
Rion menghampiri sebuah penjual gulali disana, "Paman, aku ingin itu." Ucapnya.
Azhar yang masih terdiam tak berkutik mendengarkan suara dalam telinganya terus-menerus.
"Hei.... Kemarilah.... Aku menginginkan dirimu... Hei... Ayo..."
Suara misterius itu terus mengganggu pendengaran Azhar. Keramaian orang-orang disana tak lagi terdengar, Illusi yang di hasilkan membuat Azhar tak bisa mengendalikan dirinya.
BRAKKKK
"AZHARRR!!!" Gama berteriak dari kejauhan, pandangan Azhar memudar, matanya terasa berat. Ia terjatuh dengan sendirinya disana.
Orang-orang yang melihatnya langsung menghampiri dan mengerumuni mereka.
Salah seorang disana memberitahu kalau ia akan membantu Gama untuk mencari tempat peristirahatan.
Rion dan Gama mengangkat tubuh Azhar yang lemas. Lalu Gama membopongnya hingga tempat peristirahatan mereka.
"Astaga, kenapa bisa terjadi seperti ini. Dia tak pernah pingsan sebelumnya." Ucap Gama mengeluh kecil.
Rion sedikit panik, 'Perasaanku mulai tidak baik.' gumam batin ia.
Gama membaringkan tubuh Azhar di atas bantalan empuk. "Jika sudah seperti ini, terpaksa kita harus menunggu dia bangun." Serunya.
Rion menghela nafas, "ada-ada saja, dasar anak bungsu." sambil memutar bola mata.
Sementara itu di kampung halaman mereka, Alen tak kunjung pulang namun tak ada di pemancingan, hanya tersisa Baron.
"Apakah anak-anak di rumah baik-baik saja?" Tanya ia seorang diri, lalu umpannya disambar oleh ikan besar.
Baron bergegas menarik kailnya "Whoops!" dengan sedikit tekanan dan tarikan yang kuat, ia kesulitan membawa ikan itu naik ke daratan.
Disisi lain, Azhar membaik dan siuman dalam waktu dekat. Suara dalam benaknya juga tak muncul.
"Kenapa?" Ucapnya sambil menatap sekitar dengan bingung.
Gama duduk bersampingan di samping tubuhnya. "Tenanglah, aku disini."
"Apa yang terjadi padaku, kak?" Matanya melirik kesana kemari.
Ruangan aneh, entah dimana ini. Sejak kapan dia ada disini.' mungkin itu semua terlintas pada fikirannya.
"Kau tadi pingsan di tengah keramaian. Memangnya apa yang terjadi padamu?" Tanya Gama yang kemudian bersinggah.
Azhar kembali mengingat kejadian yang ia alami tak lama ini. "Aku mendengar suara aneh yang entah dari mana asalnya." Jelas ia.
Gama sedang mencerna penjelasan dari Azhar. "Suara misterius yang muncul tiba-tiba?" lengannya melipat sambil mengusap dagu.
Kefokusan Gama dikala itu terguncang karena salah seorang masuk ke dalam ruangan peristirahatannya.
"Bagaimana kabarnya?" Tanya sosok pemuda tersebut yang melirik Azhar.
Gama menjelaskan apa yang terjadi pada Azhar, "Mungkin adikmu hanya berhalusinasi karena cuaca lumayan panas."
Azhar melirik heran. "Siapa dia?" tanyanya kepada Gama.
"Namanya Arsa, kita baru saja kenal saat kau pingsan. Omong-omong dialah orang yang membantu kita mencari tempat peristirahatan."
Azhar ber-oh lalu dia beranjak turun dari tempat tidur. Dia meraih jendela yang tak jauh dari sana.
"Kita benar-benar bisa sampai di kerajaan, ini luar biasa." Azhar memuji keinginannya.
Tak lama sepersekian detik ia mengucapkannya. Ledakan besar terdengar di ibu kota Ardhania yang tak jauh.
DUAAAAARRRRSSTT!!
Tanah terguncang dalam lima detik. Getaran yang diberikan bahkan membuat beberapa bangunan hancur.
"Ada apa ini?" Gama bergegas melihat keluar.
Rion yang sedari tadi tak ada di dalam ruangan dia membuka pintu dengan kegelisahan.
"Kenapa?" Azhar terkejut mendengar dobrakan pintu.
Rion tergesa-gesa, nafasnya tidak stabil. "Sebaiknya kita pergi dari sini!" ucapnya dengan kegelisahan.
"Apa yang terjadi di luar sana?" Gama kembali bertanya.
