
~Audree~
Aku senang perhatian Katie teralihkan. Ia beranjak kedepan meninggalkanku dengan manekin yang mirip diriku. Patung menyerupai manusia untuk pajangan baju ini memang benar-benar nyaris menyerupaiku. Wig__rambut palsu merah ruby yang sama persis denganku, kornea mata biru laut yang nyaris sesempurna softlens buatan. Benar-benar seperti ... sungguhan. Sudah lama aku ingin melihat yang seperti ini.
Seandainya saja aku bisa menjadikannya saudara kembarku, mungkin setidaknya aku tak akan menjalani semua ini sendirian. Kadangkala memiliki teman untuk berbagi itu menyenangkan.
Aku memasangkan sebuah gaun sutra berwarna biru laut cerah, kuharap itu sesuai dengan kilau matanya. Dan ukuran gaunnya benar-benar pas, tidak besar, dan juga tidak terlalu kecil. Sangat pas.
“Audree...”
Itu suara Katie, apa dia akan mulai mengomeliku lagi sekarang? Aku meninggalkan aktivitas mengagumi rancanganku pada manekin istimewa itu, dan menoleh dengan malas kearah suaranya. Tenggorokanku tercekat, nyaris tersedak oleh suara yang tertahan diujung tenggorokanku. Apakah itu ... manekin? Lagi??
Sementara aku tertegun beberapa detik dalam kebingungan, Katie tampak bersusah payah menyeret boneka itu menuju kearahku. Kenapa ada dua manekin?
Aku merogoh kembali seluruh bagian dari ingatanku, tapi tak satupun menunjukkan bahwa aku membuat pesanan atas dua manekin. Terlebih lagi ini ... manekin pria. Dan kenyataan bertahun-tahun riwayat toko kami, aku tidak pernah membuat pakaian pria.
Sesaat Katie berhenti dan melotot kearahku, seakan itu adalah sebuah teguran atau semacamnya.
“Audree, apa kau akan terus berdiri disana sampai benda ini roboh menimpaku?”
Dan itu cukup menyadarkanku bahwa mungkin aku memang harus membantunya. Kami menyeret benda itu menuju ruanganku. Ternyata memang, cukup berat.
“Ss ... siapa yang ... mengirimnya?” tanyaku terbata-bata karna seluruh tenagaku terpusat untuk menopang benda itu.
Sejauh yang aku tahu, bobot manekin tak pernah seberat ini. Walaupun yang satu ini agak berbeda dari keseluruhan manekin yang ada ditoko kami. Okey, kuralat, jelas sangat berbeda. Karna mayoritas, seluruh patung disini adalah manekin wanita. Tapi tetap saja, perasaanku mengatakan bahwa mereka tidak seharusnya seberat ini. Dan kurasa ... kali ini Katie setuju denganku.
“Apa ... benda ini ... terbuat ... dari besi?” desisnya terputus-putus.
Kusadari ia cukup kuat karna sempat berhasil menyeret manekin ini sendirian tadi. Walau pergerakannya hanya bertahan beberapa inci sebelum bantuan datang.
SYUUHHFFT ...!! kami membuang nafas bersamaan.
Terpaku memandangi manekin tubuh pria berambut hitam dan kilau mata coklat terangnya. Posturnya benar-benar tinggi dan tegap seperti kebanyakan anggota pasukan S.W.A.T. Kurasa Katie mengagumi keindahan fisiknya. Kalau saja ini pria sungguhan, aku yakin ia takkan melewatkannya.
“Keren juga,” gumamnya, “dan ... mereka membuat lengan ototnya begitu ... wow...”
Itu membuatku bergidik ngeri. Kuharap Katie masih menemukan sisa-sisa kewajaran dalam seleranya. “Astaga Katie ....”
Apa? Ia menyeringai sengit padaku, meninggikan sebelah ujung alisnya. Seolah itu memintaku untuk mengoreksi bagian ucapannya yang kurang tepat.
“Oh, ayolah Katie ... itu hanya ....”
“Manekin?” potongnya beberapa detik lebih cepat, “ya, aku tahu itu.”
“Itu bagus.”
“Yeah ... kau boleh memilikinya Audree.”
“Apa?”
“Dia milikmu sepenuhnya,” cibirnya dengan nada acuh, “kurasa benda mati itu lebih cocok denganmu.” Katie mengucapkannya sambil berlalu begitu saja.
Aku mengernyit penuh protes atas sugestinya itu. Memangnya dia pikir aku pecinta benda mati? Begitukah? Seberapa buruk penilaiannya padaku sebenarnya.
