
AUDREE
Seharian aku hanya mencorat-coret kertasku. Beragam pola-pola tak beraturan tersayat diatas kertas putih itu. Namun tak satupun yang mendekati selesai. Seolah potongan desain itu tak pernah bisa disatukan. Pikiranku menerawang, meski aku telah bersikeras untuk focus pada pola gambarku, namun rasanya sia-sia. Tak satupun bagian dari tubuhku bisa diajak berkompromi. Sepertinya setiap bagiannya punya keinginan tersendiri.
Kubanting pensilku dengan frustasi, sehingga meninggalkan bunyi celetuk yang aneh karena beradu dengan meja. Katie memandangku dari balik lipatan-lipatan baju. Ia sedang melayani salah seorang pelanggan. Matanya melotot kearahku, seolah menegaskan “apa kau sudah sinting?”
Kurasa kecurigaan Katie bisa jadi ada benarnya. Aku memang nyaris sinting seharian ini. Aku tidak bisa fokus pada apapun dan hanya memikirkan William. Meruntuhkan ketegaranku hanya dalam waktu yang singkat. Aku memang menyedihkan.
“Ada apa sih denganmu?”
Suara Katie membuatku tersentak, dan aku mendongak dari mejaku, menatapnya. Ia balas menatapku lekat-lekat, kedua tangannya terlipat membentuk simpul silang didada.
“Kau nyaris membuat pelanggan kita takut. Mereka bisa saja mengira desainer distro ini seorang temperamental.”
Aku menghela nafas mendengar kritiknya, “tidak separah itu,” bantahku. Tapi aku juga tidak berniat menyangkal penilaiannya.
“Jadi apa yang sebenarnya terjadi?”
“Tentang apa?”
“Tentang kau dan Willy, tentu saja,” cibirnya karena pemahamanku yang payah, “kalian tidak bertengkar sewaktu aku pergi kan?” slorohnya defensif.
Aku mendengus mendengar jalan pikirnya. Apa dia pikir aku begitu kekanakan? Aku hanya menggeleng sebagai jawabannya.
“Lalu apa?” pekiknya frustasi.
Kursi didepanku berderit ketika bobot Katie menindihnya. Ia lebih gemuk daripadaku yang hanya 50 kg dibanding tinggiku yang lumayan, 165cm. Aku masih tergolong kurus.
“Tidak terjadi apa-apa.”
Rahangnya mengeras, membuat kedua alisnya bertaut. Tampaknya Katie sama sekali tidak percaya ucapanku.
“Haruskah aku menanyakanya ngsejujurnya pada Willy?” ancamnya.
Tentu saja itu sukses membuatku berjingkat dengan tatapan memohon untuk tidak melakukannya.
“Kau bahkan tidak menelan apapun sejak kepergian Willy tadi pagi Audree. Dan itu sangat membuatku khawatir. Kuharap kau senang mengetahuinya.”
Aku hanya tertunduk menyesal. Katie nyaris seperti Ibu bagiku, secara harfiah, melebihi Brieta. Meski terkadang sikapnya terlalu berlebihan.
“Tidak terjadi apa-apa, sungguh,” aku berusaha meyakinkannya, “kami…, maksudku, aku dan Willy baik-baik saja. Tidak ada masalah. Mungkin aku hanya kehilangan orientasi karena kelaparan. Tidak masalah, aku hanya perlu menghabiskan makananku.”
Aku bergegas beranjak dari kursiku dengan sandwich ditangan. Aku tau, aku ini pembohong yang payah. Untungnya Katie tidak memperpanjang keingintauannya akan masalahku karena lonceng mungil distro kembali berbunyi. Pelanggan datang, dan itu akan membuatnya sedikit sibuk.
Rupanya, itu adalah Stefany. Pelanggan tetap kami. Aset penting, begitulah menurut Katie. Sebab wanita itu selalu menghabiskan banyak uang tiap kali berbelanja kesini. Aku dan Katie pernah membayangkan sebesar apa lemari pakaiannya. Atau mungkin saja ia memilikinya untuk satu kali pakai dan tidak menginginkan baju yang sama untuk kedua kalinya.
Sebenarnya tidak merugikan bagi kami, meski itu jelas menghancurkan perasaanku sebagai seorang desainer. Dan sebagian besar pakaian yang ia kenakan adalah rancanganku. Aku tidak tahu tepatnya harus bersyukur atau berduka.
