yang kejam. Dulu Ayahku bahkan tak sekejam Ayah yang sekarang.


Karena aku dan Ayah sama-sama belum ada yang menyerang, aku memilih untuk yang pertama menyerang. Ayah menghindar namun sayang bukan lengannya titik fokusku tapi kaki.


celana bagian betis Ayah robek dan keluar darah dari sana, tapi Ayah tetap bertahan dan mulai menyerangku. Aku berusaha bertahan dan menghindar. Serangan Ayah sama persis seperti serangan sahabatku Zarvion. Aku bisa menebak tak-tiknya. Sangat mudah ditebak.


Hasilnya seri, walau aku tak terluka sama sekalu dan Ayah mengalami luka di kakinya. Aku kembali melihat Ayah tersenyum tipis ke arahku. Aku meletakkan pedangku lalu mendekati Ayah. "Bagaimana keadaan kaki Ayah? Sakit?" tanyaku. Ayah duduk di salah satu kursi lalu merobek setengah dari celana panjangnya.


Luka robekannya sangat besar dan darah terus keluar tanpa henti. Ups, sepertinya aku terlalu serius. "Yang Mulia, apakah anda baik-baik saja?" Paman Zarvion mengambilkan kotak perban lalu mulai mengobati luka Ayah. Namun, sebelum Paman Zein mulai mengobati, Ayah memandangku.


"Jika berani berbuat, kau juga harus berani bertanggung jawab. Viviana, obati luka Ayah."


Apa?! Ayah memintaku untuk mengobatinya? Aku kan tidak pernah memegang peralatan itu sekalipun. "Tapi, Yahโ€”" Ayah menggeleng lalu menatap datar ke arahku.


Aku hanya bisa mengembuskan napasku dengan berat. Lalu mulai mengobati luka Ayah. Meski terlihat sangat berantakan.


Setelah selesai, Ayah pergi, jalannya tidak terpincang dan masih tegak sama seperti sebelum terluka. Aku membuka mulutku saking terkejutnya. Dia benar-benar makhluk ajaib.


Aku kembali ke kamarku dengan diikuti Bibi Pufy dan Bibi Nira. "Tuan Putri, anda sangat pintar bermain pedang. Sebelumnya tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkan cara berpedang Yang Mulia."


Aku tersenyum. Berarti aku masih jadi yang terbaik abad ini. Aku menatap Paman mentri dengan datar. Kenapa dia menghancurkan mood ku?


Dia memberi hormat lalu mulai membual. Aku benci Paman itu dan kenapa dia harus bertemu denganku? "Salam Tuan Putri, bagaimana kabar anda?"


"Tidak, aku tidak butuh teman. Dan sebaiknya paman cepat pergi dari sini." Setelah aku mengatakan itu Paman mentri langsung pergi. Dia pikir dia siapa, aku tidak pernah mau bertemu dengannya apalagi berteman dengan putrinya.


Aku kembali ke kamar, berendam air hangat. Aku berpikir, mungkinkah Ayah menyayangiku? Dia saja sedingin es. Tapi, kenapa tidak? Bukankah aku putrinya?


Aku memjamkan mataku lalu menenggelamkan wajahku. Aku lelah, jadi seperti ini jika harus hidup kembali. Di sejarah mengatakan kalau dulu setelah bertarung dengan Zarvion, aku bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis dengan rambut silver dan mata pelangi. Jadi, setelah si rambut silver dan mata pelangi mati, barulah aku masuk ke portal? Jadi aku mengalami kematian dua kali?


Kalau tau gitu aku nggak usah minta di idupin lagi. Aku mengembuskan napasku lalu keluar dari air, mengeringkan badan lalu memakai gaunku.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Enam Tahun Kemudian


"Putri, pakai perhiasan anda."


"Tuan Putri, mari saya pasangkan sepatu anda."


"Tuan Putri, jangan bergerak. Saya belum selesai merapihkan rambut anda."


"Yang lain, cepat pasangkan pita di pinggang Tuan Putri."


Huft ... kenapa mereka ribut sekali? Padahal ini kan hanya pesta ulang tahun biasa. "Kenapa kalian sangat ribut?" Semua pelayan tak menghiraukanku. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.


"Tuan Putri, ini bukan hanya acara ulang tahu biasa. Semua bangsawan dari berbagai kerajaan di undang untuk hadir di pesta ini. Bukankah hari ini sangat spesial? Saya tidak menyangka umur anda sekarang sudah dua belas tahun Putri."


Memangnya apa yang istimewa? Menurutku sama saja. "Akhirnya selesai." Aku menatap diriku sendiri di cermin. Waw, aku tidak pernah menyangka aku akan secantik ini. Gaun pink dan mahkota di kepalaku sangat cocok dan Pita besar di gaunku ini sangat indah. Aku menyukainya.


"Baiklah, mari kita turun ke bawah karena semua orang sudah menunggu anda, Tuan Putri." Aku mengangguk. Lalu turun dari kursiku. Aku berjalan dengan anggun. Saat prajurit membukakan pintu aula dan mengumumkan kehadiranku, semua orang memandangku. Aku melihat berbagai tatapan, ada yang kagum, sinis, iri, dll.


Aku tersenyum pada Ayah. Dia terlihat sangat berbeda. Kalau di pikir-pikir, jika dia berpakaian ala raja sempurna, dia menjadi sangat sempurna.


Acara ulang tahun berjalan dengan lancar. Saat ini orang-orang sedang berdansa dengan pasangannya. Aku hanya bisa mengembuskan napasku. Aku juga ingin berdansa, tapi dengan siapa? Ayah?


Tapi, tunggu. Aku melihat Ayah sedang berdansa di sana, mereka menjadi pusat perhatian. Tapi, siapa yang sedang berdansa dengan Ayah. Tanpa sengaja aku melihat gadis itu menginjak kaki Ayah. Aku ingin tertawa.


"Tuan Putri, sebuah kehormatan jika anda mau berdansa dengan saya." Aku menatap seorang laki-laki membungkuk di hadapanku sambil mengulurkan tangannya.


"Maaf, tapi saya tidak mengenal anda." Laki-laki itu menegakkan badannya. Aku pikir dia adalah pangeran dari kerajaan lain, terlihat dari pakaian yang ia kenakan. Umurnya ... aku pikir umurnya enam belas tahun.


"Maafkan saya, nama saya Azerin. Azerin Cristalia." Aku mengangguk. Lalu kembali fokus menatap Ayah. "Kamu tahu siapa gadis yang sedang bersama Yang Mulia Zarvion?" tanya Azerin. Aku menatapnya.


"Memangnya siapa dia?" tanyaku. "Dia Putri Sofia. Aku dengar, dia adalah Putri Mentri dari Ayahmu." Aku mengangguk. Aku kembali menatap Ayah. Mereka terlihat seperti Ayah dan anak. Tunggu, diakan gadis yang aku temui di hutan kematian. Kenapa Ayah mau berdansa dengannya? Bahkan aku, putrinya saat aku ajak Ayah menolak.