THE GUARDIAN; MANNEQUIN

THE GUARDIAN; MANNEQUIN
SEORANG TAMU



~Audree~


Bagus. Aku terlihat sangat acak-acakan. Tampak jelas bayanganku dari kaca depan. Penampilanku sama buruknya dengan otakku yang terasa tersumbat. Tapi melihat pola-pola yang belum sepenuhnya kuselesaikan aku merasa tidak harus mengkhawatirkan tentang penampilan. Tenagaku benar-benar terkuras untuk berkonsentrasi.


Meski begitu buruk, setidaknya penampilanku tersamarkan oleh sekat-sekat tiang kayu Ek yang berjajar dan dipasang agak berjauhan dari satu ke yang lainnya, sehingga ada sedikit celah-celah diantara barisannya. Memungkinkan bagiku untuk membantu Katie mengawasi keadaan distro ketika tempat ini agak ramai. Meski aku sempat berpikiran untuk menambah satu karyawan untuk membantunya melayani pelanggan. Tapi mungkin Katie tidak akan suka ide itu. Ya, tentang membawa seorang saingan untuknya kemari.


“Audree!” Suara Katie mengoyak lamunanku. Tapi wajahnya tidak juga muncul. Hingga suaranya kembali bergema beberapa saat kemudian. “Audree, William datang!”


Bak hujan petir, aku terlonjak dari kursiku sendiri. William? Bagus sekali. Kepalaku berdenyut-denyut semakin parah, kakiku tertanam begitu kuat seolah enggan untuk digerakkan. Dan bodohnya, itu sangat berlawanan dengan bisikan hati kecilku. Ini benar-benar tidak keren.


“Audree, kau mendengarku kan?”


“Mm ... yeah,” sahutku sekenanya, “aku ... segera kesana.”


Akhirnya. Hari yang sangat buruk. Sekelilingku menjadi gelap meski panas terik menggantung diluar sana. Betapa beruntungnya aku. William Devit Walters, kami memanggilnya Willy. Pria yang sangat familiar sekaligus asing disaat yang bersamaan. Kapan terakhir kali dia mengunjungiku? Atau sekedar menelponku? Ah, kurasa sudah terlalu lama sampai aku sendiri tidak bisa mengingatnya. Dan kedatangannya yang begitu tiba-tiba ini mengundang kecurigaan dan juga ... kerinduanku.


William, dia sahabatku, sahabat Katie, semenjak kami memasuki sekolah menengah. Ia pria yang manis, dengan perawakan tinggi kekar dan kulit yang agak gelap karna terpapar sinar matahari. Mungkin karena William memang seorang peselancar, jadi matahari terlalu sering memanggang kulitnya dan membuat pigmen putihnya memudar menjadi kecoklatan seperti itu. Rambut pirang platinanya yang cepak dan kilau mata kuning kecoklatan itu seolah sedang menyapaku.


“Audree??” Katie melotot menatapku tak percaya, benar-benar kesalahan melihatku keluar begitu saja tanpa merapikan rambutku terlebih dulu. “Lihatlah gadis ini, bukankah ia benar-benar berantakan?”


Simpatinya sungguh luar biasa, nyaris melebihi perhatian ibu-ibu kebanyakan, bahkan melebihi Ibuku sendiri. Aku mengacuhkan tatapan tajam Katie yang ditujukan untuk menamparku itu, kualihkan mataku pada William yang tak kalah kagetnya, meski ia justru tersenyum dengan kondisiku.


“Kau masih tampak luar biasa Audree.”


Senyum dan pujiannya yang tulus membuatku meremang. Aku menarik tali rambutku dan merapikannya lagi untuk mengalihkan perasaan gugupku.


“Hai...,” sapaku sesantai mungkin, meski terdengar canggung, sembari mengikat rambutku yang sempat terlepas, “senang melihatmu di hari yg keruh ini.”


William tersenyum dan memelukku, cukup lama sehingga aku bisa menghirup aroma parfum maskulin itu lagi dari tubuhnya. Aku merasakan bibirnya yang lembut menyentuh punggung bahuku. Seolah ia tengah menyampaikan kerinduannya yang begitu dalam padaku. Jantungku seperti akan meledak.