Tak ada pilihan lain selain Rion menyeret mereka keluar tanpa menjelaskan sedikitpun situasi.
Rion berhasil menarik Azhar keluar dari runtuhan bangunan itu. Sayangnya Arsa dan Gama tertimbun dalam puing-puing bangunan.
"Kak Gama!" Azhar berteriak sambil menjulurkan tangan ke arah reruntuhan.
Secara tiba-tiba, sekedip mata. Sosok hitam muncul dengan aura kegelapan yang mencekam.
"Kau....telah...menunjukkan.... Dirimu...." Seru makhluk yang di selimuti kegelapan.
Azhar hanya bisa melongo, terdiam. Rion hendak menggapai tubuhnya. Karena, Rion bisa merasakan energi sihir yang tidak normal dari tubuh makhluk itu.
"Menyingkirlah... Kau menggangguku!"
Makhluk hitam itu menggeser lengannya tepat ke wajah Rion. Lalu sebuah bola energi sihir berwarna ungu terang menghantam Rion.
DUAAARRRRR!
"Kak Rion!" Azhar berteriak, meringis.
Rion dengan mudah di kalahkan, dia tergeletak tak berdaya di atas batuan jalan.
Keributan terdengar dimana-mana, bahkan kebanyakan orang sudah mengungsi. Mereka semua tidak tahu apa yang terjadi.
Ksatria kerajaan juga mulai mengepung area reruntuhan, tujuan mereka bukanlah membantu korban yang tertimpa puing. Melainkan membunuh makhluk itu.
Ksatria kerajaan Ardhania di perbolehkan menggunakan sihir di saat genting. Itulah aturannya.
"Semuanya, serang!" Perintah sang ksatria.
Mereka melesatkan beberapa sihir-sihir yang cukup kuat. Azhar menyaksikan dengan seksama pertarungan dua puluh ksatria melawan makhluk hitam itu.
"Hey, Azhar!" Suara samar yang terdengar kecil ini tak asing baginya.
Azhar menoleh, tubuhnya di tarik oleh lengan Gama. Dia masih hidup, hanya terluka sedikit karena goresan puing-puing.
"Gama ayo cepat, kita harus pergi!" Arsa membopong tubuh Rion yang lemas.
Mereka bergegas meninggalkan area itu. Masuk lebih jauh ke dalam ibukota Ardhania.
Ksatria kerajaan juga berbondong-bondong datang ikut serta dalam pertarungan. Mereka satu per satu tumbang oleh sihir yang cukup dashyat.
"Kemari!" Arsa menarik lengan Gama yang tengah terdiam merenung.
Dia sedikit bimbang karena keputusannya meninggalkan rumah. Tetapi, di saat seperti ini prioritasnya adalah keselamatan.
Arsa membawa Gama ke sebuah jembatan kanal yang mengelilingi istana kerajaan Ardhania.
Mereka berjalan masuk menyelinap dalam bayangan bawah jembatan.
"Kenapa kita ke sini, Arsa?" Tanya Gama yang kebingungan.
Arsa tersenyum kecil, "tenanglah. Akan ku bawa kau ke tempat yang aman." ucapnya.
Telapak tangan Arsa bersentuhan dengan dinding jembatan. Dia seperti sedang mencari sesuatu di sana.
Benar saja, dugaan Azhar tepat. Dia menekan sebuah batu yang kemudian membukakan pintu masuk kedalam bawah tanah.
"Ini adalah ruang bawah tanah, tempat dimana aku tinggal." Jelas dirinya.
Mereka berjalan, Arsa mengetuk dinding sebanyak dua kali. Seketika obor di sana menyala.
"Sementara waktu kita harus berdiam diri disini. Tunggu sampai keadaan kota sedikit lebih reda."
Mereka melalui banyak anak tangga yang menjurus ke bawah. Udara disana cukup dingin karena letaknya dibawah tanah.
"Makhluk tadi itu apa ya?" Tanya Azhar sambil melangkah turun satu demi satu.
Gama mengingat dalam benaknya, makhluk aneh dengan mata menyala itu tak ada di buku manapun.
"Dia adalah Aaron." Ucap Arsa.
Tak kunjung lama pembicaraan dimulai, mereka juga sampai di ruang bawah tanah tempat Arsa tinggal.
Desain ruangan klasik, Arsa sepertinya seorang pengrajin ataupun mantan ksatria kerajaan, karena zirah besi yang berada di hadapan mereka memikat pandangan.
"Aaron?" Azhar kembali bertanya.