“Hai nona Audree,” sapanya begitu menatapku.
“Halo, emh… selamat siang,” balasku kikuk dengan mulut penuh sayuran, “maaf, aku sedang makan.”
“Oh, tentu, tidak apa. Lanjutkan saja.”
Aku mengangguk pelan, mengunyah makanan yang bersarang dimulutku. Aku bersyukur ketika suara Katie mengalihkan perhatiannya. Setidakny itu memberiku kesempatan untuk tidak tersedak.
“Apa ada koleksi baru?”
“Oh, tentu. Yang terbaru akan kutunjukkan padamu,” jawab Katie antusias, “aku yakin kau akan menyukainya.”
Katie membimbing Stefany menuju deretan baju-baju rancangan terbaru. Mengingat banyak hal yang tidak mungkin kulakukan sendirian, aku juga mempercayakan jahitan-jahitan pakaian rancanganku pada beberapa penjahit langganannku.
Aku merosot dikursiku. Sudah tidak bernafsu lagi dengan makan soreku. Aku hanya ingin menutup distro lebih cepat dan pulang. Hari ini sangat melelahkan. Otakku berfikir lebih keras dari yang seharusnya. Terlebih tentang William. Aku menghela nafas. Sambil memejamkan mata, kupijit celah diantara kedua alisku. Berharap Lelah itu sedikit memudar. Sampai-sampai aku tidak mendengar langkah kaki Katie saat ia mendekat.
“Audree,” panggilnya.
Aku mendongak menatapnya.
“Lepaskan pakaian itu!”
“Apa??”
“Astaga, bukan pakaianmu. Tapi pakaian manekin itu.”
Aku menoleh. Mengikuti arah telunjuk Katie. Kini pandanganku tertuju pada mannequin pria yang kupasangkan pakaian beberapa hari yang lalu. Celana khaki coklat muda dengan kemeja krem pucat melekat disana. Tapi siapa yang menginginkan pakaian pria itu?
“Untuk apa?” tanyaku, “tidak ada pelanggan pria.”
“Aku tertarik untuk membelinya,” sahut Stefany mendekat, “kebetulan Raoul pacarku akan datang berkunjung, dan kurasa pakaian itu pas untuknya.”
“Oh, yeah…,” jawabku, “tapi mungkin pakaian ini terlalu santai untuk acara resmi,” aku mengingatkan setelah melirik tumpukan gaun pilihannya dimeja kasir.
“Oh, bukan acara semacam itu,” sanggahnya tertawa renyah, “kami hanya akan jalan-jalan, dan lagipula Raoul seorang peselancar, kau tau kan selera peselancar? Sangat sulit memaksa mereka untuk menggunakan tuxedo (setelan jas pria).”
Dia bicara Panjang lebar. Kepalaku semakin pusing. Dan sejujurnya aku tidak ingin tahu apapun soal selera pacarnya.
“Baiklah kalau begitu tidak masalah,” sergahku cepat, “aku akan mengantarnya ke meja Katie, segera.”
Aku sedikit menekankan kata terakhir dengan seksama, aku hanya ingin hari ini segera berakhir. Kurasa aku sudah cukup sinting karena satu orang peselancar, jadi aku tidak perlu yang lain lagi.
Kubalikkan punggungku dan dengan cekatan melepas satu persatu kancing kemeja pada manekin yang selalu berdiri dibelakang meja tulisku. Berharap transaksi ini segera berakhir dan aku dapat segera berkemas. Membalik papan tulisan ‘open’ dipintu kaca itu menjadi ‘close’.
...CLOSE...
Kelegaan merasukiku hingga aku mendengar desah nafasku sendiri yang begitu keras sampai Katie memelototiku.
“Apa yang kau lakukan?”
“Apa?” balasku datar, berlalu menuju mejaku, “hanya menutup toko.”
“Pukul tiga??”
“Tapi kenapa?” suara Katie mengikutiku dari belakang.
“Ingin saja,” kataku. “Bukankah bagus untukmu, kau bisa ajak Thomas jalan-jalan kan?”
Anehnya, Katie tidak membantah lagi. Ia ikut mengemasi barang-barangnya. Aku senang atas toleransi yang ia berikan padaku. Tapi disisi lain aku khawatir ia akan menelpon William. Semoga ini hanya menjadi ketakutanku semata. Aku tidak benar-benar menginginkan penghiburan dalam bentuk apapun, dan dari siapapun.
