
Bibi Pufy dan Bibi Nira tidak mau memberitahuku kelanjutan ceritanya, itu benar-benar menyebalkan. Aku membaringkan tubuhku di atas kasur sambil berpikir. Bagaimana caranya agar aku bisa tahu sejarah kerajaan Encenshia? Dimana aku harus mencarinya?
Bagaimana jika kita mulai dari buku, mungkin saja ada buku sejarahnya. Aku turun dari kasur lalu segera berjalan ke tempat baca. Tak ada penjagaan di depan pintu, aku langsung membuka pintu itu. Ber rak-rak buku tersusun dengan rapi, aku harus segera mencari buku sejarah itu.
Sudah satu jam aku mencari buku itu tapi tak ketemu juga. Apakah mungkin memang tidak ada buku sejarahnya? Tapi rasanya itu tidak penting. Aku kembali berkeliling. Ada sesuatu yang aneh, ada pintu di balik lemari itu. Aku menggeser lemari yang sangat berat itu. Saat aku memegang knop pintunya, ternyata tidak di kunci. Aku segera membuka pintunya lalu masuk ke dalam. Gelap.
Tiba-tiba obor di dalam ruangan menyala. Di ujung ruangan, aku bisa melihat sebuah buku yang bercahaya terang. Aku mendekat.
Buku itu semakin bercahaya. Saat aku ingin mengambilnya, aku melihat sebuah lukisan yang menempel di dinding. Lukisan itu masih sangat terawat dan terjaga.
Di dalam lukisan itu, seorang wanita dengan baju perang dan pedang menatap dengan tajam ke arah setiap orang yang menatap lukisan itu. Aku mengedipkan mataku beberapa kali dengan cepat. Itu adalah lukisan ku yang dulu, sebelum aku bereinkarnasi.
Apakah dulu aku sekejam itu? Matanya sangat tajam seperti elang. Tangannya bercahaya menunjukkan kekuatan Galaksi.
Tunggu, kenapa lukisanku ada di sini? Apakah ada hubungannya dengan kerajaan Encenshia?
Aku langsung mengambil buku itu lalu pergi dari sana. Aku masuk ke dalam kamarku. Dari sampulnya, sepertinya ini memang buku sejarah, karena bukunya sudah sangat usang dan banyak yang robek.
Aku tak menghiraukannya lalu mulai membaca dari bagian paling awal. Aku mengerutkan keningku karena di dalam halaman paling awal itu membahas tentang sejarah kerajaan Celshia. Celshia adalah kerajaan yang di pimpin oleh ku. Di sini tertulis kalau kerajaan Celshia adalah kerajaan makmur dengan kepemimpinan tegas dari ratu yang adil, di kenal sebagai legenda kekuatan Galaksi. Kekuatan Ratu Viana tak tertandingi. Mata Ratu Viana berwarna gold dan rambutnya berwarna pelangi.
Setelah dikhianati sahabatnya, Ratu Viana tidaklah meninggal. Melainkan bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis dengan mata pelangi dan rambut silver. Viana kembali ke kerajaannya dan menghukum Zarvion.
Dan revolusi terjadi, kerajaan Celshia berubah menjadi Encenshia. Keturunan dari Ratu Viona hanyalah memiliki mata pelangi tanpa rambut silver. Mata pelangi hanya memberikan setengah dari kekuatan Galaksi.
Hanya yang memiliki mata pelangi yang akan menjadi Raja atau Ratu. Namun, seorang putri dari sebuah kerajaan memiliki rambut berwarna silver. Kecantikannya terkenal ke seluruh penjuru negeri. Namanya Navia.
Pada saat itu, Putri Navia memiliki kakak bernama Kiyana. Kiyana tak kalah cantik dengan Navia, sikap lemah lembutnya membuat semua laki-laki berlomba untuk mendapatkan Putri Kiyana. Termasuk Pangeran Antio dan Pangeran Zarvion, pangeran dari kerajaan Encenshia yang sekarang.
Aku membalik lembar berikutnya, namun kosong. Aku langsung menutup buku itu. Satu pertanyaan dalam benakku, kenapa aku bisa bertransmigrasi sementara waktu itu aku masuk ke dalam portal? Pasti ada satu waktu yang aku lewatkan.
"Tuan Putri, Yang Mulia ingin anda ikut pergi ke hutan terlarang untuk berburu." Aku menatap Bibi Pufy dengan heran. "Baiklah, aku akan ganti baju." Saat aku melangkah, Pufy menggumamkan sesuatu yang membuatku rindu dengan Bibi Lila. "Tuan Putri, bagaimana jika nanti anda terluka? Saya sangat mengkhawatirkan anda." Aku tersenyum kepada Bibi Pufy. Sikapnya sama seperti Bibi Lila. "Bibi tidak perlu khawatir. Aku akan berhati-hati."
Aku segera bersiap. Kamudian menemui Ayah. Saat aku ke depan gerbang istana, Ayah sudah menaiki kudanya.
"Salam hormat, Tuan Putri." Aku mengangguk. Seseorang yang belum pernah aku temui. "Perkenalkan, saya adalah tangan kanan Yang Mulia. Anda bisa memanggilku, Paman Zein," ujar Paman Zein sambil tersenyum.
Aku balas tersenyum. "Sebaiknya kita cepat berangkat," ujar Ayah dengan dingin. "Tuan Putri, apakah anda ingin menaiki kuda anda sendiri?" tanya Paman Zein. Aku menggeleng. "Aku ingin bersama Ayah," ucapku. Yang di panggil langsung menatapku dengan tatapan sinis.
"Baiklah." Aku langsung tersenyum bahagia. Akhirnya Ayah mau dekat denganku. Aku langsung naik tepat di depan Ayah. Hanya aku, Ayah, dan Paman Zein yang pergi ke hutan.
Di perjalanan, hanya ada keheningan. Hutan ini sangat gelap dan banyak pohon mati. Mungkin karena itu di sebut sebagai hutan kematian.
Tiba-tiba, sebuah kabut tebal muncul dihadapanku. Aku tak bisa melihat apapun.
"Aaaaaaa!"
"Auuu ...."
Kenapa tiba-tiba aku terlempar. Punggungku sakit sekali setelah menghantam batang pohon. Rasanya badanku remuk semua.
Aku berdiri, kabut itu semakin tebal. Bagaimana sekarang? Dan dimana Ayah dan Paman Zein? Aku harus mencari jalan keluar.
Tiba-tiba, kabutnya menghilang. Aku bisa melihat dengan lebih jelas sekarang. Tapi, siapa dia? Matanya berwarna pelangi dan rambutnya berwarna hitam, sama seperti warna rambut Ayah.
Aku membelalakan mataku. Jangan-jangan ....
Dia adalah putri ....