The Hidden Princess

The Hidden Princess
3



Saat aku membuka mataku, aku menemukan sebuah istana yang sangat besar. Istana ini jauh lebih besar dan lebih mewah dari istana yang dulu.


Aku turun dari kereta dibantu dengan dua pelayan. Tak ada penyambutan atau apapun di sini. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku hanya mengembuskan napasku dengan berat.


"Mari Tuan Putri, saya akan mengantar anda ke kamar Tuan putri." Aku mengangguk. Aku di antar menuju ke sebuah ruangan dengan pintu berwarna silver. Saat pintu terbuka, aku terkejut dengan isinya.


Ruangan ini berkali lipat lebih bagus dari kamarku yang dulu. Aku melangkah memasuki kamar itu. Saat aku membuka jendela, pemandangan taman akan muncul di hadapanku. Aku menyukainya.


"Baiklah Tuan Putri, makan malam nanti Yang Mulia ingin anda hadir." Aku mengangguk, setelahnya kedua pelayan itu pergi.


Aku merindukan Bibi Lila, Padahal hanya beberapa jam aku sudah merindukannya.


Tok. Tok. Tok


Aku menatap ke arah pintu, di sana berdiri seorang laki-laki dengan berpakaian seperti seorang perdana mentri. Atau dia memang perdana mentri?


"Selamat sore, Tuan Putri," ucapnya dengan ramah. Aku memberi salam kepadanya. "Selamat sore juga Paman, Ada apa kedatangan anda kemari?" tanyaku. Paman itu menatap sinis namun sedetik kemudian dia kembali ramah.


"Tuan Putri, saya hanya ingin melihat bagaimana anda sekarang. Sudah tujuh tahun setelah kejadian itu saya baru bertemu dengan Tuan Putri." Aku mengangkat sebelah alisku. Kejadian apa?


"Kejadian apa paman?" tanyaku. Paman itu langsung menggeleng kemudian berpamitan pergi. Dari caranya bertingkah aku tahu kalau dia punya niat jahat. Aku harus berhati-hati dengannya.


🍁🍁🍁


Aku menatap diriku di depan cermin, rambut silverku aku gerai kemudian memakai hiasana rambut di kepala. Aku menatap kalung yang melingkar di leherku. Kalung kristal pemberian Ayah. Aku tersenyum.


Tok. Tok. Tok


"Tuan Putri, Yang Mulia sudah menunggu anda di ruang makan." Aku mengangguk. Aku turun dari kursi lalu melangkah menuju ruang makan.


Istananya sangat besar, tapi hanya ada beberapa pelayan di sini, aku yakin Ayah pasti tidak suka kebisingan. Aku belum pernah bertemu dengannya. Aku hanya tahu namanya, Zarvion Encenshia.


Aku sudah berada di depan pintu ruang makan. Saat prajurit membuka pintunya, aku menelan salivaku dengan kasar. Ayah sudah duduk di kursinya. Wajahnya sama persis seperti Zarvion sahabatku. Namun, aku hanya melihat wajah datar dan dingin tanpa senyuman. Aku menatap matanya, pupil warna matanya bukanlah pelangi sepertiku, tapi warna matanya biru langit. Kenapa warna matanya biru langit? Bukankah harusnya pewaris kerajaan Encenshia itu bermata pelangi?


Perlahan aku melangkah, memberi salam kepada ayah kemudian duduk di samping kanannya. Tak ada percakapan antara aku dan Ayah. Dia memang sangat dingin.


Aku masih merasa canggung jika bicara pada Ayah. Maka, aku terus diam hingga acara makan malam berakhir. Aku kembali ke kamarku. Aku langsung membaringkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Kemudian dengan perlahan memejamkan mataku.


🍁🍁🍁


"Yang Mulia ingin anda sarapan bersama, Tuan Putri," ujar Pufy, salah satu pelayanku. Aku mengembuskan napasku. Untuk apa aku terus bersamanya, aku merasa canggung karena dia bersikap sangat dingin.


"Baiklah, aku akan bersiap." Pufy dan Nira keluar dari kamarku. Aku segera bersiap.


Aku melangkah menuju taman, karena Ayah ada di sana, sarapannya di buat di taman. Aku mengembuskan napas dengan berat. Aku akan berusaha agar Ayah lebih dekat padaku.


Aku memberi salam, lalu menyapanya, "Pagi ayah." Ayah tak menjawab. Rambut hitam legamnya berantakan terkena angin. Namun tak menurunkan kadar ketampanannya.


Aku mertuki sifat Ayah yanh sangat dingin. Jika dia bersikap seperti ini lalu untuk apa dia membawaku kemari. Aku memakan panecake yang ada di piringku.


"Em ... Ayah, Vivi boleh bertanya?" tanyaku. Ayah tak menjawab. Aku mengembuskan napas dengan berat. "Nggak boleh, yah?"


Aku menundukkan kepala. Kenapa aku harus bersama orang cuek dan dingin kayak dia?


Setelah sarapan, aku kembali ke kamarku, entah apa yang akan aku lakukan.


Satu Bulan Kemudian


Aku menatap bosan pedang yang sekarang aku pegang. Setelah acara sarapan pagi itu, Ayah memintaku untuk belajar pedang. Untuk apa aku belajar pedang? Akulah legenda kekuatan Galaksi. Tak perlu kau tanyakan lagi kemampuan berpedangku.


"Tuan Putri, anda tahu tidak? Setiap pewaris tahta kerajaan Encenshia pasti memiliki kekuatan." Aku mengerutkan kening sambil menatap Pufy dan Nira. Satu bulan itu cukup untukku beradaptasi dengan mereka.


"Benarkah? Lalu apakah Ayah juga memiliki kekuatan?" tanyaku. Bibi Pufy dan Bibi Nira mengeleng. "Sayangnya, Yang Mulia saat ini hanyalah pengganti raja yang dulu," ujar Bibi Nira.


"Bagaimana itu mungkin?" tanyaku. "Dahulu, Yang Mulia Zarvion sangat membenci Yang Mulia Antio, kakaknya sendiri. Itu karena Yang Mulia Antio menikahi gadis yang dicintai Yang Mulia Zarvion. Yang Mulia Zarvion tidak terima, dia mabuk hingga terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Yang Mulia Zarvion meniduri seorang pelayan yang sangat cantik, rambutnya berwarna silver."


"Lalu? kenapa tahta Raja Antio bisa sampai ke tangan Ayah?" tanyaku dengan wajah serius. "Karena Yang Mulia Antio meninggal lebih dulu di medan perang. Maka secara otomatis kerajaan di pimpin oleh pewaris tahta yang lain."


"Apakah Raja Antio sudah memiliki anak?" tanyaku. Bibi Pufy dan Nira saling pandang. Kemudian menggeleng. "Apakah aku anak pelayan itu dengan Ayah?" tanyaku sambil menunduk. Ku lihat Bibi Pufy dan Bibi Nira menunduk. "Apa penyebab Ibu Vivi tiada?" tanyaku dengan nada sedih.


"Em ... itu." Bibi Pufy tak melanjutkan ucapannya. Aku mengangkat wajahku. Kenapa mereka tak melanjutkan?