Aku mendesah putus asa, dengan cara berfikirnya. Tentu saja. Bukan berarti aku menutup hatiku untuk pria lalu aku akan berpaling dan menyukai manekin untuk kucumbu. Yang benar saja. Aku ini masih normal. Hanya saja kurasa itu belum begitu penting. Kadang aku merasa pemikiran Katie terlalu berlebihan. Atau ia memang selalu berlebihan.
...Bleep...
“Maksudmu ... tidak ada tagihan untuk yang satu itu?!” aku yakin semua orang bisa menangkap ekspresi nyaris tak percaya ketika mendengar suaraku. Katie menggeleng pelan. Sepertinya ia tidak mau ambil pusing untuk masalah yang satu ini.
“Sama sekali?”
Aku masih ingin memastikan bahwa sama sekali tidak ada sepeser pun tagihan atas manekin asing itu. Karna aku sama sekali tidak merasa memesan manekin pria. Aku bahkan belum pernah membuat desain pakaian untuk pria sebelumnya.
“Tidak ada sama sekali Audree,” ia berusaha meyakinkanku, “kalaupun ada, aku pasti akan mencekikmu saat itu juga.”
Aku meraba-raba leherku, masih ditempatnya. Syukurlah.
“Lalu ... siapa yang mengirimnya? Apa boleh kita menyimpannya sedangkan kita tidak tahu asal usul kedatangannya?”
“Entahlah. Anggap saja seseorang sedang berbaik hati dan mengirimkannya sebagai hadiah untuk kita.”
Pemikiran yang terlalu sederhana. Aku tidak yakin didalam otaknya itu pernah terselipkan rasa khawatir. Aku kembali keruanganku. Menatap benda yang nyaris tak mungkin bergerak itu. Kalau saja ia bisa bicara, pasti akan kutanya darimana ia berasal. Pemikiran buntu yang semakin menggelikan.
...Bleep...
Rumah. Tempat ini terlalu sepi, dan ... asing. Setidaknya itu yang kurasakan selama empat tahun terakhir ini. Aku berbaring di sofa tengah. Warna kulit luarnya kurasa sedikit memudar. Entah karna tidak ada yang mendudukinya selain aku dan Katie, tentu saat ia datang berkunjung dan ngotot ingin menemaniku karna khawatir aku merasa kesepian dan bertindak bodoh atau apa, yang pasti, hanya ia yang selalu ada. Atau mungkin juga karna alasan lainnya, misalnya bahan kulit sofa ini yang tidak berkualitas atau bagaimana. Dan itu membuatku berinisiatif untuk menggantinya. Yeah ... kurasa itu masuk akal.
Sekejap, aku tersentak dari tidurku. Bel rumah yang usang dan mirip dengan bunyi lonceng ditokoku itu menggangguku. Tadinya kupikir aku tengah bermimpi seseorang akan datang, tapi memangnya siapa yang akan mengunjungiku selarut ini. Katie?
Itu tidak mungkin. Jarak rumahku dan rumahnya terlalu jauh dan akan sangat berbahaya untuk kaum perempuan pergi ditengah malam seperti ini. Awalnya aku berniat mengabaikan itu. Takut-takut itu perampok atau mungkin hanya orang iseng yang berniat mengerjaiku. Namun begitu kudengar suara yang sangat akrab ditelingaku ... sepertinya aku berubah pikiran.
Aku melangkahkan kakiku lebar-lebar agar segera sampai dipintu. Kutarik pengait dan kunci pintu rumah. Handle pintu berderit ketika aku memutar kenopnya dan mendapati seseorang dibalik kayunya yang coklat. Itu Ibuku. Agak mengejutkan melihatnya ingat untuk mengunjungi rumah. Itu jarang terjadi. Mungkin aku bisa mengkategorikannya kedalam suatu spesies kegiatan yang langka.
“Hei Mom ...,” sapaku dengan senyum sebisa mungkin agar tampak antusias. Aku telah berlatih bertahun-tahun untuk melakukannya. Beberapa tahun terakhir lebih tepatnya.
“Audree sayang ...” ia memelukku.
Itu agak terdengar palsu ditelingaku. Namun aku tetap tersenyum dan membalas pelukannya. Tidak lama, hanya sepersekian detik. Anggap saja itu basa-basi antara orang dewasa.
Aku bergeser sedikit agar Ibu segera masuk dan menutup pintunya agar aku tidak perlu berlama-lama berdiri disana. Angin diluar berhembus begitu dingin. Sedingin hati semua orang dirumah ini. Ibu masuk bersama beberapa kantong belanjaan ditangannya. Kutawarkan secangkir teh padanya.
