
~Audree~
Mentari masih antusias bertengger ditempatnya, kurasa begitu. Semenjak aku melangkahkan kaki keluar rumah di akhir musim dingin ini. Musim semi akan segera tiba dan cuaca cukup hangat, kendati bongkahan-bongkahan kapas putih beku itu masih berserakan di trotoar dan beberapa bagian jalan ketika beberapa petugas kebersihan mencoba membersihkannya.
Aku sengaja tidak memakai perlengkapan penghangat apapun ditubuhku, karna sepertinya udara terlalu hangat untuk disebut akhir musim dingin. Atau mungkin juga musim dingin telah benar-benar kehilangan pesonanya.
Kutarik merapat mantel merahku yang begitu setia dalam berbagai musim dihidupku. Itu hadiah terakhir yang pernah kuterima akhir musim dingin beberapa tahun lalu. Mungkin saat itu usiaku menginjak enam belas, atau mungkin juga tujuh belas. Entahlah, jangan tanyakan hal sedetail itu padaku, karna aku memang bukan seorang pengingat yang baik. Dan kurasa itu juga tidak terlalu penting.
Kupercepat langkahku agar aku tidak terlambat memasuki kereta yang akan membawaku ke tempat kerja. Ya, sebuah butik yang sudah hampir empat tahun ini kutekuri bersama sahabatku. Meski keuntungan yang kudapat tak sebesar distro-distro di kawasan padat tengah kota, setidaknya, semua rancangan pakaian beserta aksesoris rambut disana adalah rancanganku sendiri.
Dan aku selalu bangga akan hal itu. Kecuali tas, sepatu dan kacamata, karna aku belum sempat merambah bidang itu, jadi sebagian masih harus memilih stok dari beberapa perusahaan yang menawarkan kerja sama dengan kami.
Hanya saja aku yakin, suatu hari nanti, Audrea Pamela Ortiz, akan tumbuh menjadi seorang desainer fashion besar dan berkeliling dunia sebagai seorang gadis muda yang berwawasan luar biasa mengenai dunia fashion. Dan fashion show tunggal pertamanya akan digelar di London.
Astaga, apa imajinasiku terlalu berlebihan?
Kudorong pintu kaca setebal 10cm yang terbuka mulus setelah aku membuka kuncinya dan memasukkan password dari tombol pengaman yang terpasang disana. Manekin-manekin cantik berbaris rapi ditempat masing-masing dengan mimik wajah dan posisi yang tidak berubah sejak kutinggalkan kemarin sore. Dan anehnya aku merasa seolah mereka semua sedang tersenyum sambil mengucapkan selamat datang padaku.
Wow, satu lagi imajinasi yang semakin menakjubkan dariku pagi ini. aku sangat berharap, aku masih dapat dikategorikan waras.
“Hai Audree.”
Aku menoleh ketika suara lonceng diatas pintu toko berbunyi nyaring. Benda itu memang sengaja kuletakkan disana agar kami tahu apabila ada pengunjung yang datang. Dan kudapati Katie Wiltz, sahabat karibku melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Ini memang usaha yang kami rintis bersama-sama. Jadi, disinilah kami sekarang.
“Maaf, aku agak terlambat,” katanya, “aku mengajak Thomas jalan-jalan pagi ini. aku takut dia agak bosan berdiam disana seharian sementara aku sedang bekerja.”
“Siapa?”
Matanya melebar kearahku, seakan baru saja berteriak, “apa kau melupakan tentang Thomas? Astaga, aku tidak percaya kau melakukannya Audree.”
Entahlah, aku mungkin ingat. Dan mungkin juga tidak. Terlalu banyak yang ia ceritakan padaku tentang nama ini dan itu, semua yang ia miliki selalu bernama, dan kurasa aku hampir lupa sebagian diantaranya. Oh, baiklah, aku bahkan lupa semuanya. Tapi setidaknya aku masih mengingat namanya dengan baik, Katie Wiltz, untung saja namanya tak sepanjang namaku.
