
Jumat (08.39), 03 April 2020
----------------------
“Bukan Viktor pelakunya.”
Suasana menjadi hening setelah Freddy mengucapkan kalimat itu. Mata Rafka membelalak kaget sedangkan wajah Alan mendadak pucat pasi. Lidah keduanya kelu hingga tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Freddy sendiri memilih diam. Dia tahu informasi ini pasti sangat mengejutkan dan pastinya mengguncang hati Alan. Jadi dirinya menunggu sampai ada yang bertanya, barulah ia akan memberikan jawaban.
“Tidak.” mendadak Alan berkata, memecah keheningan. “Tidak! Pasti ada kesalahan!” seru Alan dengan nada tidak percaya. “Aku melihat sendiri Viktor yang memegang pisau itu. Aku melihat sendiri Papa dan Mamaku meregang nyawa didekatnya. Bagaimana mungkin dengan gampangnya sekarang kau bilang bahwa bukan Viktor pelakunya?”
“Alan, tenanglah!” Rafka mendekat lalu meremas bahu Alan untuk menenangkan.
“Kalian tidak tahu yang kurasakan. Aku hidup dengan kenyataan itu dari hari ke hari. Bermimpi tentang kejadian itu tiap malamnya. Mana mungkin tiba-tiba semua itu salah?” nafas Alan memburu seperti dia baru saja lari marathon. Matanya berkilat tajam antara kepedihan dan kemarahan.
Freddy yang mengerti emosi Alan sedang tidak stabil karena informasi mengejutkan itu, menoleh pada Rafka meminta pendapat. Rafka hanya memberi isyarat dengan kepalanya agar Freddy keluar sejenak. Freddy mengangguk paham lalu segera bangkit meninggalkan Rafka dan Alan.
“Mana mungkin bukan Viktor pelakunya?” Alan kembali mengulang pertanyaan. “Beri aku satu saja alasan mengapa bukan dia!”
Rafka tidak menjawab. Tidak ada gunanya berbicara pada Alan sekarang ketika sahabatnya itu sedang bergulat dengan emosinya.
Bertahun-tahun Alan memupuk kepercayaan bahwa Viktor yang harus disalahkan atas kematian orang tuanya. Bertahun-tahun Alan menimbun dendam terhadap Viktor. Melihat sosok yang amat dicintainya tewas mengenaskan telah menimbulkan luka menganga yang sangat dalam di hati Alan. Tentunya tidak ada yang bisa Alan pikirkan selain menyalahkan orang yang tampak jelas sebagai pelaku.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Selain Edsel dan keluarganya, Alan juga termasuk orang yang paling merasa sedih atas meninggalnya Lilian. Sempat dia menyalahkan diri sendiri bahwa Lilian mati karena dirinya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
---------------------------
♥ Aya Emily ♥