“Biar aku saja Mom.”
Aku mengambil alih kegiatannya merapikan barang-barang belanjaan yang hampir seluruhnya adalah kebutuhan dapur. Mungkin ada beberapa untuk keperluan rumah tangga lainnya. Dan sekali lagi itu membuatku sedikit terkejut. Ibu bukanlah tipe orang yang seperti ini selama empat tahun terakhir, membawakan banyak belanjaan karna takut aku kelaparan atau apa.
Yang jelas ini bukan bagian dari kebiasaannya. Atau dari dulu memang ia sudah seperti ini. Aku tidak begitu ingat. Well, apa hebatnya mengingat masalalu. Kenyataannya masalaluku tidaklah sekeren itu.
Biar kuceritakan sedikit tentang mereka. Ibuku ... dia seorang pianist. Lulusan universitas terbaik di LA. Sungguh membanggakan, bagi sebagian orang. Ia cantik, cerdas, dan terkenal memiliki wawasan intelektual, begitu pula dengan ambisinya didalam karir yang kurasa terlampau tinggi.
Maka ketika seseorang menawarinya sebuah posisi bagus, entah dimana itu aku tidak begitu peduli karna itu yang membuatnya sering meninggalkan rumah, Ibu menerimanya. Alasan jarak tempuhlah yang membuatnya ingin menetap. Alasan itu juga yang membuatku takut untuk antusias dalam segala hal.
Dan ... Ayahku ... dia bukan orang penting. Hanya ... seorang pengawas museum. Setidaknya, itu pekerjaan terakhirnya yang aku tahu sebelum ia menghilang entah kemana. Aneh bukan? Kenapa Ibuku yang seorang pianist hebat menikah dengan pengawas museum?
“Are you okey Mom?” tanyaku agak khawatir karna Ibu melamun dan tidak mendengarku yang menyuruhnya untuk beristirahat.
Ia berpaling kearahku, menghela nafas dalam-dalam, berusaha menguatkan dirinya sendiri untuk menatapku. Mulai ada kerutan di sudut matanya, kendati usianya barulah 40 tahun. Tapi ia masih sangat, cantik. Ada sedikit kebimbangan dari raut wajahnya ketika menatapku. Meski tak lama, dan ia kembali menunduk menekuri lantai dingin dibawah kakinya. Dan itu membuatku sedikit ... bingung.
“Apa ada masalah?”
“Maafkan Ibu Audree,” lirihnya.
Okey, itu cukup mengejutkanku, “Mm ... Mom ...?”
“Ibu sangat menyesal,” sekali lagi menundukkan wajahnya dalam-dalam, “ini tidak seharusnya terjadi padamu.”
Apa ini? Apa sekarang ia sedang merasa bersalah padaku?
Satu keanehan lagi yang kudapati hari ini. Seluruh bagian hidupku terasa semakin aneh. Mungkin aku berharap Ibu tidak mengatakan apapun tentang penyesalannya. Tidak setelah bertahun-tahun aku terbiasa dengan keadaan seperti ini. tanpa satu orang pun yang bertanya tentang pendapatku, perasaanku, ataupun keinginanku. Aku selalu ditinggalkan seorang diri.
Tapi penyesalan wanita yang telah melahirkanku ini, membuatku luluh. Aku tidak bisa menyalahkan siapapun atas keadaan kami, tidak Ibu, dan tidak juga Ayah. Aku melangkah mendekat, mungkin sebuah pelukan akan membuatnya tenang.
“It’s okey Mom, jangan terlalu memikirkanku.”
Hanya itu yang bisa kulakukan. Meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja. Dan memintanya untuk tidak mengkhawatirkan apapun tentangku. Aku menepuk-nepuk pelan bahu Ibu yang sekarang sepenuhnya terisak dalam pelukanku. Aku tahu ia juga menderita atas keadaan ini.
Dan akan sangat tidak adil kalau aku juga harus menyalahkannya. Yang aku bisa hanyalah berusaha untuk lebih memaklumi. Terkadang, perasaan orang dewasa jauh lebih rumit dari yang pernah kita bayangkan. Sedangkan kita selalu dituntut untuk berpikir lebih dewasa untuk mengikuti pemikiran mereka.
...Bleep...