Dia sahabatku semenjak kami duduk dibangku sekolah dasar. Satu-satunya sahabatku, kurasa. Meski ia selalu berisik dan kadang berlebihan dalam menanggapi sesuatu, atau mungkin lebih tepatnya dalam menanggapi semua hal.
“Mm ...,” aku mencoba, tapi nihil. Baiklah, aku menyerah. Aku tidak ingat sama sekali pada Thomas. Thomas, memangnya siapa dia? Aku melayangkan jurus andalan terakhirku kearahnya, menunjukkan cengiran terbaikku yang kurasa itu cukup memelas.
Katie mendengus putus asa, “dia anjingku Audree,” katanya sambil melempar jaket ke kursi kasir, “kuceritakan padamu kemarin.”
Oh, baiklah. Aku benar-benar merasa tidak enak sekarang. Itu karena terkesan tidak menyimak ceritanya sama sekali kemarin. Tentang Thomas, anjing barunya. Tentu saja. Memangnya siapa peduli tentang anjing?
“Baiklah... mungkin, kau bisa membawanya lain kali,” kuucapkan lebih lembut dan berusaha terdengar seantusias mungkin, “agar tidak merasa, bosan,” tambahku. Katie melotot kegirangan, dan aku langsung menyesali keputusanku detik itu juga. Kenapa aku mengatakannya?
“Itu ide yang sangat hebat Audree, jadi dengan begitu Thomas selalu berada dibawah pengawasanku,” sambarnya membuatku skeptis, “mengapa tidak pernah terpikir olehku sebelumnya?”
Ia terlampau antusias. Kuabaikan Katie dan berjalan menuju meja kerjaku. Bangunan distro kami tidak terlalu luas. Jadi, aku berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin agar tetap nyaman dan pergerakan didalam ruangan tidak terlalu sempit.
Ada satu gudang tempat penyimpanan stok dan bahan baku, tidak seberapa besar, mungkin hanya berukuran 3x3 meter, namun penuh sesak didalam sana. Ditambah satu ruang ganti mungil yang hanya muat satu orang di utara meja kasir.
Aku mengambil satu sisi diarah berlawanan dengan meja kasir dan jauh lebih menjorok kebelakang untuk meja kerjaku, ada sekat-sekat berbentuk tiang-tiang dari kayu pohon Ek yang berbaris rapi didepan mejaku, jadi itu memungkinkanku untuk membantu Katie mengawasi toko kami saat pelanggan sedang ramai.
Sudut-sudut distro ini tidaklah sepi, Katie mendesain tempat ini dengan pot-pot bunga kering dan batang-batang kayu berwarna coklat. Diletakkan dengan sangat tepat dan tidak mengganggu pergerakan lalu lintas pengunjung, tetapi memberikan kesan indah dan menawan. Kadang aku bangga pada kecintaannya pada dekorasi ruangan.
Oh, dan tentunya akan ada rumah anjing diluar sana nanti, aku begitu yakin.
Meja kerjaku agak terhalang beberapa jajar pakaian sehingga Katie dan aku tidak bisa langsung kontak mata jika ia tidak menaiki kursi. Teriakannya selalu berguna pada saat seperti itu. Disudut sempit ini aku biasa mengerjakan rancangan-rancangan gaunku. Aku sengaja memisahkan diri dari Katie karna dia terlalu berisik didepan sana. Mendengar ocehannya sama saja membiarkan ide-ideku menguap begitu saja tanpa sempat kugambar.
“Audree ...!”
“Ya?” jawabku serak. Apa lagi sekarang? Itulah teriakan yang baru saja kubicarakan. Kurasa aku mulai menyesal telah membicarakannya.
Kudengar langkah pumps heroic 15 centi miliknya beradu cukup keras dengan lantai dan sedang bergerak menuju kearahku. Sesampainya didepanku, dia bersandar pada dinding tiang, menatapku dengan mata bulat besarnya. Namun ia tak bertanya apapun.