Mungkin kami terlalu terbawa suasana, hingga Katie berdehem pelan lalu terkekeh begitu aku langsung berjingkat mundur dan menjauh dari pelukan William. Katie tahu apa yang sedang kurasakan, jelas sekali dari ujung bibirnya yang terangkat penuh senyum meledek.


Itu membuatku sedikit kesal. Namun sensasi pelukan William seketika menandaskan amarahku. Masih terasa hangat, dan ... menyenangkan, persis seperti William yang dulu. Hanya rambut pirang platina itu yang membuatnya tampak sedikit berbeda. Dulu warna rambutnya merah kecoklatan, sangat cocok sekali dengan warna matanya yang kuning kecoklatan dan kini tengah menatapku. Perasaan itu kembali membuatku canggung selama beberapa detik.


“Hey ... setidaknya hormatilah seseorang disini,” dengus Katie memecah keintiman tatapan kami, “baiklah, kurasa agak kurang tepat jika kalian reunian disini.”


“Yeah, kurasa begitu.” William tersenyum tipis, menatap Katie sekilas lalu kembali kearahku.


Aku tahu ia sedang meminta waktuku. Selalu banyak waktu luang untuk sesuatu yang penting. Kini kurasakan sendiri bahwa pernyataan itu benar. Well, kurasa aku benar-benar kalah, “yeah, sepertinya tidak masalah jika istirahat sebentar.” Katie dan William tersenyum menang.


Aku melangkah keluar distro diikuti oleh William yang segera mensejajarkan langkahnya begitu kami berhasil keluar pintu. Kami melangkah pelan dan seirama, menelusuri trotoar rendah yang selalu bersih dari sampah.


Aku suka tempat ini, nyaris seluruh blok adalah barisan pertokoan, salon, cafe, restoran dan sejenisnya. Kebersihan dan keramahan orang-orangnya membuatku merasa nyaman untuk terus berada disekitar tempat itu. Setidaknya jauh lebih banyak yang bisa diajak berbicara daripada dirumah.


Angin bertiup lembut sore itu, tak ada mendung ataupun kabut yang biasa merangkak diantara ketinggian. Sungguh sore yang cerah, dan hangat. Akhirnya, kami memasuki sebuah kedai kopi tak jauh dari distro. Hanya beberapa blok dari sana. Aku kenal betul pemiliknya. Lucyana.


“Selamat datang,” sambut si pramusaji, yang sedetik kemudian mengembangkan senyuman disudut bibirnya,


“Hai Audree,” sapa Lucy penuh keakraban.


“Hai Lu,” balasku mendekati meja baristanya. Seragam hitam putihnya masih terlihat rapi meski ia telah bekerja dibalik meja itu seharian.


Lucy mencermati sosok pria didekatku, yang kemudian mengerling penuh tanya padaku, “dia lebih keren dari yang kubayangkan,” bisiknya, namun itu terlalu keras untuk dikategorikan dalam sebuah bisikan. Aku yakin seluruh ruangan juga pasti bisa mendengarnya. “Kuakui seleramu sangat bagus Audree.”


Jelas wanita ini salah paham. Aku merasa tidak enak pada William kalau sampai ia mengira aku mengaku-ngaku menjadi pacarnya atau apa. Dan aku mendengar dorongan dari diriku sendiri untuk menjelaskan kekeliruan ini. Bibirku baru saja akan terbuka untuk menyangkalnya ketika William sudah mendahuluiku.


“Benarkah? Padahal, aku nyaris sama sekali tidak percaya diri untuk berdiri disampingnya,” William melemparkan senyumnya begitu aku menelengkan kepalaku kearahnya.


Apa yang ia katakan? Telingaku seperti baru saja tertusuk sebilah pisau, namun justru hatiku yang terasa berdarah-darah. Semakin terngiang maka semakin sakit yang tertinggal. Meraung dan menggerogoti sisa-sisa celah hatiku. Membagi sesak didadaku. Kenapa harus seperti ini? Entahlah. Mungkin saja William memang sedang bergurau. Mengimbangi lelucon Lucy. Aku tidak ingin terlalu bersandar pada angan itu.


“Ah tentu tidak. Kau yang paling keren.”


