THE GREAT GOD

THE GREAT GOD
Desa Misterius



Setibanya disana aku melihat ada sebuah desa yang sangat buruk seperti kota kalau menurut diriku orang orangnya juga banyak kekurangan gizi bahkan mungkin ada yang hampir mati kalau menurutku.


Orang-orangnya hidup dalam kesusahan seperti apakah pemimpinya mengetahuinya. Aku lalu memerintahkan Leyasu untuk pergi mencari informasi tentang desa ini siapa tau nanti aku dapat menemukan sesuatu.


Saat berjalan santai tiba tiba ada seorang anak kecil berambut kecoklatan dan memiliki telingan seperti kelinci mungkinkan ini merupakan surga dunia.


Dia menghampiri diriku sambil menangis. "Ada apa gadis kecil kenapa kau menangis di sini?" aku coba berbicara dengan dirinya dengan nada cool.


"Tolong berikan sedikit makanan." katanya dengan nada sayu dia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah hiasan rambut. " Aku akan memberikanmu ini sebagai gantinya."


Aku lalu menggunakan kekuatanku lalu mengeluarkan makanan berupa roti lalu aku memberikanya kepada gadis itu, di lalu mengambilnya dengan segera. "Makanlah dan ambil barangmu ini."


Gadis itu lalu mengangguk senang. "Terimakasih kakak!" dia berkata dengan sangat semangat. "Apa aku boleh pergi kerumahmu?" gadis itu lalu mengangguk lalu, kami lalu mencari pergi ke rumah gadis itu sekitar setengah jam kemudian kami menemukan rumahnya. Ibu gadis kecil itu lalu mengajak diriku masuk kedalam sebagai ucapan terimakasih karena sudah memberikan makanan kepada anaknya.


Saat aku masuk kedalam keadaanya sangatlah parah banyak atap yang bolong yang jelas kondisinya sangat mengenaskan sekali. "Tuan apakah aku boleh tau apa yang terjadi terhadap desa ini sebenarnya?"


"Ini semua karena kebijakan dari kuil suci yang memaksa seluruh manusia binatang seperti kami diasingkan di hutan ini karena mereka menolak adanya ras selain manusia."


Jadi tempat ini adalah kamp pengasingan bagi mahkluk seperti mereka. "Apakah kuil suci itu sebuah negara atau bagaimana?" aku coba menggali informasi lebih dalam lagi, aku bisa dibilang sangat buta dengan situasi politik dinegara aku juga tidak terlalu ingin berurusan dengan mereka tapi entah kenapa kupingku sangat gatal sekali.


"Mereka hanya perkumpulan para pendeta yang menyembah dewa Shira." Aku seperti pernah mendengar nama itu sebelumnya tapi aku lupa siapa dirinya.


Melihat situasi yang seperti ini. "Desa ini masih masuk kedalam wilayah hutan agung yang masuk wilayah kerajaan Tension yang jauh dari pradaban manusia dan juga mahkluk seperti kami bisa tidak bisa bertarung melawan tentara kerajaan yang datang untuk menagih pajak."


"Bukankah kalian bisa mengambil makanan dari hutan apa begitu banyaknya monster disana?"


"Memang benar kami bisa mengambilnya namun bahaya yang mengintai kami disana juga besar dan kami tidak bisa kabur juga karena diluar pasti kami akan diburu."


Ini mirip sekali dengan kamp konsentrasi milik nazi tapi mereka dibiarkan mati kelaparan seperti ini juga bisa dibilang lebih buruk dari pada tentara nazi bukan.


Saat sudah selesai makan aku lalu di ajak oleh kepala keluarga untuk menginap disini aku pun setuju saja dengan tawaranya. Dia lalu mengantar diriku ke kamar yang akan aku gunakan untuk istirahat. "Kalau begitu saya permisi terlebih dahulu."


Tak lama setelahnya Leyasu datang. " Master saya telah kembali." Aku lalu menanyakan apa yang terjadi didesa ini. Leyasu menjelaskan kalau bangsawan yang mengawasi wilayah ini menjadikan para penduduk desa sebagai pekerja tambang bagi para pria sedangkan para wanitanya di jual kekota besar


"Apa kau tau dimana letak kastilnya berada?"


"Ya master, letaknya ada di sebelah barat dari hutan ini." Saat kami berbicara tiba tiba datang prajurit yang memakai baju zirah lengkap dengan tameng dan pedang mereka, aku lalu melihat dari jendela apa yang sedang terjadi.


Aku lalu mendengar kalau prajurit itu memberi hukuman kepada gadis kecil yang tadi aku bawa dengan alasan karena dia tidak sengaja jatuh dan menumpahkan air yang ada di embernya terkena prajurit. "Master sekarang apa yang akan kita lakukan."