“Apa?” rasa penasaran mendorong kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirku.
“Mm... bagaimana keadaan ibumu?”
Hatiku mencelos, Katie kembali mengingatkan keadaan orangtuaku. Hal yang sedang tidak ingin kubahas, terlebih dihari yang masih sepagi ini. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali melihat Ibu dan Ayahku berada dalam satu rumah disaat yang bersamaan.
Bahkan Ayahku nyaris tak pernah menunjukkan dirinya didepanku lagi setelah bertahun-tahun lalu berkata akan berpisah dengan ibu. Bertengkar dan saling menyalahkan didepanku. Benar-benar menyedihkan. Mereka selalu hidup dalam dunianya sendiri. Begitu pula aku, dengan duniaku sendiri.
“Mm ... itu ...,” aku tidak sanggup melanjutkan kalimatku, terlebih lagi tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Katie memang selalu baik padaku, ia selalu membantuku dan ada disaat aku membutuhkannya. Bagiku, Katie lebih dari sekedar sahabat. Dia satu-satunya saudara dan keluarga yang tersisa. Tapi pagi ini, aku tidak ingin membicarakan apapun dengannya. Apapun itu.
Aku hanya butuh waktu untuk desain-desainku yang mendesak dan menuntut segera diselesaikan. Kompetisi Top Desainer untuk fashion musim semi hanya tinggal beberapa minggu lagi. Dan itu tangga menuju impianku, satu-satunya semangat hidupku kini. Satu-satunya tujuan yang tersisa.
“Audree, aku sedang bicara padamu,” Katie berkacak pinggang didepanku karena aku mengacuhkannya. Namun ia tampak khawatir.
“Ah, emm ... itu ....,” aku bingung harus berkata apa, mengumumkan perceraian kedua orangtuaku yang telah lama berpisah? Dan membuka lagi aib kegagalan keluargaku? Entah bagaimana, aku berharap sesuatu akan mengakhiri pembicaraan ini dan mengalihkan perhatian Katie. Tepat saat harapanku terhenti, terdengar lonceng depan toko kami berbunyi.
TIINGGG ...!
“Permisi ...!”
Aku tersenyum menang, pembicaraan antara pasien dan psikolognya berakhir lebih awal. Aku suka kehadiran pelanggan pada saat yang tepat. “Kurasa kau harus segera pergi.” Aku mengingatkan.
Matanya menyipit begitu tajam, seolah-olah tengah menuduhku menyembunyikan buronan narapidana kelas VVIP darinya.
“Permisi ...! excuse me ...!!” suara itu kian mendesak.
Katie mendesah kesal, “ya ... aku segera datang.”
...Bleep...
Empat jam berlalu, aku telah menyelesaikan beberapa pola untuk gaunku. Tanganku bergerak lebih cekatan diatas kertas daripada menggambar pola dikain. Anehnya sudah empat tahun aku terjun dalam bidang ini kemampuanku menggambar pola diatas kain tidak mengalami banyak peningkatan.
Aku sempat berpikir ulang untuk menyelami bakat desainer ini. Tapi Katie selalu memarahiku dan menyuruhku berlatih. Ia selalu mengatakan bahwa semuanya akan membaik. Pada kenyataannya, tidak semuanya selalu membaik.
The struggles I’m facing ... The chances I’m taking
Sometimes might knock me down
There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be an uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose
Ain’t about how fast I get there
Ain’t about whats waiting on the other side ... is the climb ...
(The Climb, Miley Cyrus)
“Is the climbbb ... yeah ... ee ...,” tiruku mengikuti lirik lagu favoritku, tepat ketika music berhenti dan membuat Katie berteriak frustasi.
“Astaga, tolong hentikan itu Audree! Aku sedang mengangkat telepon!”