Tentu saja. Aku kan tidak pernah datang kesini dengan pria manapun. Siapa yang mau ia banding-bandingkan. Omong kosong. Ia masih saja pandai membual.


“Namaku William.”


“Oh, namaku Lucy.”


Hebat! Aku bahkan tidak perlu repot-repot mengenalkan mereka.


“Baiklah Tuan William yang tampan, kau siap memesan?” Lucy menyiapkan bolpoin dan kertasnya, bersiap untuk mencatat pesanan.


Lucy hampir seumuran dengan Ibuku. Hanya saja Lucy lebih muda beberapa tahun dibawah Ibuku tentunya. Selain wanita yang baik dan ramah, Lucy jauh lebih memahamiku dibanding Ibuku sendiri. Ia teman berbagi yang sangat baik. Terkadang aku takut aku lupa siapa Ibuku sesungguhnya.


“Cappucino dengan lebih banyak cream dan choco grandule, kurasa. Jika selera Audree tidak berubah.”


“Oh … ya ampun,” Lucy berkomentar, “ternyata kau memahami gadis malang ini dengan sangat baik ya.” Lucy mengalihkan pandangannya padaku. Tatapan yang penuh selidik.


Apa?! Mataku melotot seolah tengah mengatakan itu padanya.


“Ah, baiklah. Satu cappuccino dengan lebih banyak cream dan choco grandule. Dan kau, tampan. Apa yang ingin kau pesan?”


“Mmh … entahlah. Apa saja yang kiranya enak disini?”


Lucy melirikku.


“Apa?” suaraku keluar kini.


“Kau tidak mau membantunya untuk memesan?”


Aku menghela nafas pelan. Kentara sekali usaha Lucy saat ini untuk mengakrabkan kami. “Kurasa tidak masalah jika Willy mencoba es americano buatanmu.”


“Baiklah, itu saja.” Jawab Willy setuju. Aku yakin ia tersenyum saat mengatakannya. Dan aku tidak mau repot-repot untuk memastikannya.


“Okey, akan kuantar pesanan kalian ke meja.”


...Blee**p**...


Sepuluh menit terasa lama sejak pesanan kami datang. Tapi tak satupun dari kami angkat bicara. William juga tidak mengatakan apapun. Itu membuatku berpikir apa yang sebenarnya sedang kulakukan disini.


Sejujurnya, aku berharap William akan mengatakan sesuatu, apapun, tentang kami. Okey, mungkin kami memang tidak lagi sedekat itu. Tetapi diantara kami ada sesuatu yang memang butuh kejelasan. Kami sangat dekat, dulu. Ketika kami masih bersekolah di tempat yang sama.


Semua nyaris mengira kami berpacaran. Namun entahlah, kenyataannya hubungan kami tidaklah sedalam itu. William tidak pernah mengatakan apapun. Kami hanya … sering pergi bersama. Nonton film, ke sekolah, berselancar, hanya sebatas kegiatan berteman pada umumnya. Segalanya terasa sangat menyenangkan saat itu.


Hingga suatu ketika, datangnya kesempatan yang mengubah harinya, dan tentunya hari-hariku. Kesempatan untuk mewujudkan segala mimpinya. Ada segelintir pahit yang terasa dijejalkan ke ulu hatiku. Dan mengingat hal itu membuatku memahami perasaan Ibuku. Nasib kami tidak jauh berbeda. Menyedihkan.


“Audree!” panggil William, wajahnya nampak khawatir karna aku terus diam tak bersuara. “kau baik-baik saja?”


“Mmh ... ya,” aku tergagap, menyentuh cangkir kopiku dengan harapan meraih sedikit ketenangan, “maksudku, tentu. Aku baik-baik saja. Hanya sedikit terkejut seorang teman lama mengunjungiku.”


Kulihat raut wajah William yang sedikit menegang perlahan mengendur. Sedikit tawa tersungging disudut bibirnya. Benar-benar tulus tanpa merasa tersinggung atas sindiranku. Ia tampak tenang, dan tentu saja, tampan seperti biasanya. Kulit kecoklatan yang terlalu lama terpanggang dibawah sinar matahari itu tampak hangat, ingin sekali memeluknya, namun begitu teringat jarak yang selama ini terbentang diantara kami, semua keinginan itu pun sirna. Lenyap begitu saja.


