
~Audree~
“Masuklah.”
Aku berdiri disisi pintu sambil menunggu William masuk. Lama ia berdiam didaun pintu. Matanya melirik setiap sisi ruangan. Seolah memindai rumahku. Jelas tak ada yang berbeda dari perabotnya. Hanya posisi sofa dan meja tamu yang digeser lebih merapat ke dinding samping.
“Rasanya sudah lama sekali,” gumamnya.
Aku tersenyum membenarkan. Sudah nyaris empat tahun rumah ini tidak melihat William. Rasanya terlalu banyak yang berubah disini. Terlalu sedikit waktu yang kuhabiskan dirumah. Tidak sesering dulu saat kami masih bersama.
William melepas sepatunya dan beralih mengenakan sandal yang berbaris rapi di sisi pintu. Senyumnya merekah mendapati sandal coklat yang pas dengan ukuran kakinya. Tentu saja. Itu memang miliknya. Kami terlalu sering main kerumah masing-masing sehingga meninggalkan satu sandal untuk dipakai. Senyumnya masih bertengger disana.
Aku melenggang, berlalu melewatinya, meninggalkan gagang pintu yang segera menutup dengan bunyi klik. Sejujurnya aku tak tahu harus menjawab apa, lebih tepatnya beralasan apa. Hanya kalimat yang saat itu terlintas dibenakku.
“Belum sempat kubuang.”
“Tentu saja,” jawabnya tertawa pelan.
Mungkin ia tahu aku sedang menyelamatkan harga diriku. Dan sesaat aku penasaran. Bagaimana kabarnya sandalku. Mungkin sudah tidak ada lagi disana. Kakiku terus melangkah menuju dapur. Terdengar langkahnya yang berat mengikutiku perlahan.
“Kau masih tinggal sendirian?” Willy memunggungiku yang sedang mengaduk-aduk isi lemari es. Sekarang mungkin tengah malam, atau lebih. Aku tidak tahu tepatnya. Jam dindingku sudah lama mati dan aku tidak ingin repot menaiki tangga untuk mengambil dan mengganti batereinya.
“Tidak,” jawabku menoleh, dan ia menatapku, “bersamamu.”
Sontak ia mengangkat sudut bibirnya, meski tidak ada suara tawa yang terdengar. Namun kulihat jam dindingku sudah di tangan William. Entah kapan ia mengambilnya. Tangannya yang lain membuka laci meja dan memungut sebuah baterei yang entah sejak kapan ada disana. Kadang aku heran karena orang lain lebih mengerti rumahku daripada diriku sendiri.
“Well, apa yang ingin kau dengar?” kuputuskan bertanya karena tampaknya ia ingin mendengar sesuatu dariku.
“Bagaimana kabar Ibumu?”
Perlu beberapa detik bagiku untuk menjawab, kurasakan tatapan William tidak pindah dari punggungku. Karena aku sedang memanaskan pizza ke dalam microwave.
“Mmh… yeah, Brietta baik,” jawabku. Mungkin tidak terdengar meyakinkan. Tapi sejauh yang kulihat memang dia baik-baik saja. “Ya, dia bilang senang dengan kegiatannya, jadi tidak terlalu sering datang untuk menengok rumah.”
Entah William terlalu memahamiku, atau mungkin suaraku telah mengkhianatiku, tapi krasa William menyerah dengan tidak menanyakan kabar Brietta lagi. Kudengar langkahnya menjauh menuju ruang tengah. Dan beberapa detik kemudian televisi menyala.
...Bleep...
TINGG…!!! Lonceng pintu berbunyi teramat nyaring dalam distro yang sepi. Terlalu pagi untuk pengunjung.
“Selamat daa…’” kudengar suara Katie terhenti ditengah-tengah. Tak perlu mendongak untuk memastikan siapa yang datang sepagi ini.
“Oh, kau rupanya,” suara Katie terdengar lebih antusias, “mencari Audree?”
“Ya, mmh… kurasa kita bisa sarapan bersama. Aku membawa beberapa roti lapis dan jus jeruk.”
“Oh, tentu.”