Aku melompat dan meraih ponselku dari saluran speaker distro. Terkekeh geli karna membayangkan wajah Katie yang kesal karna tak mendengar apapun dari teleponnya. Itu hari pengacau yang sangat keren. Yeah ....
“Audree ...!”
Aku menelan ludah. “Ya?” aku menunggu, kupikir Katie akan mengomel lagi kali ini, dan ternyata tebakanku benar-benar salah, total.
“Kau mau kupesankan sesuatu?”
Makanan. Aku baru ingat kalau aku belum mengisi perutku sejak pagi tadi. Tak ada makanan apapun dirumah. Semua sisi bangunan besar nan usang itu terasa terbengkalai dan kosong. Rasanya setiap hari selalu seperti itu. Aku kembali tersenyum getir mengingat bagaimana keadaan rumahku.
“Audree.”
“Ah, ya, Katie, apa saja.”
Kurasa aku memang memerlukannya. Aku meletakkan pensilku dan menjepit kertas-kertas desainku ke tali-tali yang terikat pada dinding disebelah kiriku. Aku menggeser kursi dan berdiri, meluruskan otot-ototku yang mungkin terlipat karna terlalu lama duduk disana. Kulirik sekilas helaian-helaian kertas bergambar itu. Dan aku merasa sangat puas.
“Hanya perlu membahasnya dengan Katie dan menunggu pendapatnya,” gumamku sembari menghela nafas dalam-dalam.
Lelah menerpa. Seluruh tubuhku terasa kaku dan nyaris seperti robot saat kugerakkan. Baris-baris tulangku yang beradu itu terdengar menimbulkan suara seperti tulang-tulang yang patah. Aku benar-benar merasa lelah. Mungkin karena pekerjaanku, atau mungkin karna sesuatu lainnya.
Entahlah. Lebih tepatnya aku tidak peduli. Aku sudah berbaring disofa mini disudut ruangan ketika Katie kembali lima belas menit kemudian. Tangannya menenteng kantong kertas coklat berisi sesuatu yang beraroma makanan.
“Terimakasih.” ucapku sesaat setelah kotak persegi coklat itu mendarat ditanganku.
Wanginya benar-benar membuatku semakin kelaparan. Paket jumbo macaroni panggang dengan keju dan kentang goreng. Wow, itu cukup berkarbohidrat. Aku takut akan segera gemuk jika Katie yang harus pergi membeli makan siang setiap harinya.
“Oh ya, Audree.” Katie berbalik sesaat sebelum mencapai kursinya, menatapku, tanpa ekspresi. Misterius seperti biasa. Dan itu selalu membuatku tidak nyaman.
“Apa?”
“Aku ...,” ia tampak ragu-ragu, membuat alisku berkerut hingga nyaris bertautan diatas ruas hidungku, “kurasa ... aku menemukan, sesuatu.”
Sesuatu? Apa yang ia temukan? Bom? Apa dia sedang bercanda? Kalau itu benar, maka lelucon ini sama sekali tidak lucu. Terus terang saja hal-hal seperti ini membuatku sedikit, gugup. Katie berlutut menghadap lemari dibawah perangkat komputernya.
Aku tidak bisa melihat apa yang ia cari karna meja dan computer kuno itu menghalangi pandanganku dengan cukup baik. Agaknya beberapa detik berlalu setelah Katie berjibaku dengan benda-benda dalam laci besarnya, dan ia berdiri dengan sesuatu ditelapak tangan kanannya.
Sebuah kotak berwarna merah ruby.
...Bleep...
Aku menimang-nimang kotak mungil itu ditanganku. Penasaran dengan apa yang tergeletak didalamnya. Namun aku bimbang untuk menengok isinya. Menurut Katie, mungkin Ayahku lah yang meletakkannya didepan pintu toko beberapa hari lalu. Itu menjelaskan kenyataan bahwa dia bahkan tidak ingin menemuiku. Apa ini? kado ulangtahunku diakhir musim dingin yang kelam? Begitukah? Lalu apa pentingnya benda ini bagiku. Omong kosong.