“Aku tahu kau pasti membenciku Audree.”


“Itu bagus,” sambarku.


Lagi-lagi William tertawa. Dan semakin banyak pecahan kaca yang menari-nari disekitarku. Menyakitkan. Tapi disatu sisi sangat kurindukan. Kenapa ia selalu begitu indah?


“Bukan begitu Audree,” alisnya bertaut, tampak bingung dengan kata yang ingin ia ucapkan, “aku … aku menyesal Audree. Tetapi, kadang kita tidak selalu punya pilihan.”


Aku tak menanggapi penyataannya itu. Aku tidak membutuhkan pembelaan apapun tentang dirinya sendiri. Tapi akan kucari tahu kebenaran kalimat itu suatu hari nanti.


Apa salahnya sebuah harapan? Salahnya adalah ketika harapan itu tidak mampu untuk diwujudkan. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sana. Menyingkir dari hadapan William. Menyingkir dari sebagian kenangan.


...Bleep...


Cahaya temaram dari matahari yang meredup kemerahan menyembul melalui pantulan kaca mobil William. Ia bersikeras mengantarku pulang sore tadi. Walau berkali-kali aku membantah dengan berbagai alasan untuk menolaknya. Sebenarnya itu karena aku lebih ingin menghindarinya. Rasa canggung yang sempat terbayang ternyata jauh lebih menyiksa daripada yang mampu kupikirkan.


Nyaris setengah jam kami tercekat dalam kesunyian, tidak ada tanda-tanda pita suara akan bergerak, hening. Bahkan desah nafas diatur sedemikian rupa agar tetap pelan dan tak terdengar. Meski pada kenyataannya, aku ingin melontarkan nafasku keras-keras karna aku nyaris tak bisa bernafas dengan lega disini.


Kualihkan pandanganku keluar jendela. Bahuku menegang dibalik sandaran mobil walau aku telah berusaha untuk tampak sesantai mungkin. Dan kurasa William juga merasakan hal yang sama. Ia bahkan sesekali mengusap tengkuknya yang sama sekali tidak berkeringat.


Tentu saja, pendingin mobilnya berfungsi terlalu baik disini. Sesekali lirikan matanya jatuh kearahku. Tapi toh tidak ada yang ingin memulai berbicara, mengakhiri kebisuan ini. Bahkan jarak rumah yang tidak pernah tersa sejauh ini sebelumnya mulai membuatku frustasi.


Sedetik kemudian aku menyesali keputusanku sendiri. Keputusan yang membuatku terisolasi didalam mobil mewah ini. Namun tiba-tiba, William berdehem pelan. Memanggil namaku, memecah keheningan setelah sekian lama.


“Audree.”


Aku menoleh perlahan, menatapnya. Mencari jauh kedalam sorot matanya. Menanti setiap detik untuk kata berikutnya membuat buku-buku jariku memutih karna remasan tanganku sendiri. William tampak ragu. Tapi aku menunggu dengan sabar.


“Maafkan aku.”


Jantungku nyaris seperti dihantam bola beton. Dinding pembatas diantara kami runtuh dalam satu nada penyesalan yang dilontarkannya. Hanya dua baris kata itu mampu membuatku terpaku tanpa mampu berkedip. Seluruh kata dan kemarahan yang tersimpan selama ini, perasaan terhianati demi sebuah impian, luruh tersapu olehnya.


“Aku tidak pernah bermaksud meninggalkanmu, sama sekali tidak pernah sedikitpun terlintas pikiran seperti itu,” matanya menatap lurus kedepan. Kedua lengannya tergantung lunglai dgn kedua telapak tangan masih mempertahankan roda kemudi. “Maaf Audree, keputusan itu terpaksa kuambil. Aku hanya … tidak punya pilihan lain.”


“Kalau begitu,” aku kesulitan mencari jawaban yang tepat, “berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”


Aku mendongak, berusaha menangkap bayangan wajahnya dibawah lampu-lampu jalanan kota. Dua tahun berlalu, dan untuk pertama kalinya aku menatap wajah itu lagi dengan berani.


