The Hidden Princess

The Hidden Princess
Prolog



Seorang laki-laki dengan seringainya memegang pedang yang berlumuran darah. Di depannya, seorang wanita dengan beraninya menatap dengan menantang.


"Viana, ada kata-kata terakhir?"


Viana adalah wanita hebat kala itu, namanya terukir dengan indah sebagai sejarah, legenda kekuatan Galaksi.


Zarvion, dia serigala berbulu domba. Selama ini Viana memang memiliki banyak musuh, dia tidak percaya kepada siapapun dia percaya pada Zarvion karena dia adalah sahabat kecilnya.


"Jika aku hidup kembali, aku ingin bisa percaya pada orang lain, aku ingin banyak orang menyayangiku, meskipun mereka hanya berpura-pura. Aku ingin bisa bahagia, meski hanya sesaat," ujar Viana. Zarvion tersenyum sinis. Dia langsung mengayunkan pedangnya ke arah Viana. Viana memejamkan matanya, dia siap untuk menerima ajalnya.


Namun, dia tidak merasakan apapun. Viana membuka matanya perlahan. Cahaya lembut menyentuh retina matanya. Viana mengerutkan keningnya.


Dia bukan lagi berada di medan perang, tapi dia berada di sebuah  padang rumput yang indah. Banyak bunga dandelion yang bergoyang-goyang terkena angin.


Viana tersenyum, dia memetik bunga dandelion lalu meniupnya. Senyumnya sangat indah. Viana berlari sambil menyentuh setiap bunga yang dapat ia gapai. Bunga dandelion itu beterbangan. Senyum Viana semakin mengembang.


Dia berjalan mendekati sebuah pohon di dekatnya, kemudian duduk di bawahnya.


"Hai, Viana."


Viana menegakkan tubuhnya, dia langsung menatap ke belakang. Senyumnya memudar, dia mengerutkan keningnya saat melihat seorang wanita dengan gaun dan hiasana kepala yang indah.


"Siapa kamu?" tanya Viana. Wanita itu mendekati Viana, lalu menggenggam kedua tangannya.


"Kamu tidak perlu tau aku, aku hanya ingin memberimu satu kesempatan?"


"Kesempatan apa?" tanya Viana. Wanita itu melepas genggaman tangannya, sedikit mengundurkan dirinya. Lalu ketika tangannya mengayun ke atas, sebuah portal tercipta di antara wanita itu dan Viana.


"Aku memberikan kesempatan padamu untuk bisa hidup kembali, sesuai dengan keinginanmu sebelum ajal menjemput. Namun kau tidak akan mendapatkannya begitu saja dengan mudah."


Viana mengerutkan keningnya, saat dia akan bertanya lagi, Viana tersedot ke dalam portal itu.


🍁🍁🍁


Bayi yang berumur satu tahun itu membuka matanya, mata pelangi cerahnya sangat indah. Warna mata itu mewariskan warna kerajaannya. Kerajaan Encenshia. Kerajaan terbesar dan terkenal sangat makmur.


Putri kerajaan Encenshia. Viviana Zarvion Encenshia. Seorang putri yang di telantarkan ayahnya sendiri. Raja Zarvion Encenshia.


Viviana mengerjapkan mata bulatnya yang indah. Samar-samar dia bisa mendengar orang-orang yang sedang bicara.


"Aku merasa kasihan pada Putri Viviana. Yang Mulia bahkan tidak pernah sekalipun menggendongnya."


"Kenapa kamu merasa kasihan? Yang Mulia itu sangat benar, dia tidak pernah menggendong Viviana karena anak itu tidak memiliki kekuatan Encenshia."


"Tapi mungkin saja kekuatannya tersenyembunyi karena dia masih kecil."


"Sudahlah, aku hanya membuang waktu jika bicara denganmu Lila."


"Tuan Putri, anda sudah bangun. Mari kita mandi," ucap wanita itu. Wanita itu lalu menggendong Viviana, membawa ke kamar mandi.


Setelah memakaikan pakaian Vivian, Lila menguncir rambut Viviana yang berwarna silver.


Viana POV


Aku masuk ke dalam portal itu, aku sama sekali tidak melihat ujung lorong ini, maka aku hanya memejamkan mataku.


Ketika aku membuka mataku, aku bukan lagi berada di portal cahaya, aku berada di sebuah ruangan yang indah.


Kenapa aku susah untuk berdiri?


Saat aku menatap ke sekitar, samar-samar aku mendengar suara percakapan.


"Aku merasa kasihan pada Putri Vivian. Yang Mulia bahkan tidak pernah sekalipun menggendongnya."


"Kenapa kamu merasa kasihan? Yang Mulia itu sangat benar, dia tidak pernah menggendong Vivian karena anak itu tidak memiliki kekuatan Encenshia."


"Tapi mungkin saja kekuatannya tersenyembunyi karena dia masih kecil."


"Sudahlah, aku hanya membuang waktu jika bicara denganmu Lila."


Percakapan selesai. Aku mengedipkan mataku. Seorang wanita tersenyum ke arahku. Aku yakin dia adalah Lila.


"Tuan Putri, anda sudah bangun? Mari kita mandi," ucap wanita itu. Aku mengerjapkan mataku. Wanita itu lalu menggendong ku, membawaku ke kamar mandi. Kenapa aku merasa seperti anak kecil? Atau aku terlahir kembali menjadi seorang anak?


Kalau begitu, berarti namaku adalah Viviana dan nama ayahku adalah Zarvion. Kenapa aku terlahir kembali dengan menjadi seorang putri, kenapa aku tidak di lahirkan di keluarga biasa yang harmonis dan saling menyayangi?


Dan kenapa nama ayahku Zarvion? Nama itu mengingatkanku pada sahabatku. Sahabat yang sangat aku percayai namun mengkhianatiku.


Bibi Lila memberikanku sebuah mainan, awalnya aku senang. Tapi lama-lama itu sangat membosankan. Sebenarnya jengkel juga sih, harus terlahir kembali menjadi seorang anak kecil dengan pikiran dewasa.


Tapi kenapa aku harus menjadi seorang anak kecil, kenapa aku tidak terlahir menjadi seorang putri raja yang sudah besar dan hidup bahagia bersama Pangerannya?


Sebenarnya tidak buruk untuk menjadi legenda kekuatan Galaksi, namun aku juga ingin seperti gadis lainnya. Bisakah itu terjadi padaku?


Aku merangkak keluar dari kamarku, aku melihat pintu kamar yang tidak di kunci, sepertinya Bibi Lila lupa menutup pintu dengan benar.


Aku merangkak keluar dari kamarku. Aku merangkak terus hingga seseorang mengangkat tubuhku. "Ya ampun, Tuan Putri. Kenapa anda bisa sampai di sini?" tanya Bibi Lila. Aku hanya memandanganya dengan mata bulatku.


"Ayo kita ke kamar anda, Tuan Putri." Bibi Lila berjalan kembali ke kamar sambil menggendongku. "Uaaa ... eaaa ...." Kenapa aku justru menangis? Tapi tidak apalah, yang penting Bibi tidak membawaku kembali ke kamar.