Aku melangkah mendekat dengan lambat. Semacam antisipasi agar Katie tidak perlu meneriakkan namaku dihari yang sepagi ini. mengurangi cedera pendengaran.
“Kau datang?” sapaku sedikit kikuk. Walau aku berusaha terdengar normal, namun bisa kulihat mata William menyipit seakan menegaskan padaku "tentu saja aku akan datang". Bodohnya aku. Namun tetap saja, kehadirannya membuatku khawatir kalau-kalau itu hanya imajinasi liarku saja.
“Aku membawa beberapa roti lapis tuna kesukaanmu dan jus jeruk. Kalau kalian tidak keberatan kita sarapan bersama.”
“Tentu saja tidak.” Katie bahkan menyambar sebelum aku sempat berkedip.
Kami menyantap makanan yang masih hangat itu dalam diam. Dan itu membuat Katie yang cerewet merasa tidak betah lama-lama disana. Ia pun pergi beralasan membeli kopi, meninggalkan kami berdua. Keheningan yang sempurna.
Jarum jam begitu lambat. Detik-detik yang terbuang itu begitu menyiksa. Willy juga tampaknya tak ingin bicara. Ia begitu tenang dengan jusnya.
“Mm…,” aku ragu sejenak, “kau sedang libur panjang?” akhirnya memulai percakapan. Sebenarnya aku ingin memastikan seberapa banyak waktu kami yang tersisa kali ini.
“Kenapa?” balasnya datar. Namun wajahnya menuntut sebuah jawaban.
“Well, hanya ingin tahu. Mungkin aku tidak perlu repot-repot sarapan dirumah selama kau masih tinggal.”
Bisa kudengar ia tertawa pelan, kedua sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman saat balas menatapku. Dan perlahan kecanggungan diantara kami memudar. Tidak mudah menghangatkan suasana.
Mengingat sekian lama kami tidak pernah bertemu. Pipiku memerah begitu ingat kemarin aku bahkan sempat merangkul lengan kekarnya yang mengkilat terbakar matahari itu. Kugelengkan kepalaku tanpa sadar, membuat William menatapku heran.
“Audree, kau baik-baik saja?” tanyanya beralih khawatir.
“Oh, ya, tentu.”
Lagi-lagi William tergelak, “kau tidak pernah berubah.”
“Apa?”
“Aku tidak tahu apa yang sedang berdebat dikepalamu dan siapa yang menang, tapi sepertinya adalah sesuatu yang tidak masuk akal sehingga kau menggoyang-goyangkan kepalamu seperti itu.”
Dan lagi-lagi aku hanya tersipu. Ia benar-benar memahamiku.
“Sebenarnya, aku sedang libur," William memulai.
“Semacam cuti musim dingin?” sergahku.
“Yeah, bisa dibilang semacam itu.”
“Berapa lama?”
Ada segelintir kebimbangan dalam raut wajahnya untuk menjawab pertanyaan singkatku. Seolah itu adalah kalkulus menyulitkan.
“Entahlah,” jawabnya pelan, “mungkin tidak akan lama.”
Berita yang seharusnya tidak membuatku terkejut, namun kegetiran masih saja menodai nada suaraku. “Oh, ya tentu.”
Kualihkan pandanganku keluar kaca. Kabut mulai tersibak dari hamparan awan-awan hitam. Ombak dilautan pasti berangsur membaik. Dan itu tak akan membiarkan peselancar tinggal jauh dari pantai terlalu lama.
“Kau tau aku harus selalu kembali Audree…” Suara William yang berat semakin membuat dadaku terasa sesak.
Kukerjapkan bola mataku, berusaha agar air mataku tidak menetes. Sulit membuat suaraku tetap normal. “Ya, tentu,” suaraku pecah, “kau memang harus selalu kembali. Memang sudah seharusnya seperti itu. Itu bagus Will.” Aku berusaha semampuku.
William menyadarinya. Bahwa itu melukaiku. Selalu. “Maafkan aku Audree.”
Butiran air bergulir dari sudut mataku. Ternyata aku tak cukup mampu untuk membendungnya. Dan setiap pertemuan kami selalu berakhir dengan kepergiannya. Kali ini pun begitu. Kami berpaling, menatap keluar. Membisu.
...Bleep...