
"Bagaimana jika kita pergi kesana?" Ujar Azhar dengan semangat mengajak kedua saudaranya.
Rion menganguk, "Sepertinya seru, apakah disana ada kue besar?" Ia menjilat bibirnya.
"Hey, sudahlah. Jangan bertindak macam-macam. Kita saja masih tersesat, kalian gila ingin pergi tanpa tahu tujuan?" Gumam kesal Gama.
Wajah Azhar dan Rion terlihat mengejek, dia menunjukkan peta yang tergambar jelas di surat undangan itu.
"Hehehehe!"
"Dasar adik-adik menyebalkan!" Gama memukul bokong kedua saudaranya itu.
Bonk!
.....
Mereka dalam perjalanan pulang, Azhar dan Rion memiliki ide untuk menandakan jalan mereka menuju tempat sebelumnya.
"Beri tanda disebelah sana!" Perintah Rion pada Azhar.
"Baik, hmmm.. Sepertinya disini juga perlu!" Dia menguliti beberapa dahan pohon untuk dijadikan pertanda jalan.
Gama memandu didepan mencari jalan yang benar menggunakan sihirnya.
"Hmm sepertinya disana." Gama melihat kearah barat.
Matahari sudah ingin tenggelam, berapa jam yang telah mereka habiskan untuk mencari jalan.
SLASSHH!
Sebuah bayangan melesat kesana kemari di dahan pohon, Gama dan Rion memasang pertahanan.
"Siapa itu?!!" Teriak Gama dengan lantang sekali.
Bayangan itu lama kelamaan menghilang. Rion sudah siap untuk membakar apapun yang muncul dihadapannya.
"Diatas!!!"
SWINGG!
Siluet seseorang melesat kencang menghancurkan pijakan tanah mereka. Menciptakan debu yang berterbangan disatu sisi.
"Hahahaha, kalian ini.. Kemana saja coba?" Tanya seseorang dari balik bayangan, suaranya sangat familiar.
"Kak Alen?"
"Astaga, Gama. Kau adalah yang paling tua disini, bisa-bisanya kau membiarkan adik-adikmu tersesat didalam hutan?"
Gama dengan ekspresi kesalnya hanya bisa pasrah dengan ocehan Alen.
"Enak saja, kita tidak akan tersesat kalau Azhar tidak berlari kehutan, Kak!" Ucap Rion yang menyalahkan.
Alen dengan kebijaksanaannya itu memutuskan "Kalian semua salah, karena apa? Karena kalian melanggar aturan aku dan ayahmu."
"Siapa suruh kalian pergi kehutan?" Tanya Alen, dengan tatapan mengerikannya.
Gama dan Rion melirik Azhar yang kemudian tersenyum aneh. "Ah baiklah, dasar Azhar."
"Untung saja Ragha sedang pergi bersama Baron. Kalau dia tahu pasti kalian akan habis semalaman."
Mereka langsung teringat dengan wajah menyeramkan Ragha yang super seram.
"Tidakkkkk...."
"Baiklah, Untung saja dewa menurunkan Kak Alen disini, karena itu apakah kalian ingin ku adukan?"
Mereka bertiga menggeleng kompak, "Maka dari itu, kalian harus membereskan rumah, memasak, lalu memberi makan ternak sampai esok."
"Hah?!!!"
"Ehem! Ragha sepertinya sedang berjalan pulang. Bukankah dia sedang lelah, di tambah berita yang sangat mengejutkan ini.., siapa sangka jika nanti dia akan menghancurkan sebuah gunung dihadapan kalian?" Omel Alen.
......................
Keesokan harinya, Azhar sibuk memberi makan ternak bersama Gama.
"Makan yang banyak ya, supaya kalian besar. Aku ingin sekali memakan ayam yang besar."
Azhar memikirkan daging ayam super besar dalam benaknya.
"Rion dimana?" Tanya Gama.
Dia sedang mengganti isi air untuk ayam-ayam mereka minum.
"Sepertinya membersihkan rumah? Soalnya Rion tadi pagi menumpahkan jus anggur milik Kak Alen."
"Kasihan.."
Mereka menyelesaikan tugas hari ini dengan cepat, sesuai dengan janji yang telah di sepakati bersama.
"Aku masih penasaran dengan pesta itu, malam nanti kita pergi bersama ya?!" Tanya Azhar.
"Ayolah, kak Gama juga pasti menantikannya, disana pasti ramai orang-orang yang memiliki sihir beragam."
Ucapan Azhar semakin membuat api tersulut sempurna, Gama tak bisa menahannya. Gama juga ingin tahu tentang pesta di kerajaan.