William menunduk sekilas, meremas jemari tanganku yang bebas. Dan kami tersenyum. Waktu yang singkat adalah ketika kita sedang bersama kebahagiaan.


...Bleep...


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Kepalaku terasa pening. Aku terhuyung kedepan saat berusaha menggerakkan tubuhku. Tidur berjam-jam dengan posisi terduduk sangat tidak nyaman. Sekelebat aku membayangkan betapa nyerinya para manusia kuno prasejarah yang melakukan semedi atau semacamnya. Pasti rasa sakitnya berpuluh-puluh kali melebihi sakit punggungku saat ini. pasti tulang mereka akan keram permanen.


Ah, tapi tunggu dulu, kenapa aku bisa tidur dalam posisi terduduk?


Aku berjingkat dari dudukku segera setelah memikirkannya. Namun karena gerakan yang tiba-tiba itu kepalaku justru terantuk atap mobil dan aku kembali jatuh ke posisi semula. Dan seketika itu juga kesadaranku kembali sepenuhnya. Meski rasa pening itu sama sekali tidak berkurang namun justru bertambah sekarang.


Mobil? Kenapa aku ada didalam mobil?


Aku menoleh pada sosok yang bergerak-gerak disampingku. William menggeliat sembari membuka sebelah matanya, yang kemudian melirik kearahku. Senyumnya berkembang melihat raut wajahku yang sedikit terkejut.


“Kau harus berlatih mengendalikan rasa terkejutmu saat bangun tidur,” senyumnya yang tadi sudah berubah menjadi rentetan tawa pelan, “terakhir kau melakukannya, DVD-playerku bermuara di klinik elektro selama berminggu-minggu.”


“Be… benarkah?” sahutku tergagap


William menelengkan kepalanya mendekat ke wajahku, membuatku mundur beberapa jengkal untuk menghindari kedekatan yang begitu tiba-tiba. Tentu saja ia terkekeh melihat responku.


“Kau tidak ingat?”


Aku menautkan kedua alisku. Meraba-raba potongan-potongan kenangan saat kami masih sering bersama dulu. Tapi kurasa terlalu banyak waktu yang kami lalui, hampir setiap hari kami bertemu dan melakukan hal-hal yang menyenangkan. Meski ditengah kegiatan yang padat, selalu ada celah untuk memecah keangkuhan sang waktu.


Kemudian ingatanku tertambat pada hari itu.


...Flashback...


Aku menunggu satu jam penuh didepan bioskop. Menghentak-hentakkan ujung sepatuku, berusaha untuk tetap tenang. Namun William tidak juga muncul. Aku merutuk kesal.


“Dia mengingkari janji yang ia buat sendiri.”


Untuk alasan persahabatan, aku menahan diri untuk tidak meninggalkan lobi. Kuputuskan untuk menunggu sebentar lagi. Aku duduk diantara bangku-bangku kosong. Semua orang sudah berada didalam bioskop. Sedangkan aku hanya memandangi dua lembaran karcis ditanganku.


Sejam berlalu. Dan aku tahu saat itu bahwa William tidak akan muncul. Kesabaranku sirna. Dengan sisa popcorn dan Cola di kedua tangan, aku melangkah menuruni escalator. Sekotak penuh popcorn itu nyaris tandas. Lidahku matirasa. Kurasa aku terlalu banyak mengunyah camilan manis itu. Aku membuang keduanya begitu melihat tempat sampah disisi pintu masuk.


Aku berjalan menyusuri trotoar disepanjang jalan utama kota Jacksonville. Bahkan ditengah salju pertama yang melompat turun dari langit aku masih sanggup berjalan. Rasa dingin itu seakan luruh oleh kekesalanku pada William.


CIIITT…! Aku berhenti dan menoleh. Sebuah Force tua hitam mengerem mendadak ditepian jalan, beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku mendapati William duduk dibalik kemudi ketika pintu mobil terbuka. Ia berlari tergesa menghampiriku, memintaku untuk masuk kedalam.


Namun aku masih kesal meski kata maaf yang pertama keluar dari mulutnya begitu tiba didepanku. Aku hanya terus melangkah sambil menendangi kerikil kecil yang berserakan dijalanan. Anehnya, ia tidak mengejarku.