...Bleep
...
Senja berangsur-angsur menggelap. Langit kelabu kemerahan di ufuk barat membuatku resah. Mataku terpatri pada surya yang lenyap ditelan bayangan gedung-gedung tinggi nan jauh diujung sana.
Saatnya pulang. Tempat ini tak juga memberikan ketenangan berarti. Aku melangkahkan kaki menyusuri trotoar. Meninggalka pemandangan danau buatan ditaman kota. Sebelumnya, meluangkan waktu ditempat ini jauh lebih menyenangkan. Namun entah kenapa rasanya tak ada yang membaik dari sisi perasaanku. Semua pedih masih bersarang ditempatnya.
Aku dan William. Entah kenapa rasanya selalu ada jarak tak kasat mata diantara kami. Jarak yang tidak akan mampu dipangkas. Seolah semua kenyataan ini memberitahuku bahwa jarak itu benar-benar sarat keabadian.
Angin berhembus pelan, kendati bagitu dinginnya menusuk, membuatku menggigil. Seharusnya musim dingin ini sudah berlalu dan udara mulai menghangat. Tapi aku justru gemetar. Sekujur tubuhku. Dengan setengah berlari aku bergegas menuju rumahku. Bangunan tua satu barisan dengan rumah-rumah lain bercat kuning lemon dengan pilar-pilar cokelat muda yang serasi, menjanjikan kehangatan.
Dua deret lagi aku akan sampai dirumah. Terpikirkan olehku untuk memiliki sebuah mobil nyaman dengan penghangat didalamnya. Jadi aku tidak perlu berlari-lari ditengah cuaca yang membeku. Aku sampai diujung gang, dan rumah paling ujung adalah rumahku.
Jalanan disekitar sini cukup mirip dengan rumah yang hampir mirip satu sama lain. Mudah sekali untuk tersesat. Itu sering terjadi saat aku masih kecil. Sayangnya bahkan Brieta tidak sekhawatir itu untuk menjemputku pulang.
Tak ada waktu untuk mengasihani diriku sendiri. Aku punya banyak waktu yang kuhabiskan dengan hidup mandiri hingga Brieta tak perlu repot-repot untuk menjalani peran seorang ibu. Aku tidak ingin menyulitkannya, apalagi menambah bebannya, dia cukup menderita untuk menjalani hidupnya sebagai ibu diusia belasan. Maka kami putuskan menjaga diri kami masing-masing. Itu cukup adil.
“Darimana saja kau?!” hardik seseorang, membuatku melompat karena terkejut dan nyaris terpeleset undakan tangga teras.
Saking jauhnya lamunanku berkelana, aku bahkan tak menyadari sosok tinggi menjulang didepan pintu rumahku. Matanya menatapku tajam, penuh rasa marah, khawatir dan ingin tahu. Kudapati William Walters berdiri disana. Didepan pintu rumahku.
“Aku bertanya padamu Audree,” ulangnya lagi. Bahkan nadanya lebih tinggi sekarang.
“Ah, aku…,” sepertinya rasa terkejutku belum sepenuhnya hilang, “aku… hanya pergi jalan-jalan.”
“Jalan-jalan?” ia menunduk menatapku, “lalu kenapa kau tinggalkan ponselmu?”
Otakku bereaksi lebih lambat, Ponsel? Dimana tepatnya aku meletakkan benda itu?
“Kau meninggalkannya begitu saja dimeja distro,” kata Willy seolah jenuh menunggu pemahamanku.
“Bagaimana kau tahu?” tanyaku, dan seketika aku menyesalinya.
“Katie.”
Tentu saja..
“Apa yang terjadi Audree? Katie bilang seharian ini sikapmu aneh. Ada apa?”
Aku menunduk, menatap lantai yang menjulang didepanku, tangga yang memisahkan kami. Detik demi detik berlalu. Ia masih menunggu, tapi aku masih tak sanggup bicara.
“Audree…,” panggilnya setengah berbisik. Wajahnya menampakkan emosi yang berubah-ubah dengan cepat. Lebih banyak ekspresi penasaran dan khawatir.
“Aku… maksudku aku baik-baik saja,” ungkapku akhirnya, “kau tidak perlu cemas, sungguh tidak ada masalah. Hanya terlalu lelah dan banyak pekerjaan.”
Sejujurnya aku akui, aku merupakan pembohong yang payah. Jadi kuharap alasanku terdengar meyakinkan.