Pagi menjelang, aku bangun lebih awal dari jam beker butut yang harusnya bertugas membangunkanku. Tirai tipis yang menutupi jendela kusibak dan kuikat ditepian dinding. Mentari tampak merona kemerahan diantara gelapnya langit. Aku berjingkat kecil menuruni tangga tanpa alas kaki dan aku yakin tak sedikitpun suara yang mungkin dihasilkan dari gesekan kakiku dengan lantai. Jadi aku tak khawatir akan membangunkan Ibu yang tampak sangat lelah.
Aku putuskan untuk menyiapkan roti selai dan membuat dua gelas susu hangat untuk menemani sarapan kami. Alih-alih memberikan sedikit perhatian pada Ibu yang mungkin sedang merasa tidak baik. Ada semacam pertentangan batin didalam dirinya. Yeah, kurasa begitu.
Tiga puluh menit, dan aku telah siap untuk menekuri rutinitas kerjaku. Tapi aku berniat untuk mengajak Ibu sarapan bersama terlebih dulu.
“Mom ...,” punggung tanganku sibuk memukuli daun pintu kayu berwarna coklat gelap itu beberapa kali. “Mom ... bisakah kita sarapan bersama sebelum aku pergi?”
Hening. Tidak ada tanda-tanda persetujuan apapun didalam sana. Beberapa detik berlalu, namun kamar itu terlalu sepi. Sejenak aku tercekat, degup jantungku tak beraturan dan nyaris berteriak panik. takut terjadi sesuatu pada Ibu.
Tanpa pikir panjang aku menerobos masuk, dan ternyata pintu kamar tidak terkunci. Hatiku mencelos. Tak ada siapapun disana. Aku nyaris berlari keluar rumah ketika menyadari selembar memo terselip disudut meja lampu.
Audree, maaf Ibu pergi tanpa
Membangunkanmu. Tapi Ibu akan lebih
Sering menelponmu.
I love you dear,
Mom.
Lebih sering? Wow, itu cukup mengkhawatirkan. Aku beranjak ke meja makan dengan tiga kursi yang masih berbaris ditempatnya. Sama seperti beberapa tahun yang lalu. Hanya saja, dulu semua kursi itu tidak dibiarkan kosong seperti itu. Ayah, Ibu, dan Audree kecil yang manja selalu duduk diantara keduanya. Sekarang ... kursi itu benar-benar kosong.
Hanya aku, Audrea Pamela Ortiz remaja yang duduk disana seorang diri. Tak ingin berlama-lama, kuteguk habis jatah susuku pagi ini, dan setumpuk roti selai kusambar untuk kunikmati sambil berjalan saja. Aku ingin cepat-cepat pergi dari sini. Rumah ... tak selalu senyaman yang terlihat.
...Bleep...
“Audree,” panggil Katie disela-sela kesibukanku menjahit simpul kain mawar merah dibahu gaun malamku untuk kompetisi pesta musim semi. Seorang desainer juga harus tampil memukau ketika mendampingi hasil rancangannya bukan? Dan aku harus mempersiapkannya untuk malam terhebat disepanjang hidupku nanti. “Kurasa ... kita harus membuatkannya sesuatu,” lanjutnya.
Aku menoleh dengan tatapan bingung. Kedua sudut mataku mencekung pertanda tidak mengerti arah pembicaraannya. Seperti dengan lugunya bertanya, “siapa yang sedang kau bicarakan disini?”
“Kau tidak akan membiarkannya terbalut Koran sepanjang waktu dan menjadikannya pajangan diruang kerjamu saja kan?” jemarinya menunjuk kearah manekin misterius yang masih berdiri tegak disudut ruang kerjaku.
Usul itu ada benarnya juga. Tidak mungkin membiarkannya teronggok disana begitu saja. Tapi masalah utamanya adalah, sejauh ini aku belum pernah membuat pakaian untuk pria. Dan pelanggan kami memang sebagian besar hanyalah kaum hawa. Bukan berarti tidak ada pelanggan pria yang pernah kemari, tentu ada. Hanya saja mereka tidak berbelanja untuk kebutuhan mereka sendiri. Sejauh ingatanku memang begitu.
“Mm ... entahlah. Rasanya ... mungkin agak sulit.”
Katie mengernyit, menandai keraguanku adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar. “Hei, kalau memang kau ini seorang desainer hebat, kau harus lebih peka pada tantangan.”
Lagi-lagi cibiran tajam yang ia lontarkan cukup untuk menampar wajahku. Dia memang menyebalkan. Tapi tak urung, itu ada benarnya juga. Aku meletekkan gaunku yang telah selesai kujahit. Mengamati manekin itu lekat-lekat. Dan mulai memperkirakan sesuatu yang mungkin cocok untuk dipasang disana. Apakah kaos? Kemeja? Atau mungkin jas? Ini ... sedikit merepotkan.
