
Senin (07.18), 20 April 2020
-------------------------------
“Kapan kau merencanakan lamaran itu?” tanya Destia sambil merebahkan kepalanya di bahu Alan.
“Dalam perjalanan pulang.” Jawab Alan sambil menarik Destia ke dalam pelukan.
Malam ini adalah malam pertama mereka kembali tidur bersama setelah terpisah lebih dari sebulan.
Tidur bersama?
Jangan gunakan otak mesum untuk mengartikan dua kata itu. Maksud tidur bersama di sini dalam arti yang sebenarnya. Hanya tidur. Tidak lebih.
Namun yang membedakan malam ini dan malam-malam mereka sebelumnya adalah tempat dimana mereka tidur. Bukannya memilih tidur dengan nyaman di atas ranjang yang empuk, dua manusia yang sedang dimabuk cinta ini memilih menghampar selimut di halaman belakang rumah Alan.
Semua lampu sudah dimatikan, hanya tersisa lampu taman yang berada tepat di samping kolam, beberapa meter dari tempat mereka berbaring. Walau bulan tampak malu untuk menunjukkan diri, bintang-bintang bersinar dengan begitu indahnya.
“Lalu kapan kau meminta bantuan para guru untuk menyiapkan kejutan itu?” Destia masih penasaran dengan cara Alan menyiapkan lamaran kejutan untuknya.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
Sejak dua hari yang lalu lelaki itu memperhatikan aktifitas di sebuah rumah megah. Dia mulai menghafal kegiatan apa saja yang dilakukan penghuni rumah itu pada jam-jam tertentu untuk melancarkan aksinya.
Dari bawah pohon besar di seberang jalan rumah itu. Dia bisa dengan jelas melihat kegiatan di halaman rumah. Beruntung aksi yang ingin dilakukannya hanya berkisar di halaman. Tentu saja, dia masih harus melewati pagar tinggi yang mengelilingi rumah. Namun itu bukan masalah. Dia hanya perlu memperkirakan waktunya.
Jam enam tepat, mobil yang biasa digunakan Tuan Besar pemilik rumah telah dikeluarkan dari garasi. Lelaki itu sudah hafal bahwa Tuan Besar selalu mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan sopir. Tinggal menunggu pelayan lelaki yang bertugas memarkir mobil di halaman dari garasi masuk kembali ke rumah, lalu lelaki itu bisa melakukan aksinya.
Waktu yang ditunggu telah tiba. Lelaki di bawah pohon itu memberi kode pada salah satu anak buahnya, sementara dirinya sendiri mulai berjalan santai layaknya pejalan kaki.
Tidak ada yang aneh dengan penampilan lelaki itu. Celana jins, sepatu kets dan jaket bertudung. Penampilannya malah terlihat seperti remaja yang memang biasa lalu lalang di jalanan depan rumah megah itu. Tapi siapa yang bisa menduga, di balik jaketnya dia membawa tang dan sebuah revolver yang terselip di pinggang, sekedar berjaga-jaga jika aksinya diketahui.
END
----------------------------
Terima kasih untuk segalanya, baik pada para pembaca maupun admin yang sudah aku repotin.
Karya-karyaku yang lain juga bisa kalian baca di wa*ttpad @AyaEmily2 atau ****** Aya Emily
Oh ya, cerita inipun ada extra partnya. Kalian bisa temukan di playstore dan shopee
Sampai jumpa lagi ^_^
With Love,
♥ Aya Emily ♥