William menautkan kedua ujung alisnya, setengah tak percaya. Dan keraguan itu jelas terpancar dari raut wajah tampannya, kulit sewarna zaitun yang terlalu sering kepanasan membuatnya tampak sedikit kecoklatan. Sedangkan dada bidang dan bahu lebarnya tampak menonjol bahkan dari kaos oblong sedikit longgar yang sedang ia kenakan.
Mataku terlalu sibuk mengabadikan sosoknya hingga tak kusadari kini Willy hanya berjarak beberapa inci didepanku. Bisa kulihat raut kekhawatiran itu perlahan menghilang dari wajahnya. Tatapannya melembut, menenangkan seperti biasa.
“Audree…,” bisiknya parau, entah kenapa suaranya terdengar begitu sedih. Bahkan sorot mata itu nyaris hampa.
Aku mencari. Menerka-nerka apa yang hilang dari sana. Apa yang mungkin telah kulewatkan dalam kunjungan singkatnya kali ini. Nihil. Aku tidak menemukan alas an apapun yang bisa membuat tatapannya begitu terluka.
“Aku tau ini salahku Audree,” desahnya.
“Will, jangan selalu menyalahkan dirimu…,” ucapanku terhenti begitu lengan kekarnya menghimpit tubuhku yang mungil.
Oh, sial. Jantungku nyaris terhenti.
“Ada banyak alasan bagimu untuk membenciku Audree,” ia terdengar begitu serius dengan ucapannya, “aku akan sangat senang jika kau melakukannya. Semua salahku. Seandainya bisa, aku bahkan tidak akan kembali. Tak akan pernah jika itu hanya meninggalkan luka bagimu.”
Ia melingkarkan lengannya lebih erat, kepalaku terbenam diantara dada dan lengannya. Aku mencium bau cologne yang familiar.
“Ini jelas sulit, teramat sulit bagiku, tapi seandainya kau tau, aku tidak mampu mengalihkan ini semua. Nyaris sesulit aku menghela nafas. Tapi kau selalu ada Audree. Disana, didalam pikiranku.” Kini ia melepaskan pelukannya dan menatapku, “karenamu aku ingin selalu kembali Audree. Disemua tempat, aku hanya ingin kembali padamu.”
Tubuhku kaku. Menancap erat diatas tempatku berpijak. Pandanganku menerawang. Aku bahkan tidak sanggup berkata-kata. Terlalu banyak pengakuan yang dijejalkan ke otakku dalam waktu singkat. Seakan semua akal sehatku takkan sanggup mencernanya. Terlalu cepat. Terlalu banyak. Terlalu mendadak. Namun sepertinya William serius dengan ucapannya.
Wajahnya tenang, sedikit resah seperti biasa. Membuatku nyaris tak mempu mengalihkan pandangan darinya. Sekarang apa yang bisa kukatakan? Seperti apa seharusnya aku bersikap padanya. Aku terdiam. Hanya satu yang ingin kupastikan.
“Will…,” panggilku pelan sampai akhirnya ia menatapku, “kenapa kau datang?”
Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutku. Aku sangat ingin tahu, apa itu karena sesuatu yang berhubungan denganku atau bukan, tentunya aku sedikit, terlalu banyak berharap.
Namun anehnya William justru menatapku tak percaya dengan pertanyaanku, seolah yang barusan kukatakan adalah sesuatu yang tak masuk akal. Alisnya terangkat meneliti wajahku, pikirnya mungkin aku sedang bercanda. Tapi tidak. Aku sungguh ingin tau. William mendesah.
“Aku datang karena kau Audree.”
Dadaku terasa penuh sesak.
“Karenamu,” tegasnya saat pandangan kami saling bertemu. “Kau adalah alasan kenapa aku selalu ingin kembali. Dan aku tidak punya alasan lain lagi. Bahkan aku tak lagi punya keluarga ditempat ini. Satu-satunya yang membuatku datang ke Jacksonville adalah kau.”
Aku tidak tau bagaimana mulanya, tetapi yang aku tau William kini sedang memelukku. Bisa kurasakan panas tubuhnya ditengah udara yang kian mendingin.
Seharusnya aku tau tau apa akibatnya untukku nanti. Tepatnya setelah pria ini tak lagi disini. Namun saat-saat seperti ini aku rela menukarnya dengan apapun. Aku terlalu merindukan Willy. Teramat sangat.
...Bleep
...