
Rabu (08.02), 01 April 2020
**-------------------------- **
Destia menatap bingung Mamanya yang mengeluarkan tas ransel Destia yang paling besar, lalu memasukkan beberapa baju Destia. Setelahnya sang Mama masih memilah beberapa peralatan mandi dan make-up yang kemudian juga turut dimasukkan ke dalam tas.
“Mama sedang apa?” akhirnya Destia bertanya.
“Kamu harus segera pergi. Mama tidak sanggup lagi melihat kamu terus-menerus menderita. Di sini Mama akan berusaha menghalangi Papa untuk mencarimu.” Jelas Nia.
Destia memeluk Mamanya erat. “Tapi Mama tidak akan bisa menahan Papa selamanya.”
“Memang tidak. Tapi Mama sudah menyiapkan rencana untuk menghentikan Papamu. Setelah ini Mama janji dia tidak akan bisa berbuat semena-mena pada kita lagi.”
Air mata Destia menitik. Dia mencium pipi sang Mama berkali-kali. “Baiklah, Ma.”
Setelahnya Nia menghela sang Putri menjauh agar ia bisa kembali menyiapkan kebutuhannya. “Kali ini jangan lupa bawa ponsel dan dompetmu. Apa kau masih ingat jalan menuju rumah yang kau tinggali ketika Papamu menemukanmu?”
“Iya.”
“Kalau begitu bawa mobil sendiri.”
Destia mengangguk. Dia hanya duduk menunggu di pinggir ranjang karena ia tahu Mamanya butuh melakukan semua itu untuknya agar beliau tidak merasa dirinya sendiri tidak berguna.
“Ma, sebenarnya Silvi itu siapa?”
Pertanyaan Destia yang tiba-tiba membuat gerakan Nia terhenti selama beberapa saat. Setelah tarikan nafas panjang, ia kembali melanjutkan kegiatannya mengepak barang-barang Destia yang mudah dibawa.
“Dia pacar Papamu.”
“Apa Papa selingkuh?” Destia mulai merasa geram.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
Pagi ini dihiasi dengan berita heboh yang memenuhi seluruh media. Semua stasiun TV berlomba-lomba untuk menyiarkan tentang selamatnya delapan orang yang diduga menjadi korban kebakaran. Ternyata rumah yang terbakar itu kosong.
Bukan hanya itu yang menjadi topik panas pagi ini. Insiden ditangkapnya kepala polisi di kota itu serta beberapa pejabat setempat juga tak kalah heboh. Alasan penangkapan yang diberitakan hanya sebatas percobaan pembunuhan terhadap orang-orang penting dari keluarga Rayyandra dan Keegan.
Publik masih bertanya-tanya, apa motif para pelaku melakukan percobaan pembunuhan itu. Aparat polisi dan semua pihak yang terlibat sepakat untuk mengatakan bahwa kejadian ini diakibatkan karena persaingan bisnis.
Ada lagi berita menghebohkan namun sengaja dirahasiakan dari media. Ini mengenai kematian Lilian di dalam sel tahanannya. Wanita itu bunuh diri dengan cara melilitkan seutas tali dari kain ke leher lalu menarik masing-masing ujungnya dengan kuat. Tali tersebut adalah ikat pinggang gaun yang ia kenakan. Hanya orang yang benar-benar nekat dan sedikit hilang akal yang sanggup bunuh diri dengan cara seperti itu.
Namun itu tidak berlangsung lama karena ada orang-orang terdekat yang tidak memberinya kesempatan untuk terus menyalahkan diri.
Siang ini Alan bersama yang lainnya sedang menghadiri pemakaman Lilian yang berlangsung hari itu juga. Paman Edsel, Ricky dan Mia juga hadir ke pemakaman didampingi para polisi. Prosesi pemakaman itu hanya dihadiri keluarga.
Sebelum digiring masuk kembali ke dalam mobil polisi, tak disangka ketiga tahanan itu berlutut di depan Alan dan keluarganya. Mereka memohon agar Alan serta keluarganya bersedia merawat anak-anak mereka dan juga putri Lilian.
Dari awal Alan memang tidak berniat menetap di kota itu. Dia juga sudah bertekad untuk menghapus nama Alan Rayyandra dan menggunakan nama Alan Prayoga serta menyerahkan seluruh harta warisan kepada Viktor. Kepolisian juga telah setuju untuk menghapus perjanjian dan surat wasiat yang telah menelan banyak korban. Karena itu Alan tidak bisa memberikan persetujuan atas permintaan tiga orang di hadapannya. Keputusan itu ia serahkan sepenuhnya kepada Viktor.
Viktor sendiri langsung mengiyakan permintaan itu. Walaupun Edsel dan Ricky pernah berlaku buruk padanya, menjadikan dirinya sebagai orang asing di rumahnya sendiri serta melukai orang-orang yang dia sayangi, namun anak-anak mereka sama sekali tidak bersalah. Anak-anak tak berdosa itu tidak pantas ikut menjalani hukuman karena kesalahan orang tuanya.
Akhirnya dengan air mata berlinang dan ucapan terima kasih yang tidak terputus, ketiga orang itu pergi. Masih jelas dalam benak Alan raut bersalah di wajah ketiganya. Pasti mereka begitu terpukul karena orang yang mereka jahati selama ini bisa dengan mudah menerima anak-anak mereka.
------------------------------
♥ Aya Emily ♥