
Kamis (06.53), 02 April 2020
-----------------------------
Destia hanya duduk dengan kikuk sementara Rena menyusui di kembar sedangkan Bu Yuni menyiapkan makan siang. Dia masih merasa sangat malu untuk berhadapan dengan mereka. Sedari tadi kedua tuan rumah itu sudah berusaha mengajak Destia mengobrol. Namun dirinya hanya sanggup menjawab singkat.
“Des, Tante mau ke pasar sebentar. Ada bahan yang lupa dibeli. Tolong bantu Rena jaga si kembar ya.” Mendadak Bu Yuni berkata kepada Destia yang masih duduk di ruang tengah.
“Tante, biar aku yang beli ya?” pinta Destia penuh harap.
“Terima kasih, tapi tidak perlu. Kau di sini saja bersama Rena.” ujar Bu Yuni lalu segera berlalu.
Dia mengerti perasaan malu Destia. Karena itu dirinya sengaja berinisiatif untuk keluar sebentar. Mungkin jika hanya berdua bersama Rena, sikap kaku Destia bisa mencair.
Sementara itu, Destia sendiri merasa makin tidak nyaman. Dia kembali duduk dengan ragu di sofa ruang tengah itu.
Apa sebaiknya dia kembali ke rumah Alan saja? Pikirnya.
Belum sempat Destia memutuskan apa yang harus dilakukannya, tiba-tiba Rena keluar dari kamar si kembar lalu duduk di sebelah Destia.
“Maaf meninggalkanmu sendirian di sini. Si kembar Farrel baru terlelap. Dia memang sangat manja jika dibandingkan Fachmi yang selalu tenang.” Cerocos Rena.
Destia hanya tersenyum kecil sebagai tanggapan, tidak tahu harus berkata apa.
“Destia, aku tidak suka kau seperti ini. Biasanya kau sangat cerewet.” Rena berkata kesal sambil melotot ke arah Destia.
“Aku—eh, entahlah.” Destia terbata-bata. “Aku hanya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Sekali lagi maaf untuk—”
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
---------------
♥ Aya Emily ♥