
Aku membuka mataku saat Bibi Lila membangunkanku. Aku bangun lalu mengerutkan keningku. Aku tidak menyangka Bibi Lila akan melakukan ini. Dia membawa sebuah piring berisikan kue berbentuk lingkaran dan di atasnya bertuliskan 'Happy birthday 6 th Putri Viviana'.
Aku menitihkan air mataku, Bibi Lila sangat baik padaku, aku bahkan sudah menganggapnya seperti ibu kandungku sendiri. Tapi, sedetik kemudian aku terdiam. Aku ingin bertemu Ayah, aku ingin dia mengucapkan selamat ulang tahun padaku secara langsung.
"Tuan Putri, kenapa anda terdiam. Sekarang buatlah permintaan lalu tiup lilinnya." Aku mengangguk, kemudian memejamkan mataku. Satu harapanku, aku ingin selalu bersama Bibi Lila.
Aku membuka mataku lalu meniup lilinnya.
"Baiklah Tuan Putri, selamat ulang tahun dan ini kado ulang tahunmu," ucap Bibi Lila sambil menunjukkan sebuah kado dengan bungkus kotak. "Wah, apa isinya, Bibi?" Aku menatap kotak yang diberikan Bibi Lila. Aku penasaran apa isi di dalamnya. Apakah sebuah bando seperti tahun lalu? Atau sebuah penjepit rambut seperti dua tahun yang lalu? Aku terkekeh saat memikirkannya. Yang aku butuhkan bukanlah hadiah, bersama dengan orang yang sangat menyayangiku itu sudah cukup untukku.
"Bukalah kadonya Tuan Putri." Aku mengangguk, kemudian dengan perlahan membuka bungkus kado itu. Mataku langsung berbinar saat melihat sebuah kalung kristal yang sangat indah.
"Ini cantik sekali, Bibi. Dimana Bibi membelinya?" tanyaku. Bibi tampak terdiam, namun dia tetap menjawab pertanyaanku. "Itu bukan dari saya Tuan Putri, hadiah itu dari Yang Mulia Raja."
Kali ini aku yang terdiam, benarkah kalung ini dari Ayah? Atau Bibi Lila hanya berbohong agar aku bahagia? "Benarkah ini dari Ayah, Bibi?" tanyaku memastikan. Bibi Lila mengangguk. "Dan mulai besok Tuan Putri akan dipindahkan ke istana utama." Aku kembali terdiam. Kenapa tiba-tiba Ayah ingin aku ke istana utama? Bukankah selama ini aku di larang untuk ke sana?
Aku sudah cukup merasa bahagia bersama dengan Bibi Lila, lalu untuk apa Ayah yang telah menelantarkanku dari kecil ingin aku menemuinya?
"Tidak Tuan Putri, saya akan tetap di sini karena Yang Mulia memerintahkan saya untuk menaga istana ini," ujar Bibi Lila sambil menunduk. Aku terdiam. Apakah ini yang terbaik untukku? Bersama dengan Ayah? Apakah di sana nantinya aku akan bahagia?
"Tuan Putri tenang saja, di sana Yang Mulia pasti akan menjaga anda karena anda adalah Putri Mahkota kerajaan Encenshia."
"Vivi tidak menghawatirkan tentang itu Bibi .... Vivi hanya ingin Bibi selalu ada di samping Vivi, Vivi nggak mau kesepian," ucapku. Bibi Lila hanya menunduk. Aku membuang muka, kenapa dia tidak mau mengerti?
"Saya akan membantu anda berkemas Tuan Putri, karena esok pagi kereta dari istana akan menjemput anda," ujar Bibi Lila. "Lalu bagaimana dengan nasib Bibi dan pelayan yang lain?" tanyaku. Aku melihat Bibi tersenyum. "Tuan Putri tenang saja, saya dan pelayan yang lain akan tetap di sini." Aku mengangguk. Aku akan sangat merindukan tempat ini dan pelukan serta kasih sayang dari Bibi Lila.
🍁🍁🍁
Aku menaiki kereta, aku menatap dari jendela Bibi Lila yang berusaha menahan air matanya. Aku melambaikan tanganku, lalu kereta melaju meninggalkan istana. Istana ini adalah istana sederhana yang pernah aku lihat. Mungkin posisinya terpencil karena aku tidak pernah sekalipun melihat aktivitas penduduk.
Kereta malaju tanpa henti, di sepanjang perjalanan aku hanya diam menatap pemandangan hutan dan padang rumput. Aku mulai memejamkan mataku karena mengantuk, mungkin tidur sebentar tidak apa.
Dan akhirnya aku sempurna memejamkan mataku.