Kalau aku tinggal didunia yang dulu mungkin aku tidak akan melakukan apa apa tapi sekarang beda cerita iyakan, aku lalu tersenyum kepada Leyasu lalu menyuruhnya untuk menyelamatkan gadis itu.


"Saya mohon ampuni dirinya dia masih anak anak dan belum mengetahui apa apa."


Prajurit itu lalu melihat kearah Ibunya dan melirik buah dada yang itu langsung membuat wajahnya berubah menjadi mesum aku yang melihat itu rasanya ingin sekali memukulnya. "Baiklah aku akan mengampuninya namun kau harus membalasnya dengan tubuhmu bila tidak anakmu akan mendapat hukum dari kerajaan."


"Mana bisa begitu kau sudah sangat keterlaluan!!!" Suaminya lalu berteriak tidak terima. "Kau berani sekali berteriak didepanku, kau belum merasakan bagaimana rasanya dipukul ya. Kalian cepat hajar pria sialan itu."


Tiga prajurit lalu menghampirinya dan menghajarnya tanpa ampun sama sekali. "Tolong hentikan biarkan suamiku hidup!" wanita itu berusaha menyelamatkan suaminya. "Lalu bagaimana apa kau terima tawaranku hah."


Wanita itu hanya mengangguk saja, pemimpin prajurit itu sudah tertawa dengan wajah mesumnya lalu dia mencoba memegang barang dari wanita itu namun dihalau oleh putrinya. "Jangan sentuh Mama!!!"


"Beraninya kau melawanku anak sialan!!!" Dia lalu memerintahkan prajuritnya untuk menangkap anak kecil itu, para prajurit lalu mematuhi perintah atasanya lalu mereka membawa gadis itu untuk dihukum dibelakang gadis itu sudah berdiri orang yang akan mencambuknya dari belakang. Namun sebelum algojo itu melaksanakan tugasnya dia sudah kehilangan tanganya.


"Aaaaaaa...ta-tanganku!!!" prajurit itu berteriak sangat histerius namun teriaknya berhenti seketika saat Leyasu langsung menebas lehernya tanpa ampun. "Berisik, teriakanmu bisa membuat kuping dari tuanku sakit."


Semua orang yang ada disana langsung kaget dengan kehadiran Leyasu. "Cukup Leyasu biar aku yang menanganinya." aku berkata dengan nada yang tenang tak lupa aku juga mengeluarkan aura intimidasi untuk membuat mental mereka hancur namun sepertinya mereka punya ketahanan yang bagus apa karena baju merek ya.


"Si-siapa kau berani menentang prajurit dari bangsawan Forbos!"


"Kau bertanya kepada diriku, sangat tidak sopan kau pikir kedudukanmu itu sejajar dengan diriku." prajurit itu menampakan ekspresi wajah yang bingung lalu tak lama setelah itu dia langsung tersungkur ditanah dengan posisi bersujud.


"Mulai sekarang desa ini akan menjadi wilayah kekuasan milik-ku kau berserta bangsawanmu tidak berhak lagi untuk memiliki seluruh tanah yang ada disini." Aku lalu menjentikan jari dan boom mereka semua sudah hancur.


Aku melihat sebenarnya meras jijik namun entah kenapa melihat sifat mereka itu jauh lebih membuat diriku merasa jijik lagi. "Leyasu bawa bangsawan itu kehadapanku sekarang." Leyasu lalu mengangguk dan segera membawa bangsawan itu.


Disebuah bangunan yang sangat besar dan megah yang mana didominasi dengan warna putih terdengar jeritan dari sebuah ruangan yang berasal dari bawah tanah.


Suara itu berasal dari cambukan yang dilakukan oleh pria bertubuh gendut yang memiliki wajah bisa dibilang sangatlah jelek terlebih dengan wajahnya yang sangat mesum. "Lagi lagi ayo teriak lagi aku sangat senang sekali mendengar teriakanmu itu hahahah!"


Dia berucap kepada seorang gadis demi human yang dimana disekujur tubuhnya sudah babak belur dan dalam kondisi sekarat. "Sepertinya kau sudah tidak bisa dipakai lagi sangat di sayangkan."


Pria itu lalu memerintahkan anak buahnya untuk membuang tubuh gadis itu, dia lalu keluar dari ruangan itu lalu pergi menuju kantornya namun saat dia membuka kantornya dia mekihat ada seseorang yang membelakanginya.


"Siapa dirimu kenapa kau bisa masuk kedalam sini." Pria itu lalu menoleh kearahnya rupanya itu adalah Leyasu dengan sekejap mata dia sudah memotong kedua tangan dan kaki dari Forbos, Forbos yang menyadari kalau tangan dan kakinya sudah terpotong langsung menjerit.


"Penjagaaaaa!!!"


"Percuma saja mereka tidak akan mendengar dirimu karena mereka semua sudah tewas." Leyasu lalu menarik rambutnya dan langsung pergi menemui tuan-nya kembali