"Baiklah, tetapi kita harus memikirkan rencana yang pas. Apa lagi, kau lihat kemarin? Saat kita tersesat, dengan mudah Kak Alen datang menjemput kita."
"Benar juga." Azhar memikirkan sebuah rencana.
"Bagaimana kalau kita berpura-pura pergi latihan? Lalu kita pergi diam-diam?"
"Boleh juga." Gama menjentikkan jarinya.
Mereka bergegas kembali ke rumah, lalu menjalani aktivitas seperti biasa hingga sore hari.
Azhar dan Gama juga sudah membicarakan rencana mereka pada Rion, hanya tinggal menunggu waktunya saja.
"Aku tidak sabar, katanya pesta itu dimulai pada malam hari!" Ucap Rion menunjukkan jadwal waktu di surat itu.
Mereka semua berkumpul di kamar, pintunya terkunci rapat, satu sama lain berbisik agar tidak ketahuan.
"Sore ini sepertinya Ayah akan meninggalkan rumah lagi. Ini kesempatan kita sangat besar."
Ucap Azhar.
"Baguslah!"
Mereka sangat bersemangat sekali, terutama Rion dan Azhar. Gama masih bisa menimbang antara semangat dan jiwa seorang kakak tertua ia.
Rencana dimulai ketika Ragha sudah berpamitan pergi dengan mereka semua. Alen juga di perintahkan untuk menjaga anak-anaknya itu.
"Gama, tolong jaga kedua saudaramu ya. Aku ingin pergi memancing sebentar bersama Baron. Talita sedang pergi bersama Ragha."
"Baiklah." Ucap Gama dengan santai.
Mereka semua bergegas membawa ransel besar untuk pergi kesana, tidak lupa membawa perlengkapan sihir sebagai pertahanan jika bertemu hewan buas.
Azhar dengan semangatnya berlari sangat cepat menuju hutan kemarin.
"Hey, tunggulah! nanti kau tersesat!" ujar Gama yang menghampiri.
Azhar dengan mata berbinar penuh semangat, bergegas menuju tempat kemarin.
"Sepertinya ini memang jalan keluar hutan, soalnya kita bertemu orang-orang kemarin bukan?" Seru Rion.
"Lihatlah! kita harus bergegas sebelum malam tiba!" Azhar menunjuk matahari.
Mereka berjalan mengikuti jalan yang ada disana. Melalui tanjakan dan turunan jalan yang cukup curam. Lalu terlihatlah sebuah kastil kerajaan yang besar dari kejauhan.
"Apakah ini kerajaan?" Tanya Azhar penuh semangat matanya melirik kesana kemari.
Rion juga semakin semangat setelah mereka sampai di gerbang utama kerajaan.
Semua pengunjung yang datang diperiksa terlebih dahulu oleh pasukan kerajaan.
"Siapa mereka?" Tanya Azhar menunjuk para ksatria kerajaan.
Gama sudah belajar banyak tentang kerajaan semenjak ia bermain di rumah Baron.
"Itu adalah ksatria kerajaan, semacam orang-orang yang bertugas sebagai pelindung masyarakat." Jelas Gama sambil berbisik.
Mereka berhasil melalui pengecekan disana, setelah melewati gerbang utama kerajaan Ardhania, mata di sambut oleh pemandangan ibu kota kerajaan yang letaknya bersama dengan kastil.
"Selamat datang di Ardhania!" Sambut seseorang disana.
Ini adalah acara besar yang diselenggarakan setiap tahunnya.
"Lihatlah, banyak sekali makanan. Disini!" Rion meneteskan air liur.
"Lezat!" Ucapnya sambil mengendus-endus, lalu mendekati sebuah pedagang permen.
Mereka menghampiri "Ini apa?" Tanya Azhar pada pedagang disana.
"Oh, ini permen. Gula manis yang di lelehkan bersamaan perasa dan warna cinta." Ujar ia.
Mereka lupa akan satuhal, yaitu etika berkunjung. Seharusnya Rion lebih menjaga sikap di sekitar banyak orang.
"Apakah kalian pengunjung baru? Dari desa apa kalian?" Tanya salah seorang yang menghampiri.
Gama menoleh, "Oh kami dari desa... Yang cukup jauh tempatnya, Heheh." Ia berusaha mencari alasan.
"Apakah itu adik-adikmu? Mereka terlihat antusias sekali ya, hahaha."
Sementara Gama sibuk berbincang bersama orang lain. Azhar mendengar sebuah suara misterius ditelinganya.
"Jadi.... Kaulah.... Orangnya .... Wahai anak kecil...."
Bisik suara tersebut yang terus terdengar di telinga Azhar.