Aku melemparkan kotak itu kedalam laci meja kerjaku. Sama sekali tidak ingin membukanya lagi. Benda itu bersarang bersama kado-kadonya yang lain. Tapi itulah yang selalu ia lakukan. Ayahku. Ia bahkan tidak pernah menemuiku sejak ulangtahun tujuh belasku. Dan sejak hari itu, aku pun sama. Tidak pernah membukanya sejak kado terakhir yang ia berikan padaku. Ya, mantel merah itu. Hanya itu satu-satunya kenangan yang tersisa bersamanya.
Aku tidak tahu pasti kapan segalanya mulai memburuk, atau mungkin lebih tepatnya, kenapa jarak ini bisa terjadi diantara kami. Itu ... terjadi begitu saja.
“Audree ...!”
Sesuatu membuyarkan lamunanku, suara nyaring Katie berteriak dari mejanya. Itu bagus, setidaknya, aku tidak punya alasan untuk menangisi nasibku yang begitu payah dalam segala hal. Kecuali pekerjaanku, kurasa.
“Yeah ... aku datang Katie.”
Rambut merah rubyku bergoyang-goyang mengikuti gerakan tubuhku saat aku melangkah keluar dari ruanganku. Aku selalu mengikatnya ketika sedang bekerja. Itu membuatku cukup nyaman dan tidak terganggu.
“Ada apa?” tanyaku saat mendekati Katie.
“Kau membeli manekin lagi?!” serbunya melotot padaku. Matanya nyaris melompat keluar.
Kalau saja ada yang memiliki kekuatan supranatural, mungkin seseorang akan melihat kobaran api menyala-nyala dan menyembur dari kedua matanya. Dan mungkin orang-orang akan ketakutan saat melihatnya. Oh, dan itu pasti sangat ... keren. Penggambaran yang kreatif.
...Bleep...
Katie melipat kedua lengannya didada, memandangku dengan tatapan yang begitu tajam. Dan aku rasa, ia sudah sangat siap untuk pengadilan kami karna masalah ini. Dalam banyak hal, Katie lebih suka menjadi jaksa penuntut daripada seorang hakim. Aku tak berani bergerak sampai suaranya terdengar mengudara.
“Ada yang ingin kau jelaskan padaku mengenai pengeluaran mendadak ini?”
Oke, ini memang pengeluaran yang tidak termasuk dalam DAFTAR BELANJA yang aku serahkan padanya. Tapi ketika melihat jajaran manekin-manekin didekat toko kain, aku mendapatkan ide ini begitu saja.
Aku memang menggunakan uang pribadiku untuk ini, akan tetapi terus terang saja, aku menambahkan sedikit uang kami untuk kekurangan diatasnya. Ah, baiklah, kuubah perbandingannya, kurasa uang kami lebih banyak. Daripada jumlah uangku sendiri.
“Mm ... yeah, itu ... karna kupikir, akan terlihat keren kalau melihat diriku tergambar dalam sebuah manekin,” terangku jujur. aku pernah berimajinasi memiliki sesuatu yang mirip diriku, manekin dgn rambut merah ruby dan kulit pucat porcelen yang mulus. Bukankah itu terdengar keren?
“Keren? Hanya untuk alasan keren??” Katie mendesah, menggelengkan kepalanya dengan tak percaya atas alasanku.
“Yeah ... mmm ... maksudku adalah ... bukankah, itu bisa dikatakan seperti sebuah ... ciri khas?”
Dan cara terakhir untuk menyelamatkan diri adalah dengan mengeluarkan jurus cengiran terhebatku dengan tatapan 'Oh ayolah Katie ... bukankah aku sangat manis? Kau tidak akan memotong gajiku kan?
Nyaris sebelum suara itu keluar dari tenggorokannya, lonceng diatas pintu kami berbunyi. TIINGG ...!!
...Bleep...