“Pikirkanlah sesuatu yang keren.”
Aku melirik Katie yang hanya bisa berkomentar, “lebih baik kau diam saja, itu sangat membantu.” Sungutku kesal. Dia tidak lebih baik daripada aku. Kapan ia akan mulai menyadari hal itu.
“Baiklah,” ia bangkit berdiri, selangkah kemudian berbalik dan mengankat tangannya ke udara, “oh, dan tolong, jangan mengecewakanku.”
“Oh ya ampunn ... tidakkah itu berlebihan?” Aku bahkan tidak pernah mengecewakan pelangganku dalam hal fashion. Apa dia tidak tahu itu? Menyebalkan!
Aku menancapkan ujung pensilku ke meja hingga ujungnya patah. Aku benar-benar kesal jika seseorang meremehkan kemampuanku. Karna sejauh ini tak ada satupun pelanggan kami yang complain atas ketidaknyamanan jenis apapun. Kualitas dan kepuasan pelanggan adalah yang utama. Kurasa Katie harus membandingkan hasil desain kami sekali-sekali.
Andai ada yang bisa menterjemahkan hasil desainnya, mungkin aku akan sangat senang. Aku pernah melihat sekali ia menggambar sebuah gaun (menurut Katie) tapi aku nyaris menangis karna tertawa. Gambarnya sangat, sangat, sangat, jelek. Lebih buruk dari gambar anak berusia lima tahun. Itulah alasan kenapa Katie lebih memilih menginjak mesin jahit berjam-jam daripada harus menggambar satu desain. Menggelikan.
Aku beranjak mendekati manekin itu. Meraih pita meteran dan selembar buku serta pena baru. Aku akan mulai mengukur badan manekin itu agar pola yang kubuat sesuai dengan lekuk tubuhnya.
Mula-mula dari kerah untuk lehernya, awalnya aku sedikit kesulitan karna aku merasa dia sedikit lebih tinggi dan tegap sehingga posturnya itu agak menyulitkanku.
Oh, seandainya aku lebih sering memakai higheels, mungkin tidak akan seburuk itu. Selesai dengan kerah dan bahunya, aku berpindah ke lingkar lengan. Kurobek Koran bekas yang melilit badannya karna itu agak mengganggu. Setelah itu, lingkar dada, lingkar pinggang dan panjang sisi pinggangnya.
“Yeah, aku dapat ukurannya.”
Cukup puas dengan hasil ukuranku yang akurat. Kemudian pikiranku melayang untuk pasangan kemejanya. Cukup lama aku berfikir. Apa aku harus membuatkan celana kain untuknya atau ... sejenak, aku tercekat ditempatku.
Masih bersusah payah menelan ludah yang tersangkut diujung tenggorokanku. Dalam satu sentakan aku mencoba bangkit dari posisiku yang berlutut tepat dihadapan manekin itu, namun karna terburu-buru aku justru jatuh dan terjengkang kebelakang.
Aku bisa merasakan pipiku merona karna malu. Bagaimana bisa aku terpaku disana begitu lama, didepan sebuah manekin yang sedang telanjang? Ya Tuhan, ampuni aku. Dalam hati aku terus menekankan pada diriku sendiri. Astaga ... Audree, itu hanya sebuah ... manekin. Percayalah.
Kenapa aku jadi gugup dan semalu ini? Kepalaku terasa berdenyut-denyut lebih cepat daripada saat aku terserang migrain beberapa waktu lalu karna keasyikan lembur. Kusambar sehelai kain sutra panjang dan kulilitkan menutupi pinggang manekin itu hingga ujung kainnya jatuh dibatas lutut. Kusematkan beberapa jarum disana agar kain itu tetap kokoh.
Kini, manekin itu tampak seperti pria-pria dari bangsa romawi kuno dengan kain putihnya. Jauh lebih baik dibandingkan tanpa mengenakan apapun. Aku duduk didepan mejaku, masih merasakan detak jantungku yang belum beraturan. Sebenarnya tidak ada yang aneh. Itu kan hanya sebuah ... manekin. Dan tidak ada apapun disana. Tapi ... tetap saja, rasanya wajahku terbakar karna malu.
“Dengar Audree, itu hanya manekin. Benda mati. Ya, benar. Hanya sebuah benda mati. Dan kau sama sekali tidak berdosa. Okey?” Aku menghela nafas lebih dalam, berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa aku masih baik-baik saja. Dan aku masih, waras.
...B**leep**...