“Salju pertama?” teriak Willy.


Senyum tersungging disudut bibirnya ketika aku berhenti dan menoleh. Tatapannya memohonku untuk segera masuk ke mobilnya. Bodohnya karna aku pernah cerita padanya tentang mitos salju pertama yang akan membuatmu jatuh cinta pada orang didepanmu. Ia tertawa saat itu. Dan sekarang ia selalu menggunakan itu untuk menggodaku.


“Haruskah aku menggendongmu masuk?”


“Tidak. Terimakasih.” Jawabku ketus sembari berjalan sewot melewatinya.


Aku yakin ia tertawa saat itu, tapi aku tidak akan menoleh. Aku mendengar langkah kakinya mengikutiku. Dengan sigap ia membukakan pintu untukku. Aku melangkah mendekat dan mengayunkan tubuhku hingga mendarat pada jok mobil William yang rendah. Kali ini sukses tanpa terantuk sisi pintu mobil yang rendah seperti biasanya. Willy tertawa kecil melihat antisispasiku kali ini.


“Kau sengaja memilih mobil ini kan?” tuduhku sinis.


Mataku menyelidik seluruh raut wajahnya, mencari unsur kesengajaan yang akan ia tunujkkan dengan jelas. Ia senang mendengar suara kepalaku yang beradu dengan atap pintu mobil. Menurutnya itu lucu.


Biasanya ia akan tertawa, namun kali ini ia tampak menyesal. Terlebih lagi sudah membuatku menunggu begitu lama.


“Haruskah aku mengganti mobilku?” tanya William dengan nada bersalah. Seolah benar-benar menyesal membuatku tidak nyaman dengan mobilnya.


“Ya, kurasa kau harus mempertimbangkannya.”


Sudut bibirnya merekah membentuk sebuah senyuman mendengar jawabanku. Ia tahu aku hanya sedikit kesal. Tidak benar-benar marah.


...Bleep...


Layar televisi menyala biru terang, tak ada gambar apapun disana. Aku memang belum menentukan apa yang ingin kutonton. William bersandar di sofa beberapa meter dibelakangku. Dengan sabar menungguku yang sibuk memilah kaset DVD yang kami beli tadi.


“Pilih saja salah satu Audree, atau kau perlu bantuan?" tawar William mulai tak sabar.


Aku buru-buru mengangkat tangan kiriku tinggi-tinggi dan menyabet salah satu kaset. Kemudian dengan cepat memasukkannya kedalam DVD player. William terkekeh melihatku pontang-panting berlarian kembali ke sofa disebelahnya.


“Kadang kau tampak menggemaskan,” goda Willy.


Aku tak menoleh, hanya menyodorkan cornflakes pada William, isyarat agar pria itu diam karena aku sedang berkonsentrasi penuh pada layar televisi. Mataku tidak beralih dari sana sedikitpun. Lagi-lagi William terkekeh.


Tiga jam berlalu dengan cepat. Entah karena kekenyangan atau kelelahan aku tertidur di sofa. Entah mimpi atau bukan, tapi rasanya aku sudah tertidur terlalu lama. Mataku mengerjap-erjap pelan, menyesuaikan banyaknya cahaya didalam ruangan.


Sejenak aku tertegun, ruangan ini tampak asing. Tapi tidak terlalu mengagetkanku yang masih terlentang itu kemudian beralih kesamping dan aku melihat wajah seseorang. Wajah orang lain yang begitu dekat, hanya beberapa senti dari wajahku.


Sontak aku terkejut. Seperti mendapat sengatan listrik ke otakku yang langsung menyala penuh dan memberiku perintah untuk melompat bangun. Tapi kakiku justru menendang sesuatu dengan keras. Perlahan aku tersadar, menatap box hitam yang kini berserakan bersama kaset-kaset DVD. Beberapa detik kemudian aku menyadari sepenuhnya, yang barusan kulontarkan ke dinding adalah DVD Player William.


Aku menoleh dan meringis kikuk pada William yang masih berbaring di depanku. Dia tidak marah, hanya tersenyum kehabisan kata.


“Kurasa ia akan lama sakit.”


...Flashback End...


...Bleep...